Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

SEKEDAR MENGEMUKAKAN FAKTA

Hanya sedikit hal-hal yang tersebut dalam Perjanjian
Lama, dan juga dalam Perjanjian Baru yang menimbulkan
konfrontasi dengan pengetahuan modern. Tetapi jika
terdapat hal-hal yang tidak sesuai antara teks Bibel
dengan Sains, maka soalnya menjadi sangat penting.

Dalam bab-bab yang terdahulu, kita telah menemukan
dalam Bibel kesalahan-kesalahan sejarah dan kita telah
menyebutkan beberapa masalah yang telah dibicarakan
oleh ahli tafsir Yahudi dan Kristen. Ahli-ahli Kristen
condong untuk mengecilkan persoalannya. Mereka
berpendapat bahwa adalah normal jika seorang pengarang
buku agama menyajikan fakta-fakta sejarah dengan
menghubungkannya dengan teologi, menulis sejarah untuk
keperluan agama. Kita akan melihat dalam Injil Matius,
sikap yang bebas terhadap sesuatu kenyataan, dan kita
dapatkan tafsiran-tafsiran yang tujuannya untuk
menjadikan yang tidak benar menjadi benar; suatu
pikiran yang obyektif dan logis tidak akan merasa puas
dengan cara yang demikian.

Dengan memakai logika, orang dapat menunjukkan banyak
kontradiksi dan kekeliruan dalam Bibel. Adanya
sumber-sumber yang berlainan telah menyebabkan adanya
versi yang berlainan mengenai sesuatu hikayat. Tetapi
di samping itu kita dapatkan bermacam-macam perubahan,
bermacam-macam tambahan. Pada mulanya tambahan itu
sebagai tafsiran, tetapi kemudian naskah asli dan
tafsiran disalin lagi dan semua isinya dianggap asli.
Semua ini sudah diketahui oleh ahli-ahli kritik teks,
dan mereka kemukakan secara jujur.

Mengenai Taurah, R.P. de Vaux dalam bukunya: Pengantar
Umum (Introduction Generale) yang ditulis sebelum
menterjemahkan Taurah telah menunjukkan bermacam-macam
kepincangan yang tak perlu lagi saya ulangi di sini
karena banyak lagi yang akan saya sebutkan dalam
penyelidikan ini. Kesimpulan dari semua itu adalah
bahwa kita tidak boleh memahami teks-teks Taurah secara
harafiah.

Di bawah ini adalah suatu oontoh yang menarik:

Dalam Kitab Kejadian (6, 3) Tuhan memutuskan, sebelum
Banjir Nabi Nuh, untuk membatasi umur manusia, paling
panjang hanya 120 tahun. "Hidupnya tidak akan lebih
dari 120 tahun." Tetapi kemudian, dalam Kitab Kejadian
(II, 10-32) kita dapatkan bahwa sepuluh orang keturunan
Nabi Nuh hidup sampai umur antara 148 dan 600 tahun
(lihatlah tabel mengenai anak turunan Nabi Nuh sampai
Abraham). Kontradiksi antara dua kalimat tersebut
adalah menyolok. Tetapi adalah mudah untuk menerangkan.
Kalimat pertama (Kitab Kejadian 6,3) adalah teks
Yahwist, yang sebagai kita telah membicarakannya,
dibuat pada abad X S.M. Sedangkan kalimat kedua (Kitab
Kejadian II, 10-32) merupakan teks yang lebih muda
(abad VI S.M.) dari tradisi pendeta-pendeta
(Sakerdotal) yang merupakan dasar dari silsilah
keturunan (genealogi) yang memberi gambaran tentang
lamanya hidup seseorang secara tepat tetapi ternyata
tidak benar dalam keseluruhannya.

Kontradiksi dengan Sains modern terdapat dalam Kitab
Kejadian, yaitu mengenai tiga persoalan:

1). Penciptaan alam dan tahap-tahapnya.
2). Waktu penciptaan alam dan waktu timbulnya
manusia di atas bumi.
3). Riwayat banjir Nuh.


Sebagai yang telah dikatakan oleh R. P. de Vaux, Kitab
Kejadian bermula dengan dua riwayat mengenai penciptaan
alam. Oleh karena itu kita perlu menyelidiki kedua
riwayat itu secara terpisah untuk mengetahui
kesesuaiannya dengan penyeiidikan-penyelidikan ilmiah.

RIWAYAT PERTAMA

Riwayat pertama memenuhi fasal I dan ayat-ayat pertama
dari fasal II. Riwayat ini merupakan contoh yang sangat
menonjol tentang ketidaktepatan ilmiah. Kita perlu
melakukan kritik sebaris demi sebaris. Teks yang kita
muat di sini adalah teks menurut terjemahan Lembaga
Bibel Yerusalem, (Ecole Biblique de Yerusalem). Dalam
bahasa Indonesia, diambil dari Al Kitab cetakan Lembaga
Alkitab Indonesia tahun 1962. (Rasjidi).

Fasal 1, ayat 1 dan 2,

1. "Bahwa pada mula pertama dijadikan Allah akan langit
dan bumi.

2. Maka bumi itu lagi campur baur adanya, yaitu suatu
hal yang ketutupan kelam kabut; maka Roh Allah
melayang-layang diatas muka air itu."

Kita dapat menerima bahwa pada tahap bumi belum
diciptakan, apa yang kemudian menjadi alam yang kita
ketahui sekarang masih tenggelam dalam kegelapan, akan
tetapi tersebutnya adanya air pada periode tersebut
hanya merupakan alegori (kiasan) belaka mungkin sekali
ini adalah terjemahan suatu mitos. Kita akan melihat
dalam bagian ketiga dari buku ini bahwa pada tahap
permulaan dari terciptanya alam yang terdapat adalah
gas. Maka disebutkannya air di situ adalah suatu
kekeliruan.

Ayat 3 sampai 5

3. "Maka firman Allah: Hendaklah ada terang. Lalu
terangpun jadilah.

4. Maka dilihat Allah akan terang itu baiklah adanya,
lalu diceraikan Allah terang itu dengan gelap.

5. Maka dinamai Allah akan terang itu siang dan akan
gelap itu malam. Setelah petang dan pagi, maka itulah
hari yang pertama."

Cahaya yang menerangi alam adalah hasil daripada reaksi
kompleks yang terjadi pada bintang-bintang. Hal ini
akan kita bicarakan pada bagian ketiga daripada buku
ini. Pada tahap penciptaan alam yang kita bicarakan
sekarang, menurut Bibel, bintang-bintang belum
diciptakan, karena sinar di langit baru disebutkan
dalam ayat 14 dari Kitab Kejadian, yaitu sebagai
ciptaan pada hari keempat, untuk "memisahkan siang
daripada malam," "untuk menerangi bumi." Dan ini semua
betul. Tetapi adalah tidak logis untuk menyebutkan efek
(sinar) pada hari pertama, dengan menempatkan
penciptaan benda yang menyebabkan sinar
(bintang-bintang) tiga hari sesudah itu. Lagipula
menempatkan malam dan pagi pada hari pertama adalah
alegori (kiasan) semata-mata, karena malam dan pagi
sebagai unsur hari tak dapat digambarkan kecuali
sesudah terwujudnya bumi dan beredarnya di bawah sinar
planetnya yaitu matahari.

Ayat 6 sampai 8

6. "Maka firman Allah: Hendaklah ada suatu bentangan
pada sama tengah air itu supaya diceraikan dengan air.

7. Maka dijadikan Allah akan bentangan itu serta
diceraikanlah air yang di bawah bentangan itu dengan
air yang di atas bentangan. Maka jadilah demikian.

8. Lalu dinamai Allah akan bentangan itu langit.
Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang kedua."

Mitos air diteruskan dalam ayat-ayat tersebut dengan
memisahkan air menjadi dua lapisan, di tengahnya adalah
langit. Dalam riwayat Banjir Nabi Nuh, langit
membiarkan air menanjak, dan air itu kemudian jatuh ke
tanah. Gambaran bahwa air terbagi menjadi dua kelompok
tak dapat diterima secara ilmiah.

Ayat 9 sampai 13

9. "Maka firman Allah: Hendaklah segala air yang di
bawah langit itu berhimpun kepada satu tempat, supaya
kelihatan yang kekeringan itu; maka jadilah demikian.

10. Lalu dinamai Allah akan yang kekeringan itu darat,
dan akan perhimpunan segala air itu dinamainya laut;
maka dilihat Allah itu baiklah adanya.

11. Maka firman Allah: Hendaklah bumi itu menumbuhkan
rumput dan pokok yang berbiji dan pohon yang
berbuah-buah dengan tabiatnya yang berbiji dalamnya di
atas bumi itu; maka jadilah demikian.

12. Yaitu ditumbuhkan bumi akan rumput dan pokok yang
berbiji dengan tabiatnya dan pohon-pohon yang
berbuah-buah yang berbiji dalamnya dengan tabiatnya;
maka dilihat Allah itu baiklah adanya

13. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang
ketiga."

Fakta bahwa pada suatu periode dalam sejarah bumi,
ketika bumi ini masih tertutup dengan air, terjadi
bahwa daratan-daratan mulai muncul, adalah suatu hal
yang dapat diterima secara ilmiah. Akan tetapi bahwa
pohon yang mengandung biji-biji bermunculan sebelum
terciptanya matahari (yang menurut Kitab Kejadian, baru
tercipta pada hari keempat), dan juga bahwa siang dan
malam silih berganti sebelum terciptanya matahari, hal
tersebut sama sekali tak dapat dipertahankan.

Ayat 14 sampai 19

14. "Maka firman Allah: Hendaklah ada beberapa benda
terang dalam bentangan langit supaya diceraikannya
siang dengan malam dan menjadi tanda dan ketentuan masa
dan hari dari tahun.

15. Dan supaya ia itu menjadi benda terang pada
bentangan langit akan menerangkan bumi; maka jadilah
demikian.

16. Maka dijadikan Allah akan kedua benda terang yang
besar itu, yaitu terang yang besar itu akan
memerintahkan siang dan terang yang kecil akan
memerintahkan malam, dan lagi segala bintang pun.

17. Maka ditaruh Allah akan dia dalam bentangan langit
akan memberi terang di atas bumi.

18. Dan akan memerintahkan siang dan malam dan akan
menceraikan terang itu dengan gelap maka dilihat Allah
itu baik adanya.

19. Setelah petang dan pagi maka itulah hari yang ke
empat."

Di sini gambaran yang diberikan oleh pengarang Injil
dapat diterima. Satu-satunya kritik yang dapat kita
lemparkan terhadap ayat-ayat tersebut adalah tempat dan
letaknya dalam hikayat penciptaan alam seluruhnya. Bumi
dan bulan telah memisahkan diri daripada matahari;
menempatkan penciptaan matahari dan bulan sesudah
penciptaan bumi adalah bertentangan dengan hal-hal yang
sudah disetujui secara pasti dalam ilmu pengetahuan
mengenai tersusunnya alam bintang-bintang.

Ayat 20 sampai 23

20. "Maka firman Allah: Hendaklah dalam segala air itu
menggeriak beberapa kejadian yang bernyawa dan yang
sulur menyulur, dan hendaklah ada unggas terbang di
atas bumi dalam bentangan langit.

21. Maka dijadikan Allah akan ikan raya yang
besar-besar dan segala binatang sulur menyulur yang
menggeriak dalam air itu tetap dengan tabiatnya, dan
segala unggas yang bersayap dengan tabiatnya, maka
dilihat Allah itu baik adanya.

22. Maka diberkati Allah akan dia, firmannya: Jadilah
biak dan bertambah kamu dan damaikanlah air yang di
dalam laut itu dan hendaklah segala unggas itupun
bertambah-tambah di atas bumi.

23. Setelah petang dan pagi maka itulah hari yang
kelima."

Ayat-ayat tersebut mengandung hal-hal yang tak dapat
diterima


Riwayat kedua tentang penciptaan alam yang termuat
dalam Kitab Kejadian sesudah riwayat pertama, dengan
tanpa peralihan (transisi) dan tanpa komentar, tidak
menjadi sasaran kritik yang dilancarkan terhadap
riwayat pertama.

Kita harus ingat bahwa riwayat ini berasal dari periode
yang jauh lebih kuno, kira-kira 3 abad. Riwayat ini
pendek sekali, akan tetapi membicarakan juga penciptaan
manusia dan surga dunia di samping membicarakan
penciptaan bumi dan langit secara sangat singkat.
Beginilah bunyinya:

Fasal 2, 4b-7

4. "Maka demikianlah asalnya langit dan bumi pada masa
itu dijadikan, tatkala diperbuat Tuhan Allah akan
langit dan bumi.

5. Pada masa itulah belum ada tumbuh-tumbuhan di atas
bumi dan tiada pokok bertunas di padang, karena belum
lagi diturunkan Tuhan Allah hujan kepada bumi dan belum
ada orang akan membelakan tanah itu.

6. Melainkan naiklah uap dari bumi serta membasahkan
segala tanah itu.

7. Maka dirupakan Tuhan Allah akan manusia itu daripada
debu tanah dan dihembuskannya nafas hidup ke lubang
hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi suatu nyawa
yang hidup adanya."

Itulah; riwayat Yahwist yang terdapat dalam Bibel yang
kita miliki sekarang. Apakah riwayat ini yang kemudian
ditambah dengan riwayat Sakerdotal, memang dari
permulaan adalah sangat singkat? Tak ada orang yang
dapat mengatakan bahwa teks Yahwist pernah dipotong,
dan tak ada pula orang yang dapat mengatakan bahwa
beberapa baris yang kita miliki itu merupakan segala
sesuatu yang termuat dalam teks yang lebih kuno
daripada Bibel mengenai penciptaan alam.

Sesungguhnya riwayat Yahwist tersebut tidak menyebutkan
terbentuknya bumi dan langit. Riwayat tersebut hanya
memberi gambaran bahwa ketika Tuhan menciptakan
manusia, tak terdapat pohon-pohonan di atas bumi (belum
pernah ada hujan), meskipun air yang datang dari dalam
bumi menutupi dataran bumi. Teks selanjutnya memberi
konfirmasi karena ayat 8 mengatakan: "Maka diperbuat
Tuhan Allah pula suatu taman dalam Eden, di sebelah
Timur, maka di sanalah ditaruhnya akan manusia yang
telah dirupakannya itu." Dengan ayat tersebut dapat
disimpulkan bahwa pohon-pohonan tumbuh pada waktu yang
sama dengan diciptakannya manusia. Ini secara ilmiah
tidak benar, manusia muncul di atas bumi lama setelah
tumbuh-tumbuhan ada, walaupun kita tidak tahu berapa
juta tahun perbedaan antara dua kejadian itu.

Itulah satu-satunya kritik yang dapat dilontarkan
kepada teks Yahwist. Dengan tidak mengatakan bahwa
manusia diciptakan Tuhan bersamaan dengan diciptakannya
alam dan bumi, dua hal yang dikatakan oleh teks
Sakerdotal sebagai dua hal yang terjadi dalam satu
minggu, teks Yahwist terhindar dari kritik berat yang
dilontarkan orang terhadap teks Sakerdotal.


TAHUN PENCIPTAAN ALAM DAN TAHUN MUNCULNYA

MANUSIA DI ATAS BUMI

Menurut bahan-bahan yang terdapat dalam Perjanjian
Lama, kalender Yahudi menempatkan tahun-tahun itu
secara pasti. Pertengahan kedua daripada tahun 1975,
sama dengan permulaan tahun yang ke 5736 daripada
penciptaan alam. Manusia yang diciptakan Tuhan beberapa
hari sesudah terciptanya alam, mempunyai usia yang
sama, menurut kalender Yahudi.

Tentu saja tahun tersebut perlu dikoreksi, karena tahun
Yahudi dihitung menurut gerak bulan sedangkan kalender
Barat didasarkan atas tahun matahari, akan tetapi
koreksi sebanyak 3% agar menjadi tepat, tidak ada
artinya. Untuk tidak meruwetkan perhitungan, lebih baik
tidak melakukan koreksi itu. Yang penting di sini
adalah soal kebenaran, maka tidak penting jika masa
berjuta tahun itu berselisih 30 tahun untuk lebih dekat
kepada kebenaran, marilah kita katakan bahwa menurut
perhitungan Yahudi, terciptanya alam terjadi pada abad
XXXVII SM.

Apakah yang diajukan kepada kita oleh Sains modern?
Sukarlah kiranya untuk menjawab pertanyaan yang
mengenai terbentuknya alam; yang dapat kita katakan
adalah waktu terbentuknya sistem matahari (solair).
karena ini dapat kita kira-kirakan dengan cara yang
memuaskan. Orang memperkirakan bahwa antara waktu
terciptanya alam dan waktu sekarang, kirakira 4.5
milliard tahun. Dengan begitu dapat kita ukur perbedaan
antara kebenaran yang sudah ditetapkan oleh ilmu
pengetahuan (dan yang akan kita bicarakan secara
panjang dalam bagian ketiga dari buku ini) dan hal-hal
yang dibicarakan oleh Perjanjian Lama. Hal-hal terakhir
ini adalah hasil dari penyelidikan yang teliti terhadap
teks Bibel. Kitab Kejadian memberi keterangan yang
persis mengenai perbedaan waktu antara Adam dan
Ibrahim. Daftar tahun antara Nabi Ibrahim dan Nabi Isa
tidak lengkap dan perlu dilengkapi dengan sumber-sumber
lain.



BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: