Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

I. PENGANTAR

Banyak pembaca Injil yang merasa bingung bahkan
ragu-ragu jika mereka memikirkan arti beberapa hikayat
atau mengadakan perbandingan antara versi-versi yang
bermacam-macam mengenai suatu kejadian yang diceritakan
dalam beberapa Injil. Hal tersebut adalah suatu
konstatasi yang diberikan oleh R.P. Rouguet dalam
bukunya: Pembimbing kepada Injil (Initiation a
l'Evangile) cetakan Seuil 1973. Dengan pengalamannya
selama beberapa tahun sebagai redaktur suatu mingguan
Katolik yang ditugaskan untuk menjawab pembaca-pembaca
yang mendapatkan kesulitan memahami teks Injil, R.P.
Rouguet dapat mengukur pentingnya kebingungan para
pembaca. Ia merasakan bahwa permintaan penjelasan dari
para pembaca yang datang dari lapisan masyarakat dan
kebudayaan orang bermacam-macam adalah mengenai teks
yang kabur, yang tak dapat dimengerti, yang
kontradiksi, absurd dan memalukan. Tidak ada syak lagi
bahwa membaca teks Injil seluruhnya dapat membingungkan
umat Kristen.

Pengamatan semacam ini adalah baru; buku R.P. Rouguet
diterbitkan pada tahun 1973. Pada masa-masa yang belum
terlalu lama, kebanyakan orang Kristen hanya mengetahui
ayat-ayat yang dipilih oleh pendeta, dibacakan di waktu
sembahyang atau ceramah agama. Di luar kaum Protestan,
jarang sekali orang membaca seluruh Injil, di luar
kesempatan-kesempatan tersebut.

Buku-buku pelajaran agama hanya memuat kutipan-kutipan.
Tak ada teks lengkap yang beredar. Pada waktu saya
menjadi siswa sekolah menengah katolik, saya selalu
memiliki buku-buku karangan Virgile dan Plato, tetapi
tidak memiliki Perjanjian Baru, pada hal teks Yunani
Perjanjian Baru sangat berfaedah. Baru kemudian,
setelah terlambat, saya baru tahu mengapa kami tidak
disuruh menterjemahkan kitab suci Kristen. Pokoknya,
terjemahan kitab itu akan mendorong kami memajukan
pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

Hal-hal yang dipertanyakan oleh pikiran yang kritis
setelah membaca Injil secara menyeluruh telah mendorong
Gereja untuk campur tangan dan membantu para pembaca
mengatasi kesulitan mereka. R.P. Rouguet berkata:
"Banyak orang Kristen yang memerlukan belajar membaca
Injil," mungkin orang setuju atau tidak setuju terhadap
kata-kata tersebut, akan tetapi jasa seorang yang
menghadapi problema-problema yang rumit amat
diperlukan. Sangat disayangkan bahwa kita tidak selalu
menjumpai sikap semacam itu dalam buku-buku mengenai
Wahyu Kristen yang banyak jumlahnya.

Dalam edisi-edisi Bibel yang disediakan untuk awam,
biasanya terdapat kata pengantar yang menyajikan
beberapa uraian dengan tujuan untuk meyakinkan para
pembaca bahwa Injil tidak menimbulkan persoalan
mengenai personnya, penulis-penulis fasal-fasalnya,
keaslian teksnya dan kebenaran isinya, padahal banyak
pengarang-pengarang yang tak terkenal, dan banyak pula
keterangan yang memberi kesan benar dan pasti padahal
hanya merupakan hipotesa; di antara
keterangan-keterangan tersebut ada yang mengatakan
bahwa pengarang Injil tertentu menyaksikan
kejadian-kejadian yang diriwayatkannya padahal
buku-buku para ahli mengatakan sebaliknya. Perbedaan
waktu antara hidupnya Nabi Isa dengan timbulnya
Injil-Injil dilukiskan sangat singkat. Ada usaha untuk
meyakinkan orang banyak, bahwa hanya ada satu naskah
semenjak tradisi lisan, padahal perubahan-perubahan
teks telah dibuktikan oleh para ahli. Memang ada yang
membicarakan kesulitan penafsiran, tetapi orang itu
tergelincir dalam kontradiksi-kontradiksi yang
menyolok. Dalam kamus kecil yang disusun di akhir edisi
Bibel tersebut, yaitu kamus yang dimaksudkan untuk
menambah kata-kata pendahuluan yang meyakinkan tadi,
sering terdapat bahwa kekeliruan, kontradiksi atau
kesalahan-kesalahan yang besar dihilangkan atau ditutup
dengan alasan apologetik yang lihai. Keadaan semacam
itu adalah menyedihkan karena menunjukkan sifat yang
menyesatkan.

Hal-hal yang saya sebutkan di atas tentu mengherankan
para pembaca yang belum pernah memikirkan hal-hal
tersebut. Oleh karena itu sebelum memasuki pembicaraan
yang lebih dalam, saya ingin menyajikan contoh yang
menyolok.

Matius dan Yahya tidak pernah membicarakan kenaikan Al
Masih ke langit. Lukas menempatkan kejadian itu pada
hari Yesus dihidupkan kembali. Hal ini ia sebutkan
dalam Injilnya, padahal dalam fasal: "Perbuatan Para
Rasul" yang ia sendiri menulisnya, kejadian tersebut
ditempatkan empat puluh hari kemudian. Adapun Markus,
ia menyebutkannya dengan tidak pakai waktu, dalam satu
paragraf yang sekarang sudah dianggap tidak autentik
lagi. Dengan begitu maka kenaikan Al Masih ke langit
tidak mempunyai dasar yang kokoh dalam Perjanjian Baru.
Walaupun begitu para ahli tafsir menganggap soal ini
sangat enteng.

A. Tricot, dalam bukunya: Kamus Kecil Tentang
Perjanjian Baru (Petit Dictionnaire du Nouveau
Testament) dari Bibel Crampon, yaitu suatu buku yang
tersebar luas (terbit tahun 1960) tidak memuat artikel
Ascension (kenaikan Al Masih). Synopse des Evangiles
(Ringkasan Injil-Injil) karangan R. P. Benoit dan
Boismard, gurubesar-gurubesar di sekolah Bibel di
Yerusalem (cetakan 1972) mengatakan pada jilid 11
halaman 451 dan 452 bahwa kontradiksi antara Lukas
dalam Injilnya dan Lukas dalam fasal Perbuatan Para
Rasul dapat diterangkan dengan "artifice Litteraire"
(penipuan sastra). Apakah artinya ini?

Nampaknya R.P. Rouguet dalam: Pengantar kepada Injil
(Initiation a Evangile) cetakan 1973 halaman 187 tidak
tertarik dengan (penipuan sastra) tersebut. Akan tetapi
penjelasan yang ia kemukakan adalah aneh, seperti
berikut: "Di sini, seperti dalam beberapa kasus yang
sama, persoalannya dapat dipecahkan, kecuali jika
seseorang memahami isi kitab suci secara harafiah dan
melupakan arti keagamaannya. Di sini soalnya bukan
untuk memecahkan fakta-fakta dalam simbolisme yang
tidak konsisten tetapi untuk menyelidiki maksud
teologik dari mereka yang mengungkapkan
rahasia-rahasia, dengan memberikan kepada kita fakta
yang dapat diterima pancaindera dan alamat-alamat yang
sesuai dengan kecenderungan-kecenderungan badaniah
daripada jiwa kita."

Bagaimana kita dapat merasa puas dengan tafsiran
semacam itu? Cara-cara apologi seperti itu hanya sesuai
dengan orang-orang yang bersifat dogmatis!

Tetapi pernyataan R.P. Rouguet penting karena ia
mengatakan bahwa dalam Injil terdapat hal-hal yang sama
dengan persoalan kenaikan Nabi Isa ke langit. Oleh
karena itu kita perlu membicarakan persoalan ini secara
menyeluruh, mendalam dan obyektif. Adalah bijaksana
jika kita mencari penjelasan dalam pembahasan tentang
kondisi waktu Injil-Injil itu ditulis dan suasana
keagamaan pada waktu itu. Pengungkapan
perubahan-perubahan redaksi asli semenjak menjelmanya
dari tradisi lisan, perubahan-perubahan teks selama
dialihkan dari generasi ke generasi sampai hari ini,
telah menjadikan kita tidak terlalu terperanjat dalam
menghadapi bagian-bagian yang kabur yang tidak
dimengerti, yang keliru, yang menjurus untuk menjadi
absurd atau tidak sesuai dengan realitas-realitas yang
telah dibuktikan oleh kemajuan ilmu pengetahuan.
Kenyataan-kenyataan semacam itu menunjukkan partisipasi
manusia dalam menyusun Injil dan menunjukkan pula
perubahan-perubahan teks yang terjadi kemudian.

Semenjak beberapa puluh tahun telah timbul
kecenderungan untuk mempelajari kitab-kitab suci
-dengan jiwa penyelidikan yang obyektif. Dalam suatu
karangan baru yang berjudul "Foi en la Resurrection,
Resurrection de la foi" (Kepercayaan bahwa Yesus hidup
kembali, Kehidupan kembali dari kepercayaan). R. P.
Kannengiesser, Guru Besar pada Institut Katolik di
Paris memberikan gambaran tentang perubahan yang
mendalam ini sebagai berikut: "Orang-orang yang percaya
hampir tidak mengetahui bahwa suatu revolusi dalam
metode penafsiran Bibel telah terjadi semenjak periode
Paus Pius XII (1939-1958). Revolusi yang dibicarakan
itu memang baru. Revolusi tersebut dimulai dengan
memperpanjang waktu pendidikan-pendidikan pemeluk agama
Kristen, sedikitnya mengenai bahan-bahan yang diajarkan
oleh ahli-ahli Injil yang memiliki jiwa pembaharuan.
Suatu pembalikan terhadap perspektif yang telah sangat
mantap tentang tradisi para pendeta, telah berjalan
sedikit atau banyak dengan timbulnya revolusi metode
menafsirkan ini."

R.P. Kannengiesser memperingatkan kita "Jangan memahami
secara harafiah" segala hal yang diceritakan oleh Injil
tentang Yesus, karena "Injil itu adalah fasal-fasal
yang ditulis pada keadaan-keadaan tertentu'? atau
merupakan "fasal-fasal perjuangan" yang
pengarang-pengarangnya bermaksud untuk memelihara
dengan tulisan segala dongengan masyarakat mereka
tentang Yesus. Mengenai dihidupkannya Yesus kembali,
yaitu hal yang dibicarakan dalam bukunya, ia
menandaskan bahwa tak ada pengarang Injil yang dapat
mengatakan dirinya sebagai saksi mata.

Hal ini berarti bahwa, mengenai masa kenabian Yesus,
keadaannya juga begitu, yakni tak ada pengarang Injil
yang menjadi saksi mata, oleh karena tak ada seorang
rasul (Hawari) selain Yudas,7 yang berpisah dari
gurunya (yakni dari Yesus) dari semenjak mereka
mengikutinya sampai akhir penjelmaannya diatas bumi
(Padahal para penulis Injil bukan Hawari).

Dengan begitu, maka kita sudah menjadi terlalu jauh
dari sikap tradisional yang masih dipegang dengan
khusuknya oleh Konsili Vatikan II, baru sepuluh tahun
yang lalu; sikap tradisional tersebut juga masih terus
nampak dalam buku-buku modern yang ditulis untuk awam.
Tetapi sedikit demi sedikit kebenaran itu nampak juga.

Memang tidak mudah untuk menangkap kebenaran selama
tradisi yang sudah turun temurun lama itu tetap
dipertahankan. Jika seseorang ingin me}epaskan diri
dari tradisi tersebut ia harus meneliti permasalahannya
dari dasarnya, artinya ia harus meneliti
keadaan-keadaan yang meliputi lahirnya agama Kristen.


II. MENGINGAT KEMBALI SEJARAH

AGAMA YAHUDI KRISTEN (JUDEO-CHRISTIANISME) DAN PAULUS

Kebanyakan umat Kristen mengira bahwa Injil-Injil itu
ditulis oleh saksi-saksi mata yang menyaksikan
kehidupan Yesus secara langsung, dan dengan begitu
mereka itu merupakan saksi-saksi yang tak dapat
disangsikan lagi mengenai kejadian-kejadian yang
memenuhi kehidupannya dan dakwahnya. Dengan menghadapi
jaminan-jaminan tentang kebenaran Injil, dapatkah orang
mempersoalkan ajaran-ajaran yang dapat diambil dari
Injil tersebut? Dapatkah orang ragu-ragu tentang
kebenaran kelembagaan Gereja yang didirikan menurut
petunjuk-petunjuk umum yang diberikan oleh Yesus
sendiri? Cetakan-cetakan Injil sekarang yang
diperuntukkan bagi orang awam memuat komentar-komentar
yang dimaksudkan untuk menyebarluaskan idea-idea
tersebut diantara mereka.

Kepada pengikut-pengikut agama yang setia, ditonjolkan
aksioma bahwa para pengarang Injil adalah saksi-saksi
mata. Bukankah Yustin pada abad II mengatakan bahwa
Injil-Injil itu adalah memoir (catatan-catatan) para
Rasul (sahabat-sahabat Nabi Isa). Kemudian diberikan
pula keterangan yang terperinci mengenai para pengarang
Injil sehingga orang tidak ragu-ragu lagi akan
kebenarannya. Umpamanya: Matius adalah seorang yang
sangat terkenal "pegawai bea Cukai di Kafrna'um, "Ia
faham bahasa Aramaik dan bahasa Yunani. Markus
disebutkan sebagai teman Petrus; sudah terang bahwa
Markus bukan saksi mata yang melihat Yesus sendiri.
Lukas adalah seorang tabib, sehingga Paulus mengatakan
bahwa keterangan-keterangan tentang Lukas tersebut
sangat tepat. Yahya adalah rasul (sahabat) yang selalu
dekat dengan Yesus, anak dari Zebede, seorang nelayan
di danau Genesareth.

Penyelidikan-penyelidikan modern tentang permulaan
agama Kristen menunjukkan bahwa penyajian seperti
tersebut di atas tidak sesuai dengan kenyataan. Kita
nanti akan mengetahui siapa pengarang-pengarang Injil
itu. Mengenai periode beberapa puluh tahun setelah
Yesus tak ada lagi, kita harus tahu bahwa yang terjadi
tidak seperti apa yang dikatakan, dan bahwa kunjungan
Petrus ke Roma tidak mendirikan Gereja Katolik.
Sebaliknya antara waktu Yesus meninggalkan bumi ini
sampai pertengahan abad II, yakni selama lebih dari
satu abad telah terjadi perjuangan antara dua aliran
yakni agama Kristen menurut Paulus dan agama
Yahudi-Kristen; dengan pelan-pelan aliran Paulus
mendesak aliran asli yakni agama Yahudi-Kristen.

Banyak karangan-karangan yang muncul pada beberapa
dasawarsa yang akhir ini dan yang berdasarkan
penemuan-penemuan yang terungkap di zaman kita, telah
memungkinkan kita memahami pikiran-pikiran modern yang
disajikan oleh Kardinal Danielou. Artikel yang
diterbitkan pada bulan- Desember 1967 dalam majalah
Etude (penyelidikan) berjudul: Suatu pandangan baru
tentang asal agama Kristen atau Yudeo-Christianisme.
Dengan mengutip karangan-karangan yang terdahulu, ia
menjelajahi sejarah dan memungkinkan kita untuk
menempatkan Injil dalam konteks yang sangat berbeda
dengan apa yang dapat kita baca dalam uraian-uraian
yang ditulis untuk kaum awam. Di bawah ini kita
cantumkan ringkasan pikiran-pikiran pokok dalam artikel
tersebut, dengan kutipan-kutipan:

Sesudah Yesus, tidak ada lagi kelompok kecil para rasul
(sahabat) yang merupakan suatu "sekte Yahudi yang setia
kepada ibadat dan upacara temple." Tetapi ketika banyak
orang-orang baru yang masuk agama Kristen dari agama
Kafir (Pagan), mereka mengusulkan suatu aturan Khusus;
konsili Yerusalem tahun 49 M membebaskan mereka dari
khitan dan upacara-upacara Yahudi. Banyak orang-orang,
Yahudi-Kristen yang tidak setuju dengan perlakuan
khusus ini. Kelompok ini memisahkan diri dan Paulus.
Malahan telah terjadi bentrokan antara Paulus dan
kelompok Yahudi Kristen pada tahun 49 M itu juga di
Antioch. Bagi Paulus, khitan, liburan hari Sabtu dan
upacara di temple tidak perlu lagi, baik untuk pengikut
Yesus atau untuk orang Yahudi sendiri. Agama Kristen
harus membebaskan diri dari hubungan politico religius
dengan agama Yahudi, dan membuka diri bagi orang gentil
(yang bukan Yahudi).

Dalam pandangan orang Yahudi Kristen yang tetap setia,
kepada ajaran Yahudi, Paulus adalah orang yang
berkhianat. Dokumen-dokumen mereka mengatakan bahwa
Paulus adalah musuh dan mendakwanya dengan taktik dua
muka; tetapi sampai tahun 70 M Yudeo--Christianisme
merupakan "mayoritas dalam gereja" dan "Paulus
merupakan orang yang terasing." Ketua daripada
masyarakat Yudeo-Christian adalah Jack, seorang kerabat
Yesus. Jack didampingi Petrus dan Yahya. Jack dapat
dianggap sebagai tiangnya Yudeo-Christianisme, yang
sengaja setia kepada agama Yahudi menentang agama
Kristen yang dipimpin Paulus. Keluarga Yesus memegang
peranan dalam gereja Yudeo-Christian di Yerusalem.
Pengganti Jack adalah Simon, anak Cleopas, saudara
sepupu Yesus.

Kardinal Danielou mengutip tulisan-tulisan Yudeo
Christian yang mengungkapkan pandangan kelompok Yudeo
Christian yang terbentuk sekitar para rasul (sahabat)
terhadap Yesus: Injil orang-orang Ibrani (mengenai
masyarakat Yahudi Kristen di Mesir), Hypotesa karangan
Clement, rasa syukur Clement (Reconnaissance de
Clement), Apocalypse Jack dan Injil Thomas.8

Orang-orang Yahudi Kristen itulah yang menulis
dokumen-dokumen Kristen kuno yang disebutkan secara
terperinci olel Kardinal Danielou.

"Pada abad I M, agama Yahudi Kristen tidak hanya di
Yerusalem dan Palestina, akan tetapi di tempat-tempat
lain juga, yakni sebelum aliran Paulus tersiar. Hal ini
memberi penerangan mengapa surat-surat Paulus selalu
menyebutkan adanya konflik," memang di mana-mana Paulus
mendapat rintangan yang sama, di Galitea, Korintus,
Kolose, Roma dan Antioch.

Di tanah pesisir Siria Palestina, dari Gaza sampai
Antioch, orang-orang menganut agama Yahudi Kristen,
seperti yang diterangkan oleh surat-surat para rasul
dan tulisan-tulisan Clement."

Di Asia kecil adanya pengikut-pengikut agama Yahudi
Kristen telah dibuktikan oleh surat untuk orang Galitia
dan surat untuk orang Kolose, keduanya dikirim oleh
Paulus. Tulisan-tulisan Papias memberi gambaran tentang
agama Yahudi Kristen di Phrygie. Di negeri Yunani,
khususnya di Apollos, surat Paulus kepada orang
Korintus menunjukkan tersiarnya agama Yahudi Kristen.
Roma merupakan suatu pusat penting, menurut surat
Clement dan Pendeta dari Hernias. Di Suetone dan
Tacite, orang-orang Kristen merupakan sekte Yahudi.
Kardinal Danielou berpendapat bahwa agama Kristen yang
masuk Afrika, mula-mula adalah agama Yahudi Kristen.
Ini dikuatkan oleh Injil orang Ibrani dan
tulisan-tulisan Clement dari Alexandria.

Adalah sangat penting untuk mengetahui fakta-fakta
tersebut agar kita dapat memahami bahwa Injil-lnjil itu
ditulis pada suasana perjuangan antara dua kelompok.
Penyebaran teks yang kita punyai sekarang, setelah
diadakannya perubahan-perubahan dalam teks sumbernya,
dimulai sekitar tahun 70 M, yaitu waktu bentrokan
antara kedua kelompok yang bersaingan. Pada waktu itu
kelompok Yahudi Kristen lebih banyak. Tetapi dengan
terjadinya Perang Yahudi (melawan Kerajaan Romawi) dan
jatuhnya Yerusalem pada tahun 70, keadaan menjadi
terbalik.

Kardinal Danielou menerangkan kemunduran ini sebagai
berikut:

"Karena orang-orang Yahudi tidak dipercaya lagi di
dalam Kerajaan Romawi, maka orang-orang Kristen
menjauhkan diri dari mereka. Agama Kristen seperti yang
tersiar di negeri Yunani mendapat kemajuan. Paulus
mendapat kemenangan sesudah ia sendiri mati. Agama
Kristen memisahkan diri dari agama Yahudi baik secara
sosiologik maupun secara politik, dan menjadi kelompok
ketiga, yakni di samping Yahudi dan Kafir. Tetapi
meskipun begitu sampai pemberontakan Yahudi yang
terjadi pada tahun 140, agamaYahudi Kristen masih
dominan secara kebudayaan."

Dari tahun 70 sampai kira-kira tahun 110, timbullah
empat Injil, yakni yang ditulis oleh Markus, Matius,
Lukas dan Yahya. Injil itu tidak merupakan dokumen
Kristen yang pertama; sebelumnya telah ada surat-surat
Paulus. Menurut O. Culmann, Paulus menulis surat kepada
orang Tesalonika pada tahun 50. Tetapi sudah terang,
Paulus meninggal beberapa tahun sebelum Injil Markus
selesai ditulis.

Paulus adalah seorang yang banyak dipersoalkan dan
dianggap pengkhianat kepada ajaran Yesus oleh keluarga
Yesus sendiri, dan oleh rasul-rasul (sahabat-sahabat
Nabi Isa) yang tinggal di Yerusalem dengan Jack. Paulus
dianggap telah menyiarkan ajaran-ajarannya sendiri dan
merugikan para sahabat-sahabat yang dikumpulkan oleh
Yesus sendiri untuk menyiarkan ajaran-ajarannya. Oleh
karena Paulus tidak pernah bertemu dengan Yesus, maka
ia memberi dasar untuk perbuatannya dengan mengatakan
bahwa Yesus yang telah hidup kembali setelah di kubur,
nampak kepadanya di jalan ke Damascus. Kita dapat
bertanya-tanya bagaimana yang mestinya terjadi dalam
agama Kristen seandainya Paulus tidak muncul; tentu ada
bermacam-macam hypotesa. Akan tetapi, dalam hal yang
mengenai Injil-Injil, kita dapat mengatakan bahwa jika
suasana bentrokan antara dua kelompok yang disebabkan
oleh ajaran Paulus yang menyeleweng itu tiada ada,
tentunya kita tidak akan menemukan Injil-lnjil seperti
yang ada sekarang. Karena ditulis pada waktu
pertentangan antara dua kelompok, maka tulisan-tulisan
perjuangan (ecrits de Combat) seperti yang dinamakan
oleh R.P. Kannengiesser, telah muncul dari
tulisan-tulisan mengenai Yesus ketika agama Kristen
menurut ajaran Paulus telah menang dan sedang menyusun
kumpulan teks-teks resmi atau Canon, yaitu teks yang
menghukum segala teks lain yang tidak sesuai dengan
garis yang dipilih oleh Gereja serta menganggapnya
sebagai bertentangan dengan ortodoksi.

Setelah pengikut agama Yahudi Kristen tidak lagi
rnerupakan kelompok yang berpengaruh, mereka itu
biasanya dinamakan "Yudaisants" yakni orang-orang yang
condong kepada agama Yahudi. Kardinal Danielou menulis:

"Orang-orang Yudeo Kristen terputus dari Gereja Besar
yang membebaskan diri dari pengaruh Yahudi, dan mereka
itu musnah dengan cepat di Barat. Akan tetapi mereka
masih terdapat di Timur pada abad III dan IV, khususnya
di Palestina, Arabia, Yordania, Syria dan Mesopotamia
(Irak). Di antara mereka banyak yang memeluk agama
Islam, yang memang merekalah pewaris agama Kristen dari
suatu segi, lainnya mengikuti ortodoksi Gereja Besar
dengan mempertahankan kebudayaan Semit;" seperti yang
masih terdapat di Ethiopia dan Babylon.



BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

1 komentar:

Anonymous mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.