Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Oleh : Lee Wafat

Sya’ban hampir berlalu dan bulan umat, Ramadhan tinggal hitungan hari. Seperti biasanya beberapa Ormas dan instansi terkait sibuk menentukan awal 1 Ramadhan. Namun hal ini tidak semudah membalik telapak tangan, ada kaidah-kaidah tertentu yang harus dilewati, ada metode-metode tertentu yang harus dipilih sebagai tolok ukur. Di negeri tercinta ini, dikenal ada dua metode; Rukyat dan Hisab. Metode rukyat adalah metode penentuan perpindan hari/bulan dalam kalender hijriyah melalui pengamatan langsung posisi hilal/bulan ketika matahari tenggelam. Sedangkan metode hisab adalah metode penentuan perpindahan hari/bulan dalam kalender hijriyah melalui perhitungan astronomi dan geografi. Di Indonesia ormas besar islam rata-rata memiliki departemen yang mengurusi urusan yang satu ini. Sepanjang pengetahuan penulis, ormas yang menggunakan metode rukyat adalah Pemerintah melalui Departemen Agama, Almundzir, dll. Ormas yang menganut metode hisab antara lain Muhammadiyah, thoriqoh naqsabandiyah, Persis (belakangan Persis mengaplikasikan metode Imkanur Rukyat), dll. Namun ada beberapa ormas yang menggabungkan kedua metode ini yaitu antara lain Nahdhatul Ulama (NU). NU menggunakan metode hisab untuk menentukan kapan rukyat harus dilakukan.

Penulis mencoba berbagi info tentang salah satu metode hisab menggunakan perhitungan geografis. Dalam hal ini kami menggunakan software Accurate Times karya Odeh dari Lembaga Astronomi Yordania. Langsung saja…




Hasil perhitungan Accurate Times V.5.1 by Odeh

dari program tersebut dapat diketahui (tulisan hijau) bahwa "Rukyatul Hilal" dilakukan pada hari Kamis, 19 Juli 2012. Saat matahari tenggelam jam 17:28 WIB, lokasi pengamatan Surabaya. kemudian hasil perhitungan Moon Altitude (tulisan merah) = +01°:51':28". Artinya posisi hilal satu derajat lima puluh satu menit dua puluh delapan detik diatas ufuk. Usia hilal sejak ijtima’= 6:04 Jam. Selisih waktu terbenamnya Matahari-Hilal= 8':31". Jarak lengkung Matahari-Hilal= +05°:11':13".

Kondisi seperti ini maka: Hilal tidak akan terlihat meskipun menggunakan alat bantu pengamatan, misalnya, teropong.

Posisi hilal spt ini dapat menimbulkan dilematis tersendiri. Mengingat terdapat perbedaan standar penetapan awal bulan Qomariah pada masing lembaga yang berkompeten.

Muhammadiyah dengan metode Hisab-Wujudul Hilal, akan memandang bahwa posisi hilal spt ini cukup memenuhi syarat untuk menentukan bahwa hari kamis, 19 Agustus 2012 adalah akhir Sya’ban dan keesokan hari adalah awal Ramadhan.

Pemerintah melalui Departemen Agama dan Persis, menggunakan Rukyat-Hisab metode Imkanul-Rukyat pendekatan MABIMS, jika mengacu pada data diatas, akan melihat bahwa belum memenuhi standar minimal Imkanur Rukyat (Crescent Visibilty) meski posisi hilal sudah +01°:51':28" diatas ufuk, tapi usia hilal masih 6:04 Jam sejak ijtima’, dibawah standar minimal yang ditetapkan MABIMS yaitu 8jam. dan selisih terbenamnya matahari dan hilal cuma 8 menit, Kondisi ini tidak memungkinkan melihat hilal dengan mata telanjang mengingat cahaya matahari masih mendominasi cahaya di ufuk. Berdasarkan kondisi ini berarti hilal tidak akan tampak sehingga Sya’ban untuk tahun 2012 M. / 1433 H. Istikmal 30 hr.

Nahdlatul Ulama (NU) dengan metode Rukyatul Hilal bil Fi’li. Sebenarnya NU juga melakukan Hisab dalam salah satu variable penentuan pergantian bulan Qomariyah, hanya saja hisab yang dilakukan NU bertujuan untuk menentukan kapan Rukyatul Hilal akan dilakukan, bukan menjadi variable utama dalam menentukan pergantian bulan Qomariyah. Bagi NU, metode hisab dengan pendekatan apapun masih harus dibuktikan kebenarannya melalui pengamatan langsung, karena ini yang sesuai dengan sunnah. Meskipun metode Imkanur Rukyah juga dipakai oleh ormas terbesar ini, tapi Rukyatul bil Fi’li wajib dilakukan. Berapapun hasil yang didapatkan dalam metode hisab namun jika Hilal tidak terlihat oleh mata telanjang maka usia bulan akan diistikmalkan menjadi 30 hari.

Jika mengacu pada batasan astronomi internasional, termasuk LAPAN, kondisi diatas masih belum memenuhi syarat minimal Imkanur Rukyat sehingga secara astronomi dan Geografi posisi hilal tidak memungkinkan dilihat dengan mata telanjang, bahkan, meskipun menggunakan alat bantu perangkat optic sekalipun hilal tidak memungkin terlihat. Berdasarkan kondisi ini berarti hilal tidak akan tampak sehingga Sya’ban untuk tahun 2012 M. / 1433 H. Istikmal 30 hr.

Untuk lebih memudahkan, lihat peta crescent visibility secara geografi. Crescent Visibility Map



Dari peta penampakan bulan dapat diketahui bahwa pada hari Senin, 29 Agustus 2011 seluruh wilayah Indonesia, dan Negara-negara Asia Tenggara, Papua Nugini, Australia, Selandia Baru, India, Pakistan, sebagian besar Asia Timur/Tengah/Barat, dan Afrika tidak mungkin melihat hilal secara kasat mata (tanpa arsir). Sehingga kalau kondisi ini benar-benar terjadi, maka pada hari itu tidak mungkin Imkanul Rukyat dan bukan akhir dari Sya’ban 1433 H. Artinya, terjadi istikmal dan 1 Ramadhan 1433 H. jatuh pada hari Sabtu, 21 Juli 2012. WALLAHU A’LAM BISH SHOWAB…

-------------------------------------------------------------------------

NOTE:

Tulisan ini tidak mewakili organisasi manapun, tulisan ini hanya perupakan opini pribadi yang kami buat secara subjektif.

Tulisan ini tidak berkekuatan hukum, tidak bisa dijadikan sandaran hukum atau hujjah. Sehingga tidak boleh dikuti dan/atau dijadikan rujukan dalam penentuan pergantian bulan Qomariyah.

Metode yang digunakan dalam Hisab disini adalah Metode Geografis, dihitung dengan program Accurate Times V.5.1 by Odeh, dari Lembaga Astronomi Yordania. Ada banyak metode perhitungan dalam ilmu Hisab, sehingga apabila ada perbedaan hasil perhitungan adalah wajar.

Tulisan ini hanya bersifat informasi, keputusan kapan 1 Syawal 1432 H. ada di hati dan akal masing-masing individu sesuai dengan pendapat mana yang dia ikuti. Ikuti pendapat/Ijtihad yang telah diketahuai keshahihan ilmunya, dalam hal ini penulis merekomendasikan Pemerintah Republik Indonesia dengan metode Imkanur Rukyat, Nahdlatul Ulama (NU) dengan metode Rukyatul bil Fi’li, dan Muhammaddiyah dengan metode Hisab Wujudul Hilal.

Apabila ada kesalahan istilah atau persepsi yang menyangkut pihak keterkait dalam tulisan ini, silahkan dikoreksi, CMIW.

Semoga bermanfaat. Diolah dari berbagai sumber, al: Sumber Bahagia, Sumber Pucung, Sumber Manjing, Sumber Suko, Sumber Jolotundo, Sumber Jaya, Sumber Makmur, Sumber Hidup, Sumber Bening, dll.

-lee-

Dengan sholawat semua lewat

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama