Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

SUMBER-SUMBER INJIL

Kesan umum tentang Injil yang kita dapatkan dari
penyelidikan kritis terhadap teks adalah bahwa
Injil-lnjil "merupakan literatur yang kurang sempurna
penyusunannya," "yang tidak menunjukkan kontinuitas"
dan "yang menunjukkan kontradiksi-kontradiksi yang tak
dapat diatasi." Penilaian tersebut kita pinjam dari
Terjemahan Ekumenik terhadap Bibel, suatu buku yang
penting sekali untuk kita jadikan referensi, oleh
karena penilaian soal ini mempunyai akibat yang gawat.
Kita telah membaca dalam bagian lain catatan-catatan
mengenai sejarah kontemporer tentang agama, bahwa
kelahiran Injil-Injil dapat menerangkan ciri-ciri
literatur yang membingungkan ini bagi pembaca yang
menggunakan pikirannya.

Akan tetapi kita perlu menyelidiki lebih jauh dan
mencari yang dapat kita peroleh daripada
karangan-karangan yang diterbitkan pada zaman modern
ini mengenai sumber-sumber yang memberi bahan-bahan
kepada pengarang Injil untuk menyusun teks mereka;
adalah menarik juga untuk menyelidiki apakah sejarah
teks-teks Injil setelah dibukukan dapat menerangkan
aspek-aspek Injil yang sekarang kita baca.

Persoalan sumber ini telah dibicarakan secara sederhana
sekali pada zaman Pendeta-pendeta Gereja (zaman
Pertengahan). Pada abad-abad pertama Masehi, sumber
Injil adalah Injil yang pertama tersusun dari
manuskrip-manuskrip komplit, yakni Injil Matius. Soal
sumber hanya mengenai Injil Lukas dan Markus. Injil
Lukas merupakan kasus yang berdiri sendiri. Agustinus
menganggap bahwa Markus, yaitu nomor dua dalam urutan
Injil tradisional, mendapat inspirasi dari Injil Matius
yang ia ringkaskan, dan bahwa Lukas yang merupakan
pengarang Injil ketiga dalam manuskrip telah
mempergunakan Injil Markus dan Matius. Pendahuluan
Injil Lukas memberi kesan semacam itu.

Para ahli tafsir Injil pada waktu itu dapat juga
memberikan gambaran tentang persamaan (convergensi)
teks-teks dan menemukan ayat-ayat yang sama dalam dua
atau tiga Injil Sinoptik. Para ahli tafsir Terjemahan
Ekumenik daripada Bibel memberikan angka-angka sebagai
berikut:

Ayat-ayat sama dalam tiga Injil Sinoptik adalah 330
Ayat-ayat sama dalam Injil Markus dan Matius adalah 178
Ayat-ayat sama dalam Injil Markus dan Lukas adalah 100
Ayat-ayat sama dalam Injil Matius dan Lukas adalah 230

dan ayat-ayat yang khusus bagi tiap-tiap pengarang
Injil adalah: 330 ayat untuk Matius, 53 untuk Markus
dan 500 untuk Lukas.

Dari zaman para pendeta-pendeta Gereja sampai akhir
abad ke XVIII, 1500 tahun telah lewat dan tak ada
masalah baru mengenai sumber-sumber pengarang Injil;
orang hanya mengikuti tradisi. Hanya pada zaman modern
inilah orang mengerti bahwa tiap pengarang Injil,
walaupun mengambil informasi yang ada pada pengarang
lain, ia menyusun suatu riwayat menurut seleranya dan
pandangan pribadinya. Oleh karena, itu orang mulai
memperhatikan kumpulan bahan-bahan hikayat, di satu
pihak dalam tradisi lisan kelompok-kelompok asli, dan
di lain pihak dalam sumber umum dalam bahasa Aramaik
yang mestinya ada, akan tetapi sampai sekarang belum
ditemukan orang. Sumber yang tertulis ini mungkin
merupakan hanya satu kumpulan yang utuh, atau merupakan
bagian-bagian yang bermacam-macam yang dapat dipakai
oleh tiap-tiap pengarang Injil untuk menulis Injilnya.

Penyelidikan-penyelidikan yang mendalam semenjak satu
abad telah mengungkapkan teori-teori yang berkembang
dan menjadi rumit. Teori pertama adalah teori dua
sumber daripada Holtzmann (tahun 1863). Menurut teori
ini sebagai yang dijelaskan oleh O. Culmann dan
Terjemahan Ekumenik, Matius dan Lukas memakai pertama
bahan Markus, dan kedua suatu dokumen yang sekarang
hilang. Selain itu Matius dan Lukas masing-masing
memakai satu sumber sendiri. Hal tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut:

Sumber khusus
untuk Matius
|
|
|--> Matius <--| Markus --| |-- Dokumen bersama |--> Lukas <--| | | Sumber khusus untuk Lukas O. Culmann mengkritik teori tersebut sebagai berikut: 1. Karangan Markus yang dipakai oleh Lukas dan Matius belum tentu Injil Markus, akan tetapi suatu karangan lain yang ditulis sebelumnya. 2. Dalam teori tersebut tradisi lisan kurang diperhatikan, pada hal tradisi lisan inilah yang memelihara kata-kata Yesus dan hikayat-hikayat kegiatannya selama 30 atau 40 tahun. Sesungguhnya tiap-tiap pengarang Injil itu hanya juru bicara masyarakat Kristen yang menentukan tradisi lisan. Dengan begitu maka kita sampai kepada suatu pikiran bahwa Injil-Injil yang kita miliki telah memberi kita suatu gambaran tentang kehidupan dan kegiatan Yesus yang diketahui oleh Masyarakat Kristen Primitif (asli), begitu juga tentang akidah-akidah mereka, konsep-konsep teologi mereka yang ditulis oleh juru bicara mereka, yakni para pengarang Injil. Penyelidikan-penyelidikan yang lebih modern tentang kritik teks terhadap sumber-sumber Injil menunjukkan bahwa tersusunnya teks-teks tersebut telah melalui proses yang lebih kompleks. La Synopse des quatre Evangiles (ringkasan Injil empat) karangan R.P. Benoit dan R.P. Boismard, guru-guru besar sekolah Bibel di Yerusalem (tahun 1972-1973) menekankan perkembangan teks dalam tahap-tahap yang sama dengan perkembangan tradisi. Hal tersebut menimbulkan akibat-akibat yang disebutkan oleh R.P. Benoit dalam membicarakan bagian yang ditulis oleh R.P. Boismard: "Bentuk-bentuk kata-kata atau hikayat yang terjadi setelah perkembangan yang lama tidak mempunyai autentitas (kebenaran) yang terdapat dalam kata-kata asli. Barangkali banyak para pembaca yang heran atau kesal jika mereka mengetahui bahwa kata-kata Yesus, atau kiasannya atau ramalannya tentang nasibnya tidak pernah diucapkan seperti yang kita baca, akan tetapi sudah di retouche (diperbaiki) atau disesuaikan oleh orang-orang yang meriwayatkannya. Bagi mereka yang tidak biasa dengan penyelidikan sejarah semacam ini, hal ini mungkin menyebabkan keheranan bahkan kehebohan." Perbaikan teks dan penyesuaian yang dilakukan oleh mereka yang meriwayatkan teks tersebut kepada kita dilakukan menurut cara yang oleh R.P. Boismard digambarkan secara terperinci karena persoalan itu merupakan sambungan daripada teori dua sumber. Gambar atau skema itu dibuat setelah mengadakan penyelidikan dan perbandingan teks yang tak dapat diringkaskan di sini. Para pembaca yang ingin mengetahui dapat membaca bukunya, diterbitkan di Paris, cetakan Cerf. Ada empat macam dokumen pokok yang merupakan sumber-sumber Injil. Dokumen tersebut dinamakan A, B, C, dan Q. Dokumen A berasal dari lingkungan Yahudi Kristen yang memberikan inspirasi kepada Matius dan Markus. Dokumen B adalah reinterpretasi dokumen A yang dipakai dalam Gereja Pagan Kristen (Kafir-Kristen). Dokumen ini telah memberi inspirasi kepada semua penulis Injil, kecuali Matius. Dokumen C telah memberi inspirasi kepada Markus, Lukas dan Yahya. Dokumen Q merupakan bagian besar daripada sumber bersama yang dipakai oleh Matius dan Lukas. Ini adalah dokumen bersama yang disebutkan dalam "teori dua sumber" yang tersebut di atas. Di antara 4 macam dokumen tersebut tak ada yang menjadi teks definitif yang sekarang kita miliki, antara dokumen-dokumen tersebut dan redaksi terakhir ada redaksi-redaksi antara, yaitu yang oleh pengarangnya teori tersebut dinamakan: Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya. Dokumen-dokumen antara (intermedier) itulah yang akhirnya menjadi Injil empat, baik dengan memberi inspirasi kepada masing-masing Injil atau kepada lebih dan satu Injil-Injil. Di bawah ini adalah gambar yang menunjukkan silang-silang kompleks. ' Hasil daripada penyelidikan seperti ini adalah sangat penting, karena dapat menunjukkan bahwa teks-teks Injil yang mempunyai sejarah (hal ini akan kita bicarakan kemudian) juga mempunyai pra-sejarah, menurut istilah Boismard, artinya bahwa teks-teks tersebut telah mengalami perubahan-perubahan selama dalam tahap intermedier, sebelum mempunyai bentuk yang definitif. Dengan begitu, sekarang menjadi terang soal-soal seperti: riwayat ajaib tentang Yesus menangkap ikan. Riwayat tersebut dilukiskan oleh Lukas sebagai kejadian yang terjadi waktu Yesus masih hidup dan dilukiskan oleh Yahya sebagai hikayat Yesus menampakkan diri sesudah dibangkitkan sesudah mati R.P. BOISMARD Ringkasan empat Injil SKEMA UMUM Dokumen Q ->|
|-> Matius inter
Dokumen A ->|

Dokumen A ->|
|
Dokumen B ->|-> Markus inter
|
Dokumen C ->|


Dokumen B ->|
|
Dokumen C ->|
|-> Proto Lukas ->|
Dokumen Q ->| |-> Lukas final
| Markus inter ->|
Matius inter ->|


Proto Lukas ->|
|
Markus inter ->|-> Markus final
|
Matius inter ->|


Matius inter ->|
|-> Matius final ->|
Markus inter ->| |
|
|-> Yahya final
Dokumen B ->| |
| |
Dokumen C ->|----> Yahya ----->|
|
Proto Lukas ->|

Keterangan:
a, b, c, q = dokumen-dokumen dasar;
Mat. inter. = Matius intermedier
Mark. inter. = Markus intermedier
Proto Lukas = Lukas intermedier
Yahya = Yahya intermedier
Mat. final = redaksi final Matius
Mark. final = redaksi final Markus
Lukas final = redaksi final Lukas
Yahya final = redaksi final Yahya

Konklusi dari semua ini adalah bahwa dengan membaca
Injil, kita tidak yakin sama sekali bahwa kita membaca
katakata Yesus. R.P. Benoit memperingatkan pembaca
Injil tentang hal ini, tetapi memberi ganti
(kompensasi) sebagai berikut: Jika pembaca terpaksa
tidak dapat mendengarkan suara langsung daripada Yesus,
ia mendengar suara Gereja; pembaca Injil percaya kepada
juru bahasa yang disahkan oleh Yesus, yang setelah
pernah bicara di dunia ini sekarang berbicara dari
langit.

Bagaimana kita dapat menyesuaikan pengakuan resmi bahwa
beberapa teks Injil tidak autentik, dengan
kalimat-kalimat Konsili Vatikan II tentang wahyu Ilahi
yang meyakinkan kepada kita tentang terjadinya
transmisi (periwayatan) yang jujur daripada kata-kata
Yesus: "Injil empat yang diakui oleh Gereja tanpa
ragu-ragu tentang sejarahnya, telah menyampaikan secara
jujur apa-apa yang diperbuat dan diajarkan oleh Yesus,
putra Tuhan bagi keselamatan abadi, yaitu selama ia
hidup diantara manusia sampai ia diangkat ke langit."

Nampaklah dengan jelas sekali bahwa hasil penyelidikan
Sekolah Bibel di Yerusalem telah membantah keras
deklarasi Konsili Vatikan II.



BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: