Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6


Dari sekian rentetan peristiwa provokasi yang menyita perhatian dan menyulut emosi kita, padahal kita sebagai muslim yang memahami dan merasakan keindahan dan kebenaran Islam, seringkali tidak diperhatikan terutama emosi kita akan tetapi lain hal ketika kita bereaksi, atau mungkin karena mereka tidak merasakan sebagaimana kita merasakan, sehingga bisa semena-mena atau memang disengaja untuk memancing.

Sekedar memberikan gambaran untuk mengingatkan berbagai peristiwa diantaranya :
  1. Pembakaran Al-Qur'an
  2. Pembuatan karikatur Nabi Muhammad saw
  3. Tuduhan Teroris
  4. Tuduhan Intoleran
  5. Isu gender dan ketidak-adilan
  6. Penerbitan buku yang menghina Nabi dan ajaran Islam, dll.
Dari rentetan peristiwa tersebut tentunya muncul reaksi berupa emosi atau aksi menentangnya. Namun seringkali kita salah atau kurang tepat beraksi dalam menanggapi itu semua.


Disini saya tidak akan menanggapi satu persatu akan isu/aksi peristiwa-peristiwa diatas karena sudah bayak sekali sumber-sumber yang membantahnya, terutama tuduhan mengenai Teroris atau intoleran maka tidak usah jauh-jauh untuk mencari sumber untuk membantahnya, yaitu apa yang ada pada diri kita sendiri. Karena kita dengan berislam tidak merasa dibentuk untuk menjadi intoleran apalagi menjadi Teroris, namun sebaliknya menjadi umat pilihan yang senantiasa menjaga kerukunan dan cinta damai. Namun dalam hal ini mencoba menekankan beberapa hal diantaranya untuk menekankan pentingnya mindset dalam menanggapi berbagai tantangan berupa penghinaan, vonis miring dan lain-lain sebagaimana rentetan peristiwa di atas, agar hal-hal yang sebenarnya dinginkan oleh pihak profokator tidak terjadi, justru bisa kita tampik dengan aksi balik yang cantik.


Sebagai bahan penggugah tentunya banyak sekali hadits maupun ayat tentang akhir zaman, diantaranya:


Hampir saja umat manusia mengerubuti kalian sebagaimana mengerubuti makanan di piring. berjumlah banyak, tetapi (bagai) buih, seperi buih air bah. Dan Allah benar-benar mencabut rasa takut dari musuh kalian terhadap kalian, dan menyusupkan kedalam dada kalian wahn. Seseorang bertanya: “ wahai rosulullah apakah wahn itu?” jawab beliau: “cinta dunia dan takut mati.” Shohih, riwayat abu dawud 4297.


Untuk me-mindset (merubah pola pikir) pertama kita harus menyadari beberapa hal, diantaranya :
  1. Tahu diri/tahu posisi kita saat ini, dari salah satu hadits di atas kita bisa memahami posisi kita sebagai muslim dan masih banyak lagi ayat-ayat Qur'an yang mengingatkan hal itu. Bahwa permusuhan terhadap kita tidak akan berhenti dan merupakan konsekuensi (sunatullah) sebagai seorang Muslim. Justru dari konsepsi/konsekuensi ini munculah perintah berjihad, maka hidup sebagai muslim seluruhnya adalah jihad. Selain dari peristiwa-peristiwa yang begitu nyata permusuhannya, permusuhan ini bukan hanya klaim sepihak, akan tetapi musuhpun mengakui hanya muslim yang belum takluk oleh seabad dominasi mereka. Dalam video ini salah satu buktinya >Video
  2. Tahu yang diinginkan pihak musuh. Kita adalah umat yang damai, untuk membenarkan tuduhan mereka bahwa muslim umat yang intoleran maka mereka memprofokasi untuk memvisualkan tuduhan mereka sebagai umat intoleran, agar mereka dapat mengklaim sebagai umat dari ajaran penuh kasih. Jika kita terprofokasi oleh aksi mereka, maka visualisasi yang mereka inginkan terwujud. Dengan kita bersikap sebagaimana yang mereka tuduhkan maka kita telah masuk dalam perangkap.
Sebagai bahan pembanding terhadap sikap kita sendiri untuk introspeksi :
  1. Kita begitu segan untuk berbagi pengetahuan agama karena merasa tidak memiliki pengetahuan yang mumpuni bahkan seringkali dianggap tabu karena seringkali menyulut perdebatan, disamping itu kita menyadari keterbatasan diri dimana banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi terutama untuk mengerti kandungan Al-Qur'an. Namun sebaliknya di zaman ini muncul orang yang tidak memenuhi syarat bahkan orang yang ditutup (kufar) dari kesucian Qur'an, tiba-tiba bicara soal Qur'an terlebih dengan maksud mencari kesalahan. Anehnya lagi ada yang tak segan-segan mengaku sebagai murtadin. Bagi orang yang menguasai ilmu Qur'an tentu dengan mudah mengenali siapa sebenarnya mereka, namun bagi yang masih awam yang membicarakannya saja segan padahal masih banyak hal-hal yang belum dipahami boleh saja terpengaruh. Dalam hal ini seharusnya kita seawam apapun bisa lebih terbuka dalam membicarakan keagamaan dan sebaliknya yang paham tidak mudah memvonis serta menghargai proses.
  2. Dari 1 Kitab yang tidak seberapa tebal ini Qur'an mampu mengilhami banyak orang dalam menerapkan hukum, ilmu pengetahuan, ekonomi, kekeluargaan dan banyak hal-hal lain dimana Qur’an telah mengaturnya dan Rasulullah telah mengaplikasikannya, sehingga keduanya bisa diambil pelajaran yang tiada habisnya dan berbagai cabang Ilmu pengetahuan dan perspektif sesuai jangakauan yang mengamalkannya dapat terus berbagi manfaat bagi kelangsungan hidup kita. Namun tiba-tiba ada yang mencacinya sebagai kitab Setan bahkan kemudian membakarnya. Apakah itu ulah orang yang memahami atau boleh disebut waras? Quran secara fisik memang tiada beda dengan buku-buku lain, yang mudah digandakan diperjual-belikan dan terserah mau diapakan oleh orang yang memilikinya, namun tidak secara makna/isinya, yang hanya orang-orang beriman/di beri petunjuklah yang bisa mengambil pelajaran darinya. Jika pembakaran itu merupakan simbolis untuk menghancurkan Qur'an seluruhnya maka tidak lain hanya memvisualkan kebodohan dan ketidak warasannya saja. Dan kita bisa mempertanggung jawabkan pemahaman kita tentang isinya apabila orang terebut mau berdialog sehat atau menggugatnya.
  3. Allah SWT telah mengantisipasi dengan cantik kesalahan-kesalahan umat terdahulu, diantaranya dilarang menggambar Nabi untuk menghindari pengkultusan. Maka sampai sekarang tidak ada gambar tentang Nabi Muhammad saw kecuali hanya penuturan sifat secara lisan. Namun tiba-tiba muncul ulah-ulah pendengki yang menggambar Nabi. Gambar dari mana? Bukankah apa yg mereka gambarkan hanya gambaran kedengkian mereka sendiri yang tidak bisa mengelak bahwa gambar idola atau Tuhan mereka sendiri tidak jelas karakter siapa yang diambil.
Bicara mindset tentu bukan urusan mudah karena terbentuk dalam kurun waktu yang lama, dalam hal ini bukan saya mengajak untuk pasif, namun pahami bahwa dunia tidak lepas dari visualisasi (image make news) yang dari sini orang meletakkan standar mudah untuk menilai. Hendaknya kita lebih arif dan berjiwa besar dalam menyikapi segala aksi provokasi. Jangan kita terpancing dengan kegilaan-kegilaan yang mereka tunjukan. Dahulukanlah hujah yang argumentatif. Seringkali kegilaan itu disengaja untuk mencari sensasi, karena buat mereka sebelum dirinya dibicarakan banyak orang, dirinya bukanlah siapa-siapa. Terbukti juga masyarakat luas ketika membicarakan sesuatu semakin kontroversi maka semakin ramai dibicarakan. Ketika kita bereaksi berlebihan maka secara tidak langsung kita telah turut mengangkatnya kepermukaan. 
Apakah mereka peduli akan dikenal seperti apa? Atau yang penting terkenal?
Apakah mereka memikirkan bagaimana perasaan kita? Atau memang telah mati sensenya?
Percuma orang gila dicaci bukan? Tentu anda akan dicaci lebih gila lagi.

Sebentar lagi kita memasuki bulan suci Ramadhan, mari kita perkaya diri dengan pengetahuan tentang Islam untuk membentengi diri sekaligus menjadikan umat kebanggaan sebagaimana Rasulullah wasiatkan.

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Al-An’am: 68)

Tentang N.A.K

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama