Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Untuk meraih kesempurnaan puasa, orang yang berpuasa selayaknya tidak hanya menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa saja.  Namun ia juga harus menahan diri dari akhlaq-akhlaq yang tercela dan perbuatan dosa lainnya.  Salah satu tujuan yang diinginkan oleh seorang yang berpuasa adalah mencapai derajat taqwa, sebagaimana firman Allah ta’ala :

يَأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلّكُمْ تَتّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS. Al-Baqarah : 183).

1.   Perkataan Dusta
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak memerlukan (puasa orang itu yang) meninggalkan makan dan minumnya” (HR. Bukhari no. 1804).

2.   Pembicaraan yang Tidak Bermanfaat dan Kata-Kata Kotor

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

ليس الصيام من الأكل والشرب إنما الصيام من اللغو والرفث فإن سابك أحد أو جهل عليك فلتقل إني صائم إني صائم
“Puasa itu bukan hanya dari makan dan minum saja, tetapi puasa itu (menahan diri) dari kata-kata tidak bermanfaat dan kata-kata kotor.  Oleh karena itu jika ada orang yang mencacimu atau membodohimu, maka katakanlah kepadanya : “Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1996 dan Al-Hakim no. 1570 dengan sanad shahih).

3.   Ghibah (Menggunjing/Ngrumpi)

Ghibah adalah menceritakan keburukan seseorang dimana orang tersebut tidak suka jika hal itu diketahui oleh orang lain. Allah telah berfirman :

وَلاَ يَغْتَب بّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.  Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati?  Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya “(QS. Al-Hujuraat : 12).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أتدرون ما الغيبة قالوا الله ورسوله أعلم قال ذكرك أخاك بما يكره قيل فرأيت إن كان في أخي ما أقول قال إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته وإن لم يكن فيه فقد بهته

“Apakah kalian tahu apa ghibah itu ? Mereka menjawab : ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu’.  Beliau bersabda : ‘Jika kamu menyebut saudaramu tentang apa yang ia benci, maka kamu telah melakukan ghibah’.  Beliau ditanya : ‘Bagaimana jika sesuatu yang aku katakan ada pada saudaraku?’  Beliau menjawab : Bila sesuatu yang kamu bicarakan ada padanya maka kamu telah melakukan ghibah, dan apabila yang kamu bicarakan tidak ada maka kamu telah membuat kebohongan atasnya “ (HR. Muslim no. 2589, Tirmidzi no. 1934, Malik no. 1786, dan Ahmad no. 8973).

4.   Namimah (Mengadu Domba)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

لا يدخل الجنة نمام

“Tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba” (HR. Bukhari no. 5709 dan Muslim no. 105; lafadh ini milik Muslim).

5.   Mengumbar Syahwat
Fenomena yang hampir terjadi di setiap tempat di sekitar kita adalah banyaknya kaum muslimin yang menghabiskan waktu sehabis sahur dan menjelang berbuka untuk “nongkrong”, “mejeng”, berdua-duaan dengan lain mahram, dan yang semisalnya dengan alasan jalan sehat, cuci mata, atau ngabuburit. Alangkah meruginya mereka dengan perbuatan sia-sia dan maksiat itu. Allah telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman :

قُلْ لّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضّواْ مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُواْ فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَىَ لَهُمْ إِنّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ* وَقُل لّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنّ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.  Katakanlah kepada wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…. (QS. An-Nuur : 30-31).

عن جرير بن عبد الله قال سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نظر الفجاءة فأمرني أن أصرف بصري

Dari Jabir bin Abdillah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Aku bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dari pandangan tidak sengaja (terhadap sesuatu yang diharamkan), maka beliau memerintahkan kepadaku untuk memalingkan pandanganku” (HR. Muslim no. 2159; lihat Mukhtshar Shahih Muslim no. 1426).

Oleh karena itu, muncul ancaman keras dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bagi orang-orang yang melakukan keburukan-keburukan tersebut di atas.  Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر

“Berapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa haus dan lapar dari puasanya” (HR. Ibnu Majah no. 1690, Al-Hakim no. 1571, Ahmad no.8843, dan Baihaqi 4/270 dengan sanad shahih. Lihat Shahih At-Targhib no. 1083).

Hal ini dikarenakan orang yang berpuasa tersebut tidak memahami hakikat puasa yang sebenarnya sebagaimana yang Allah ta’ala telah perintahkan kepada kita……..sehingga Allah membalasnya dengan mengharamkan pahala dan ganjaran puasanya.

Hal-Hal yang Boleh Dilakukan Oleh Orang yang Berpuasa

1.   Bersiwak 
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لولا أن أشق على أمتي ، لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة

“Jika aku tidak takut menyulitkan umatku, niscaya akan kuperintahkan mereka bersiwak setiap hendak shalat” (HR. Bukhari no. 847 dan Muslim no. 252).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mengkhususkan hal itu hanya pada orang yang tidak berpuasa saja.  Namun secara umum berlaku untuk orang yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa.  Dan bahkan, bersiwak ini sangat dianjurkan……

2.   Masuk Waktu Fajar dalam Keadaan Junub (Belum Mandi).

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bangun pagi ketika fajar, sedangkan beliau dalam keadaan junub setelah bercampur dengan istrinya, lalu beliau mandi setelah terbit fajar dan kemudian berpuasa.  Hal ini berdasarkan hadits :

عن عائشة وأم سلمة – رضي الله عنهما- : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يدركه الفجر وهو جنب من أهله ثم يغتسل ويصوم

“Dari Aisyah dan Ummu Salamah radliyallaahu ‘anhuma bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah mendapati fajar telah terbit dan ketika itu beliau dalam keadaan junub setelah bercampur dengan istrinya.  Kemudian beliau mandi dan berpuasa”  (HR. Bukhari no. 1825 dan Muslim no. 1109).

3.   Berkumur dan Memasukkan Air ke dalam Hidung (Ketika Wudlu’).

Hal ini karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam biasa berkumur dan memasukkan air ke hidung saat beliau berpuasa.  Hanya saja beliau melarang orang yang berpuasa untuk berlebih-lebihan dalam melakukan kedua hal tersebut.  Laqith bin Shabirah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

… وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائماً

“Dan bersungguh-sungguhlah kalian dalam ber-istinsyaaq (memasukkan air ke dalam hidung saat berwudlu’) kecuali bila kalian berpuasa” (HR. Tirmidzi no. 788, Abu Dawud no. 142, Ibnu Abi Syaibah 1/21, Ibnu Majah no. 407, dan Nasa’i dalam Al-Mujtabaa no. 87; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaa’ul-Ghalil no. 935).

4.   Bercumbu dan Berciuman Bagi Suami Istri yang Sedang Berpuasa

Hal ini ditegaskan oleh hadits berikut :

عن عائشة رضى الله تعالى عنها قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقبل وهو صائم ويباشر وهو صائم ولكنه أملككم لإربه

“Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah mencium dan bercumbu pada saat beliau sedang berpuasa.  Namun beliau adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya diantara kalian” (HR. Bukhari no. 1826 dan Muslim 1106).

Hal itu dimakruhkan bagi orang yang masih muda dan tidak bagi yang sudah tua.  Telah diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radliyallaahu ‘anhuma ia berkata :

كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم فجاء شاب فقال يا رسول الله أقبل وأنا صائم قال لا فجاء شيخ فقال أقبل وأنا صائم قال نعم قال فنظر بعضنا إلى بعض فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم قد علمت لم نظر بعضكم إلى بعض ان الشيخ يملك نفسه

Kami pernah bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba seorang pemuda mendekati beliau seraya berkata,”Wahai Rasulullah, bolehkah aku mencium istriku sedangkan aku dalam kondisi berpuasa?”.  Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab,”Tidak boleh”.  Kemudian datang seorang yang telah tua seraya berkata,”Apakah aku boleh mencium (istriku) sedangkan aku dalam kondisi berpuasa?”.  Beliau menjawab,”Boleh”.  Abdullah berkata,”Lalu kami saling berpandangan, kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya orang yang sudah tua tersebut mampu untuk menahan nafsunya” (HR. Ahmad no. 6739, 7054 dan Thabrani dalam Al-Kabiir 11040; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 1606).

5.   Tranfusi Darah dan Suntikan yang Tidak Dimaksudkan Sebagai Makanan.

6.   Berbekam
Pada awalnya berbekam (canduk) termasuk perkara yang membatalkan puasa sebagaimana hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

أفطر الحاجم والمحجوم
“Telah berbuka (batal puasa) orang yang berbekam dan yang dibekam” (HR. Tirmidzi no. 774; Abu Dawud no. 2367, 2370,2371; Ibnu Majah no. 1679; dan lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 2/68).

Lalu kemudian hukum ini dimansukh (dihapuskan).  Hal ini terlihat dari perbuatan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau berbekam pada saat berpuasa, sebagaimana hadits berikut :

عن بن عباس رضى الله تعالى عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم احتجم وهو محرم واحتجم وهو صائم

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu anhuma bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berbekam saat beliau dalam keadaan ihram (haji) dan pernah berbekam dalam keadaan berpuasa (HR. Bukhari no. 1836; lihat Kitab Nasikh Al-Hadits wa Mansukhuhu karya Ibnu Syahin 334-338).

7.   Mencicipi Makanan

Mencicipi makanan dibolehkan bagi orang yang berpuasa dengan catatan tidak sampai masuk ke tenggorokan (tertelan).  Hal tersebut didasarkan atsar dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma :

لا باس أن يذوق الخل ، أو الشيء ما لم يدخل حلقه وهو صائم
“Tidak ada masalah untuk mencicipi cuka atau yang lainnya selama tidak dimasukkan ke dalam kerongkongannya, sedangkan dia dalam keadaan berpuasa” (HR. Bukhari dalam Fathul-Baari 4/154 secara mu’allaq dan disambung oleh Ibnu Abi Syaibah 2/463; dan Baihaqi 4/261 dengan sanad hasan).

8.   Celak, Obat Tetes Mata, dan Semisalnya yang Dimasukkan ke dalam Mata

Memakai celak dan obat tetes mata tidak termasuk perkara yang membatalkan puasa, baik pengaruh rasanya sampai tenggorokan maupun tidak.  Pendapat ini dikuatkan (ditarjih) oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah di dalam risalahnya Haqiiqatush-Shiyaam, dan juga oleh muridnya Ibnul-Qayyim dalam Zaadul-Ma’aad.

Imam Bukhari berkata dalam Shahih-nya :

ولم ير أنس والحسن وإبراهيم بالكحل للصائم بأسا

”Anas, Al-Hasan, dan Ibrahim tidak mempermasalahkan celak mata bagi orang yang berpuasa” (Lihat Fathul Baari 4/153).

9.   Membasahi Kepala dengan Air Dingin dan Mandi

Al-Bukhari dalam Shahih-nya bab Ightisal Ash-Shaaim,”Ibnu Umar membasahi baju (dengan air) lalu memakainya, sedang dia berpuasa.  Asy-Sya’bi masuk ke kamar mandi, sedang dia berpuasa.  Al-Hasan berkata,”Tidak ada masalah dengan berkumur-kumur dan mendinginkan (badan) bagi orang yang berpuasa”.  Dalam suatu hadits disebutkan :

كان صلى الله عليه وسلم يصب الماء على رأسه وهو صائم من العطش أو من الحر

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah menyiramkan air di atas kepalanya, sedang dia berpuasa karena kehausan dan kepanasan” (HR. Abu Dawud no. 2365 dan Ahmad no. 16653, 23239. Dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud  2/61).

Bersambung

Baca Tulisan Lainnya :








Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama