Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

KONFRONTASI RIWAYAT KITAB SUCI DENGAN PENGETAHUAN MODERN    (2)                        

R.P. de Vaux mendasarkan hipotesanya dalam bukunya Sejarah
Kuno bangsa Yahudi, bahwa Ramses II adalah Fir'aunnya Exodus
atas dasar yang lebih kokoh. Hipotesa tersebut walaupun
tidak sesuai sepenuhnya dengan riwayat Bibel, namun
mempunyai sesuatu keunggulan yaitu, telah menunjukkan fakta
yang penting, yakni bahwa Ramses II telah memerintahkan
mendirikan kota-kota Ramses dan Pitom, yaitu kota-kota yang
tersehut dalam Bibel. Orang tidak akan menggambarkan bahwa
Exodus itu dapat terjadi sebelum Ramses II menjadi Raja,
yaitu menurut kronologõ Driaton dan Vandier pada tahun 1301
S.M. dan menurut Rowton pada tahun 1290 S.M. Dua hipotesa
yang tersebut di atas tak dapat diterima karena pertimbangan
bahwa Ramses II adalah Fir'aunnya penindasan yang
dibicarakan oleh BibeL

R. P. de Vaux berpendapat bahwa Exodus terjadi pada
pertengahan pertama atau di tengah-tengah pemerintahan
Ramses II. Datum yang diberikan oleh R.P. de Vaux tidak
tepat sama sekali. Ia mengusulkan waktu tersebut agar dapat
memberi waktu kepada pengikut-pengikut Musa untuk menetap di
Kan'an dan kepada penggantl Ramses II, Fir'aun Mineptah
untuk membereskan soal perbatasan ketika bapaknya meninggal
dan untuk mengkoreksi Bani Israil, sebagai yang tertulis
dalam suatu monumen tahun V daripada pemerintahannya.

Ada dua argumentasi yang dapat menyangkal hipotesa tersebut.

a. Bibel menerangkan dalam kitab Keluaran (2, 23) bahwa raja
Mesir meninggal ketika Musa menetap di negeri Madyan. Raja
Mesir ini digambarkan dalam kitab Keluaran sebagai raja yang
memerintahkan orang-orang Yahudi mendirikan kota Ramses dan
Pitom dengan kerja paksa. Raja itu ialah Ramses II. Dengan
begitu maka Exodus hanya dapat terjadi pada zaman
penggantinya. Tetapi R.P. de Vaux rupanva lupa sumber dalam
Bibel, yakni kitab Kejadian fasal 2 ayat 23.

b. Yang lebih mengherankan lagi, ialah bahwa R.P. de Vaux
yang direktur Sekolah Bibel di Yerusalem itu tidak
menyebutkan dua paragraf yang sangat penting dalam Bibel
ketika membicarakan teorinya tentang Exodus. Dua paragraf
tersebut mengatakan bahwa Fir'aun mati dalam mengejar
pelarian-pelarian. Hal ini menjadikan waktu Exodus tidak
lain kecuali pada akhir pemerintahannya.

Perlu diulangi di sini bahwa sesungguhnya tidak disangsikan
lagi bahwa Fir'aun mati dalam mengejar Bani Israil. Kitab
Keluaran fasal 13 dan 14 dengan jelas menyebutkan hal ini.
Fir'aun mempersiapkan keretanya dan memimpin tentaranya (
14, 6). Raja Mesir mengejar orang-orang Israil memimpin
tentaranya (14, 8). Air laut pasang lagi dan menenggelamkan
kereta-kereta dan penunggang kuda daripada tentara Fir'aun
yang telah masuk di laut di belakang orang-orang Yahudi. Tak
ada seorang pun yang tinggal (14, 28). Pujian 136 daripada
Dawud menguatkan kematian Fir'aun, memohon kepada Yahweh,
yang menenggelamkan Fir'aun, dan tentaranya dalam lautan
yang penuh tumbuh-tumbuhan (136, 15).

Dengan begitu, ketika Musa masih hidup, ada seorang Fir'aun
yang mati ketika Musa menetap di Madyan, dan ada lagi
seorang Fir'aun yang mati dalam peristiwa Exodus. Jadi tak
ada Fir'aunnya Musa, tetapi ada dua Fir'aun, yaitu Fir'aun
yang menindas orang Yahudi dan Fir'aunnya Exodus. Hipotesa
R.P. de Vaux yang mengatakan bahwa Ramses II adalah Fir'aun
Exodus tidak memuaskan karena tidak memberi penjelasan yang
menyeluruh. Pemikiran-pemikiran di bawah ini akan membawa
argumen-argumen tambahan yang menolaknya.

3. RAMSES II FIR'AUN PENINDASAN, MINEPTAH FIR'AUN EXODUS

P. Montet mengambil dan tradisi asli dari Iskandariyah23
yang disebutkan oleh Maspero dan yang ditemukan lagi lama
sesudah itu dalam tradisi Islam dan dalam tradisi Kristen
Kuno.24

Teori tersebut ditulis dalam buku "Mesir dan Bibel" karangan
Delachaux dan Niestle, serta diperkuatkan dengan
dokumen-dokumen tambahan, khususnya yang berhubungan dengan
riwayat Qur-an yang tidak pernah disinggung oleh ahli
arkeologi besar itu. Sebelum mempelajari teori tersebut
marilah kita kembali kepada Bibel.

Kitab Kejadian memuat nama Ramses, walaupun nama Fir'aun
tidak disebutkan. Dalam Bibel, Ramses adalah nama salah satu
dari dua kota yang dibangun dengan tenaga kerja paksa
orang-orang Yahudi. Sekarang kita mengetahui bahwa dua kota
tersebut berada di daerah Tanis Qantir, di bagian timur
daripada Delta Nil. Di sana, Ramses menyuruh membangun
ibukotanya. Sebelum Ramses II di tempat itu sudah ada
bangunan-bangunan, tetapi Ramses II lah yang menjadikan
tempat itu penting. Dokumen-dokumen yang ditemukan pada
puluhan tahun yang akhir ini memberikan satu bukti yang
jelas. Untuk pembangunan itu Ramses memakai tenaga orang
Yahudi yang dipaksa kerja.

Membaca nama Ramses dalam Bibel tidak mengherankan orang
zaman sekarang. Kota itu telah menjadi mashur semenjak
Champolion menemukan kunci bahasa hieroglyph (Mesir kuno)
150 tahun yang lalu, dalam mempelajari cin-ciri bahasa
tersebut. Jadi sekarang orang sudah terbiasa membacanya
dengan mengerti artinya. Tetapi kita perlu mengetahui bahwa
bahasa Mesir kuno sudah tidak dikenal orang lagi pada abad
III M, dan nama Ramses hanya terdapat dalam Bibel dan
beberapa buku Yunani atau Latin yang merubah bentuknya
Tacite, dalam karangannya Annales, menyebut nama Ramses.
Bibel telah memelihara bentuk nama itu. Nama itu disebutkan
empat kali dalam Pentateuqe atau Taurat (Kejadian, 47, 11;
Keluaran 1, 11 dan 12, 37; kitab Bilangan 33, 3 dan 33, 5).

Dalam bahasa Ibrani, nama Ramses ditulis dengan dua cara:
RA(E)MSS, atau RAEAMSS. Dalam Bibel cetakan Yunani yang
dinamakan Septante, bentuk nama itu adalah RAMESSE. Bibel
latin (Volgate) menuliskannya Ramesses. Dalam Bibel
Clementine edisi Perancis (edisi pertama pada tahun 1621),
nama itu ditulis Ramses. Edisi Perancis ini banyak tersiar
pada waktu Napoleon melakukan penelitian-penelitian. Dalam
karangannya: Ringkasan Sistem Hieroglyphiq Orang Mesir Kuno
(cetakan kedua tahun 1828 halaman 276) Champolion
membicarakan tentang cara menulis "Ramses" dalam Bibel.

Dengan begitu maka Bibel telah memelihara nama Ramses dalam
bentuk Ibrani, Yunani dan Latin.

Hal tersebut di atas memungkinkan kita untuk mengatakan:

a) Exodus tak dapat digambarkan sebelum seorang Ramses
memegang pemerintahan Mesir

b) Musa dilahirkan di masa pemerintahan raja yang membangun
kota Ramses dan Pitom, yakni Ramses II.

c) Ketika Musa menetap di negeri Madyan, Fir'aun yang
memerintah, yakni Ramses II meninggal. Sejarah Nabi Musa
selayaknya terjadi pada zaman pengganti Ramses II, yaitu
Mineptah.

Di samping hal-hal tersebut, Bibel menyebutkan suatu unsur
yang sangat penting untuk menunjukkan waktu terjadinya
Exodus, yaitu bahwa ketika Musa menjalankan perintah Tuhan
untuk meminta agar Bani Israil dimerdekakan, ia sudah
berumur 80 tahun.

Kitab Keluaran 7, 7: Musa berumur 80 tahun dan Harun berumur
83 tahun ketika mereka berbicara kepada Fir'aun. Di lain
pihak, Kitab Keluaran, 2, 23 menyebutkan bahwa Fir'aun yang
memerintah ketika Musa dilahirkan, telah meninggal ketika
Musa menetap di negeri Madyan; walaupun riwayat Bibel
tersebut tidak menunjukkan pergantian nama Raja. Dua ayat
dalam Bibel tersebut mengandung arti bahwa jumlah waktu
berkuasanya dua Fir'aun yang memerintah Mesir ketika Musa
hidup di situ adalah sedikitnya 80 tahun.

Di pihak lain Ramses II memerintah selama 67 tahun (dari
tahun 1301 sampai tahun 1235 S.M.) menurut perhitungan
Driaton dan Vandier, atau dan tahun 1290 sampai tahun 1224
S.M. menurut perhitungan Rowton. Ahli-ahli sejarah Mesir tak
dapat memberikan angka tepat tentang lamanya pemerintahan
Mineptah, pengganti Ramses II, tetapi masa itu sedikitnya 10
tahun, karena tahun ke 10 daripada pemerintahannya
diperingati oleh beberapa dokumen seperti yang diterangkan
oleh R. P. de Vaux. Pengarang Manelhon mengirakan 20 tahun
untuk masa pemerintahan Mineptah. Driaton dan Vandier
memberikan dua kemungkinan, mungkin hanya 10 tahun dari
tahun 1224 sampai tahun 1214 S.M., atau 20 tahun dari tahun
1224 sampai tahun 1204 S.M.; ahli sejarah Mesir tidak tahu
secara pasti bagaimana pemerintah Mineptah berakhir. Yang
diketahui orang adalah bahwa setelah Mineptah, Mesir
mengalami krisis dalam negeri yang berat selama kira-kira
seperempat abad.

Walaupun kronologi raja-raja Mesir tidak tepat, kita dapat
mengatakan bahwa selama Kerajaan Baru tak terdapat dua masa
pemerintahan Raja yang berturut-turut yang dapat mencapai
atau melebihi 80 tahun kecuali periode Ramses II-Meneptah,
Pemberitaan Bibel mengenai umur Musa ketika ia memikirkan
pembebasan kaum Yahudi hanya dapat dimasukkan dalam rangka
kesinambungan antara Pemerintahan Ramses II dan pemerintahan
Mineptah. Dengan begitu kita dapat mengatakan bahwa Musa
lahir pada permulaan Pemerintahan Ramses II, berada di
Madyan ketika Ramses II meninggal dunia setelah memerintah
selama 67 tahun, kemudian Musa menjadi pembela kaum Yahudi
dan menghadapi Mineptah anak dan pengganti Ramses II.
Hikayat itu mungkin terjadi pada pertengahan kedua daripada
pemerintahan Mineptah jika ia memerintah selama 20 tahun,
dan hal ini sesuai dengan pendapat Rowton. Kemudian Musa
memimpin orang-orang Yahudi keluar dari Mesir pada akhir
pemerintahan Mineptah, karena raja itu binasa ketika
mengejar orang-orang Yahudi yang meninggalkan Mesir seperti
yang diterangkan oleh Qur-an dan Bibel.

Kerangka berpikir ini sangat sesuai dengan riwayat kitab
suci tentang masa kecilnya Musa dan bagaimana ia diambil
oleh keluarga Fir'aun. Kita tahu bahwa Ramses II sudah
sangat tua waktu ia mati; ada yang mengatakan ia berumur 90
tahun atau 100 tahun; menurut hipotesa ini, pada perrnulaan
pemerintahannya, Ramses berumur 23 atau 33 tahun, yakni
permulaan masa kekuasaannya yang berlangsung selama 67
tahun. Pada umur muda itu ia mungkin sudah kawin. Tidak ada
kontradiksi antara riwayat "Musa ditemukan di sungai oleh
keluarga Fir'aun" menurut Qur-an dengan campur tangan isteri
Fir'aun yang meminta daripadanya supaya membiarkan anak itu
hidup. Bibel mengatakan bahwa yang menemukan Musa di sungai
itu anak perempuan Fir'aun. Ramses yang sudah kita ketahui
umurnya pada permulaan pemerintahannya, mungkin saja punya
anak perempuan yang dapat menemukan Musa, si bayi yang
ditingalkan keluarganya. Dengan begitu maka riwayat Qur-an
dan nwayat Bibel tidak bertentangan.

Hipotesa yang kita susun di sini adalah secara mutlak,
sesuai dengan Qur-an. Tetapi bertentangan dengan suatu
paragraf dalam Bibel, yaitu ayat pertama dari fasal 6 dalam
Kitab Raja-raja pertama (perlu ditegaskan bahwa paragraf
tersebut tidak merupakan bagian dari Taurah). Paragraf
tersebut sangat disangsikan dan R.P. de Vaux menolak
kronologi daripada fasal ini dalam Perjanjian Lama, yaitu
kronologi yang mengatakan bahwa waktu larinya Bani Israil
dari Mesir terjadi sesudah dibangunnya Candi Nabi Sulaiman.
Bahwa hal tersebut masih menjadi pembahasan menyebabkan kita
tidak dapat memberi nilai positif kepadanya, karena
bertentangan dengan teori yang kita bicarakan di sini.

bersambung


BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: