Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Oleh : Abu Taqi Machicky Mayestino

DR. Qasim Assamurai
menulis dalam bukunya, “Bukti-bukti Kebohongan Orientalis” bahwa, ”Sejarah Kristenisasi berhubungan erat dengan sejarah Orientalisme, serta tidak terpisah dari sejarah penjajahan politik, pemikiran, dan akhlak. Semua hal itu merupakan akibat alami dari jajahan Gereja Barat yang memandang ajarannya sebagai yang paling luhur, paling benar, dan paling dipercaya daripada ajaran gereja Timur Othodoks serta yang sealiran dengannya yaitu ajaran Gereja Kopti, Arius, Maronit, Ya’kubi, Malaki, dan Islam.”


Ia melanjutkan, ”Rintangan terberat yang dihadapi Perancis (Napoleon) saat menduduki Mesir adalah hadangan tiga perang melawan Inggris, KeKholifahan Usmaniyah (Ottoman), dan yang tersulit adalah peperangan melawan Islam.” 


Berkaitan dengan ini pula, maka, Pak, peneliti Cina dalam bukunya yang berjudul “China and The West” menukil ucapan Napoleon tersebut sebagai berikut:

“Delegasi misionaris agama bisa memberikan keuntungan buatku di Asia, Afrika, dan Amerika karena aku akan memaksa mereka untuk memberikan informasi tentang semua negara yang telah mereka kunjungi. Kemuliaan pakaian mereka tidak saja melindungi mereka, bahkan juga memberi mereka kesempatan untuk menjadi mata-mataku di bidang politik dan perdagangan tanpa sepengetahuan rakyat.

DR. Edward Said juga mengemukakan dalam bukunya ”Al Istisyraq” bahwa, ”Peranan Orientalisme terletak pada keahlian khusus Orientalis (orang Barat yang mempelajari Timur untuk berbagai kepentingan) dalam menggunakannya untuk kepentingan penjajah.”

Di Indonesia, Orientalis Belanda Christian Snouck Hurgronje, adalah contoh paling jelas dari hubungan erat itu, pada masa Modern. Menyaru sebagai muslim, menyusup ke Aceh, Hurgronje bekerja dalam spionase, Misi Kristen, dan penjajahan Belanda. Ia sukses menghancurkan dari dalam kekuatan muslim di Perang Aceh melawan Belanda. Dan hingga kini pandangannya tetap mewarnai sudut pandang dominan dari studi Orientalisme Belanda.

Kerajaan Belanda sendiri, adalah salah satu pusat Orientalisme terbesar di dunia, dengan dukungan Universitas-universitasnya, seiring pula dengan kepentingan Imperialisme dan Kolonialismenya.

 
Orientalis dari Belanda Christian Snouck Hurgronje

Kemudian Jospeh Ernest Renan, seorang Orientalis dalam bukunya yang berjudul “Histoire General et Systeme Compare des Langues Semitiques atau Tarikh al-Lugat as-Samiah”, mengemukakan pula pendapat tentang Teori Rasial darinya bahwa, ”Ras Semit (Arabia, Yahudi) berada di bawah ras Aria (Kulit putih atau Barat) serta kurang memiliki kemampuan berpikir dibandingkan ras Aria. Ciri intelektualitas Aria terletak kepada kecenderungan nalurinya pada kerumitan dan keharmonisan susunan.”

Teori Rasial Renan ternyata telah menjadi bagian pemikiran ilmiah barat dalam menanggulangi setiap masalah yang berhubungan dengan agama dan pemikiran serta berbagai pengetauan yang dihasilkan, dan juga mengilhami berbagai Orientalis dan para penginjil Kristenisasi.
Maka, fanatisme kebangsaan dan kebanggaan rasial Eropa di masa itu (terutama di masa Modern), serta amat meluasnya ekspansi Eropa dalam memperbudak bangsa-bangsa kulit berwarna, telah menciptkan semacam kecongkakan dan rasa diri lebih unggul terhadap bangsa kulit berwarna.

 
Filsuf Ernest Renan yang mencetuskan Teori Rasial

Keadaan itu tidak banyak berubah sekalipun bangsa-bangsa kulit berwarna telah menganut agama bangsa kulit putih, terlebih karena ras ini mempertalikan leluhur atau keturunan mereka dengan Nabi Nuh ‘alaihis salaam sesuai pemahaman mereka sebagai yang diselamatkan Tuhan saat Banjir Besar menurut penafsiran Injil mereka. Mereka menganggap bangsa lain sebagai bangsa terbelakang dan kosong dari ciri-ciri peradaban (Barat).

Karena itu, adalah kewajiban manusiawi manusia Barat Kristen untuk memperadabkan bangsa yang hanya sedikit berbeda dengan hewan,  dengan cara mendatangkan contoh-contoh budaya Eropa bagi mereka, dan ’membaratkan’ mereka, seperti yang dikutip dari laporan rahasia mengenai situasi politik, sosial, dan agama di Aceh, Indonesia yang disampaikan oleh Snouck Hurgronje kepada Gubernur Jenderal Belanda, disimpan di Gedung Arsip Nasional kota Arnhem, sebanyak 137 halaman.

Bangsa barat, sehubungan dengan ini juga menurut DR. Fokke Sirksma, memiliki perasaan superioritas pada apa yang mereka miliki, baik benar ataupun salah sekalipun, sebagaimana dijelaskan  dalam buku berjudul ”Religieuze Projectie” (“Pantulan Agama”). Ini, sejalan harmonis dengan pendapat Ernest Renan.

Masalah ini juga disinggung oleh William Montgomery Watt dalam bukunya “Muslim-Christian Encounter”. Dia menulis, “Para misionaris, sebagaimana orang Eropa lainnya, menganggap diri mereka lebih unggul daripada kaum pribumi.

Dengan anggapan seperti ini, para misionaris secara gradual malah mencampuradukkan ajaran Kristen dengan keyakinan atas superioritas orang Eropa atau peradaban Barat.”

Propaganda gencar untuk mengekspor kebudayaan Barat ini masih merupakan pegangan utama para Orientalis dan penyebar Kristen hingga kini yang cukup sulit menghadapi sikap enggan umat Islam yang berkomitmen kepada Syariat Islam atau bahkan budaya aslinya, untuk menerima kebudayaan Kristen.

Baik melalui jalan penyebaran paham secara halus (Kristenisasi yang juga seiring, menunggangi-ditunggai, atau didasari Orientalisme) maupun bahkan maksud Imperialisme atau penjajahan dalam berbagai bentuk, termasuk dengan menunggangi Kristenisasi dan Orientalisme itu, terang-terangan maupun terselubung.

Dalam hubungan Barat dan Timur mengenai Orientalisme, Kolonialisme, Kristenisasi, dan semua hal terkait, patut kita tinjau, melongok sejenak agak jauh ke belakang,  rangkaian Perang Salib di Abad Pertengahan, saat berita-berita fitnah tentang berbagai akhlak buruk, budaya, perilaku, peradaban orang Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan bahkan dalam berperang, telah menjadi hal lain yang sangat memotivasi pasukan Kristen Eropa untuk memerangi Muslim di kala itu, selain daya tarik akan daerah taklukan baru yang luas.

Propaganda itu membakar pasukan Perang Salib dengan dendam dan arahan maksud untuk memberantas kebiadaban dan kekafiran muslim.

Padahal dapat dinyatakan pula bahkan oleh para ahli sejarah di kemudian hari bahwa fakta-fakta yang terjadi justru sebaliknya, antara lain seperti temuan tentang cara berperang pasukan Kristen yang sungguh biadab, bermabuk-mabukan, merampasi harta, membunuhi kaum Muslim yang bahkan tak ikut berperang, juga memperkosa dan membantai kaum perempuan dan anak kecil Muslim dengan sungguh tak manusiawi; antara lain juga karena pernyataan pihak-pihak terkemuka Katolik dan anggapan umum yang menyebutkan bahwa Muslim adalah kafir, sehingga tidaklah berdosa membantainya, maka para tentara Perang Salib pun dibebaskan dari dosa-dosanya.

Menurut seorang sejarawan Barat, Hallam, segala cara dan alat digunakan untuk merangsang kegilaan yang mewabah, dan di masa itu seorang tentara Salib yang bersedia berjuang dalam Perang Salib, berada dalam perlindungan Gereja, serta dibebaskan dari semua pajak, dan bebas pula untuk melakukan dosa (diampuni dosanya oleh Gereja).

Yang menjadi tokoh-tokoh pemulai Perang Salib ini, antara lain kemudian adalah tokoh-tokoh dan golongan terkemuka Katolik dan Barat seperti, Paus Urbanus II, Peter the Venerable (Peter Sang Pertapa), Biara Kluni Spanyol, Ordo Katolik Jezuit, Pujangga Dante Allighierri, dan sebagainya; yang membakar semangat rakyat Eropa untuk menyerbu Yerusalem dan memerangi muslim, dengan segala cara.

Bahkan sastrawan Italia terkenal, Dante Allghierri, pernah pula tercatat menggubah rangkaian Soneta terkenal yang isinya sangat mendiskreditkan Rosululloh - shollollohu ‘alaihi wasallam - dengan kisah-kisah fitnah dan pencemaran tentang akidah dan akhlak Rosululloh  - shollollohu ‘alaihi wasallam - yang sungguh menyakitkan hati umat muslim.




Seniman Italia Abad Pertengahan Dante Allighierri yang terkenal dengan Sonetanya dan berperan dalam propaganda anti Islam di Abad Pertengahan Eropa


Maka periode itu sendiri adalah periode tragis dalam Sejarah umat manusia, saat pemutarbalikan fakta dan khayalan negatif tak manusiawi yang mewabah, merangsang tentara Kristen Eropa untuk membenci Islam. Mereka diarahkan untuk membenci Islam dengan aneka propaganda penuh kebencian dan kebohongan. Dan mereka yang kemudian disebut sebagai Tentara Salib yang terutama diotaki oleh Peter The Venerable, dirangsang oleh kegilaan agama untuk menghancurkan Islam dan membebaskan Tanah Suci Yerusalem.

Mudah pula diduga bahwa kaum Muslim difitnah sebagai orang kafir pula, dan dianggap lebih rendah daripada atau setidaknya setara dengan binatang.

Gelombang kebencian ini pulalah antara lain faktor yang menjelaskan mengapa begitu banyak buku-buku ilmu pengetahuan tulisan ilmuwan Muslim yang telah diserap Barat, tidak banyak yang tercatat dalam nama penulis aslinya, antara lain karena adalah diperbolehkan memperlakukan orang (yang dianggap) kafir dengan sekehendak hatinya, termasuk menghilangkan nama-nama mereka dalam catatan Sejarah (versi mereka), walaupun sebenarnya telah diajari berbagai ilmu-pengetahuan oleh Muslim.

Kenyataan bahwa Daarussalaam atau Yerusalem, kota yang disucikan Yahudi, Kristen, dan Islam; berada dalam pengelolaan Muslim pun, memperburuk sentimen ini, selain berbagai insiden kecil antara penganut agama-agama ini.

Doktor John L. Esposito, dosen universitas George Town Amerika menulis, “Sebagian besar masyarakat Barat mengakui adanya kenyataan tertentu yang berhubungan dengan Perang Salib, tetapi banyak di antara mereka yang tidak mengetahui bahwa  Perang Salib yang mengakibatkan korban yang amat besar ini adalah atas perintah Paus. Bagi umat Islam, kenangan atas Perang Salib merupakan satu contoh nyata dari militerisasi kristen ekstrim, sebuah kenangan yang membawa pesan bagi serangan dan imperialisme Kristen barat.”

Bahkan digambarkan oleh Raymond d ‘Agiles (Raymond of Aquilers), seorang bangsawan Prancis yang turut serta dalam Perang Salib tersebut, bahwa di bawah serambi masjid Yerusalem pernah menjadi kubangan darah manusia mencapai kedalaman selutut dan mencapai tali kekang kaki kuda akibat pembantaian terhadap Tentara Salib Eropa terhadap kaum Muslim.

Termasuk pula  kemudian kerugian yang diderita kemanusiaan, selain hilangnya nyawa ribuan manusia yang tak pantas dibunuhi dalam hal ini (seperti di kota Mallevie, sejumlah sekitar 7.000 nyawa, dan penduduk Muslim Yerusalem, sebanyak sekitar 70.000 nyawa, dan juga di wilayah-wilayah Muslim lain), adalah musnahnya perpustakaan Tripoli yang pernah tercatat menyimpan sekitar 3 juta jilid buku-buku ilmu pengetahuan, termaju di masanya. Ini jauh melampaui kerusakan yang dihasilkan bala tentara Mongol ketika menyerbu umat Islam di Kekholifahan Abbasiyah di Baghdad di kemudian hari.
Semua hal ini dicatat baik oleh sejarawan-sejarawan Barat seperti Michaud, Hallam, John Stuart Mills, Edward Gibbon, dan Raymod D’Agilles.    

Seorang Sejarawan Amerika bernama Dagobert Runes, dalam bukunya yang berjudul “Crosscut Through History”, menuliskan bahwa, “Perang Salib yang berlangsung selama 200 tahun hanya menghasilkan puing-puing kehancuran bagi Timur dan Barat sebagai akibat dari kemauan mereka yang dikendalikan oleh keserakahan untuk ekspansi dan menjajah bangsa lain. Mereka memikul salib di pundak mereka, tetapi Setan berada di hati mereka. Namun demikian, mereka tidak mampu menjatuhkan dan menghindarkan diri dari pengaruh kebudayaan Islam dan Byzatium. Dengan demikian, sinar Timur mulai memancar melalui celah-celah dinding ke Eropa Abad Pertengahan yang gelap gulita. Apa yang disebut Renaissance di Eropa adalah tak lebih dari penyuluhan kekayaan budaya Kordoba, Granada, dan Toledo, yang dialihkan ke Eropa yang semi-biadab.”

Dengan fatwa para pendeta kristen, pasukan besar Eropa, disertai tokoh-tokoh pemerintah Eropa
dan pimpinan gereja bergerak menuju Baitul Maqdis (Masjidil Aqsho) yang berlokasi di tanah pendudukan Palestina. Di sepanjang kota-kota Islam yang mereka lalui, mereka membunuhi ratusan ribu manusia, lelaki, wanita, dan anak-anak.

Sejarawan terkenal Perancis, Gustav Lubon mengenai Perang Salib menulis, “Di jaman terjadinya Perang Salib, peradaban timur berada dalam tahap kegemilangannya berkat Islam. Sebaliknya, Eropa tenggelam dalam kegelapan dan kezaliman. Ada sekelompok tentara salib yang ganas. Mereka membunuh dan merampok kawan maupun lawan,  kelompok sendiri maupun pasukan asing.”

Namun Perang Salib memang membawa kemajuan sosial bagi masyarakat Barat. Rakyat Eropa yang saat itu berperadaban rendah, mulai mengenal kecemerlangan peradaban umat Islam dan mereka mulai mempelajari ilmu dan peradaban dari rakyat muslim.

Tetapi, seperti apa yang telah ditulis oleh sejarawan terkenal bernama Twin B., “Orang-orang Kristen mengambil manfaat dari kemajuan peradaban dan kesenian umat Islam tetapi permusuhan bersejarah fanatisme Kristen dengan Islam Timur tidak pernah berkurang.” Mereka mengambil apa yang mereka mau, dengan licik dan biadab, seperti serigala lapar.

Will Durant penulis sejarah yang terkenal, mengenai infiltrasi dua dunia, yaitu Kristen dan Islam, di sepanjang Perang Salib, menulis, “Infiltrasi dunia Kristen terhadap Islam hanya terbatas pada sebagian budaya agama dan perang, tetapi dunia Islam melakukan berbagai infiltrasi dalam dunia kristen. Sebaliknya, dari Islam, Eropa mengadopsi makanan, minuman, obat-obatan, kedokteran, persenjataan, selera dan kecenderungan seni, metode industri dan perdagangan, undang-undang, dan metode kelautan.”

Kemudian sangat banyak Dokumen Sejarah menyatakan, bahkan dari berbagai pihak yang saling bermusuhan, bahwa saat Pasukan Muslim kemudian berhasil menegakkan keadilan, menguasai kembali Baitul Maqdis-Masjidil Aqsho di Daarussalaam (Yerusalem), maka kaum Muslimiin tidak membalas perlakuan keji, perlakuan kejam, perlakuan biadab tak manusiawi dari Pasukan Salib Kristen.

Tentu saja yang paling terkenal adalah perlakuan berbelas-kasihan dari Pasukan Muslim yang dipimpin Panglima Shalahuddin al Ayyubi rahimahulloh yang bergerak membebaskan Daarussalaam dari Syam (Syria). Baik saat pertama kali mereka memberikan ampunan kepada Balian dari Ibelin yang akhirnya kalah dalam mempertahankan Daarussalam dan meminta damai dengan Pasukan Muslim (telah difilmkan dengan judul “Kingdom of Heaven”), maupun berbagai tindakan ksatria, bertoleransi, bahkan bantuan langsung kepada Raja Richard The Lion Heart dari Kerajaan Inggris yang memimpin Pasukan Salib berikutnya saat Raja Richard mendapatkan kesulitan, dan lain-lain.

Sehubungan dengan tata-cara kejam Tentara Salib, marilah kita tilik beberapa ajaran Islam, di antara masih banyak kaidah lain, tentang etika berperang di bawah ini, yang dijadikan acuan Muslim dalam perang yang sama dan di perang lain di masa yang sama:

Al Quran Surat At Taubah ayat 36 (9:36):

Dan perangilah kaum musyrikin itu seluruhnya sebagaimana mereka memerangi engkau semua seluruhnya pula dan ketahuilah bahwasanya Allah itu beserta orang-orang yang bertaqwa."

Al Quran Surat Al Baqarah ayat 216 (2:216):

Diwajibkan padamu sekalian berperang, sedang perang itu suatu hal yang dibenci olehmu semua dan barangkali engkau semua membenci sesuatu, padahal ia adalah lebih baik untukmu semua, juga barangkali engkau semua senang pada sesuatu, padahal ia adalah lebih buruk untukmu semua. Allah adalah Maha Mengetahui, sedangkan engkau semua tidak mengetahui."

Al Quran Surat At Taubah ayat 41 (9:41):

Berangkatlah engkau semua, dengan rasa ringan atau berat dan berjihadlah dengan harta-harta dan dirimu semua fi sabilillah (di jalan Allah).  

Al Quran Surat Ash Shaff ayat 10-14 (61:10-14):

(10) Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan (bisnis) yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? 
(11) (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. 
(12) Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah (surga) yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn (surga tertinggi) . Itulah keberuntungan yang besar.
(13) Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya) dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.
(14) Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana ‘Isa Ibnu Maryam (Yesus anak Maria) telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.

Al Quran Surat An Nisaa’ ayat 89-91 (4:89-91):

(89) Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling [*], tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.
[*] Diriwayatkan bahwa beberapa orang Arab datang kepada Rosululloh  - shollollohu ‘alaihi wasallam - di Madinah. Lalu mereka masuk Islam, kemudian mereka ditimpa demam Madinah, karena itu mereka kembali kafir lalu mereka keluar dari Madinah. Kemudian mereka berjumpa dengan sahabat Nabi, lalu sahabat menanyakan sebab-sebab mereka meninggalkan Madinah. Mereka menerangkan bahwa mereka ditimpa demam Madinah. Sahabat-sahabat berkata: Mengapa kamu tidak mengambil teladan yang baik dari Rasulullah?

Sahabat-sahabat terbagi kepada dua golongan dalam hal ini. Yang sebahagian berpendapat bahwa mereka telah menjadi munafik, sedang yang sebahagian lagi berpendapat bahwa mereka masih Islam.
Lalu turunlah ayat ini yang mencela kaum Muslimin karena menjadi dua golongan itu, dan memerintahkan supaya orang-orang Arab itu ditawan dan dibunuh, jika mereka tidak berhijrah ke Madinah, karena mereka disamakan dengan kaum musyrikin yang lain.

(90) Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) [*] atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya [+]. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu [-] maka Allah tidak memberikan jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.   
[*]. Ayat ini menjadi dasar dari Hukum Suaka hingga kini.
[+]. Tidak memihak dan telah mengadakan hubungan dengan kaum Muslimiin.
[-]. Maksudnya: menyerah.

(91) Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman dari pada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), merekapun terjun kedalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka.            

Puncak persoalan adalah Islam. Barangsiapa pasrah diri (masuk Islam) maka dia selamat. Tiangnya Islam adalah shalat dan atapnya adalah jihad (perjuangan). Yang dapat mencapainya hanya orang yang paling utama di antara mereka. (HR. Ath-Thabrani)

Berjihadlah melawan kaum musyrikin dengan harta, jiwa dan lidahmu. (HR. An-Nasaa'i)

Manusia yang paling dekat derajatnya kepada derajat kenabian ialah para mujahidin dan ilmuwan (cendekiawan) karena kaum mujahidin melaksanakan ajaran para rasul dan ilmuwan membimbing manusia untuk melaksanakan ajaran nabi-nabi. (HR. Ad-Dailami)

Ada tiga hal yang menyebabkan tidak bergunanya seluruh amalan, yaitu: syirik kepada Allah, durhaka kepada orang tua, dan lari menghindari pertempuran (dalam perang fisabilillah) (HR. Ath-Thabrani)

Orang yang pergi berperang di jalan Allah dan yang pergi untuk menunaikan haji atau umroh adalah tamu-tamu Allah. Allah menyerukan kepada mereka, dan mereka menyambutnya dan mereka memohon kepada-Nya, lalu Allah mengabulkan permohonan mereka. (HR. Ibnu Majah).

Barangsiapa menolak ketaatan (membangkang) dan meninggalkan jama'ah lalu mati maka matinya jahiliyah, dan barangsiapa berperang di bawah panji (bendera) nasionalisme (kebangsaan atau kesukuan) yang menyeru kepada fanatisme atau bersikap marah (emosi) karena mempertahankan fanatisme (golongan) lalu terbunuh maka tewasnya pun jahiliyah. (HR. An-Nasaa'i)

Barangsiapa memberi perlengkapan bagi seorang yang berperang di jalan Allah maka dia terhitung ikut berperang dan barangsiapa ikut memenuhi kebutuhan keluarga (menyantuni) orang yang berperang maka dia terhitung ikut berperang di jalan Allah. (HR. Bukhari)

Wahai segenap manusia, janganlah kamu mengharap-harap bertemu dengan musuh. Mohonlah kepada Allah akan keselamatan. Bila bertemu dengan mereka maka bersabarlah (yakni sabar menderita, gigih, ulet dan tabah dalam melawan mereka). Ketahuilah, surga terletak di bawah bayang-bayang pedang. (HR. Bukhari)

Dari Abu Rafi' bahwa Nabi - sholollohu 'alaihi wa sallam - bersabda: "Sesungguhnya aku tidak menyalahi janji dan tidak menahan para utusan." (Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban).

Rosululloh  - shollollohu ‘alaihi wasallam - bila melepas pasukan yang akan pergi berperang (tanpa disertainya) berpesan: "Dengan nama Allah, dengan disertai Allah, di jalan Allah dan atas sunah Rosululloh. Janganlah kamu berlebihan mengambil barang rampasan tanpa seijin pimpinan pasukan. Janganlah kamu berkhianat dan jangan pula melakukan sadisme (menganiaya) terhadap musuh. Jangan membunuh anak-anak, wanita-wanita dan laki-laki yang telah tua." (HR. Ath-Thabrani dan Abu Dawud)

Dari Sulaiman Ibnu Buraidah, dari ayahnya, bahwa '‘Aisyah rodhiollohu 'anhu berkata: Rasulullah - sholollohu 'alaihi wa sallam - jika mengangkat komandan tentara atau angkatan perang, beliau memberikan wasiat khusus agar bertaqwa kepada Allah dan berbuat baik kepada kaum Muslimiin yang menyertainya. Kemudian beliau bersabda: "Berperanglah atas nama Allah, di jalan Allah, perangilah orang yang kufur kepada Allah. Berperanglah, jangan berkhianat, jangan mengingkari janji, jangan memotong anggota badan, jangan membunuh anak-anak. Jika engkau bertemu musuhmu dari kaum musyrikin, ajaklah mereka kepada tiga hal. Bila mereka menerima salah satu dari ajakanmu itu, terimalah dan jangan apa-apakan mereka, yaitu: ajaklah mereka memeluk agama Islam, jika mereka mau, terimalah keislaman mereka; kemudian ajaklah mereka berpindah dari negeri mereka ke negeri kaum muhajirin, jika mereka menolak, katakanlah pada mereka bahwa mereka seperti orang-orang Arab Badui yang masuk Islam, mereka tidak akan memperoleh apa-apa dari harta rampasan perang dan fai' (harta rampasan tanpa peperangan), kecuali jika mereka berjihad bersama kaum Muslimiin. Bila mereka menolak (masuk Islam), mintalah mereka agar membayar upeti. Jika mereka menyetujui, terimalah hal itu dari mereka. Lalu, bila mereka menolak, mintalah perlindungan kepada Allah dan perangilah mereka. Apabila engkau mengepung penduduk yang berada dalam benteng dan mereka mau menyerah jika engkau memberikan kepada mereka tanggungan Allah dan Rasul-Nya, maka jangan engkau lakukan, namun berilah tanggungan kepada mereka. Karena sesungguhnya jika engkau mengurungkan tanggunganmu adalah lebih ringan daripada engkau mengurungkan tanggungan Allah. Apabila mereka menginginkan engkau memberikan keamanan atas mereka berdasarkan hukum Allah, jangan engkau lakukan. Tetapi lakukanlah atas kebijaksanaanmu sendiri, karena engkau tidak tahu, apakah engkau tepat dengan hukum Allah atau tidak dalam menetapkan hukum kepada mereka." Riwayat Muslim.

Dari Ibnu Umar bahwa Nabi - sholollohu 'alaihi wa sallam - pernah melihat seorang perempuan terbunuh dalam satu peperangannya, lalu beliau menyalahkan pembunuhan para wanita dan anak-anak. (Hadits Muttafaq ‘Alaihi).

Rosululloh  - shollollohu ‘alaihi wasallam - melarang penyebaran racun (termasuk wabah penyakit/virus/Senjata Kimia dan sebagainya) di negeri musuh. (HR. Ath-Thahawi)
Saling berpesanlah untuk memperlakukan para tawanan dengan baik. (HR. Ath-Thabrani)

Dari Shahar Ibnu al-Ailah bahwa Nabi - shollollohu ‘alaihi wa sallam - bersabda: "Sesungguhnya suatu kaum bila mereka masuk Islam, berarti telah menyelamatkan darah dan harta mereka." (Hadits Riwayat Abu Dawud dan para perawinya dapat dipercaya).

Dalam Shahih Bukhari-Muslim dari hadits Ummu Hani': "Kami memberikan keamanan kepada orang yang engkau beri keamanan."

Dalam Kitab Shahih Bukhari-Muslim dari Ali bin Abi Tholib - rodhiollohu ‘anhu -: "Tanggungan keamanan orang muslim satu, boleh digunakan oleh orang yang paling rendah di antara mereka." Ibnu Majah menambahkan dari jalan lain: "Orang muslim yang paling jauh boleh memberi (jaminan) keamanan atas nama kaum Muslimiin."

Jelas sekali bahwa etika perang Muslim penuh dengan tata cara berbelas-kasihan, toleransi, dan tindakan ksatria, serta lebih kepada karena harus bereaksi (pembelaan diri) yang derajatnyapun harus sebanding atas aksi yang dilancarkan terhadap muslim, tak boleh melebihi.
Setidaknya saja hukum-etika ini dapat kita dasarkan  dari berbagai ayat Al Quran dan dari Hadits di atas ini, dan juga dari banyak sekali bukti Sejarah yang tak terhitung tentang pelaksanaannya.

... BERSAMBUNG

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: