Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6



III. PENCIPTAAN LANGIT-LANGIT DAN BUMI

PERBEDAAN DAN PERSAMAAN DENGAN RIWAYAT DALAM BIBEL

Berbeda dengan Perjanjian Lama, Qur-an tidak menyajikan
suatu riwayat yang menyeluruh tentang penciptaan. Sebagai
ganti suatu riwayat yang sambung menyambung, kita dapatkan
di beberapa tempat dalam Qur-an ayat-ayat yang menunjukkan
aspek-aspek tertentu daripada penciptaan dan memberi sedikit
banyak perincian mengenai kejadian-kejadian yang
menunjukkannya secara berturut-turut. Untuk mempunyai
gambaran yang jelas tentang bagaimana kejadian-kejadian itu
disajikan, kita harus mengumpulkan bagian-bagian yang
terpisah-pisah dalam beberapa surat.

Menyebutkan sesuatu kejadian dalam beberapa tempat dalam
Qur-an tidak hanya khusus mengenai penciptaan. Banyak
soal-soal penting juga dilakukan semacam itu, baik mengenai
kejadian-kejadian di bumi atau di langit atau mengenai
soal-soal tentang manusia yang sangat penting bagi ahli
Sains. Bagi tiap-tiap kejadian tersebut, telah diadakan
suatu pengumpulan ayat-ayat.

Bagi banyak pengarang Eropa, riwayat Qur-an tentang
penciptaan sangat mirip dengan riwayat Bibel, dan mereka
senang untuk menunjukkan dua riwayat tersebut secara
paralel. Saya merasa bahwa ide semacam itu salah, karena
terdapat perbedaan-perbedaan yang nyata antara dua riwayat.
Dalam soal-soal yang penting dari segi ilmiah, kita dapatkan
dalam Qur-an keterangan-keterangan yang tak dapat kita
jumpai dalam Bibel. Dan Bibel memuat
perkembangan-perkembangan yang tak ada bandingannya dalam
Qur-an.

Persamaan yang semu antara dua teks sangat terkenal; di
antaranya angka-angka yang berurut tentang penciptaan, pada
permulaannya nampak identik; enam hari dalam Qur-an sama
dengan enam hari dalam Bibel. Tetapi pada hakekatnya,
persoalannya adalah lebih kompleks dan perlu diselidiki

ENAM PERIODE DARIPADA PENCIPTAAN

Riwayat Bibel9 menyebutkan secara tegas bahwa penciptaan
alam itu terjadi selama enam hari dan diakhiri dengan hari
istirahat, yaitu hari Sabtu, seperti hari-hari dalam satu
minggu. Kita telah mengetahui bahwa cara meriwayatkan
seperti ini telah dilakukan oleh para pendeta pada abad
keenam sebelum Masehi, dan dimaksudkan untuk menganjurkan
mempraktekkan istirahat hari Sabtu; tiap orang Yahudi harus
istirahat pada hari Sabtu sebagaimana yang dilakukan oleh
Tuhan setelah bekerja selama enam hari.

Jika kita mengikuti faham Bibel, kata "hari" berarti masa
antara dua terbitnya matahari berturut-turut atau dua
terbenamnya matahan berturut-turut. Hari yang difahami
secara ini ada hubungannya dengan peredaran Bumi sekitar
dirinya sendiri. Sudah terang bahwa menurut logika orang
tidak dapat memakai kata "hari" dalam arti tersebut di atas
pada waktu mekanisme yang menyebabkan munculnya hari, yakni
adanya Bumi serta beredarnya sekitar matahari, belum
terciptakan pada tahap-tahap pertama daripada Penciptaan
menurut riwayat Bibel; ketidak mungkinan hal ini telah kita
bicarakan dalam bagian pertama daripada buku ini.

Jika kita menyelidiki kebanyakan terjemahan Qur-an, kita
dapatkan, seperti yang dikatakan oleh Bibel, bahwa bagi
wahyu Islam, proses penciptaan berlangsung dalam waktu enam
hari. Kita tidak dapat menyalahkan penterjemah-penterjemah
Qur-an karena mereka memberi arti "hari" dengan arti yang
sangat lumrah.

Kita dapatkan terjemahan Surat 7 (A'raf) ayat 54:


Artinya: "Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan
bumi dalam enam hari."

Sedikit jumlah terjemahan atau tafsir Qur-an yang
mengingatkan bahwa kata "hari" harus difahami sebagai
"periode."

Ada orang yang mengatakan leahwa teks Qur-an tentang
penciptaan alam membagi tahap-tahap penciptaan itu dalam
"hari-hari" dengan sengaja dengan maksud agar semua orang
menerima hal-hal yang dipercayai oleh orang-orang Yahudi dan
orang-orang Kristen pada permulaan lahirnya Islam dan agar
soal penciptaan tersebut tidak bentrok dengan keyakinan yang
sangat tersiar luas.

Dengan tidak menolak cara interpretasi seperti tersebut,
apakah kita tidak dapat menyelidiki lebih dekat dan meneliti
arti yang mungkin diberikan oleh Qur-an sendiri dan oleh
bahasa-bahasa pada waktu tersiarnya Qur-an, yaitu kata yaum
(jamaknya ayyam).

Arti yang paling terpakai daripada "yaum" adalah "hari,"
tetapi kita harus bersikap lebih teliti. Yang dimaksudkan
adalah terangnya waktu siang dan bukan waktu antara
terbenamnya matahari sampai terbenamnya lagi. Kata jamak
"ayyam" dapat berarti beberapa hari akan tetapi juga dapat
berarti waktu yang tak terbatas, tetapi lama. Arti kata
"ayyam" sebagai periode juga tersebut di tempat lain dalam
Qur-an, surat 32 (Sajdah) ayat 5:

"Dalam suatu hari yang panjangnya seribu tahun dari
perhitungan kamu."

Dalam ayat lain, surat 70 (Al-Ma'arij) ayat 4, kita dapatkan:

"Dalam suatu hari yang panjangnya lima puluh ribu
tahun."

Bahwa kata "'yaum" dapat berarti "periode" yang sangat
berbeda dengan "hari" telah menarik perhatian ahli-ahli
tafsir kuno yang tentu saja tidak mempunyai pengetahuan
tentang tahap-tahap terjadinya alam seperti yang kita miliki
sekarang.

Maka Abussu'ud, ahli tafsir abad XVI M. tidak dapat
menggambarkan hari yang ditetapkan oleh astronomi dalam
hubungannya dengan berputarnya bumi dan mengatakan bahwa
untuk penciptaan alam diperlukan suatu pembagian waktu,
bukan dalam "hari" yang biasa kita fahami, akan tetapi dalam
"peristiwa-peristiwa" atau dalam bahasa Arabnya "naubat."

Ahli-ahli Tafsir modern mempergunakan lagi interpretasi
tersebut. Yusuf Ali (1934) dalam tafsirnya (bahasa Inggris),
selalu mengartikan "hari" dalam ayat-ayat tentang
tahap-tahap penciptaan alam, sebagai periode yang panjang,
atau "age."

Kita dapat mengakui bahwa untuk tahap-tahap penciptaan alam,
Qur-an menunjukkan jarak waktu yang sangat panjang yang
jumlahnya enam. Sains modern tidak memungkinkan manusia
untuk mengatakan bahwa proses kompleks yang berakhir dengan
terciptanya alam dapat dihitung "enam." Tetapi Sains modern
sudah menunjukkan secara formal bahwa persoalannya adalah
beberapa periode yang sangat panjang, sehingga arti "hari"
sebagai yang kita fahami sangat tidak sesuai.

Suatu paragraf yang sangat panjang dan membicarakan
penciptaan alam merangkaikan riwayat tentang
kejadian-kejadian di bumi dengan kejadian-kejadian di
langit; yaitu surat 41 (Fussilat) ayat 9 sampai 12 sebagai
berikut:


Artinya: "Katakanlah Hai Muhammad, sesungguhnya patutkah
kamu tidak percaya kepada zat yang menciptakan
bumi dalam dua periode, dan kamu adakan
sekutu-sekutu bagiNya. Ia adalah Tuhan semesta
alam. Dan Ia menciptakan di bumi itu gunung-gunung
yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia
menentukan padanya kadar makanan-makanan
(penghuni)-nya dalam empat masa yang sama (cukup)
sesuai bagi segala yang memerlukannya.

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit, dan dia
(langit itu masih merupakan) asap lalu Dia berkata kepadanya
dan kepada bumi 'Datanglah kamu keduanya menurut perintahKu
dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab:
'Kamidatang-dengan suka hati.'

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia
mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi
langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan
Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah
ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui."

Empat ayat dari Surat 41 tersebut menunjukkan beberapa
aspek; bentuk gas yakni bentuk pertama daripada bahan samawi
serta pembatasan secara simbolis bilangan langit sampai
tujuh. Kita akan melihat nanti apa arti angka tersebut.
Percakapan antara Tuhan di satu pihak dan langit dan bumi di
pihak lain adalah simbolis; maksudnya adalah untuk
menunjukkan bahwa setelah diciptakan Tuhan, langit-langit
dan bumi menyerah kepada perintah-perintah Tuhan.

Ada orang-orang yang mengatakan bahwa paragraf tersebut
bertentangan dengan ayat yang mengatakan bahwa penciptaan
itu melalui enam periode. Dengan menjumlahkan dua periode
yang merupakan penciptaan bumi dan empat periode untuk
pembagian makanan bagi penduduknya dan dua periode untuk
penciptaan langit, kita akan mendapatkan delapan periode,
dan hal ini merupakan kontradiksi dengan enam periode
tersebut di atas.

Sesungguhnya teks yang dimaksudkan untuk mengajak orang
berfikir tentang kekuasaan Tuhan dengan memulai memikirkan
bumi sehingga nanti dapat memikirkan langit, teks tersebut
merupakan dua bagian yang dipisahkan dengan kata: "tsumma"
yang berarti: di samping itu (selain daripada itu). Tetapi
kata tersebut juga berarti: kemudian daripada itu. Maka kata
tersebut dapat mengandung arti urut-urutan. Yakni urutan
kejadian atau urutan dalam pemikiran manusia tentang
kejadian yang dihadapi. Tetapi juga mungkin hanya berarti
menyebutkan beberapa kejadian-kejadian tetapi tidak
memerlukan arti: urut-urutan. Bagaimanapun juga, periode
penciptaan langit dapat terjadi bersama dengan dua periode
penciptaan bumi. Sebentar lagi kita akan membicarakan
bagaimana Qur-an menyebutkan proses elementer penciptaan
alam dan bagaimana hal tersebut dapat terjadi pada waktu
yang sama untuk langit dan bumi sesuai dengan konsep modern.
Dengan begitu kita akan mengerti benar kebolehan
menggambarkan simultanitas kejadian-kejadian yang disebutkan
dalam fasal ini.

Jadi tak ada pertentangan antara paragraf yang kita
bicarakan dengan konsep yang terdapat dalam teks-teks yang
lain yang ada dalam Qur-an, yakni teks yang mengatakan bahwa
penciptaan alam itu terjadi dalam enam periode..

QUR-AN TIDAK MENUNJUKKAN URUT-URUTAN
DALAM PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI

Dalam dua paragraf daripada Qur-an yang baru saja kita
sebutkan, terdapat ayat mengenai penciptaan langit-langit
dan bumi (surat 7 ayat 54), dan di lain tempat disebutkan
penciptaan bumi dan langit-langit (surat 41 ayat 9 s/d 12),
nampak bahwa Qur-an tidak menunjukkan urut-urutan dalam
penciptaan langit-langit dan bumi.

Terdapat beberapa ayat yang menyebutkan penciptaan bumi
lebih dahulu seperti dalam surat 2 ayat 29, dan dalam surat
20 ayat 4. Akan tetapi terdapat lebih. banyak ayat-ayat di
mana langit-langit disebutkan sebelum bumi (surat 7 ayat 54,
surat 10 ayat 3, surat 11 ayat 7, surat 25 ayat 59, surat 32
ayat 4, surat 50 ayat 38, surat 57 ayat 4, surat 79 ayat 27,
dan surat 91 ayat 5 s.d. 10).

Jika kita tinggalkan surat 79, tak ada suatu paragraf dalam
Qur-an yang menunjukkan urutan penciptaan secara formal.
Yang terdapat hanya huruf "wa" yang artinya "dan" serta
fungsinya menghubungkan dua kalimat. Terdapat juga kata
"tsumma" yang sudah kita bicarakan di atas dan yang dapat
menunjukkan, sekedar sesuatu di samping sesuatu lainnya,
atau urutan.

Pada hemat saya, hanya terdapat satu paragraf dalam Quran,
di mana disebutkan urutan antara kejadian-kejadian
penciptaan secara jelas, yaitu ayat 27 s.d. ayat 33 surat 79


Artinya: "Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya
ataukah langit? Allah telah membinanya Dia
meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya.
Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan
menjadikan siangnya terang benderang, dan bumi
sesudah itu dihamparkannya. Ia memancarkan
daripadanya mata airnya dan menumbuhkan
tumbuh-tumbuhannya, dan gunung-gunung
dipancangkannya dengan teguh Semua itu untuk
kesenanganmu dan untuk binatang-binatang
ternakmu."

Perincian nikmat-nikmat Dunia yang Allah berikan kepada
manusia, yang diterangkan dalam bahasa yang cocok bagi
petani atau orang-orang pengembara (nomad) di Jazirah
Arabia, didahului dengan ajakan untuk memikirkan tentang
penciptaan alam. Akan tetapi pembicaraan tentang tahap Tuhan
menggelar bumi dan menjadikannya cocok untuk tanaman,
dilakukan pada waktu pergantian antara siang dan malam telah
terlaksana. Terang bahwa di sini ada dua hal yang
dibicarakan: kelompok kejadian-kejadian samawi dan kelompok
kejadian-kejadian di bumi yang diterangkan dengan waktu.
Menyebutkan hal-hal tersebut mengandung arti bahwa bumi
harus sudah ada sebelum digelar dan bahwa bumi itu sudah ada
ketika Tuhan membentuk langit. Dapat kita simpulkan bahwa
evolusi langit dan bumi terjadi pada waktu yang sama, dengan
kait mengkait antara fenomena-fenomena. Oleh karena itu tak
perlu memberi arti khusus mengenai disebutkannya bumi
sebelum langit atau langit sebelum bumi dalam penciptaan
alam. Tempat kata-kata tidak menunjukkan urutan penciptaan,
jika memang tak ada penentuan dalam hal ini pada ayat-ayat
lain.

Proses fundamental daripada pembentukan kosmos dan
kesudahannya dengan penyusunan alam

Dalam dua ayat Qur-an disajikan suatu sintesa singkat
daripada fenomena-fenomena yang menyusun proses fundamental
tentang pembentukan kosmos.

Surat 21 ayat 30:

Artinya: "Dan apakah orang-orang yang kafir
tidak mengetahui bakwasanya langit dan bumi itu
keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian
Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air,
Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka
mengapakah mereka tiada juga beriman?"

Dalam surat 41 ayat 11, kita dapatkan sebagai berikut:



Artinya: "Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit
dan dia (langit itu masih merupakan) asap, lalu
Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: Datanglah
kamu keduanya menurut perintah Ku dengan suka hati
atau terpaksa. Keduanya menjawab: Kami datan8
dengan suka hati."

Nanti kita akan membicarakan tentang asal kehidupan yang
dikatakan "air," di samping masalah-masalah biologi yang
terdapat dalam Qur-an. Untuk sementara kita dapat
menyimpulkan sebagai berikut:

a). Menetapkan adanya suatu kumpulan gas dengan
bagian-bagian kecil yang sangat halus. Dukhan = asap. Asap
itu terdiri dari stratum (lapisan) gas dengan bagian-bagian
kecil yang mungkin memasuki tahap keadaan keras atau cair,
dan dalam suhu rendah atau tinggi

b). Menyebutkan proses perpisahan (fatq) dari suatu kumpulan
pertama yang unik yang terdiri dari unsur-unsur yang
dipadukan (ratq). Kita tegaskan lagi, "fatq" dalam bahasa
Arab artinya memisahkan dan "ratq" artinya perpaduan atau
persatuan beberapa unsur untuk dijadikan suatu kumpulan yang
homogen.

Konsep kesatuan yang berpisah-pisah menjadi beberapa bagian
telah diterangkan dalam bagian-bagian lain dari Qur-an
dengan menyebutkan alam-alam ganda. Ayat pertama dari surat
pertama dalam Qur-an berbunyi: "Dengan nama Allah, Maha
Pengasih dan Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan
sekalian alam."

Kata-kata alamin (alam-alam) terdapat berpuluh kali dalam
Qur-an. Langit-langit juga disebutkan sebagai ganda, bukan
saja dalam bentuk kata jamak; tetapi dengan angka simbolik
yaitu angka tujuh. Angka tujuh dipakai dalam Qur-an 24 kali
untuk maksud bermacam-macam. Sering kali angka tujuh itu
berarti "banyak" dan kita tidak tahu dengan pasti sebabnya
angka tersebut dipakai. Bagi orang-orang Yunani dan
orang-orang Rumawi, angka 7 juga mempunyai arti "banyak"
yang tidak ditentukan. Dalam Qur-an angka 7 dipakai 7 kali
untuk memberikan bilangan kepada langit, angka 7 dipakai
satu kali untuk menunjukkan langit-langit yang tidak
disebutkan. Angka 7 dipakai satu kali untuk menunjukkan 7
jalan di langit.

Bacalah ayat-ayat di bawah ini. Surat 2 ayat 29.




Artinya: "Dialah .Allah, yang menyaksikan segala yang
ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak
(menciptakan) langit, lalu dijadikanNya tujuh
langit Dan Dia maha mengetahui segala sesuatu."

Surat 23 ayat 17.


Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di
atas kamu tujuh buah jalan, dan Kami sekali-
kali tidaklah lengah terhadap ciptaan."

Surat 67 ayat 3


Artinya: "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-
lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada
ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang
tidak seimbang. Karena itu lihatlah berulang-
ulang adakah kamu lihat sesuatu yang tidak
seimbang?"

Surat 71 ayat 15-16


Artinya: "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah
telah menciptakan tujuh langit bertingkat-
tingkat. Dan Allah menciptakan padanya bulan
sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai
pelita?"

Surat 78 ayat 12.


Artinya: "Dan Kami bina di atas kamu tujuh buah langit
yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang amat
terang (matahari)."10

Untuk ayat-ayat tersebut para ahli tafsir Qur-an sepakat
bahwa angka 7 menunjukkan "banyak" dengan tak ada perinci.11

Langit-langit adalah banyak, dan bumi juga banyak. Pembaca
modern yang membaca Qur-an akan heran bahwa ia menemukan
dalam suatu teks dan abad VI suatu benda yang
mengatakan bahwa bumi-bumi seperti bumi kita terdapat dalam
kosmos, padahal manusia pada zaman kita sekarang ini, sampai
hari ini belum dapat membuktikan.

Sesungguhnya surat 65 ayat 12 berbunyi:


Artinya: "Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan
seperti itu pula bumi, berlaku perintah {Allah) di
antaranya, (Allah menciptakan yang demikian)
supaya kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya Allah,
ilmunya benar-benar meliputi segala sesuatu."

Karena angka tujuh menunjukkan "ganda" yang tak ditentukan,
kita dapat mengambil konklusi bahwa teks Qur-an menunjukkan
dengan jelas bahwa tidak hanya terdapat suatu bumi, bumi
manusia, tetapi terdapat bumi-bumi lain yang serupa dalam
kosmos ini.

Suatu hal lain yang mentakjubkan pembaca Qur-an pada abad 20
ini adalah ayat-ayat yang menyebutkan tiga macam benda-benda
yang diciptakan, yaitu:

Benda-benda yang terdapat di langit
Benda-benda yang terdapat di atas bumi.
Benda-benda yang terdapat di antara langit-langit dan bumi.

Bacalah ayat 6 surat 20:


Artinya: "KepunyaanNyalah semua yang ada di langit,
semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya
dan semuanya yang di bawah tanah."

Surat 25 ayat 59 :


Artinya: "Yang menciptakan langit dan bumi dan apa
yang ada di antara keduanya dalam enam masa."

Surat 32 ayat 4 .


Artinya: "Allahlah yang menciptakan langit dan bumi
dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam
masa, kemudian Ia bersemayam di atas 'arsy."

Surat 50 ayat 38.


Artinya: "Dan sesunggahnya telah Kami ciptaan langit
dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam
enam masa dan Kami sedikitpun tidak ditimpa
keletihan."12

Kata-kata "yang ada di antara langit dan bumi," terdapat
juga dalam surat 21 ayat 16, surat 44 ayat 7 dan 38, surat
78 ayat 37, surat 15 ayat 85, surat 46 ayat 3 dan surat 43
ayat 85.

Penciptaan di luar langit dan bumi yang berkali-kali
tersebut dalam Qur-an, secara apnori kurang dapat
digambarkan. Untuk memahami ayat-ayat tersebut, kita perlu
kembali kepada penemuan manusia yang paling modern tentang
adanya bahan-kosmik ekstra galaktik, dan untuk itu kita
harus mengarah dan yang paling sederhana kepada yang paling
kompleks dan mengikuti hasil-hasil Sains masakini mengenai
terbentuknya kosmos. Hal ini akan kita bicarakan dalam
paragraf yang akan datang.

Tetapi sebelum memasuki pemikiran-pemikiran yang bersifat
ilmiah murni, saya rasa baik untuk meringkaskan dasar-dasar
pokok yang dipakai oleh Qur-an untuk memberi penerangan
kepada kita tentang penciptaan kosmos. Menurut hal-hal yang
telah kita bicarakan, dasar-dasar tersebut adalah sebagai
berikut:

1. Adanya enam penode untuk penciptaan pada umumnya
2. Adanya jaringan yang berkaitan antara tahap-tahap
penciptaan langit-langit dan tahap-tahap penciptaan bumi.
3. Penciptaan kosmos mula-mula dari kumpulan yang unik yang
merupakan kesatuan dan kemudian terpecah.
4. Terdapatnya banyak langit dan banyak bumi.
5. Terdapatnya benda-benda ciptaan Tuhan antara
langit-langit dan bumi.

BEBERAPA CATATAN SAINS MODERN TENTANG PEMBENTUKAN KOSMOS

SISTEM MATAHARI

Bumi dan planet-planet yang beredar sekitar matahari
merupakan suatu alam yang teratur yang dimensinya sangat
besar bagi ukuran manusia. Bukankah bumi itu dipisahkan
daripada matahari oleh jarak ± 150 juta km? Jarak ini sangat
besar bagi manusia, tetapi jarak itu sangat kecil jika
dibandingkan dengan jarak yang memisahkan matahari daripada
planet yang paling jauh dalam sistem matahari. Dengan angka
bulat jarak itu adalah 40 kali lebih besar, jadi kurang
lebih 6 milliard km. Lipatan jarak tersebut, yakni ± 12
milliard km menunjukkan dimensi yang terbesar dalam sistem
matahari. Cahaya matahari memerlukan waktu enam jam untuk
sampai di planet tersebut, yang bernama Pluton, padahal
cahaya itu mempunyai kecepatan vang dahsyat, yakni 300-000
km per detik. Tetapi beberapa milliard tahun diperlukan
cahaya untuk perjalanan dari bintang-bintang yang terjauh
sepanjang pengetahuan manusia sekarang sampai ke bumi kita
ini.

GALAKSI

Matahari dari bumi kita ini merupakan satu di antara
satelit-satelit lain yang melingkunginya hanya merupakan
satu unsur yang tak berarti di antara beribu-ribu milliard
bintang yang keseluruhannya merupakan suatu kumpulan yang
dinamakan galaksi. Kita dapat melihat angkasa (space) penuh
dengan malam musim panas yang indah yang membentuk apa yang
dinamakan kabut susu.- Kelompok bintang-bintang tersebut
mempunyai dimensi yang sangat amat besar. Jika cahaya dapat
menempuh seluruh sistem matahari dalam beberapa jam, cahaya
itu memerlukan 90 ribu tahun untuk memotong jarak dari satu
sudut yang paling jauh kepada sudut imbangannya yang paling
jauh dalam suatu kelompok bintang-bintang yang paling kompak
yang merupakan galaksi kita.

Dan lagi galaksi kita ini, yang begitu dahsyat besarnya
seperti yang kita lukiskan di atas, hanya merupakan satu
unsur kecil daripada langit. Terdapat kumpulan-kumpulan
raksasa daripada bintang-bintang yang mirip dengan kabut
susu di luar galaksi kita.

Kumpulan-kumpulan raksasa bintang-bintang itu baru diketahui
manusia 50 tahun yang lalu, yaitu karena eksplorasi
astronomik (penyelidikan bintang-bintang) dapat mengambil
manfa'at dari alat-alat optik yang sempurna seperti alat
yang memungkinkan dibuatnya teleskop Mount-Wilson di Amerika
Serikat. Dengan cara ini orang dapat mengetahui sejumlah
besar sekali daripada galaksi serta galaksi-galaksi lain
yang terpisah dan terdapat pada jarak-jarak yang sangat amat
jauh, sehingga memerlukan ukuran sendiri yaitu ukuran tahun
cahaya yang dinamakan Parsec, yakni suatu jarak yang
ditempuh oleh cahaya dalam 3,26 tahun, dengan kecepatan 300
ribu km per detik.

FORMASI DAN EVOLUSI GALAKSI, BINTANG-BINTANG DAN
SISTEM-SISTEM PLANETER

Apakah yang pernah ada dalam ruang yang sangat amat luas
yang sekarang dihuni oleh galaksi. Sains modern tak dapat
memberikan jawaban kepada soal ini, kecuali jika bertolak
dan periode tertentu dari evolusi kosmos yang Sains itu
sendin tak dapat mengira jarak waktu yang memisahkan antara
kita dan kosmos.

Sains modern berpendapat bahwa kosmos telah terjadi dari
kumpulan gas yakni hidrogen dan sedikit helium yang berputar
secara pelan pada zaman yang sangat kuno. Kumpulan gas
tersebut kemudian terbagi menjadi potongan-potongan banyak
daripada dimensi dan kelompok yang sangat besar. Ahli-ahli
ilmu astrofisika (fisika bintang) mengirakan bahwa dimensi
tersebut adalah satu milliard sampai 100 milliard kali
besarnya matahari, dan besarnya matahari adalah 300.000 kali
besarnya bumi. Angka-angka tersebut memberikan gambaran
kepada kita tentang pentingnya kelompok gas mula-mula yang
kemudian melahirkan galaksi.

Pecahan baru terjadi lagi dan melahirkan bintang-bintang.
Kemudian terjadilah proses kondensasi di mana daya tarik
(karena benda-benda itu bergerak dan beredar sangat cepat),
tekanan, pengaruh medan-medan magnetik dan radiasi semuanya
memberikan pengaruh.

Bintang-bintang menjadi bercahaya karena perubahan kekuatan
daya tarik menjadi energi panas. Reaksi termonuklir ikut
melakukan peran dan karena bercampur maka terjadilah atom
berat yang menggantikan atom ringan. Dengan begitu maka
hidrogen, menjadi helium, kemudian menjadi karbon dan
kemudian lagi menjadi oksigen, dan akhirnya menjadi logam,
kemudian menjadi metalloid. Jadi bintang-bintang itu
mempunyai kehidupan dan astronomi modern telah dapat
menyusun klasifikasi mengenai perkembangan bintang tersebut.
Bintang itu juga mengalami kematian. Dalam tahap
perkembangannya yang terakhir terjadi suatu ledakan dalam
beberapa bintang dan setelah itu bintang-bintang itu mati.

Planet-planet, khususnya bumi, terjadi karena proses
perpisahan dari kumpulan gas asli yang pada permulaannya
merupakan kumpulan gas primitif. Semenjak 1/4 abad, para
ahli sudah sepakat bahwa matahari menjadi beku (padat) di
dalam gumpalan utama, sedang planet-planet lain menjadi
padat di tengah-tengah orbit yang melingkungi bumi. Kita
harus ingat dan hal ini sangat penting dalam persoalan yang
kita hadapi sekarang, bahwa tak ada urut-urutan dalam
terjadinya unsur-unsur samawi seperti matahari dan juga
dalam unsur di bumi. Yang terjadi adalah paralelisme
perkembangan dengan identitas masing-masing.

Di sini, Sains memberi keterangan kepada kita tentang waktu
kejadian-kejadian tersebut di atas terjadi; orang
memperkirakan umur galaksi kita 10 milliard tahun, dan 5
milliard tahun kemudian menurut hipotesa ini, terjadilah
sistem matahari. Penyelidikan tentang radio-aktivitas
menunjukkan bahwa bumi dan matahari telah terjadi 4.5
milliard tahun yang lalu; menurut perhitungan yang lebih
baru, umur bumi dan matahari dikurangi 100 miliun tahun.
Koreksi waktu ini mengherankan; koreksi tersebut berarti:
0.1/4.5 =2.2%, padahal faktanya 100 juta tahun.

Mengenai terbentuknya sistem matahari, ahli-ahli astrofisika
telah memperoleh data-data tentang proses-proses umum yang
dapat diringkaskan. Perpadatan (kondensasi) dan pengecilan
kumpulan gas yang beredar, perpecahan dalam
potongan-potongan, semua itu telah menghasilkan matahari dan
planet-planet, termasuk bumi kita.13 Hasil-hasil Sains
tentang kumpulan gas primitif dan caranya berpecah menjadi
bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya dan yang
terhimpun dalam galaksi telah membenarkan secara pasti
konsep adanya alam ganda, tetapi tidak memberi kepastian
tentang adanya sesuatu planet yang menyerupai bumi.

KONSEP ALAM GANDA

Walaupun begitu ahli-ahli astrofisika modern berpendapat
bahwa sangat boleh jadi ada planet-planet yang menyerupai
bumi. Mengenai sistem matahari tak ada ahli astrofisika yang
mengatakan kemungkinan adanya planet seperti bumi di
dalamnya. Oleh karena itu planet-planet seperti bumi itu
harus dicari di luar sistem matahari, mereka mengira ada
kemungkinan terdapatnya planet seperti bumi di luar sistem
matahari karena alasan-alasan sebagai berikut:

Orang memperkirakan bahwa dalam galaksi kita, seperdua dari
100 milliard bintang, masing-masing mempunyai sistem planet
seperti sistem matahari. Memang 50 milliard bintang
mempunyai rotasi (edaran) yang pelan, dan hal ini mendorong
kita untuk menduga bahwa ada planet-planet yang melingkungi
masing-masing sebagai satelit. Jauhnya bintang-bintang itu
menyebabkan kita tidak dapat melihat planet-planet tersebut,
akan tetapi adanya planet-planet satelit tersebut sangat
boleh jadi karena sifat-sifat trajektori. Pergelombangan
ringan daripada trajektori bintang menunjukkan adanya
satelit yang menemani bintang tersebut.

Sebagai contoh bintang yang diberi nama Bernard mempunyai
suatu teman di luar trajektori Jupiter, bahkan mungkin ada
dua satelit.

P. Guerim seorang ahli astrofisika menulis: "Sistem planeter
sudah terang, tersebar banyak dalam kosmos, sistem matahari
dan bumi tidak satu-satunya yang ada." Kemudian ia
lanjutkan: "Kehidupan, sebagai planet-planet yang memberinya
tempat juga tersebar di seluruh kosmos, dimana saja terdapat
kondisi fisis-kimiawi yang diperlukan untuk terbukanya
kehidupan tersebut dan perkembangannya selanjutnya."

MATERI INTERSTELLAIR

Proses pokok terbentuknya kosmos adalah padatan materi dari
kelompok gas primitif: terpecahnya dalam beberapa pecahan
yang menjadikan bahan galaksi. Bahan galaksi berpecah-pecah
menjadi bintang-bintang dan planet-planet yang lebih kecil.
Perpecahan yang terus menerus itu meninggalkan elemen pokok
yang dapat kita namakan "sisa" nama ilmiahllya: bahan
galaksi interstellair

Bahan galaksi interstellair dilukiskan dari beberapa aspek
yang berlainan. Kadang-kadang dari aspek nebula (kelompok
bintang) yang gemerlapan, menyebarkan sinar yang diterimanya
dari bintang-bintang lain yang dapat dibentuk dengan debu
atau asap menurut istilah astrofisika; kadang-kadang dan
aspek nebula yang remang-remang dan tidak padat, dan
kadang-kadang dari bahan-bahan interstellair yang lebih
misterius seakan-akan untuk menghalangi pengambilan
gambar-gambar angkasa. Adanya jembatan materi antar galaksi
sudah dapat dipastikan walaupun sangat tidak padat: tetapi
oleh karena memenuhi ruang yang sangat besar dan galaksi itu
berjauhan sekali satu daripada lainnya, gas-gas tersebut
dapat bertemu dengan kelompok lain yang walaupun tidak
padat, dapat melalui kumpulan gas galaksi. A. Boichat
mengatakan bahwa adanya kumpulan gas antar galaksi itu
sangat penting dan dapat menimbulkan perubahan besar tentang
perkembangan kosmos.

BERHADAPAN DENGAN AYAT-AYAT QUR-AN TENTANG PENCIPTAAN ALAM

Marilah kita selidiki lima dasar yang menjadi landasan
Qur-an untuk menceritakan tentang penciptaan alam.

I. Enam masa daripada penciptaan langit-langit dan bumi,
menurut Qur-an, meliputi terbentuknya benda-benda samawi,
terbentuknya bumi dan perkembangan bumi sehingga dapat
dihuni manusia. Untuk hal yang terakhir ini, Qur-an
mengatakan, segala sesuatu terjadi dalam empat waktu. Apakah
empat waktu itu merupakan zaman-zaman geologi dalam Sains
modern, karena menurut Sains modern, manusia timbul pada
zaman geologi ke empat? Ini hanya suatu hipotesa; tetapi tak
ada jawaban terhadap soal ini. Tetapi perlu kita perhatikan
bahwa untuk pembentukan benda-benda samawi dan bumi sebagai
yang diterangkan dalam ayat 9 sampai dengan 12, surat 4,
diperlukan dua tahap. Sains memberi tahu kepada kita bahwa
jika kita mengambil contoh (satu-satunya contoh yang sudah
mungkin diketahui) daripada pembentukan matahari dan
embel-embelnya, yakni bumi, prosesnya melalui padatan
(kondensasi) nebula (kelompok gas) dan perpecahannya. Ini
adalah yang dikatakan oleh Qur-an secara jelas dengan proses
yang mula-mula berupa asap samawi, kemudian menjadi kumpulan
gas, kemudian berpecah. Di sini kita dapatkan persatuan yang
sempurna antara penjelasan Qur-an dan penjelasan Sains.

II. Sains telah menunjukkan simultanitas antara dua
kejadian pembentukan bintang (seperti matahari) dan
pembentukan satelit-satelitnya, atau salah satu satelitnya
(seperti bumi). Bukankah simultanitas ini telah nampak juga
dalam teks Qur-an seperti yang telah kita ketahui?

III. Nampak persesuaian antara wujudnya asap pada permulaan
terciptanya kosmos, yaitu asap yang dipakai oleh Qur-an
untuk menunjukkan gas yang banyak dalam materi yang menjadi
asal kosmos dan konsep Sains modern tentang nebula primitive
(kelompok gas asli).

IV. Kegandaan langit-langit yang diterangkan oleh Qur-an
dengan simbul angka 7 yang sudah kita fahami artinya telah
dibenarkan oleh Sains modern dalam pernyataan ahli-ahli
astrofisika tentang sistem galaksi dan jumlahnya yang amat
besar. Di lain fihak wujudnya bumi-bumi yang mirip dengan
bumi kita dari beberapa aspek adalah suatu hal yang dapat
kita fahami daripada teks Qur-an, tetapi sampai sekarang
Sains belum dapat membuktikannya. Bagaimanapun keadaannya,
para spesialis menganggap bahwa adanya bumi semacam itu
sangat mungkin.

V. Adanya suatu penciptaan pertengahan antara
langit-langit dan bumi seperti yang dijelaskan Qur-an dapat
dimengerti dengan diketemukannya jembatan-jembatan materi
yang terdapat di luar sistim astronomik teratur.

Jika segala soal yang ditimbulkan oleh ayat-ayat Qur-an
sampai sekarang belum dapat diterangkan secara menyeluruh
oleh ilmu pengetahuan, sedikitnya tak terdapat pertentangan
antara ayat-ayat Qur-an dan pengetahuan modern tentang
penciptaan kosmos.

Kita perlu menggaris bawahi keunggulan Qur-an setelah kita
mengetahui bahwa teks Perjanjian Lama yang kita miliki telah
memberi perincian-perincian tentang penciptaan kosmos tetapi
perincian-perincian itu tak dapat diterima oleh ilmu
pengetahuan. Kita tidak heran karena kita tahu bahwa teks
Sakerdotal (para pendeta) dari Bibel tentang penciptaan alam
itu ditulis pada waktu bangsa Israil dibuang ke Babylon.
Para pendeta Yahudi itu mempunyai maksud-maksud yuridis yang
sudah kita terangkan di atas dan mereka itu telah menyusun
riwayat-riwayat yang sesuai dengan pandangan keagamaan
mereka.

Adanya perbedaan yang menyolok antara riwayat Bibel dan
riwayat Qur-an tentang penciptaan kosmos adalah sangat
menarik perhatian karena semenjak permulaan timbulnya agama
Islam, Nabi Muhammad selalu dituduh telah menjiplak isi
Bibel. Dalam hal penciptaan kosmos ini, tuduhan semacam itu
sama sekali tidak mempunyai landasan.

Bagaimana 14 abad yang lalu seseorang dapat mengkoreksi
riwayat yang sudah tersiar dengan menghilangkan
kekeliruan-kekeliruan ilmiah dan mengemukakan apa yang ia
bawakan sendiri yaitu hal-hal yang telah dibenarkan oleh
Sains pada abad kita ini. Hipotesa semacam itu tak dapat
dipertahankan. Qur-an membicarakan penjelasan tentang
penciptaan kosmos yang sangat berbeda dengan penjelasan
Bibel.

JAWABAN TERHADAP BEBERAPA KEBERATAN

Tak dapat dibantah lagi bahwa terdapat persamaan antara
riwayat Bibel dan riwayat Qur-an mengenai hal-hal lain dari
penciptaan-penciptaan, khususnya yang mengenai sejarah
keagamaan.

Akan tetapi kita sangat heran karena di negara-negara Barat
orang tidak merasa keberatan terhadap Yesus karena Yesus
menyebutkan soal-soal yang sama dan ajaran-ajaran Injil,
sedangkan mereka (orang Barat) itu mendakwa Muhammad sebagai
seorang Nabi palsu karena dalam ajaran-ajarannya menyebutkan
hal-hal tersebut serta melukiskannya sebagai wahyu. Tetapi
mana buktinya bahwa Muhammad telah menjiplak dalam Qur-an
hal-hal yang para pendeta Yahudi mengajarkan atau
mendiktekannya. Tak ada hal yang menguatkan dakwaan mereka
kecuali pernyataan bahwa seorang pendeta masehi memberikan
pendidikan agama kepada Nabi Muhammad. Harap para pembaca
meneliti apa yang dikatakan oleh R. Blachere tentang hikayat
ini dalam karangannya yang berjudul: Soal-soal mengenai
Muhammad.

Ada juga orang yang mengemukakan semacam persamaan antara
isi ayat-ayat Qur-an dan kepercayaan-kepercayaan pada zaman
kuno sekali, lebih kuno daripada Bibel.

Secara umum orang ini mengatakan bahwa dalam kitab-kitab
Suci terdapat bau-bau mitos kosmos: umpamanya kepercayaan
orang-orang Polynesia tentang adanya air asli kuno dalam
kegelapan, dan air itu memisahkan diri setelah ada cahaya.
Waktu itulah langit dan bumi terbentuk. Jika kita
membandingkan mitos ini dengan riwayat penciptaan kosmos
menurut Bibel, memang kita merasa ada semacam persamaan,
tetapi sangat sembrono untuk mengatakan bahwa Bibel
mengambil alih mitos kosmos tersebut.

Juga sembrono sekali untuk menganggap konsep Qur-an tentang
pecahan materi asli yang menjadi bahan susunan atom pada
permulaannya, yaitu suatu konsep yang sama dengan konsep
Sains modern, sebagai konsep berasal dari mitos-mitos kosmos
bermacam-macam yang memberikan gambaran yang sedikit banyak
ada persamaannya.

Adalah menarik untuk menganalisa lebih dekat
kepercayaan-kepercayaan dan riwayat-riwayat mitos, karena di
sana ada titik tolak yang pantas dan dalam beberapa hal
sesuai dengan apa yang kita ketahui sekarang atau apa yang
kita merasa mengetahuinya, tetapi yang tereampur dengan
lukisan-lukisan khayalan dalam kerangka mitos.

Hal itu adalah konsep yang banyak tersiar bahwa langit dan
bumi itu tadinya bersatu, kemudian berpisah. Jika orang
menambahkan dalam langit dan bumi gambaran telor dengan
bibit di dalamnya dan bumi, seperti yang terjadi di Jepang,
maka tambahan khayalan ini akan menghilangkan nilai konsep
tersebut.

Di negeri-negeri lain, orang menambah khayalan suatu
tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di bumi untuk mengangkat langit
dan memisahkannya dari bumi. Di sini khayalan perincian
ditambahkan dan memberi ciri khas kepada mitos-mitos
tersebut.

Tetapi di samping tambahan-tambahan itu semua ada ciri-ciri
umum yang tetap ada, dengan ide adanya kumpulan bahan yang
unik pada permulaan proses perkembangan kosmos, dan bahan
itu berpecah dan akhirnya menjadi alam-alam yang kita kenal.

Jika kita menyebutkan mitos-mitos kosmos di sini, maksud
kita adalah untuk menggarisbawahi daya khayalan manusia, dan
menunjukkan perbedaan yang dalam antara isi ayat-ayat Qur-an
dalam soal penciptaan kosmos ini, yang tidak ditambah dengan
perincian-perincian khayalan yang terdapat dalam mitos,
tetapi, sebaliknya disertai dengan keagungan bahasa dan
persesuaian dengan hasil-hasil penyelidikan Sains.

Dengan keterangan tersebut di atas, ayat-ayat Qur-an tentang
penciptaan alam yang diterima sebagai wahyu oleh Muhammad 14
abad yang lalu, tak dapat dikatakan sebagai karangan akal
manusia.


BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: