Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Oleh :Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

Ibnu 'Arabi, pakar tafsir dan hukum Islam bermazhab Maliki, tidak sependapat dengan mereka yang memahami kata taqshithu pada firman Allah di atas dalam arti berlaku adil. "Berlaku adil", tulisnya, "adalah wajib terhadap orang-orang kafir (baik yang memerangi maupun yang tidak)." Kata taqsithu di sini menurutnya adalah "memberi bagian dari harta guna menjalin hubungan baik".

Keadilan harus ditegakkan di mana pun, kapan pun, dan terhadap siapa pun. Bahkan, jika perlu dengan tindakan tegas. Salah satu ayat Al-Quran menggandengkan "timbangan" (alat ukur yang adil) dengan "besi" yang antara lain digunakan sebagai senjata. Ini untuk memberi isyarat bahwa kekerasan adalah salah satu cara untuk menegakkan keadilan.

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan Al-Mizan (neraca keadilan), dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya besi itu digunakan). Allah mengetahui siapa yang menolong (memperguangkan nilai-nilai) agama-Nya dan membantu rasul-rasul-Nya, walaupun Allah gaib dari pandangan mata mereka [QS Al-Hadid [57]: 25).

Apabila dua kelompok Mukmin berselisih, lakukanlah ishlah (perdamaian) di antara keduanya. Bila salah satu dari kedua kelompok itu membangkang, maka perangi (ambil tindakan tegas terhadap) yang membangkang, sehingga ia menerima ketetapan Allah (QS Al-Hujurat [49]: 9)

Lanjutan ayat ini perlu mendapat perhatian, yakni:

Apabila ia (kelompok yang membangkang itu) telah kembali (taat) maka lakukanlah perdamaian dengan adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil (QS Al-Hujurat [49]: 9)

Sungguh tepat menggandengkan perintah mendamaikan pada lanjutan ayat ini dengan "keharusan berlaku adil". Karena walaupun keadilan dituntut dalam setiap sikap sejak awal proses perdamaian, tetapi sikap itu lebih dibutuhkan untuk para juru damai setelah mereka terlibat menindak tegas kelompok pembangkang. Ini karena besar kemungkinan mereka pun mengalami kerugian, harta, jiwa, atau paling tidak harga diri akibat ulah para pembangkang. Kerugian tersebut dapat mendorongnya untuk berlaku tidak adil, karena itu ayat ini menekankan terhadap mereka kewajiban berlaku adil.

Begitu luas pesan keadilan Al-Quran, sehingga seseorang yang merasa sempit dari keadilan, pasti akan merasakan bahwa ketidakadilan jauh lebih sempit.

KEADILAN ILAHI

Pembicaraan tentang keadilan Ilahi bukanlah sesuatu yang baru. Persoalan ini hadir sejak manusia mengenal baik dan buruk Pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa ada kejahatan, ada penyakit dan kemiskinan, bahkan mengapa Tuhan menganugerahkan si A segala kenikmatan, dan menjadikan si B tenggelam ke dalam bencana? Kesemua pertanyaan itu dapat menjadi wajar.

Tetapi tidak mudah memahami -apalagi menjelaskan- persoalan ini jika dikaitkan dengan keadilan Ilahi. Ia merupakan salah satu hal yang amat muskil, khususnya bila ingin memuaskan semua nalar. Itu sebabnya yang merasakan Kemahabesaran dan Kemahabijaksanaan Tuhan biasanya hanya berkata, "Ada hikmah di balik setiap peristiwa, baik yang dinilai sebagai ketidakadilan (kejahatan) maupun sebaliknya." Jawaban semacam ini jelas tidak memuaskan nalar.

Pada masyarakat primitif terdapat keyakinan adanya dua Tuhan: Tuhan Cahaya (Kebaikan) dan Tuhan Kegelapan. Keyakinan seperti ini -yang sekaligus merupakan jawaban- ditolak oleh penganut monoteisme. Al-Quran secara tegas menolak dualisme, baik pada penciptaan, penguasaan, maupun pengaturan alam raya.

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan yang menjadikan kegelapan dan cahaya (QS Al-An'am [6]: 1)

Sebagian pakar agama termasuk agama Islam menyelesaikan persoalan ini dengan menyatakan bahwa yang dinamakan kejahatan atau keburukan sebenarnya tidak ada, atau paling tidak hanya terdapat pada nalar manusia yang memandang secara parsial. Bukankah Allah menegaskan dalam Al-Quran bahwa,

Dialah yang membuat segala sesuatu dengan sebaik-baiknya (QS Al-Ahzab [32]: 7).

Kalau demikian, segala sesuatu diciptakan oleh Allah, dan segala sesuatu yang bersumber dari Allah pasti baik. Keburukan adalah akibat dari keterbatasan pandangan. Segala sesuatu sebenarnya tidak buruk, tetapi nalar manusia mengiranya demikian.

Boleh jadi engkau membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan bolehjadi engkau menyenangi sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui (QS Al-Baqarah [2]: 216).

Nalar tidak dapat menembus semua dimensi. Seringkali ketika seseorang memandang sesuatu secara mikro, hal itu dinilainya buruk dan jahat, tetapi jika dipandang secara makro dan menyeluruh, justru hal itu merupakan unsur keindahan dan kebaikan. Bukankah jika pandangan hanya ditujukan kepada tahi lalat di wajah seorang wanita akan terlihat buruk? Tetapi, bila wajah dipandang secara menyeluruh, tahi lalat tadi justru menjadi unsur utama kecantikannya! Bukankah jika Anda hanya melihat kaki seseorang dipotong, Anda akan menilainya kejam, tetapi bila Anda mengetahui bahwa sang dokterlah yang mengamputasi pasiennya, Anda justru akan berterima kasih dan memujinya? Karena itu, jangan memandang kebijaksanaan Allah secara mikro. Kalaupun Anda tidak mampu memandangnya secara makro, yakinilah bahwa ada hikmah di balik semua itu.

Boleh jadi nalar Anda belum puas. Sekali lagi, mengapa ada kejahatan, ada setan yang diciptakan-Nya untuk menggoda, atau ada nasib baik dan nasib buruk yang dialami manusia?

Al-Quran menyatakan bahwa jenis manusia adalah satu kesatuan,

"Manusia itu adalah untuk umat yang satu" (QS Al-Baqarah [2]: 213)

Bahkan seluruh jagat raya merupakan satu kesatuan.

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan adalah umat (satu kesatuan) seperti kamu juga. Tidak Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab (pengetahuan Tuhan). Kemudian kepada Tuhanmulah mereka dihimpunkan (QS Al-An'am [6]: 38).

Jika demikian, pribadi demi pribadi secara sadar atau tidak, bekerja sama dan saling menopang demi kebahagiaan bersama, dan untuk itu ada di antara mereka yang menjadi "korban" demi kebahagiaan makhluk secara keseluruhan. Pengorbanan itu merupakan syarat kesempurnaan jenis makhluk, termasuk manusia. Korban (yang mengalami "keburukan") harus ada, demi mewujudnya kebaikan dan keindahan. Bagaimana mungkin manusia mengetahui arti berani, jika tidak ada bahaya? Bagaimana mereka mengetahui nikmatnya sehat, bila tidak merasakan sakit? Apa artinya kesabaran jika tidak ada malapetaka? Nah, siapakah yang harus mengalami semua itu? Jika bukan makhluk juga?

Apabila penderitaan itu terjadi karena kesalahan, maka setimpallah akibat dengan ulahnya. Sedangkan apabila tidak bersalah, maka pengorbanan manusia akan beroleh ganjaran di sisi Allah, yakni pengampunan dosa dan ketinggian derajat di akhirat sana (QS Al-Baqarah [2]: 155-157).

Patut dicatat bahwa Allah memberikan potensi kepada manusia untuk mampu memikul kesedihan dan melupakannya, begitu kata pakar psikologi dan begitu juga isyarat Al-Quran.

Tidak satu petaka pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada hatinya, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS Al-Taghabun [64]: 11).

Manusia harus bekerja sama memikul bencana untuk mencapai dan memahami tujuan keberadaannya.

Anda boleh bertanya, "Mengapa kerja sama itu harus ada? Bukankah Allah Mahamutlak kesempurnaan dan kekuasaanNya, sehingga Dia kuasa menciptakan alam tanpa kekurangan atau pun tanpa kerja sama?"

Benar! Allah Mahamutlak kesempurnaan-Nya, karena

Bagi Allahlah segala sifat yang terpuji (QS Al-A'raf [7]: 180).

Dia Mahakuasa, tiada sedikit pun kekurangan-Nya. Apakah nalar Anda menuntut agar Dia menciptakan suatu ciptaan yang memiliki kesempurnaan mutlak seperti kesempurnaan-Nya? Jika itu yang diinginkan, akan terdapat dua Tuhan, dan ini mustahil. Bukan saja dari segi redaksional kata "mutlak" (kemutlakan mengandung arti kesendirian), melainkan juga mustahil dari sisi keyakinan "keesaan-Nya", serta bertentangan pula dengan firman-Nya,

Tiada yang serupa dengan-Nya satu pun (QS [42]: 11).

Yakni, jangankan yang sama dengan-Nya, yang serupa dengan serupa-Nya pun tiada.

Adalah logis bahwa Pencipta harus berbeda dengan yang diciptakan. Yang diciptakan kurang sempurna dibandingkan sang pencipta. Kekurangan dan ketidaksempurnaan itu mencakup apa yang dinamai atau diduga sebagai keburukan. Jangan lupa bahwa yang dinamakan dan dikeluhkan manusia itu tidak mencakup seluruh alam sebagai suatu unit dan serentak, melainkan hanya diderita oleh sebagian unsur-unsurnya. Bahkan sering kejahatan yang diderita seseorang dapat menjadi nikmat bagi dirinya sendiri di masa datang, atau merupakan nikmat bagi yang lain. Harus diingat juga bahwa terdapat banyak makhluk Allah dan sebagian besar tidak diketahui manusia, sebab seperti firman-Nya,

Dia menciptakan (makhluk) yang tidak kamu ketahui (QS Al-Nahl [16]: 8).

Konon pengetahuan manusia baru dapat menjangkau sekitar 3% dari seluruh alam raya ini.

Apakah nalar manusia menginginkan agar Tuhan tidak menciptakan manusia sama sekali? Jangan berkeinginan seperti itu, karena ini bertentangan dengan makna kekuasaan-Nya. Bukankah wujud dan kekuasaan-Nya tidak dapat tercermin kecuali melalui ciptaan-Nya?

Boleh jadi Anda berkata bahwa yang dikemukakan di atas ini adalah tinjauan kekuasaan dan kodrat Ilahi, bukan dari sudut pandang rahmat dan nikmat-Nya. Bukankah dari sudut tinjauan ini, "tidak menciptakan sama sekali justru jauh lebih baik daripada menciptakan sesuatu yang disertai dengan kepedihan dan kejahatan?"

Barangkali demikian. Tetapi, mungkin juga pernyataan "mencipta dan memelihara hak atas berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi, dan memperoleh rahmat sewaktu terdapat kemungkinan eksis atau potensi untuk mencapai kesempurnaan" (seperti makna keadilan Ilahi yang dikemukakan sebelum ini), jauh lebih baik.

Jika seperti itu adanya, persoalan keadilan Ilahi bukan problem nalar, melainkan problem rasa, sebagai akibat dari keinginan manusia untuk selalu mendapatkan yang terbaik untuk diri, keluarga, atau jenisnya saja, hingga melupakan pihak lain. Jika problemnya demikian, yang mampu menanggulanginya adalah rasa juga. Di sinilah agama dan keyakinan berperan amat besar.

KEADILAN SOSIAL

Al-Quran menetapkan bahwa salah satu sendi kehidupan bermasyarakat adalah keadilan. Tidak lebih dan tidak kurang. Berbuat baik melebihi keadilan --seperti memaafkan yang bersalah atau memberi bantuan kepada yang malas-- akan dapat menggoyahkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.

Memang Al-Quran memerintahkan perbuatan adil dan kebajikan seperti bunyi firman-Nya, "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan" (QS Al-Nahl 116]: 90), karena ihsan (kebajikan) dinilai sebagai sesuatu yang melebihi keadilan. Namun dalam kehidupan bermasyarakat, keadilan lebih utama daripada kedermawanan atau ihsan.

Ihsan adalah memperlakukan pihak lain lebih baik dari perlakuannya, atau memperlakukan yang bersalah dengan perlakuan yang baik. Ihsan dan kedermawanan merupakan hal-hal yang baik pada tingkat antar individu, tetapi dapat berbahaya jika dilakukan pada tingkat masyarakat.

Imam Ali r.a. bersabda, "Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, sedangkan ihsan (kedermawanan) menempatkannya bukan pada tempatnya." Jika hal ini menjadi sendi kehidupan bermasyarakat, maka masyarakat tidak akan menjadi seimbang. Itulah sebabnya, mengapa Nabi Saw. menolak memberikan maaf kepada seorang pencuri setelah diajukan ke pengadilan, walau pemilik harta telah memaafkannya.

Shafwan bin Umayyah dicuri pakaiannya oleh seseorang. Dia menangkap pencurinya dan membawanya kepada Nabi Saw. Beliau memerintahkan memotong tangan pencuri, tetapi Shafwan memaafkan, maka Nabi Saw. bersabda.

"Seharusnya ini (pemanfaan) sebelum engkau membawanya kepadaku" (Diriwayatkan oleh Ahmad At-Tirmidzi dan An-Nasa'i).

Hidup adalah perjuangan. Yang baik dan bermanfaat akan bertahan, sedang yang buruk akhirnya hancur. Demikian ketetapan Ilahi.

Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya, sedangkan yang memben manfaat bagi manusia itulah yang tetap bertahan di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan (QS Al-Raid [13]: 17).

Potensi dan kemampuan manusia berbeda-beda, bahkan potensi dan kemampuan para rasul pun demikian (QS Al-Baqarah [2]: 253). Perbedaan adalah sifat masyarakat, namun hal itu tidak boleh mengakibatkan pertentangan. Sebaliknya, perbedaan itu harus mengantarkan kepada kerja sama yang menguntungkan semua pihak. Demikian kandungan makna firman-Nya pada surat Al-Hujurat (49): 13.

Dalam surat Az-Zukhruf (43): 32 tujuan perbedaan itu dinyatakan:

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan di antara mereka (melalui sunnatullah) penghidupan mereka di dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beaberapa tingkatan, agar mereka dapat saling menggunakan (memanfaatkan kelebihan dan kekurangan masing-masing) rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.

Setiap anggota masyarakat dituntut untuk fastabiqul khairat (berlomba-lombalah di dalam kebajikan) (QS Al-Baqarah [2]: 148). Setiap perlombaan menjanjikan "hadiah". Di sini hadiahnya adalah mendapatkan keistimewaan bagi yang berprestasi. Tentu akan tidak adil jika peserta lomba dibedakan atau tidak diberi kesempatan yang sama. Tetapi, tidak adil juga bila setelah berlomba dengan prestasi yang berbeda, hadiahnya dipersamakan, sebab akal maupun agama menolak hal ini.

Tidaklah sama antara Mukmin yang duduk (tidak berjuang) kecuali yang uzur, dengan orang yang berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berjuang karena uzur) satu derajat. Dan kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan imbalan baik... (QS Al-Nisa' [4]: 95).

Adakah sama orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? (QS Al-Zumar [39]: 9).

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: