Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Salah satu yang dipersoalkan oleh para Penggugat dan penghujat Islam adalah tentang Qs Al maidah 51 tentang adanya larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai AULIYA"     أَوْلِيَاءَ
dan dasar yang mereka persoalkan adalah merujuk kepada terjemahan bahasa Inggris ayat tersebut,yang menerjemahkan kata tersebut dengan terjemahan seperti ini
Q 5:51 take not the Jews and the Christians for your friends

maka untuk menjawab Gugatan tersebut maka perlu kita ketahui terlebih dahulu


Benarkah Hanya Islam Yang Melarang Berteman,dengan kelompok umat lain?



Perhatikan Ayat Al Kitab ini
  • Pada masa itu bagian-bagian dari pada kitab Musa dibacakan dengan didengar oleh rakyat. Didapati tertulis dalam kitab itu, bahwa orang Amon dan orang Moab tidak boleh masuk jemaah Allah untuk selamanya. Ketika mereka mendengar pembacaan Taurat itu mereka memisahkan semua peranakan dari orang Israel. (nehemia 13:2-3)
  • Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah,
    22:25 supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri. (amsal 22:24)
  • 50:18 Jika engkau melihat pencuri, maka engkau berkawan dengan dia, dan bergaul dengan orang berzinah. (mazmur 50:18)
Perhatikan juga apa yang dikatakan oleh Yesus dan Paulus:
  • matius 10:5-6
    10:5. Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria,
    10:6 melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.
  • efesus 5:5-7
    Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.
    5:6 Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.
    5:7 Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.
Ternyata Yesus dan Paulus melakukan diskriminasi. Sebagaimana juga keyakinan para pemeluk Yahudi:
  • Kisah para rasul 11:2-3
    11:2 Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia. 11:3 Kata mereka: "Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka."

  • 2 Yohanes 1 : 10-11
    1:10. Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. 1:11 Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat.
Bandingkan dengan doktrin Yahudi,
  • “Barangsiapa yang membaca Perjanjian Baru tidak akan mendapatkan bagian ‘hari kemudian’ (akhirat), dan Yahudi harus menghancurkan kitab suci umat Kristiani yaitu Perjanjian Baru” (Shabbath 116a)

  • “Hanya orang-orang Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang non Yahudi bukanlah manusia, melainkan binatang.” (Kerithuth 6b hal.78 Jebhammoth 61a)

  • “Orang-orang non-Yahudi diciptakan sebagi budak untuk melayani orang-orang Yahudi.” (Midrasch Talpioth 225)

Penjelasan tentang Qs :
Sebenarnya ayat 5:51 memiliki korelasi dengan ayat lainnya yaitu surah 5:57 dan surah 60:8-9:
  • Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (QS. 5:57)
  • Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. 60:8-9)

Living with Christians
Question: To what extent can Muslims work in a fair and friendly way with Christians and people of other faiths who live around them? Also, given that the Muslim minorities live amongst a majority of Christians, is it permissible for the Muslims to work and do business with them and to respond to their invitations and for them to respond to our invitations? Is it also permitted for Muslims to mix with them, whether in order to invite them to Islaam or merely out of courtesy? If the answer is that it is permissible, how can we reconcile it with the fact that in some books of usool al-fiqh it is stated that we should force them aside when we pass on a narrow path? In addition, it is stated that we should bring up our children to loathe, despise and avoid them. Could you possibly throw some light on this?

Response: Allaah (Subhaanahu wa Ta'aala) says:
{Allaah does not forbid you to be kind and just with those who have neither made war on your religion nor driven you from your homes. Allaah loves those who are just and equitable} , [Soorah al-Mumtahinah, Aayah 8].


A person's dealings with others falls into one of three categories:
1. He deals with them fairly and justly;
2. He deals with them fairly and justly;
3. He deals with them unjustly.


Dealing with people unjustly is prohibited. Even with the rights of non-Muslims, it is not permitted for you to deal with them unjustly and with oppression. Ibn Qayyim (Rah) when commenting on the words of the Prophet (sal-Allaahu `alayhe wa sallam):


«If the people of the Book give Salaam upon you, then answer them by saying, And upon you»  says, "This is if they say, 'As-Salaam' in a way which is not clear and it is possible and likely that they in fact said: "As- which means "poison". However, if they say, "As-Salaamu 'alaykum" clearly, then you should reply by saying, "Wa 'alaykum as-Salaam" also in a clear manner.


Allaah (Subhaanahu wa Ta'aala) says:


{If you are greeted by anyone, then reply with a better greeting or at least return the same greeting} , [Soorah an-Nisaa, Aayah 86].


This is what justice calls for. However, the reason for the Prophet (sal-Allaahu `alayhe wa sallam) saying:


«If the people of the Book give as-Salaam upon you, then answer them by saying, And upon you»  is made clear in a hadeeth narrated by ibn 'Umar. The Prophet (sal-Allaahu `alayhe wa sallam) said:


«The People of the Book say, "As-Saam 'alaykum" (May you be poisoned) so if the People of the Book give as-Salaam upon you, then reply by saying, 'Wa 'alaykum»  (And upon you.). And so the Prophet (sal-Allaahu `alayhe wa sallam) clarified the reason for this ruling.


Therefore, if they say distinctly, "As-Salaam" there is no objection for you to reply clearly, "Wa 'alaykum as-Salaam". If they congratulate us or give us best wishes, we can return the greeting to them. However, to give them best wishes on the occasion of their religious festivals is completely forbidden. It is prohibited, for example, to give them best wishes at Christmas or on the occasion of any other of their festivals because to wish them well by affirming their festivals of disbelief is to be contented and happy that these are their festivals. In the same way that it is prohibited to wish them good health over a drink of wine or any other prohibited subsume, it is also forbidden to wish them well by affirming their religious rites.


The matter of responding to their invitations is something that needs elaboration. If there is benefit in it and it is an opportunity to invite to Islaam, then there is no objection to it. The Prophet (sal-Allaahu `alayhe wa sallam) responded to an invitation of a Jew, who gave him bread, barley and dissolved fat. It is, however, something that we as Muslims must be very cautious about. Friendship and love for them, inclining to them and being content with their disbelief is not permitted because the need to have a sound and pure heart is extremely important for Muslims. The heart if it inclines to them or becomes content with their disbelief is in great danger.


For this reason, Allaah (Subhaanahu wa Ta'aala) says:


{You will not find a people who believe in Allaah and the Last Day being friendly with those who oppose Allaah and His Messenger, even though they are their fathers, sons, brothers, close relatives or from their own tribe} , [Soorah al-Mujaadalah, Aayah 8].


Shaykh Ibn 'Uthaymeen
al-Aqalliyaat al-Muslimah - Page 81, Fatwa No.22


Sahih Bukhari Volume 3, Book 47, Number 789:
Narrated Asma' bint Abu Bakr:
My mother came to me during the lifetime of Allah's Apostle and she was a pagan. I said to Allah's Apostle (seeking his verdict), "My mother has come to me and she desires to receive a reward from me, shall I keep good relations with her?" The Prophet said, "Yes, keep good relation with her. "

Carilah kebaikan pada orang-orang yang mempunyai sifat belas kasih dari umat-Ku (umat manusia, red. muslim), pasti kamu akan dapat hidup dibawah lindungannya, karena sesungguhnya rahmat-Ku ada pada mereka. Dan janganlah mencari kebaikan dari orang-raong yang kejam hatinya karena sesungguhnya murka-Ku menimpa atas mewreka." (HR. Qudha'i dari Abu Said)


QS. 5:82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani." Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.

Asbabun nuzul ayat maidah 5:82 diatas:
Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Said bin Musayyab dan Abu Bakar bin Abdurrahman serta Urwah bin Zubair. Mereka menceritakan, bahwa Rasulullah saw. pernah mengutus Amr bin Umayyah Adh-Dhamari membawa sepucuk surat yang ditujukan kepada Najasyi. Amr akhirnya datang ke hadapan Najasyi lalu ia membaca surat Rasulullah saw. Lalu sang raja memanggil Jakfar bin Abu Thalib dan orang-orang yang ikut berhijrah bersamanya, sang raja pun mengutus agar memanggil para rahib dan para pendeta. Setelah semuanya berkumpul sang raja memerintahkan kepada Jakfar bin Abu Thalib agar membacakan sesuatu kepada mereka. Jakfar lalu membacakan surah Maryam di hadapan mereka. Akhirnya mereka semua beriman kepada Alquran bahkan mata mereka mencucurkan air mata dan merekalah orang-orang yang dimaksudkan oleh Allah ketika menurunkan firman-Nya, 'Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya...' sampai dengan firman-Nya, '...maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Alquran dan kenabian Muhammad saw.)'" (Q.S. Al-Maidah 82-83).

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan sebuah hadis dari Said bin Jubair yang menceritakan, bahwa Najasyi pernah mengirimkan tiga puluh orang utusan yang terdiri dari sahabat-sababat pilihannya kepada Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. membacakan kepada mereka surah Yasin. Akhirnya mereka menangis mendengarkan pembacaan surah itu, kemudian turunlah ayat ini yang berkenaan dengan sikap mereka itu. Imam Nasai mengetengahkan sebuah hadis dari Abdullah bin Zubair yang mengatakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Najasyi dan sahabat-sahabat terdekatnya, "Yaitu mereka yang apabila mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya akan mengalirkan air mata...." (Q.S. Al-Maidah 83) Imam Thabrani mengetengahkan hadis yang serupa dari jalur Ibnu Abbas, bahkan hadisnya ini lebih sederhana daripada hadis yang di atas.

Dan berikut tafsir tentang ayat diatas:
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 82
Pada ayat ini Allah memberitahukan kepada Nabi Muhammad saw. bahwa dia akan menemukan manusia yang paling memusuhi dan menyakiti orang-orang mukmin. Manusia itu adalah orang-orang Yahudi Madinah dan orang-orang musyrik Arab dari kalangan penyembah berhala. Orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik Arab sama-sama menentang ajaran Muhammad. Persamaan inilah yang mengikat kedua golongan ini, meskipun masing-masing mempunyai sifat-sifat kepribadian yang berlawanan. Sifat orang Yahudi adalah sombong, penganiaya, mementingkan kebendaan, kasar dalam pergaulan, kejam dan fanatik kesukuan. Sedangkan sifat orang-orang musyrik Arab adalah sopan santun, pemurah dan bebas berpikir. Meskipun demikian kedua golongan tersebut dapat bersatu demi memusuhi dan menyakiti Nabi Muhammad beserta orang-orang mukmin. Selanjutnya ayat ini memberitahukan kepada Nabi Muhammad bahwa dia akan menyampaikan kepada manusia yang paling dekat dan menyukai orang-orang mukmin.

Manusia itu adalah orang-orang Nasrani. Sebabnya ialah di antara mereka ada golongan yang memperhatikan pelajaran agama dan budi pekerti yaitu golongan tasawuf yang anti terhadap duniawi. Mereka bertakwa dan banyak bersemedi untuk beribadah. Tentunya kedua golongan ini orang-orang yang bersifat tawaduk (merendah diri) karena agama mereka mengajak mencintai musuh dan memberikan pipi yang kiri kepada orang yang memukul pipi kanannya. Kebaikan orang-orang Nasrani itu telah dibuktikan oleh sejarah, yaitu sambutan Raja Habasyah (Ethiopia) yang bernama Najasyi yang memeluk agama Nasrani. Dia berserta sahabat-sahabatnya melindungi orang-orang Islam yang pertama kali melakukan hijrah dari Mekah ke Habasyah karena takut dari gangguan dan fitnahan yang dilakukan oleh kaum musyrik Arab secara kejam. Raja Romawi Timur di Syam yaitu Hiraklius, ketika menerima surat Nabi Muhammad menyambutnya dengan sambutan baik berusaha memberikan penjelasan kepada rakyatnya, supaya dapat menerima ajakan Nabi Muhammad meskipun rakyat belum sependapat dengannya karena masih berpegang dengan kefanatikan. Raja Makaukis yang menguasai Mesir, juga menyambut surat Nabi dengan sambutan yang baik dan meskipun beliau belum bersedia untuk menerima ajakan Nabi kepada Islam, namun beliau menjawab surat Nabi serta mengirim hadiah berharga, antara lain berupa seorang jariah yang bernama Mariah Al-Qibtiyah.

Demikan sambutan orang Nasrani pada masa Nabi yang dijumpai dan ditemui oleh Nabi Muhammad, berlainan sekali halnya dengan orang Yahudi. Meskipun mereka secara terpaksa menyatakan sikap simpatik terhadap orang-orang mukmin, namun di dalam hati mereka tersembunyi pikiran tipu muslihat untuk memperdayakan orang-orang mukmin. Karena ajaran-ajaran pemimpin-pemimpin Yahudi menanamkan pada mereka fanatisme kebangsaan dan pendirian bahwa Bani Israel adalah satu-satunya bangsa yang dipilih oleh Allah.
Tafsir Ibnu kathir,

The Reason Behind Revealing these Ayat
Sa`id bin Jubayr, As-Suddi and others said that these Ayat were revealed concerning a delegation that An-Najashi (King of Ethiopia) sent to the Prophet in order to hear his words and observe his qualities. When the delegation met with the Prophet and he recited the Qur'an to them, they embraced Islam, cried and were humbled. Then they returned to An-Najashi and told him what happened. `Ata' bin Abi Rabah commented, "They were Ethiopians who embraced Islam when the Muslims who migrated to Ethiopia resided among them.'' Qatadah said, "They were some followers of the religion of `Isa, son of Maryam, who when they saw Muslims and heard the Qur'an, they became Muslims without hesitation.'' Ibn Jarir said that these Ayat were revealed concerning some people who fit this description, whether they were from Ethiopia or otherwise. Allah said,

Dari sisi kemanusiaan, orang nasrani adalah yang paling dekat dengan muslim, meski mereka berbeda akidah, lihat fakta berikut:

B. Kisah Romawi
Pernyataan tentang kekalahan pasukan Romawi oleh pasukan Persia yang terdapat dalam permulaan Surah Ar-Rum.
Pada tahun 325, raja Konstantin memeluk agama Kristen, dan menjadikan agama ini sebagai agama negara yang resmi (Awal dari terbentuknya konsili Nicea yang mengesahkan Trinitas). Secara spontan, rakyat Romawipunbanyak yang memeluk agama tersebut, sementara itu kekaisaran Persia, penyembah matahari, menolak untuk memeluk agama tersebut.

Adapun raja yang memegang tampuk kekaisaran Romawi pada akhir abad ke-7 M adalah Maurice, seorang raja yang kurang memperhatikan masalah kenegaraan dan politik. Oleh karenanya angkatan bersenjatanya pun kemudian mengadakan kudeta dibawah pimpinan panglimanya yang bernama Pochas.
Setelah mengadakan kudeta, Pochas naik tahta dan menghukum keluarga raja dengan cara yang kejam. Serta mengirim seorang duta ke Persia, yang pada waktu itu dipegang oleh Kisra Chorus II, putra Kisra Anu Syirwan yang adil.
Pada waktu Kisra tahu kejadian kudeta di Romawi, Kisra sangat marah karena Kisra pernah berhutang budi pada Maurice yang sekaligus juga mertuanya itu. Kemudian Kisra memerintahkan untuk memenjarakan duta besar Romawi, serta menyatakan tidak mengakui pemerintahan Romawi yang baru.

Akhirnya Kisra Chorus melancarkan peperangan terhadap Romawi.
Angkatan perangnya merayap melintasi sungai Euphrat menuju Syam.
Dalam serangan ini Pochas tidak dapat mempertahankan diri terhadap angkatan perang Persia yang telah menguasai kota Antiochia dan El Quds.
Sementara itu penguasa Romawi didaerah jajahan Afrika juga mengirimkan pasukan besar dibawah pimpinan puteranya, yaitu Heraklius. Bertolaklah pasukan tersebut dengan diam-diam melalui jalan laut, sehingga Pochas tidak tahu kedatangan mereka. Tanpa menghadapi perlawanan sama sekali, Heraklius akhirnya berhasil menguasai kekaisaran dan membunuh Pochas.

Walaupun Heraklius berhasil menguasai kekaisaran dan membunuh Pochas, namun Heraklius tidak berhasil menahan badai pasukan Persia. Sehingga Romawi kehilangan daerah jajahannya dan tinggallah kekaisaran Romawi di ibukota saja. Penduduk yang tinggal di ibukota penuh diliputi rasa kekhawatiran akan serangan pasukan Persia yang akan memasuki ibukota.

Setelah berlangsung peperangan selama enam tahun, kaisar Persia mau mengadakan perdamaian dengan Heraklius tetapi dengan satu syarat, Heraklius harus menyerahkan seribu talent emas, seribu talent perak, seribu pakaian dari sutera, seribu kuda dan seribu gadis perawan kepada Kisra.
Sementara pada ibukota Persia dan Romawi terjadi peristiwa tersebut, maka pada bangsa dipusat ibukota Jazirah Arabia, yaitu di Mekkah Almukarromah, terjadi pula hal yang serupa. Dikota tersebut terdapat orang-orang Majusi Persia, penyembah matahari dan api, dan orang-orang Romawi yang beriman kepada ajaran Isa (walau sudah diselewengkan).
Orang Islam dan orang-orang Romawi mengharapkan kemenangan mereka atas orang-orang kafir dan musyrikin, sebagaimana halnya mereka mengharapkan kekalahan orang-orang kafir Mekkah dan orang Persia, sebab mereka merupakan penyembah benda-benda materi. Sementara orang-orang Nasrani, meskipun sebagian dari mereka sudah menyimpang dari ajaran Isa Putra Maryam adalah merupakan saudara dan sahabat terdekat kaum Muslimin.
"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata:"Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena diantara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rabib-rabib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri."
(QS. 5:82)
Dengan demikian, pertarungan yang terjadi antara orang-orang Persia dan Romawi menjadi lambang luar pertarungan antara orang-orang Islam dan musuh-musuhnya di Mekkah. Maka pada waktu Persia berhasil mengalahkan orang-orang Romawi pada tahun 616 dan berhasil menguasai seluruh wilayah sebelah Timur negara Romawi, orang-orang Musyrikin pun mendapat kesempatan untuk menghina kaum Muslimin dengan mengatakan : 'Saudara kami berhasil mengalahkan saudara kamu. Demikian pula yang akan kami lakukan kepadamu jika kamu tidak mau mengikuti kami, meninggalkan agama kamu yang baru (Islam).'
Dalam keadaan yang menyakitkan itu, kaum Muslimin Mekkah sedang dalam kondisi yang paling lemah dan buruk dalam segi materi, sampai kemudian turun wahyu Allah kepada Nabi Besar Muhammad Saw :

"Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
(QS. 30:1-6)

Sungguh turunnya wahyu ini kepada Nabi Saw merupakan suatu ujian mental dan Spiritual bagi semua sahabat-sahabat beliau. Jika apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad Saw ini tidak terbukti, maka sudah bisa diramalkan akan kehancuran kepercayaan mereka terhadap diri orang yang selama ini mereka percayai dan mereka kasihi.
Beberapa tahun kemudian, Heraklius membuat suatu rencana yang luar biasa untuk mengalahkan Persia. Heraklius tahu bahwa kekuatan angkatan laut Persia sangat lemah, oleh karena itu dia menyiapkan kapal-kapal untuk menyerang Persia dari belakang. Dia bertolak bersama-sama dengan sisa-sisa pasukannya lewat Laut Hitam ke Armenia, dan melakukan serangan kilat terhadap pasukan Persia. Menghadapi serangan mendadak itu, pasukan Persia tidak mampu bertahan dan lari bercerai berai.

Di Asia kecil, Persia memiliki pasukan yang besar.
Tetapi Heraklius menyerangnya dengan tiba-tiba dengan kapal-kapal perangnya, dan berhasil menghancurkan pasukan Persia. Setelah memperoleh kemenangan yang besar itu, kembalilah Heraklius keibukota Konstantinopel lewat jalan laut.
Setelah dua peperangan diatas, Heraklius melakukan peperangan yang lain melawan Persia pada tahun 623, 624 dan 625. Akibat peperangan tersebut, pasukan Persia terpaksa menarik diri dari seluruh tanah Romawi, dan Heraklius berada pada pusat yang memungkinkan baginya untuk menembus kejantung kekaisaran Persia. Akhirnya perang yang terakhir terjadi pada bulan Desember 627 disepanjang sungai Dajlah.

Pada waktu Kisra Chorus tidak dapat menahan arus tentara Romawi, ia melarikan diri dari istananya, tetapi kemudian ditahan oleh puteranya 'Siroes' dan dimasukkan kedalam penjara. Puteranya ini membunuh 18 orang saudara-saudaranya yang lain didepan mata sang ayah, Kisra Chorus. Pada hari kelima, Kisra meninggal dunia dalam penjara.
Selanjutnya Siroes pun terbunuh oleh salah seorang saudara kandungnya sendiri yang masih hidup. Maka mulailah pembunuhan-pembunuhan dilingkungan istana. Dalam masa 4 tahun, sudah 9 raja yang memegang tampuk pemerintahan. Dalam situasi yang demikian buruk ini, jelas Persia tidak mungkin dapat melanjutkan peperangannya melawan kerajaan Romawi.
Maka akhirnya Kavadh II, salah seorang putera kisra Chorus yang masih hidup, meminta damai dan mengusulkan pengunduran diri pasukan Persia dari tanah Romawi. Pada bulan Maret tahun 628 M, Heraklius kembali kekonstantinopel dengan pesta besar-besaran.

Umat Islampun yang mendengar kemenangan saudara-saudaranya para orang-orang Romawi ini melakukan tasbih dan syukur kepada Allah Swt. Semakin mendalamlah keyakinan dan kesetiaan mereka kepada Rasulullah Saw.
Edward Gibbon memperkecil arti ramalan Al-Qur'an dengan menghubungkannya dengan surat yang dikirim oleh Rasulullah Muhammad Saw kepada Kisra Choros II.
Tetapi hal ini terbantahkan dengan melihat waktu turunnya ayat tersebut kepada Nabi Muhammad Saw dan umatnya.
Surat dari Nabi Saw tersebut dikirim pada tahu ke-7 H, setelah perdamaian Hudaibiah, atau pada tahun 628 M.
Sementara Qur'an Surah Ar-Ruum ayat 1-6 yang memuat ramalan tersebut turun pada tahun 616 M, lama sebelum terjadinya Hijrah Nabi dan sahabat-sahabatnya. Jadi antara kedua peristiwa itu terdapat jarak 12 tahun.
Hal ini pun dimuat oleh buku 'Encyclopedia of Religion and Ethics'.

Sumber :Kajian Islam (Faithfreedom Watch Edition)

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama