Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

KONFRONTASI RIWAYAT KITAB SUCI DENGAN PENGETAHUAN MODERN                              (1)

Riwayat Qur-an dan Bibel mengenai menetapnya Bani Israil di
Mesir dan keluarnya mereka itu dari negeri tersebut
merupakan aspek-aspek yang dapat dijadikan bahan konfrontasi
dengan pengetahuan baru, walaupun dengan proporsi yang tidak
sama, karena ada aspek-aspek yang menimbulkan bermacam-macam
problema, dan ada aspek-aspek yang tidak menimbulkan
diskusi.

1. PENYELIDIKAN TENTANG PERINCI RIWAYAT-RIWAYAT

ORANG YAHUDI DI MESIR

Dengan tidak mengandung resiko kesalahan, dan sesuai dengan
yang tersebut dalam Bibel (Kejadian 15, 13 dan Keluaran 12,
40) kita dapat mengatakan bahwa orang-orang Yahudi menetap
di Mesir selama 400 atau 430 tahun. Perbedaan antara
Kejadian dan Keluaran tidak begitu penting karena hanya
mengenai waktu 30 tahun; menetapnya kaum Yahudi di Mesir
dimulai dengan kedatangan Yusuf anak Ya'kub dan
saudara-saudara Yusuf ke negeri itu, lama sesudah zaman
Ibrahim. Di samping Bibel yang memuat riwayat yang saya
sebutkan di atas, dan Qur-an, yang menyebutkan menetapnya
Israil di Mesir dengan tidak memberi keterangan kronologi,
kita manusia tidak mempunyai dokumen lain yang dapat memberi
keterangan tentang hal ini.

Pada waktu ini, mulai dari P. Montet sampai Daniel-Rops,
orang berpendapat bahwa kedatangan Yusuf dan keluarganya
terjadi pada waktu yang sama dengan gerakan Hyksos berhijrah
ke Mesir pada abad XVII S.M. Waktu itu, di Avaris ada
seorang raja Hyksos yang menyambut kedatangan Yusuf dan
saudara-saudaranya dengan baik.

Perkiraan tersebut bertentangan dengan Bibel Kitab Raja-raja
yang pertama (6, 1) yang mengatakan bahwa keluarnya Bani
Israil dari Mesir terjadi 480 tahun sebelum pembangunan
Candi Sulaiman (± th. 971 S.M.). Jadi menurut perkiraan ini,
exodus terjadi pada tahun 1450 S.M., dan masuknya Bani
Israil ke Mesir terjadi kira-kira pada tahun 1850-1880. Akan
tetapi orang sekarang memperkirakan bahwa Nabi Ibrahim hidup
di sekitar waktu itu, dan antara Ibrahim dan Yusuf terdapat
perbedaan waktu 250 tahun, menurut riwayat Injil. Maka
paragraf daripada Kitab Raja-raja pertama dalam Injil secara
kronologi tidak dapat diterima. Kita akan melihat bahwa
teori yang kita pertahankan di sini tidak hanya bertentangan
dengan teks yang tersebut dalam Kitab Raja-raja pertama,
akan tetapi kekeliruan kronologi dalam teks Kitab Raja-raja
pertama tersebut menghilangkan nilai teks tersebut sendiri.

Di luar hal-hal yang tersebut dalam Bibel, bekas-bekas yang
ditinggalkan oleh orang Yahudi di Mesir sangat kabur. Tetapi
terdapat Dokumen hieroglyphik (bahasa Mesir Kuno) yang
mengatakan bahwa di Mesir terdapat satu kelompok pekerja
yang disebut Aperu atau Haperu atau Habiru yang banyak orang
mengidentifikasikan dengan orang Ibrani, secara benar atau
salah. Yang dimaksudkan dengan kelompok tersebut adalah
pekerja-pekerja pembangunan, pekerja-pekerja pertanian,
pembuat anggur dan lain-lain. Dari mana mereka itu datang?
Sangat sulit untuk dijawab. Sebagaimana ditulis oleh R.P. de
Vaux, mereka itu bukan penduduk asli, mereka tidak
mempersatukan diri mereka dalam suatu kelompok masyarakat
dan mereka tidak mempunyai pekerjaan atau kedudukan yang
sama di antara mereka.

Di bawah pemerintahan Raja Tutmes III suatu dokumen papirus
mengatakan bahwa mereka itu adalah pekerja untuk
pemeliharaan kuda. Kita mengetahui bahwa Amenophis II pada
abad XV S.M. telah mendatangkan mereka sebagai orang-orang
hukuman dari Kan'an, karena mereka itu menurut R. P.de Vaux
merupakan bagian penting daripada penduduk Syria Palestina.

Pada kira-kira tahun 1300 S.M., di bawah pemerintahan Sethi
Pertama, orang-orang Aperu tersebut menimbulkan kekacauan di
Kan'an, di daerah Beth-Shean. Di bawah Ramses II, mereka itu
dipekerjakan sebagai pengangkut barang-barang atau
tiang-tiang untuk pekerjaan pembangunan (seperti pylon atau
bangunan monumen Ramses Miamon). Kita tahu pula dari Bibel
bahwa orang-orang Yahudi pada zaman pemerintahan Ramses
membangun ibu kota utara, kota Ramses. Dalam buku-buku Mesir
Kuno, terdapat pernyataan tentang Aperu pada abad XII, dan
untuk yang terakhir pada zaman Ramses III .

Tetapi Aperu hanya disebutkan di Mesir; apakah istilah itu
dapat dipakai khusus untuk menunjukkan orang Yahudi?
Barangkali perlu kita ingat bahwa perkataan itu dapat
berarti pekerja paksa, dengan tidak menunjukkan dari mana
asalnya; jadi kata tersebut menunjukkan pekerjaan kelompok.
Apakah kita tidak dapat membandingkan hal tersebut dengan
kata: "Suisse" dalam bahasa Perancis yang berarti penduduk
Switzerland, atau serdadu Swiss dalam kerajaan Perancis,
atau pengawal Vatikan atau pegawai Gereja Kristen?

Bagaimanayun juga di bawah pemerintah Ramses II, orang-orang
Yahudi (menurut Bibel) atau Aperu (menurut teks
hieroglyphik) mengambil bagian dalam pekerjaan-pekerjaan
besar yang diperintahkan oleh Fir'aun dan yang dapat kita
namakan, kerja paksa. Kita tidak syak lagi bahwa Ramses II,
adalah penindas orang-orang Yahudi. Kota-kota Ramses dan
Pitom yang disebutkan dalam kitab Keluaran, dibangun pada
bagian Timur Delta Nil. Desa Tanis dan Qantir sekarang,
terpisah oleh jarak 25 kilometer antara satu dan lainnya,
tepat pada tempat dua kilometer tersebut, yaitu Ibukota yang
didirikan oleh Ramses II. Dan Ramses II ini adalah Fir'aun
yang menindas Bani Israil.

Dalam konteks inilah Musa dilahirkan. Kita telah melihat
dalam paragraf-paragraf sebelum ini kisah bagaimana ia
diselamatkan danpada air sungai Nil. Nama Musa adalah nama
Mesir. Dalam karangannya yang berjudul: Mesir dan Bibel, P.
Montet telah menunjukkan hal ini. Mesw atau Mesy terdapat
dalam daftar kamus yang memuat nama-nama orang-orang dalam
bahasa Mesir yang ditemukan oleh Ranke. Musa adalah nama
tersebut ditulis dengan huruf Arab dalam Qur-an.

PENDERITAAN MESIR

Di bawah nama penderitaan-penderitaan, Bibel menyebutkan
sepuluh hukuman yang ditimpakan oleh Tuhan dan memberikan
perincian-perincian pada tiap-tiap penderitaan tersebut.
Banyak daripada penderitaan-penderitaan itu yang mempunyai
aspek adikodrati. Qur-an hanya menyebutkan lima, yang
sebenarnya hanya fenomena alamiah yang dibesar-besarkan,
yaitu banjir, belalang, penyakit kulit, katak dan darah.

Merajalelanya belalang dan katak disebutkan dalam Injil.
Injil menyebutkan bahwa air sungai Nil dirubah menjadi darah
yang membanjiri negeri; Qur-an menyebutkan darah, tetapi
tanpa perinci-perinci, jadi kita dapat membentuk hipotesa
apa saja mengenai darah tersebut. Penderitaan-penderitaan
lainnya, yaitu nyamuk, serangga, tumor kulit, butiran es,
kegelapan dan matinya bayi yang dilahirkan pertama serta
matinya binatang-binatang, yang disebutkan oleh Bibel,
berasal dari sumber-sumber yang bermacam-macam, seperti
riwayat banjir yang dibentuk dengan campuran (selingan) dari
dua sumber.

JALAN YANG DITEMPUH OLEH EXODUS

Qur-an tidak menyebutkan sesuatu jalan, tetapi Bibel
menunjukkan satu jalan dengan pasti. R.P. de Vaux dan P.
Montet, masing-masing telah mempelajari jalan itu. Permulaan
Exodus ada di Tanis-Qantir, tetapi untuk seterusnya, tak
terdapat bekas-bekas yang akan menguatkan riwayat Bibel,
sehingga orang tak dapat mengatakan di mana tempat lautan
itu membelah dengan memungkinkan lewatnya kelompok Masa.

MUKJIZAT LAUTAN

Orang menggambarkan adanya air surut yang disebabkan oleh
faktor astronomik, atau faktor sesmik (gempa) yang
disebabkan oleh letusan gunung yang jauh. Mungkin
orang-orang Yahudi mengambil kesempatan surutnya air laut,
sedangkan orang-orang Mesir yang mengejar mereka telah
dibinasakan oleh pulihnya keadaan air. Tetapi semua ini
hanya hipotesa belaka.

2. PENEMPATAN EXODUS DALAM KRONOLOGI FIR'AUN

Untuk menentukan waktu terjadinya Exodus kita dapat sampai
kepada hal-hal yang positif. Dari semenjak waktu yang sudah
lama, orang mengatakan bahwa Meneptah pengganti Ramses II
adalah Fir'aun Exodusnya Musa. Maspero seorang Perancis ahli
ilmu sejarah Mesir pada permulaan abad XX, menulis pada
tahun 1900 dalam karangannya: Petunjuk bagi pengunjung
musium Cairo, bahwa "Meneptah, menurut dokumen-dokumen dari
Iskandariyah adalah Fir'aunnya Exodus, yakni Fir'aun yang
binasa di lautan merah." Saya tidak dapat melihat dokumen
yang oleh Maspero dijadikan dasar bagi pernyataannya, akan
tetapi reputasi Maspero yang sangat serius mendorong kita
untuk memberi nilai kepada apa yang dikatakan olehnya.

Selain P. Montet, sangat jarang ahli sejarah Mesir atau
spesialis penafsiran Bibel yang menyelidiki argumen-argumen
yang menyokong atau menyanggah hipotesa tersebut. Sebaliknya
dalam beberapa puluh tahun yang terakhir telah muncul
hipotesa-hipotesa yang berlain-lainan yang nampaknya telah
dilontarkan untuk menunjukkan persesuaian dengan suatu
perinci dalam riwayat Bibel, tetapi pencetus hipotesa itu
tidak melihat aspek-aspek lain daripada riwayat-riwayat
Bibel. Itulah sebabnya kita mendapatkan hipotesa-hipotesa
yang kelihatannya sesuai dengan suatu aspek daripada riwayat
Bibel, akan tetapi pencetus hipotesa tersebut tidak mau
menghadapkan hipotesanya dengan hal-hal lain yang tersebut
dalam kitab suci (bukan saja dengan Bibel) dan juga, pada
waktu yang sama dengan hasil-hasil penyelidikan sejarah,
arkeologi dan lain-lain.

Di antara hipotesa-hipotesa baru yang sangat ajaib adalah
hipotesanya S. de Miceli ( 1960) yang mengakui telah dapat
menentukan waktu Exodus, yakni pada tanggal 9 April 1495
S.M., dari hal tersebut disandarkan semata-mata kepada
perhitungan kalender. Jika kita mengikuti pengarang ini,
maka Fir'aunnya Exodus adalah Tutmes II yang memerintah
Mesir pada waktu itu. Oleh karena dikatakan bahwa pada mumia
Tutmes II terdapat bekas-bekas penyakit kulit yang dinamakan
penyakit lepra oleh pengarang tersebut dengan tak ada
penjelasan lebih lanjut, dan oleh karena salah satu
penderitaan vang menimpa Mesir vang disebutkan oleh Bibel
adalah penyakit kulit, maka dengan begitu, hipotesa S. de
Miceli tersebut telah dibuktikan kebenarannya.

Rekonstruksi yang aneh tersebut tidak mengindahkan
fakta-fakta lain dalam riwayat Bibel, khususnya mengenai
disebutkannya kota Ramses. Dengan disebutkan kota Ramses
dalam Bibel maka tiap-tiap hipotesa tentang waktunya Exodus
yang digambarkan sebagai terjadi sebelum Ramses memerintah
adalah sangat lemah.

Mengenai bekas-bekas penyakit kulit yang terdapat pada mumia
Tutmes II, hal tersebut tak cukup untuk membuktikan bahwa
Tutmes II adalah Fir'aunnya Exodus, oleh karena anaknya,
yakni Tutmes III dan cucunya, yakni Amenophis II semuanya
menunjukkan bekas-bekas penyakit kulit; beberapa pengarang
melontarkan hipotesa bahwa penyakit semacam itu adalah
penyakit keluarga saja. Dengan begitu maka hipotesa bahwa
Tutmes II adalah Fir'aun Exodus tak dapat dipertahankan.

Hal yang serupa dicetuskan oleh Daniel Raps dalam bukunya:
Le Peuple de la Bibel ('Bangsa yang dibicarakan' dalam
Bibel). Ia mengatakan bahwa Amenophis II adalah Fir'aunnya
Exodus. Hipotesa itu tidak lebih kuat daripada hipotesa yang
pertama. Dengan alasan bahwa, bapaknya, Tutmes III terlalu
nasionalis, Daniel Raps mengatakan bahwa Amenophis II adalah
penindas orang-orang Yahudi, dan ibu tirinya, yang bernama
ratu Hatshep-sout (dengan tidak ada keterangan sesuatupun)
adalah wanita yang mengambil Musa dari sungai.

bersambung 2

BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: