Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

6. CARA MENENTUKAN AWAL RAMADHAN

1.   Menghitung Bilangan Hari di Bulan Sya’ban
Islam adalah agama yang mudah.  Dalam penentuan awal Ramadlan, hendaknya umat Islam membiasakan diri untuk menghitung bilangan hari pada bulan Sya’ban.  Dalam kalender Qamariyyah (kalender Islam), jumlah hari dalam satu bulan adalah 29 hari atau 30 hari.  Kita diwajibkan berpuasa jika telah melihat bulan (hilal bulan Ramadlan). Dan jika tertutup oleh awan (bulan tidak terlihat), maka bulan Sya’ban kita genapkan menjadi 30 hari.  Hal itu sangat sesuai dengan amalan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya sebagaimana telah shahih dalam riwayat.

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين

“Berpuasalah jika kalian telah melihat bulan, dan berbukalah jika kalian melihatnya pula.  Dan apabila bulan tertutup (awan) dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari”(HR. Bukhari no. 1810 dan Muslim no. 1081) 1 .

2.   Jika Ada Orang (Saksi) yang Telah Melihat Bulan, Maka Berpuasalah atau Berbukalah
Melihat bulan (hilal) awal Ramadlan ditentukan dengan kesaksian dua orang saksi yang adil.  Hal ini didasarkan oleh sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته وانسكوا لها فإن غم عليكم فأكملوا ثلاثين فإن شهد شاهدان فصوموا وأفطروا

“Berpuasalah jika kalian melihat bulan dan berbukalah jika kalian melihatnya pula, serta menyembelihlah (pada bulan Dzulhijjah) karena melihatnya.  Jika bulan itu tertutup dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah (bulan Sya’ban) menjadi 30 hari.  Dan jika ada dua orang yang memberi kesaksian melihat bulan, maka berpuasalah dan berbukalah kalian” (HR. Nasa’i dalam Al-Mujtabaa no. 2116, Ahmad no. 18915, dan Daruquthni 2/167; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaaul-Ghalil no. 909).

3.   Barangsiapa yang Berpuasa di Hari Syak (Meragukan), Maka Dia Telah Bermaksiat kepada Abul-Qasim (Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam).

Dengan demikian, tidak sepatutnya bagi seorang muslim untuk mendahului untuk berpuasa sebelum bulan Ramadlan, sehari atau dua hari – dengan alasan untuk berhati-hati.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

لا يتقدمن أحدكم رمضان بصوم يوم أو يومين إلا أن يكون رجل كان يصوم صومه فليصم ذلك اليوم

“Janganlah seseorang di antara kalian mendahului puasa Ramadlan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya; kecuali bagi yang biasa berpuasa, maka tidaklah mengapa ia berpuasa pada hari itu”(HR. Bukhari no. 1815 dan Muslim no. 1082).

‘Ammar berkata :
من صام اليوم الذي يشك فيه الناس فقد عصى أبا القاسم صلى الله عليه وسلم

“Barangsiapa berpuasa pada hari yang meragukan (syak), berarti dia telah mendurhakai Abul-Qasim (Rasulullah) shallallaahu ‘alaihi wasallam”

(HR. Bukhari 4/119 secara mu’allaq, Abu Dawud no. 2334, Tirmidzi no. 686, Ibnu Majah no. 1645, dan Nasa’i dalam Al-Kubraa no. 2498. At-Tirmidzi berkata : Hasan shahih. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 2/52).

Imam An-Nawawi berkata : “Hadits ini secara tegas melarang menyambut bulan Ramadlan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya bagi orang-orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa atau tidak menyambungnya dengan puasa sebelumnya. Jika ia tidak menyambungnya dengan puasa sebelumnya atau ia tidak memiliki kebiasaan berpuasa, maka itu diharamkan dan inilah pendapat yang benar” (Syarh Shahih Muslim lin-Nawawi 3/158) 2.

4.   Doa Ketika Melihat Hilal (Bulan Baru Hijriyah) Ramadlan

Apabila hilal telah terlihat yang menandakan tanda mulainya Bulan Ramadlan (atau bulan-bulan yang lainnya), maka disunnahkan membaca doa :

اَللهُ أَكْـبَرُ، اَللّهُمَّ أَهِلَّـهُ عَلَيْـنَا بِاْلأَمْـنِ وَاْلإِيْمـَانِ، وَالسَّلامَـةِ وَاْلإِسْلامِ، وَالتَّـوْفِيْـقِ لِمَا تُحِـبُّ وَتَـرْضَـى، رَبُّنـَا وَرَبُّكَ اللهُ

[Alloohu akbar. Alloohumma ahillahu ‘alainaa bil-amni wal-iimaan. Was-salaamati wal-islaami, wat-taufiiqi limaa tuhibbu wa tardloo. Robbunaa wa robbukallooh]

“Allah Maha Besar. Ya Allah, tampakkan bulan satu itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam serta mendapat taufiq untuk menjalankan apa yang Engkau senang dan rela. Rabb kami dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah”

(HR. Tirmidzi no. 3451, Ad-Daarimi no. 1687, dan Ibnu Hibban dalam Mawaridudh-Dham’an hal. 589. At-Tirmidzi berkata : Hadits hasan gharib. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 3/423).

Catatan kaki :
1.  Dalam penentuan awal bulan Ramadlan dan awal bulan Syawal, maka dalam Islam hanya mengenal metode Ru’yatul-Hilal (melihat bulan) pada malam hari tanggal 29.  Bila ternyata bulan tidak terlihat, maka hitungan bulan disempurnakanl menjadi 30 hari.  Adapun metode hisab adalah metode baru (bid’ah) dan selayaknya untuk dihindari oleh umat Islam.  Dan inilah yang membuktikan bahwa Islam adalah agama yang mudah.

2.  Dikutip melalui Puasa Sunnah : Hukum dan Keutamaannya (Judul Asli : Shiyaamu Tathawwu’ Fadlaailu wa Ahkaam) oleh Usamah ‘Abdil-‘Aziz.

7. MENETAPKAN NIAT PUASA
Wajib menetapkan niat untuk puasa fardlu (Ramadlan) pada malam harinya, yaitu sebelum terbit fajar shadiq.  Yang demikian itu berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له

“Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum terbit fajar, maka tidak sah puasa baginya” (HR. Abu Dawud no. 2454, Ibnu Khuzaimah no. 1933, Baihaqi 4/202, Nasa’i dalam Al-Mujtabaa no. 2333, dan At-Tirmidzi no. 730. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud 3/82).

من لم يبيت الصيام قبل الفجر فلا صيام له

“Barangsiapa tidak berniat atas puasanya di malam hari, maka tidak sah puasa baginya” (HR. Nasa’i dalam Al-Mujtabaa no. 2331, Baihaqi 4/202, dan Ibnu Hazm 6/162; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaaul-Ghalil no. 914).

Niat itu tempatnya di dalam hati.  Melafadhkan niat adalah tidak ada contohnya, dan Melafadhkan niat tidak pernah diperbuat oleh Nabi, para shahabat, para tabi’in, tabi’ut tabi’in, Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad, dan para imam kaum muslimin lainnya.  Hendaklah kaum muslimin memperhatikannya.
Kewajiban niat di malam hari/sebelum fajar hanya berlaku pada puasa wajib.  Adapun untuk puasa sunnah, niat dapat dilakukan pada siang harinya.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah mendatangi ‘Aisyah di luar bulan Ramadlan seraya bertanya :

هل عندكم شيء فقلنا لا قال فإني إذن صائم
“Apakah kamu punya persediaan makanan? Aisyah menjawab : Tidak ada.  Maka beliau berkata : “Maka aku akan berpuasa”

(HR. Muslim no. 1154).

8. WAKTU BERPUASA

Waktu untuk berpuasa adalah dimulai dari terbitnya fajar shadiq (fajar kedua) sampai terbenamnya matahari.  Sebagai permulaan waktu puasa, Allah ta’ala telah berfirman :

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتّىَ يَتَبَيّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makan minumlah kamu hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” (QS. Al-Baqarah : 187).

Dan untuk berakhirnya waktu puasa, yaitu tiba waktu berbuka puasa, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

إذا أقبل الليل من ها هنا وأدبر النهار من ها هنا وغربت الشمس فقد أفطر الصائم

“Apabila malam telah tiba dari arah sini dan siang telah berlalu dari arah sini serta matahari pun terbenam, maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka” (HR. Bukhari no. 1853 dan Muslim 1100).

Tambahan :
Fajar itu ada 2 (dua) :
1.   Fajar Kadzib : adalah warna putih di arah timur, panjang yang menjulur ke atas seperti ekor serigala.
2.   Fajar Shadiq : adalah warna merah yang naik dan muncul dari arah timur (setelah berlalunya Fajar Kadzib), sehingga terlihat jelas perbedaan antara malam dan siang.
Rasulullah bersabda :

الفجر فجران فأما الأول فإنه لا يحرم الطعام ولا يحل الصلاة واما الثاني فإنه يحرم الطعام ويحل الصلاة

“Fajar itu ada dua macam :  Adapun fajar yang pertama, tidak diharamkan makan dan tidak dibolehkan mengerjakan shalat (shubuh); sedangkan fajar yang kedua, diharamkan makan dan dibolehkan mengerjakan shalat shubuh” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1927; Hakim no. 687-688,; Daruquthni 2/165; dan Baihaqi 4/261; shahih).

9.SAHUR
1.   Hukum Sahur
Hukum makan sahur adalah sunnah, berdasarkan hadits dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

تسحروا فإن في السحور بركة

“Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat barakah” (HR. Bukhari no. 1823 dan Muslim no. 1095).

Imam Nawawi rahimahullah berkata : “Para ulama telah bersepakat tentang sunnahnya makan sahur dan bukan suatu kewajiban” (Syarah Shahih Muslim 7/207).

Penganjuran sahur sangat ditekankan kepada kaum muslimin walau hanya dengan seteguk air, karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

السحور أكله بركة فلا تدعوه ولو أن يجرع أحدكم جرعة من ماء فإن الله عز وجل وملائكته يصلون على المتسحرين

“Sahur adalah makanan yang penuh barakah. Maka janganlah kalian meninggalkannya sekalipun salah seorang diantara kalian hanya minum seteguk air.  Karena sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur” (HR. Ahmad no. 11101; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihu Jami’ish-Shaghiir no. 3683).

2.   Keutamaan Sahur
a.   Dalam sahur terdapat barakah.
b.   Pujian Allah dan doa para malaikat terhadap orang-orang yang makan sahur.
c.   Menyelisihi puasanya ahlul-kitaab.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

فصل ما بين صيامنا وصيام أهل الكتاب أكلة السحر

“Perbedaan antara puasa kita dengan puasanya Ahli Kitab terletak pada makan sahur” (HR. Muslim no. 1096).

3.   Waktu Sahur
Disunnahkan untuk mengakhirkan waktu makan sahur sampai menjelang terbit fajar, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengakhirkan sahur sampai menjelang shalat shubuh tiba.  Telah diriwayatkan dari Anas radliyallaahu ‘anhu dari Zaid bin Tsabit bahwa dia pernah berkata :

تسحرنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ثم قام إلى الصلاة قلت كم كان بين الأذان والسحور قال قدر خمسين آية

”Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian kami berangkat shalat (shubuh).  Maka aku (Anas) berkata : “Berapa lama jarak antara adzan dan makan sahur? Ia (Zaid) menjawab : خمسين آية (kira-kira bacaan lima puluh ayat dari Al-Qur’an)” (HR. Bukhari no. 1821 dan Muslim no. 1097).

4.   Bagaimana Jika Kita Sedang Makan Sahur, Namun Adzan Telah Berkumandang ???
Sebagian masyarakat berpandangan, jika kita sedang makan sahur dan adzan telah berkumandang, maka kita wajib berhenti dari makan dan minum dan memuntahkan/membuang apa-apa yang ada di dalam mulut kita.  Ini adalah pandangan yang keliru.  Mari kita simak hadits berikut :

Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إذا سمع أحدكم النداء والإناء على يده فلا يضعه حتى يقضي حاجته منه

“Jika salah seorang kalian mendengar panggilan (adzan) sedangkan bejana (minumnya) ada di tangannya,maka janganlah ia meletakkannya hingga ia menunaikan keinginannya dari bejana (tersebut)” (HR. Ahmad no. 10637 dan Abu Dawud no. 2350; hasan shahih. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud 3/58).

أقيمت الصلاة والإناء في يد عمر قال أشربها يا رسول الله قال نعم فشربها

“Pernah iqamah dikumandangkan sedangkan bejana masih di tangan Umar (bin Khaththab) radliyallaahu ‘anhu.  Dia bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : Apakah aku boleh meminumnya?”.  Beliau menjawab : “Boleh”.  Maka Umar pun meminumnya” (HR. Ibnu Jarir 3/527/3017 dengan dua sanad darinya; shahih. Lihat Silsilah Ash-Shahiihah no. 1394).

Bila ditaqdirkan adzan telah dikumandangkan sedangkan kita masih bersantap sahur, maka hendaklah kita selesaikan makan kita dengan tenang, tidak terburu-buru, baru kemudian shalat shubuh.
Dari penjelasan di atas, kebiasaan masyarakat mengumandangkan waktu imsak (dengan sirine, kentongan, bedug, atau ucapan) sekitar 15 menit sebelum shubuh merupakan kebiasaan tanpa dalil yang kurang tepat.  Selain tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat, secara bahasa pun tidak dapat dibenarkan.  Karena imsak secara bahasa berarti menahan diri (untuk tidak makan dan minum).  Sedangkan dalam Islam, waktu imsak itu sendiri adalah dengan terbitnya fajar (dikumandangkannya adzan shubuh).  Adapun waktu 15 menit sebelum shubuh masih merupakan waktu yang utama untuk melaksanakan makan sahur.  Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

5.   Membangunkan Orang untuk Sahur ?

Ada satu sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang ditinggalkan oleh banyak kaum muslimin tentang hal ini, dan mereka menggantinya dengan sesuatu yang lain (yang bukan berasal dari beliau). Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa sebagai berikut :

أن بلالا كان يؤذن بليل فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم كلوا واشربوا حتى يؤذن بن أم مكتوم فإنه لا يؤذن حتى يطلع الفجر

“Sesungguhnya Bilal adzan pada waktu malam. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : ‘Makan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum adzan. Karena dia tidak akan adzan kecuali setelah terbitnya fajar shadiq” (HR. Bukhari no. 1819).

Dari Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لا يمنعن أحدا منكم أذان بلال أو قال نداء بلال من سحوره فإنه يؤذن أو قال ينادي بليل ليرجع قائمكم ويوقظ نائمكم

“Janganlah adzannya Bilal itu menghalangi salah seorang di antara kalian dari sahurnya. Karena Bilal menyerukan adzan di malam hari supaya orang-orang yang shalat malam kembali beristirahat sejenak dan orang yang masih tidur segera bangun” (HR. Bukhari no. 596 dan Muslim no. 1093).

Hadits di atas menjelaskan pada kita bahwa di jaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, adzan dilakukan dua kali. Adzan pertama dilakukan saat fajar kadzib tiba (waktu utama melaksanakan sahur dimana orang-orang dibangunkan dari tidurnya – sepertiga malam terakhir). Sedangkan adzan kedua dilakukan saat waktu shubuh tiba (fajar shadiq) 1 .

6.   Tamr adalah Sebaik-Baik Makanan untuk Sahur
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

نعم سحور المؤمن التمر

“Sebaik-baik makanan sahur seorang mukmin adalah tamr” (HR. Abu Dawud no. 2345 dan Baihaqi 4/237. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 2/55).
Tamr adalah kurma kering yang telah masak dan berwarna coklat tua (sebagaimana umum dijual di pasaran).

7.   Tidak Tidur Setelah Shalat Shubuh
Para ulama telah menjelaskan tentang dibencinya tidur setelah shalat shubuh. Dalil yang mendasari itu adalah :

عن صخر الغامدي قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اللهم بارك لأمتي في بكورها

Dari Sakhr Al-Ghamidi ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :”Ya Allah, berkahilah bagi umatku pada pagi harinya”

 (HR. Abu Dawud no. 2606, Ibnu Majah no. 2236, Ath-Thayalisi halaman 175, dan Ibnu Hibban 7/122. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 2/124).

Ibnul-Qayyim telah berkata tentang keutamaan awal hari dan makruhnya menyia-nyiakan waktu dengan tidur, dimana beliau berkata : “Termasuk hal yang makruh bagi mereka – yaitu orang shalih – adalah tidur antara shalat shubuh dengan terbitnya matahari, karena waktu itu adalah waktu yang sangat berharga sekali. Terdapat kebiasaan yang menarik dan agung sekali mengenai pemanfaatan waktu tersebut dari orang-orang shalih, sampai-sampai walaupun mereka berjalan sepanjang malam mereka tidak toleransi untuk istirahat pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Karena ia adalah awal hari dan sekaligus sebagai kuncinya. Ia merupakan waktu turunnya rizki, adanya pembagian, turunnya keberkahan, dan darinya hari itu bergulir dan mengembalikan segala kejadian hari itu atas kejadian saat yang mahal tersebut. Maka seyogyanya tidurnya pada saat seperti itu seperti tidurnya orang yang terpaksa” (Madaarijus-Saalikiin 1/459).

Hendaknya seorang muslim menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya di bulan Ramadlan. Setelah shalat shubuh, ia bisa menggunakannya untuk berdzikir, membaca Al-Qur’an, atau kegiatan positif lainnya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

من صلى الغداة في جماعة ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم صلى ركعتين كانت له كأجر حجة وعمرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم تامة تامة تامة

“Barangsiapa shalat Shubuh berjama’ah, kemudian duduk dan berdzikir kepada Allah hingga terbit matahari, kemudian ia shalat dua raka’at (yaitu shalat Dluha/Isyraq), ia akan memperoleh pahala ibadah haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna”

(HR. Tirmidzi nomor 586; hasan lighairihi. Lihat Shahih At-Targhib no. 464).
Catatan kaki :
1.  Pada saat adzan pertamalah dikumandangkan bacaan tatswib (ash-sholaatu khairum-minan-naum = “Shalat itu lebih baik daripada tidur”). Ibnu ‘Umar meriwayatkan :

كان في الأذان الأول بعد الفلاح : الصلاة خير من النوم مرتين

“Pada adzan pertama setelah membaca Hayya ‘alal-Falah, hendaknya membaca Ash-Sholaatu Khorum-Minan-Naum”

 (HR. Baihaqi 1/423 dan Ath-Thahawi dalam Syarh Ma’anil-Atsar 1/82 dengan sanad hasan sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam Talkhiishul-Habiir 1/212 – lihat Tamaamul-Minnah hal. 146-147).

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa

1.   Makan dan Minum dengan Sengaja

Allah ta’ala telah berfirman :

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتّىَ يَتَبَيّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمّ أَتِمّواْ الصّيَامَ إِلَى الّليْلِ

“Dan makan minumlah kamu hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.  Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (QS. Al-Baqarah : 187).

Dari ayat tersebut bisa dipahami bahwa puasa adalah menahan diri dari makan dan minum.  Apabila orang yang berpuasa makan dan minum, berarti ia telah berbuka.  Terlebih lagi jika ia lakukan dengan sengaja, maka jelas hal ini membatalkan ibadah puasa.  Adapun jika seseorang makan dan minum karena tidak sengaja (lupa), maka hal ini tidak membatalkan puasa.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :
من نسي وهو صائم فأكل أو شرب فليتم صومه فإنما أطعمه الله وسقاه

“Barangsiapa yang berpuasa, kemudian ia lupa makan dan minum, hendaklah ia menyempurnakan puasanya.  Sesungguhnya Allah ta’ala telah memberikan makan dan minum kepadanya” (HR. Bukhari no. 1831 dan Muslim no. 1155).

2.   Muntah dengan Sengaja

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
من ذرعه قيء وهو صائم فليس عليه قضاء وإن استقاء فليقض

“Barangsiapa yang muntah dengan tidak sengaja (dalam keadaan berpuasa), maka tidak ada qadla’ baginya; dan barangsiapa yang muntah dengan sengaja, maka ia harus mengqadla (puasanya)” (HR. Abu Dawud no. 2380, At-Tirmidzi no. 720, Ibnu Majah no. 1676, dan Ahmad no. 10468; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud 2/63).

3.   Haidl dan Nifas

Apabila wanita kedatangan haidl dan nifas di siang hari bulan Ramadlan, baik di awal maupun di akhir, maka ia harus berbuka (batal puasanya) dan mengqadlanya (menggantinya) di hari lain.  Jika ia tetap puasa, maka puasanya tidak sah.

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

تمكث الليالي ما تصلي وتفطر في رمضان فهذا نقصان الدين

“Dia (wanita) berdiam diri beberapa malam tidak shalat, dan berbuka puasa Ramadlan (karena haidl), maka inilah kekurangan agamanya” (HR. Muslim 79 dan 80).

Diriwayatkan dari Mu’adzah ia berkata :

سألت عائشة فقلت ما بال الحائض تقضي الصوم ولا تقضي الصلاة فقالت أحرورية أنت قلت لست بحرورية ولكني أسأل قالت كان يصيبنا ذلك فنؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة

Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah.  Aku katakan,”Bagaimana dengan wanita haidl, ia mengqadla puasa namun tidak mengqadla shalat?”.  Aisyah menjawab,”Apakah kamu seorang Haruriyyah (Khawarij)?”.  Aku menjawab,”Aku bukan Haruriyyah, tapi aku sekedar bertanya”.  Aisyah berkata,”Kami pernah mengalami begitu.  Lalu kami diperintahkan untuk mengqadla puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqadla shalat” (HR. Muslim no. 335).

4.   Infus Makanan

Yaitu memasukkan zat-zat makanan ke dalam tubuh seseorang melalui infus sebagai pengganti makan kepada orang yang sakit.  Ini termasuk perkara yang membatalkan puasa; karena infus tersebut mengandung zat makanan 1  yang dapat membuat badan tidak lemah sebagaimana keadaan orang yang sehat.

5.   Jima’ (Berhubungan Badan).

Hal ini berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta kesepakatan ulama’.  Imam Asy-Syaukani rahimahullah dalam kitab Ad-Darari Mudli’ah (2/22) berkata,”Tidak ada perbedaan di kalangan ulama bahwa jima’ membatalkan puasa, apabila terjadi dengan sengaja.  Apabila terjadi karena lupa, sebagian ulama’ mengkatagorikannya termasuk (dalam hukum) orang yang makan dan minum karena lupa”.
Dalil dalam Al-Qur’an terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 187, silakan disimak dan dibaca!!  Adapun kaffaratnya (tebusannya) dijelaskan dalam Sunnah Rasululah shallallaahu ‘alaihi wasallam dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu :

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال هلكت يا رسول الله قال وما أهلكك قال وقعت على امرأتي في رمضان قال هل تجد ما تعتق رقبة قال لا قال فهل تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين قال لا قال فهل تجد ما تطعم ستين مسكينا قال لا قال ثم جلس فأتي النبي صلى الله عليه وسلم بعرق فيه تمر فقال تصدق بهذا قال أفقر منا فما بين لابتيها أهل بيت أحوج إليه منا فضحك النبي صلى الله عليه وسلم حتى بدت أنيابه ثم قال اذهب فأطعمه أهلك

Seseorang pernah datang kepada beliau seraya berkata,”Ya Rasulullah, aku telah binasa”.  Beliau bertanya,”Apa yang telah membinasakanmu?”.  Ia menjawab,”Aku telah menggauli istriku di (siang hari) bulan Ramadlan”.  Beliau bertanya lagi,”Apakah engkau mampu memerdekakan budak?”.  Ia menjawab,”Tidak”.  Beliau bertanya lagi,”Apakah engkau mampu berpuasa selama dua bulan berturut-turut?”.  Ia menjawab,”Tidak”.  Beliau bertanya lagi,”Apakah engkau mampu memberi makan enam puluh orang miskin?”.  Ia menjawab,”Tidak”.  Beliau bersabda,”Duduklah!”.  Maka ia pun duduk.  Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membawakan satu wadah kurma untuknya.  Beliau bersabda,”Sedekahkanlah dengan kurma ini”.  Ia berkata,”Tidak ada di kota Madinah ini seorang yang lebih fakir daripada kami”.  Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tertawa hingga nampak gigi taringnya.  Beliau bersabda,”Ambillah, dan berikanlah sebagai makanan untuk keluargamu” (HR. Bukhari no. 2460, Muslim no. 1111, Tirmidzi no. 724, dan lain-lain).

Catatan kaki :
1.  Lihat Haqiiqatush-Shiyaam karya Ibnu Taimiyyah.

BERSAMBUNG==>

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama