Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Oleh : Shamsi Ali



Beberapa minggu yang lalu, sebuah film berdurasi singkat telah diupload di youtube dan dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Film yang dengan sangat buruk menggambarkan prilaku seseorang yang disebut ‘Muhammad’ dan dipahami sebagai Nabi Muhammad SAW sebagai penjahat dalam segala lini kehidupan manusia. Pemburu wanita, pembunuh, perampok, penindas, dan seterusnya. Singkatnya, film yang sangat ‘tidak profesional’ itu telah melukai hati setiap insan Mukmin.

Akibatnya, dalam beberapa minggu terakhir digoncang oleh berbagai kerusuhan dan bahkan kekerasan, khususnya di berbagai belahan Timur Tengah dan Asia Selatan. Kekerasan itu telah membawa korban yang cukup banyak, termasuk terbunuhnya Dubes AS dan stafnya di Bengazi, Libya beberapa minggu yang lalu. Dan bahkan, acara tahunan Debat Majelis Umum PBB di New York lebih banyak diwarnai pembicaraan mengenai kedua hal tersebut. Yakni mengenai film itu dan reaksi terhadap film tersebut.

Tidak tanggung-tanggung, dari pidato Presiden AS Barack Obama, Presiden Indonesia SBY, Presiden Mesir Mohammed Morsy, dll., semuanya menyinggung dengan lantang mengenai film itu dengan penekanan yang berbeda. Pada umumnya, Barat di bawah komando AS, seraya mengutuk pembuatan film yang menghina Rasulullah SAW itu, namun ditekankan bahwa hal itu tidak lebih dari sebuah ekspresi kebebasan berpendapat (freedom of speech/expression). Sehingga upaya membatasinya dapat mengancam kebebasan itu sendiri, dan bahkan dalam bahasa Obama akan menumbuhkan prilaku ‘tirani’ terhadap esksistensi kebebasan.

Sebaliknya, para pemimpin dunia Islam, termasuk dengan lantang disampaikan oleh Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Presiden Mesir, Mohammed Morsy, kebebasan tidak boleh diartikan tanpa batas. Dalam bahasa pidato Presiden SBY “Freedom is not without limit” (bahwa kebebasan itu bukan berarti tanpa batas). Bahkan Presiden Mesir dengan lantang mengatakan bahwa penghinaan kepada sebuah agama, agama apa saja, adalah bentuk ‘tirani’ yang harus diperangi bersama.
Atas asas tersebut, beberapa pemimpin dunia Islam, termasuk Presiden SBY, mengusulkan dibentuknya sebuah protokol (aturan) yang dapat disepakati oleh dunia internasional untuk mengatur masalah-masalah yang dianggap sebagai penghinaan kepada agama tertentu itu. Usulan yang tentunya dalam benak kita ideal dan diperlukan. Namun dalam benak banyak orang, khususnya di dunia Barat, sebuah usulan yang tidak saja sulit tapi justeru dilihat sebagai ancaman.

Pandangan Barat yang seperti inilah yang menjadikan beberapa pemimpin agama AS relaktan (ragu-ragu) menandatangani sebuah surat pernyataan yang kami sampaikan kepada Presiden RI sebagai dukungan atas pernyataan beliau untuk membentuk protokol tersebut. Mereka mengutuk pembuatan film anti Islam itu, sebagaimana mereka mengutuk kekerasan yang terjadi atas nama film tersebut, tapi menolak untuk menandatangi dukungan pembentukan protokol PBB anti penistaan agama seperti yang diusulkan oleh Presiden SBY dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB.

Freedom of Speech vs Religious Defamation

Sebenarnya pembahasan mengenai “penghinaan” terhadap agama (religious defamation) telah lama digulirkan di dalam rapat-rapat Komite 3 di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sejak dulu juga antara delegasi dunia Islam dan delegasi Barat, khususnya AS dan Uni Eropa, memiliki pandangan yang sangat berbeda. Delegasi dunia Islam berpendapat bahwa penghinaan terhadap agama (religión) itu harus dipahami sebagai ‘crime’ dan mutlak diatur sedemikian rupa. Namun sebaliknya, dunia Barat (baca AS dan Uni Eropa) berpendapat bahwa aturan mengenai hal ini dapat menjadi ‘obstacle’ (tantangan) tersendiri dalam upaya menegakkan kebebasan berpendapat dan berekspresi di berbagai belahan dunia. Apalagi memang suda hada kecurigaan bahwa dunia Islam yang masih rata-rata diperintah oleh regime yang diktator, akan menjadikannya sebagai basis untuk menindas lawan-lawan politiknya.
Oleh karenanya, dunia Barat mengusulkan bahwa jika penghinaan itu dilakukan kepada pribadi (orang per orang) maka itu boleh saja dianggap pelanggaran dan bahkan crime. Tapi ileh lebih kepada hak-hak individu seseorang yang mesti dihargai.
Saya sendiri melihatnya bahwa perbedaan pendapat ini memang dilandasi oleh beberapa hal, minimal ada dua hal mendasar:

Pertama, ada perbedaan filsafat dasar antara dunia Islam dan dunia Barat dalam melihat permasalahan tersebut. Dunia Islam menilai bahwa ‘pelecehan agama’ adalah dosa dan memang harus dihentikan. Dan tentunya ini berdasarkan kepada bentuk keimanan masing-masing, di mana dalam Islam agam; Tuhan, Rasul dan Kitab Suci itu adalah sesuatu yang dilihat dengan mata iman (ada sense kesucian). Sementara dunia Barat menilai bahwa agama itu tidak lebih dari ekspresi orang, baik secara pribadi maupun secara kolektif. Agama dalam pandangan barat kurang memiliki nilai-nilai kesucian dan kerananya penghinaan terhadapnya tidak perlu dianggap menyinggung sensitivitas.

Kedua, ada perbadaan mendasar dalam mendefinisikan kebebasan itu sendiri. Dunia Barat menganut paham liberal. Artinya, kebebasan itu tidak ada batasnya. Dan ketika kebebasan dibatasi maka itu tidak lagi berarti sebuah kebebasan. Sementara dunia Islam berpandangan bahwa kebebasan itu bukan tanpa batas. Pandangan ini tenmtunya didasarkan kepada kenyataan bahwa segala sesuatu dalam dunia ini punya batas. Dan ketika apa saja telah melewati batas-batasnya, maka akan terjadi pelanggaran-pelanggaran (abuses).

Ketiga, di dunia Barat penghormatan kepada manusia menjadi utama. Sementara agama tidak selalu memiliki tempat terhormat dalam hidup komunal (kemasyarakatan). Hal ini tentunya didasari oleh dasar kehidupan bermasyarakat yang memang ‘sekuler’ dalam artian, agama itu tidak bersifat kolektif tapi bersifat individual dan oleh karenanya negara tidak punya hak untuk mengurusinya. Sebaliknya, dunia Islam menilai bahwa agama itu menjadi bagian penting dalam kehidupan komunal dan oleh karenanya negara bertanggung jawab untuk terlibat. Kedua pandangan yang berbeda ini juga berkontribusi terhadap perbadaan pandangan mengenai ‘pelecehan agama’. Pelecehan terhadap seseorang karena agamanya oleh barat dianggap crime, bukan karena agamanya tapi karena haknya sebagai manusia (orang). Sementara dunia Islam melihatnya sebagai crime karena agamanya yang dilecehkan.

Keempat, masih kuatnya dugaan oleh dunia barat (dan ini sah-sah saja) bahwa melihat kepada kenyataan, dunia Islam masih dikuasai oleh pemimpin yang justeru seringkali menindas rakyatnya atas nama agama itu sendiri. Oleh karenanya, kalau aturan mengenai pelecehan agama itu eksis maka boleh jadi justeru dijadikan justtifikasi untuk semakin menindas mereka yang berseberangan secara politik dengan regime penguasa.

Apapun dasarnya, saya menilai bahwa usulan pembentukan sebuah protokol PBB dalam hal penistaan agama adalah sesuatu yang sangat pelik. Apalagi dalam sebuah realita yang mengatakan bahwa umat ini, khususnya pemimpinnya masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda dan sangat mudah dipegang oleh pihak-pihak lain yang punya kepentingan. Tanpa mengurangi apresiasi dan bangga kepada ketegasan Presiden RI yang dengan gamblanga menyampaikan bahwa kebebasan bukan tanpa batas dan urgensi pembentukan protokol PBB tentang penistaan agama. Nampaknya juga harus diakui bahwa jalan itu panjang dan berliku.

Pada akhirnya saya sendiri seringkali juga terheran-heran melihat manusia yang di satu sisi tidak percaya kepada absolutisme, termasuk absolutisme agama, tapi bersikukuh bahwa apa yang dianggapnya sebagai kebebasan itu bersifat ‘absolut’ (or unlimited). Padahal, dengan segala keyakianan saya bahwa bahwa kebebasan itu adalah dasar keimanan saya. Di mana tanpa kebebasan sesungguhnya saya tidak memiliki kemampuan ekspresi keimanan. Karena sesungguhnya keimanan itu sendiri adalah awal dari kebebasan sejati dalam hidup manusia.

Bahkan sering saya katakan: ‘Islam dan kebebasan itu ibarat ikan dan airnya’. Ikan tanpa air akan mati pelan-pelan. Demikian pula Islam tanpa kebebasan akan punah dengan sendirinya. Dan itu yang terjadi di beberapa dunia Islam. Kita lihat orang Islam ada di mana-mana, tapi Islam itu sendiri layu seolah tanpa napas.

Namun di satu sisi, kebebasan tanpa aturan main dalam mengekpresikannya justeru akan menghantar kepada prilaku ‘kebuasan’. Mungkin ekspresi sederhana adalah ketika anda mengendarai kendaraan di jalan. Silahkan bebas berekspresi dengan mengendarai kendaraan anda secepat mungkin. Itu kan kebebasan anda. Tapi ketika telah sampai pada ‘speed limit’ jangan coba-coba melewatinya karena anda akan dianggap melanggar. Apalagi ketika tiba di sebuah ‘traffic light’, tentu lampu merah pertanda anda telah dibatasi.

Maka, silahkan bebas tapi ingat ada tanggung jawab bersama demi keselamatan dan keamanan, dan bahkan kebahagiaan bersama. Semoga! (Shamsi Ali- NY. October 2, 2012)

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: