Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

  • oleh : Mattula Ada
e. Kemenangan Romawi Setelah Kekalahannya

Dalam QS Ar-Ruum [30] ayat 1-5 dinyatakan :
audio[30:1] Alif Laam Miim1161
audio[30:2] Telah dikalahkan bangsa Rumawi1162,
audio[30:3] di negeri yang terdekat1163 dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang1164
audio[30:4] dalam beberapa tahun lagi1165. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman,
audio[30:5] Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang.

Diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat akan menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, hal. 287-299.)

Sebagaimana diketahui bahwa pada abad kelima dan keenam Masehi terdapat 2 negeri adikuasa, Romawi yang beragama Kristen dan Persia yang menyembah api. Persaingan antara keduanya guna merebut wilayah dan pengaruh amat keras, bahkan peperangan antar mereka tak terhindarkan. Sejarawan menginformasikan bahwa pada 614 M di Jerusalem terjadi peperangan antara kedua negara itu yang berakhir dengan kekalahan Romawi. Ketika itu kaum Musyrik di Makkah mengejek kaum Muslim yang cenderung mengharapkan kemenangan Romawi yang beragama samawi itu atas Persia yang menyembah api. Kekesalan mereka akibat kekalahan tsb bertambah dengan ejekan ini.

Dalam bukunya “Mukjizat Al-Qur’an”, Bapak Quraisy Shihab mengatakan bahwa dengan ejekan-ejekan kaum musyrik yang sangat menyayat hati umat muslim tsb, maka turunlah ayat-ayat itu (QS. Ar-Ruum 1-5) untuk menghibur kaum muslim dengan 2 hal :
1. Romawi akan menang atas Persia pada tenggang waktu yang diistilahkan Al-Qur’an dengan bidh’ siniin dan yang diterjemahkan sebelumnya dengan beberapa tahun (ayat 4);
2. Saat kemenangan itu tiba, kaum Muslim akan bergembira bukan saja dengan kemenangan Romawi, melainkan juga dengan kemenangan yang dianugerahkan Allah (kepada mereka).
Benarkah semua informasi ini ?
Bapak Quraisy mengatakan bahwa sebelum menjawabnya, perlu dijelaskan bahwa kata “bidh” dalam kamus-kamus bahasa Arab berarti “angka antara tiga sampai sembilan”. Ini berarti Al-Qur’an menegaskan bahwa akan terjadi lagi peperangan antara bangsa Romawi dan Persia, dan dalam tempo tersebut, Romawi akan memenangi peperangan. Perlu diingat sekali lagi bahwa berita disampaikan pada saat kekalahan sedang menimpa Romawi. Menetapkan angka pasti bagi kemenangan suatu negara saat kekalahannya adalah suatu hal yang tidak mungkin disampaikan, kecuali oleh Yang Maha Mengetahui. Tetapi ternyata berita tersebut benar adanya, karena sejarah menginformasikan bahwa tujuh tahun setelah kekalahan Romawi, tepatnya pada 622 M terjadi lagi peperangan antara kedua adikuasa tsb, dan kali ini pemenangnya adalah Romawi.
Anda boleh bertanya, mengapa Al-Qur’an tidak menetapkan tahun tertentu bagi kemenangan itu ? Katakanlah mengapa ayat ini tidak menyatakan bahwa kemenangan Romawi akan terjadi 7 tahun kemudian? Agaknya hal ini disebabkan manusia sering kali berbeda didalam menetapkan tahun kemenangan dan kekalahan. Apakah pada saat tanda-tanda kemenangan atau kekalahan itu telah mulai tampak, ataukah pada saat terhentinya peperangan akibat kemenangan satu pihak? Nah, untuk menghindari perbedaan itulah Al-Qur’an memilih redaksi “bidh”, sehingga apapun tolak ukurnya, informasi dari Al-Qur’an dapat menampungnya.
Disamping itu, bertepatan pada tahun kemenangan bangsa Romawi tsb, kaum muslim juga memenangkan perang yang tak kalah dahsyatnya terhadap kaum musyrik. Perang ini dikenal dengan nama ‘Perang Badar’. Maka terbuktilah kata Al-Qur’an yang bermakna bahwa pada tahun kemenangan bangsa Romawi itu kaum Muslim akan bergembira dengan kemenangan yang dianugerahkan oleh Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa, Allah SWT.
Keajaiban lain yang diungkapkan dalam ayat ini adalah pengumuman tentang fakta geografis yang tak dapat ditemukan oleh seorangpun di masa itu.
Dalam ayat ketiga Surat Ar Ruum, diberitakan bahwa Romawi telah dikalahkan di daerah rendah yang ada di bumi ini. Ungkapan “Adnal Ardhi” di Al-Qur’an diartikan sebagai “tempat yang dekat” dalam banyak terjemahan. Namun ini bukanlah makna harfiah dari kalimat tersebut, tetapi lebih berupa penafsiran (makna kiasan) atasnya. Kata “Adnal” dalam bahasa Arab diambil dari kata “Dani” yang berarti “rendah”, sedangkan kata “Ardhi” berarti “bumi”. Karena itu, ungkapan “Adnal Ardhi” berarti “tempat yang rendah di bumi”.
Yang paling menarik, tahap-tahap penting dalam peperangan antara Kekaisaran Bizantium dan Persia adalah ketika Bizantium dikalahkan dan kehilangan Jerusalem, benar-benar terjadi di titik paling rendah di daratan. Wilayah yang dimaksudkan ini adalah cekungan Laut Mati, yang terletak di titik pertemuan wilayah yang sekarang dimiliki oleh Israel, Palestina, dan Jordania. Permukaan Laut Mati, terletak 417,5 meter di bawah permukaan laut yang merupakan titik terendah di permukaan(Gambar: peta daerah sekitar Laut mati)
Ini berarti bahwa Bizantium dikalahkan di bagian paling rendah di daratan bumi, persis seperti yang dikemukakan dalam QS. Ar-Ruum.
Hal paling menarik dalam fakta ini adalah bahwa fenomena tsb hanya mampu diukur dengan teknik pengukuran canggih dan modern. Sebelumnya, mustahil bagi siapapun untuk mengetahui bahwasanya ini adalah wilayah terendah di permukaan bumi. Namun, dalam Al Qur’an, daerah Laut Mati dan sekitarnya dinyatakan sebagai titik paling rendah di atas bumi. Demikianlah, ini memberikan bukti lagi bahwa Al Qur’an adalah sebenar-benarnya wahyu Ilahi.

Tulisan terkait :

  1. Bukti Kebenaran Al Qur'an (bag 1)
  2. Bukti Kebenaran Al Qur'an (bag 2)
  3. Bukti Kebenaran Al Qur’an (3)
  4. Bukti Kebenaran Al Quran (4) - New !!

Bersambung……

Baca Tulisan lainnya


  1. Inilah Para Bidadari Surga Menurut Al Qur'an
  2. Jawaban untuk Misionaris Pencatut Qur'an dan Hadist
  3. Jawaban untuk Pdt Antonius Richmon Bawengan (1)
  4. Ketuhanan Maryam : Miskonsepsi Trinitas dalam Al-Qur'an??
  5. Mengapa hanya menyebut nama Muhammad dan Ibrahim dalam shalawat
  6. Menjawab Fitnah " Haman, Fir'aun & Bangunan Mesir Kuno"
  7. Menjawab Fitnah "Didalam Al-Qur'an Matahari Mengedari Bumi?"
  8. Menjawab Gugatan Allah yang banyak bersumpah
  9. Menjawab Gugatan tentang Pembukuan Al Qur'an
  10. Menjawab Hujatan Ayat ayat perang di Al Qur’an
  11. Menjawab Hujatan Tentang SURGA
  12. Menjawab Iblis/Setan atau Nabi Adam dahulu yang diusir dari Surga?
  13. Menjawab Kritik ARTHUR JEFFERY terhadap Al-Qur'an
  14. Menjawab Pertanyaan Non Muslim Tentang Isro' Mi'roj
  15. Menjawab Soal 'Kami' yang merujuk kepada Allah didalam ayat ayat Al Qur'an
  16. Menjawab Soal Qs Al Mu'minun 5-6 Tentang Menggauli Budak
  17. Menjawab Tentang Sholawat untuk Nabi
  18. Menjawab Tentang larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai Auliya'
  19. Menjawab Tuduhan : "Allah itu lemah karena minta pertolongan?"
  20. Menjawab Tuduhan : Rasulullah melanggar Qs 2:222

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama