Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Oleh : Abu Al-Jauzaa

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
saudara saudaraku seiman yang dirahmati Allah swt,walaupun saat ini sudah masuk hampir pertengahan bulan Ramadhan,tak ada salahnya kami perlu menyampaikan tentang Risalah Puasa dan ‘Idul Fitri dari postingan sdr Abu Al-Jauzaa di forum myquran.org,semoga Risalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua.
dan inilah DAFTAR ISI Risalah tersebut :
1.  Keutamaan-Keutamaan Puasa
2.  Keutamaan-Keutamaan Bulan Ramadlan
3.  Dorongan Mengerjakan Puasa Ramadlan
4.  Syarat Wajib dan Rukun Puasa
5.  Larangan Berbuka dengan Sengaja pada Bulan Ramadlan
6.  Cara Penentuan Bulan Ramadlan
7.  Menetapkan Niat Puasa
8.  Waktu Berpuasa
9.  Sahur
10.  Hal-Hal yang Membatalkan Puasa
11.  Hal-Hal yang Harus Ditinggalkan oleh Orang yang Berpuasa
12.  Hal-Hal yang Boleh Dilakukan Oleh Orang yang Berpuasa
13.  Hal-Hal yang Disunnahkan di Bulan Ramadlan
14.  Melatih Anak-Anak untuk Berpuasa
15.  Orang-Orang yang Tidak Diwajibkan Berpuasa
16.  Berbuka Puasa
17.  Hukum Seputar Fidyah
18.  Qadla Puasa Ramadlan
19.  Lailatul-Qadar
20.  I’tikaf
21.  Shalat Tarawih
22.  Zakat Fithrah
23.  Menentukan Jatuhnya Tanggal 1 (Satu) Syawal
24.  Larangan untuk Berpuasa di Dua Hari Raya
25.  Shalat ‘Ied di Mushalla (Tanah Lapang)
26.  Shalat ‘Ied
27.  Bolehnya Mendengarkan Rebana (Duff) yang Dimainkan oleh Anak Kecil di Hari Raya
28.  Ucapan Selamat (Tahniah) Hari Raya
29.  Puasa Syawal
DAFTAR PUSTAKA

dan insyaAllah akan kami sampaikan secara bertahap

1. Keutamaan-Keutamaan Puasa
Allah ta’ala telah berfirman :
إِنّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصّادِقِينَ وَالصّادِقَاتِ وَالصّابِرِينَ وَالصّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدّقِينَ وَالْمُتَصَدّقَاتِ والصّائِمِينَ والصّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِـظَاتِ وَالذّاكِـرِينَ اللّهَ كَثِيراً وَالذّاكِرَاتِ أَعَدّ اللّهُ لَهُم مّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al-Ahzab : 35).
Dalam ayat lain Allah juga telah berfirman :
وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لّكُمْ إِن كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 184).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan dalam sunnahnya bahwasannya puasa merupakan benteng dari hawa nafsu syahwat, penangkal dari sambaran api neraka, dan Allah ta’ala telah mengkhususkannya sebagai nama salah satu pintu surga.  Beberapa keutamaan tersebut adalah sebagai berikut :
1.   Puasa Sebagai Perisai
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada orang yang diliputi nafsu birahi untuk menikah.  Jika dia tidak mampu untuk melaksanakannya, maka ia diperintahkan berpuasa untuk mengekang nafsu syahwatnya.  Sebab puasa bisa menahan gejolak anggota tubuh dengan kelemahannya sehingga dapat mengekangnya dari tindakan yang menyimpang.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :
يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء
“Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mampu (ba’ah), maka hendaknya dia menikah, karena menikah itu dapat menjaga pandangan dan memelihara kemaluan.  Dan barangsiapa yang tidak mampu untuk menikah, maka hendaknya dia berpuasa, karena puasa itu bisa menjadi perisai baginya”(HR. Bukhari no. 4779 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam juga telah menjelaskan bahwa surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh berbagai kesenangan syahwat.  Oleh sebab itu, jelaslah kiranya bagi kita bahwa puasa itu dapat mementahkan syahwat dan menumpulkan ketajamannya yang bisa mendekatkan kepada api neraka, dan puasa itu bisa menjadi penyekat antara orang yang berpuasa dengan neraka.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :
إنما الصيام جنة يستجن بها العبد من النار
“Puasa itu adalah perisai yang dapat melindungi diri seorang hamba dari api neraka” (HR. Ahmad no. 15299; hasan lighairihi. Lihat Shahih At-Targhib no. 981).
Dan tentunya, hanya puasa yang ikhlash dan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya sajalah yang dapat menjadi perisai dari api neraka.
2.   Puasa Dapat Memasukkan Seseorang ke dalam Surga
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa puasa itu dapat menjauhkan diri dari api neraka, yang otomatis mendekatkan dapat pelakunya kepada surga, bi-idznillaah.
Diriwayatkan dari Abu Umamah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
يا رسول الله فمرني بعمل أدخل به الجنة قال عليك بالصوم فإنه لا مثل له
“Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan aku ke dalam surga”.  Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pun menjawab : “Hendaknya kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada tandingan (pahala)-nya” (HR. Nasa’i dalam Al-Kubraa no. 2530, Ibnu Hibban dalam Al-Mawarid hal. 232, dan Al-Hakim no. 1533 dengan sanad shahih. Lafadh ini adalah milik Ibnu Hibban. Lihat Shahih Sunan An-Nasa’i no. 2097).
3.   Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Pahala Tak Terhitung Nilainya.
4.   Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Dua Kebahagiaan.
5.   Bau Mulut Orang yang Berpuasa Lebih Harum di Hadapan Allah Ta’ala daripada Bau Misk (Kesturi).

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : Telah berfirman Allah ta’ala (merupakan hadits qudsi) :
كل عمل بن آدم له إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به والصيام جنة فإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث يومئذ ولا يسخب فإن سابه أحد أو قاتله فليقل إني امرؤ صائم والذي نفس محمد بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله يوم القيامة من ريح المسك وللصائم فرحتان يفرحهما إذا أفطر فرح بفطره وإذا لقي ربه فرح بصومه
“Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberi pahala atasnya.  Puasa itu adalah perisai, maka pada saat berpuasa hendaknya seseorang diantara kamu tidak melakukan rafats (yaitu : berjima’ dan berbicara keji – Pent.) dan tidak juga membuat kegaduhan.  Jika ada orang yang mencacinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan,”Sesungguhnya aku berpuasa”.  Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi di hari kiamat.  Dan bagi orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan, yaitu ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan Rabbnya, ia gembira dengan puasanya” (HR. Bukhari no. 1805 dan Muslim no. 1151).
6.   Puasa dan Al-Qur’an akan Memberi Syafa’at Bagi Orang Yang Menjalankannya
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
الصيام والقرآن يشفعان للعبد يوم القيامة يقول الصيام أي رب منعته الطعام والشهوات بالنهار فيشفعني فيه ويقول القرآن منعته النوم بالليل فشفعني فيه قال فيشفعان
“Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti.  Puasa akan berkata : “Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat di waktu siang, karenanya perkenankanlah aku untuk memberikan syafa’at kepadanya”.  Dan Al-Qur’an berkata : “Saya telah melarangnya dari tidur di malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya”.  Beliau bersabda,”Maka syafa’at keduanya diperkenankan” (HR. Ahmad no. 6626, Al-Hakim no. 2036, dan Abu Nu’aim 8/161 dari Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma ; hasan shahih. Lihat Shahih At-Targhib no. 984).
7.   Puasa Sebagai Kaffarat (Penebus Dosa)
Diantara keutamaan yang hanya dimiliki oleh ibadah puasa adalah bahwa Allah ta’ala telah menjadikan puasa sebagai penebus dosa bagi orang yang mencukur kepala dalam ihram karena ada halangan baginya, baik karena sakit atau karena gangguan yang terdapat pada kepala (lihat QS. Al-Baqarah : 196).  Dan puasa juga dapat menjadi kaffarat karena tidak mampu memotong hewan kurban (QS. Al-Baqarah : 196), membunuh seseorang yang berada dalam perjanjian karena kesalahan atau tidak sengaja (QS. An-Nisaa’ : 92), melanggar sumpah (QS. Al-Maaidah : 89), membunuh binatang buruan pada saat ihram (QS. Al-Maaidah : 95), dan zhihar (QS. Al-Mujaadilah : 3-4).
Demikian halnya dengan puasa dan shadaqah, keduanya berperan serta dalam penebus pelanggaran dosa seseorang, baik di dalam keluarga, harta, atau tetangga.  Dari Hudzaifah bin Yaman radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
فتنة الرجل في أهله وماله وولده وجاره تكفرها الصلاة والصوم والصدقة
“Fitnah (ujian) seseorang dalam keluarga (istri), harta, anak, dan tetangganya dapat ditutupi dengan shalat, puasa, dan shadaqah” (HR. Bukhari no. 502 dan Muslim no. 144).
8.   Ar-Rayyan Disediakan Bagi Orang-Orang yang Berpuasa
إن في الجنة بابا يقال له الريان يدخل منه الصائمون يوم القيامة لا يدخل معهم أحد غيرهم يقال أين الصائمون فيدخلون منه فإذا دخل آخرهم أغلق فلم يدخل منه أحد (من دخل شرب ومن شرب لم يظمأ أبدا)
“Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama Ar-Rayyaan.  Dari pintu tersebut orang-orang yang berpuasa akan masuk di hari kiamat nanti dan tidak seorang pun yang masuk ke pintu tersebut kecuali orang-orang yang berpuasa.  Dikatakan kepada mereka : “Dimana orang-orang yang berpuasa ?”. Maka mereka pun masuk melaluinya. Dan apabila orang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu tersebut ditutup sehingga tidak ada seorangpun yang masuk melalui pintu tersebut. (Barangsiapa yang masuk, maka ia akan minum minuman surga. Dan barangsiapa yang minum minuman surga, maka ia tidak akan haus selamanya)” (HR. Bukhari no. 1797 dan Muslim 1152, dan tambahan terakhir – di dalam kurung – adalah riwayat dari Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 1902).
2. Keutamaan-Keutamaan Bulan Ramadlan
1.   Bulan Al-Qur’an
Allah ta’ala telah menurunkan Kitab-Nya yang mulia sebagai petunjuk bagi umat manusia, obat penyembuh bagi orang-orang yang beriman, petunjuk kepada jalan yang lurus, penunjuk kepada jalan kebajikan, dan menjadikan malam Lailatul-Qadar di bulan Ramadlan penuh dengan kebaikan.  Allah ta’ala berfirman :
شَهْرُ رَمَضَانَ الّذِيَ أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لّلنّاسِ وَبَيّنَاتٍ مّنَ الْهُدَىَ وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadlan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).  Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” (QS. Al-Baqarah : 185).
2.   Setan-Setan Dibelenggu, Pintu-Pintu Neraka Ditutup, dan Pintu-Pintu Surga Dibuka
Pada bulan yang penuh berkah ini, kejahatan di muka bumi ini menjadi sedikit, karena jin-jin jahat dibelenggu dengan rantai dan diborgol sehingga mereka tidak bisa melakukan pengrusakan terhadap umat manusia sebagaimana mereka bisa melakukannya pada bulan-bulan selain Ramadlan.  Karenanya kaum muslimin menjadi lebih berkonsentrasi menjalankan puasa yang merupakan pengekang hawa nafsu, dan juga mereka sibuk membaca Al-Qur’an dan berbagai macam ibadah lainnya yang mampu mendidik sekaligus menyucikan jiwa.
Oleh karena itulah ditutup pintu Jahannam dan dibuka pintu-pintu surga, karena banyaknya amal shalih serta ucapan dan perkataan yang bagus.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة وغلقت أبواب النار وصفدت الشياطين
“Jika bulan Ramadlan tiba, maka pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu” (HR. Bukhari no. 3103 dan Muslim no. 1079).
3.   Lailatul-Qadr
Allah ta’ala telah memilih bulan Ramadlan dikarenakan pada bulan tersebut Al-Qur’an diturunkan.  Pada bulan tersebut terdapat Lailatul-Qadar, malam penuh barakah yang lebih baik daripada seribu bulan.  Penjelasan selanjutnya akan diuraikan kemudian.
3.Dorongan Mengerjakan Puasa Ramadlan
1.   Pengampunan Dosa
Pembuat Syari’at yang Maha Bijaksana telah memotivasi untuk berpuasa di bulan Ramadlan seraya menjelaskan keutamaan dan ketinggian kedudukannya.  Sekalipun orang yang menjalankan puasa itu memiliki tumpukan dosa bak buih di lautan, niscaya dosa-dosa itu akan diampuni dengan melaksanakan ibadah yang penuh berkah ini, yaitu ibadah puasa.  Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala (ihtisaaban) 1, niscaya akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari no. 1910 dan Muslim no. 759).
Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
الصلاة الخمس والجمعة إلى الجمعة كفارة لما بينهن ما لم تغش الكبائر
“Shalat yang lima waktu, antara Jum’at ke Jum’at berikutnya, antara Ramadlan ke Ramadlan berikutnya; bisa menghapuskan dosa-dosa yang terjadi diantaranya, jika dosa-dosa besar dihindari”2 (HR. Muslim no. 233).
2.   Dikabulkannya Doa dan Pembebasan dari Api Neraka
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إن لله في كل يوم وليلة عتقاء من النار في شهر رمضان و إن لكل مسلم دعوة مستجاب له
“Sesungguhnya setiap hari Allah ta’ala membebaskan beberapa orang dari api neraka yaitu pada bulan Ramadlan, dan sesungguhnya bagi setiap orang muslim apabila memanjatkan doa, maka pasti dikabulkan” (HR. Bazzar no. 3142, Ahmad no. 7443, dan Ibnu Majah no. 1643; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah no. 1340).
3.   Termasuk dalam Golongan Para Shiddiqiin dan Syuhadaa’
Dari ‘Amar bin Murrah Al-Juhhani bercerita :
جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله أرأيت إن شهدت أن لا إله إلا الله وأنك رسول الله وصليت الصلوات الخمس وأديت الزكاة وصمت رمضان وقمته فممن أنا قال من الصديقين والشهداء
Ada seseorang yang datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam seraya berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang haq untuk disembah melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah, (dan aku) mengerjakan shalat lima waktu, menunaikan zakat, dan berpuasa di bulan Ramadlan dan shalat (tarawih) di dalamnya; termasuk golongan siapakah aku ini?”.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Termasuk golongan para shiddiqiin dan syuhadaa’ “ (HR. Ibnu Hibban dalam Mawaaridudh-Dham’aan hal. 36 dengan sanad shahih).
Catatan kaki :
1. Makna iimaanan wah-tisaaban (إيمانا واحتسابا) berarti percaya sepenuhnya akan kewajiban puasa tersebut serta mengharapkan pahalanya.  Menjalankan puasa dengan sepenuh jiwa tanpa adanya unsur keterpaksaan dan juga tidak merasa keberatan untuk menjalaninya.
2.  Pengampunan dosa-dosa tersebut hanya merupakan dosa-dosa kecil saja.  Adapun dosa-dosa besar akan diampuni oleh Allah apabila pelakunya bertaubat kepada Allah ta’ala dengan taubat nashuha.  Maka, di bulan Ramadlan ini, pergunakanlah waktu yang mustajab ini untuk bertaubat meminta ampunan kepada Allah untuk semua dosa yang  pernah  kita lakukan.
Syarat Wajib dan Rukun Puasa
1.   Syarat Wajib Puasa Ada Empat :
a.   Islam
b.   Baligh (Dewasa)
c.   Berakal Sehat
d.   Mukim
e.   Berkesanggupan Puasa
f.   Tidak dalam Keadaan Haidl dan Nifas
2.   Rukun Puasa Ada Dua:
a.   Niat (dalam Hati)
b.   Meninggalkan Hal-Hal yang Membatalkan Puasa (Makan, Minum, Jima’ di Siang Hari, dan Muntah yang Disengaja).

Dari Abu Umamah Al-Bahili radliyallaahu ‘anhu berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
بينا انا نائم إذ أتاني رجلان فأخذا بضبعي فأتيا بي جبلا وعرا فقالا لي اصعد حتى إذا كنت في سواء الجبل فإذا انا بصوت شديد فقلت ما هذه الأصوات قال هذا عواء أهل النار ثم انطلق بي فإذا بقوم معلقين بعراقيبهم مشققة اشداقهم تسيل اشداقهم دما فقلت من هؤلاء فقيل هؤلاء الذين يفطرون قبل تحلة صومهم
“Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal seraya berkata : “Naiklah”. Hingga sampailah aku di puncak gunung. Tiba-tiba aku mendengar suara yang keras sekali.  Maka aku tanyakan,”Suara apakah itu?”.  Salah satu dari mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka”.  Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan ternyata aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka.  Mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalir darah.  Kemudian aku bertanya,”Siapakah mereka itu?”. Maka dikatakan, ”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (dengan sengaja) sebelum tiba waktunya” (HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubra no. 3286, Ibnu Hibban no. 7491, Ibnu Khuzaimah no. 1986, dan lain-lain. Lihat Ta’liqatul-Hisaan ‘alaa Shahih Ibni Hibban 10/456 no. 7448).
Catatan : Jika hadits di atas menceritakan ancaman bagi orang yang berbuka puasa dengan sengaja sebelum tiba waktunya, lantas bagaimana dengan orang yang sengaja memang tidak berpuasa semenjak awal hari ? Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kaum muslimin semua ……

bersambung==>
Sumber : Myquran.com
foto :rohis-facebook.blogspot.com

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama