Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6


 Oleh : Cah Bagus Menjawab

Memang ada bangsa atau suatu kaum yang pernah dikutuk oleh Allah SWT menjadi kera. Keterangan tersebut sejelasnya disebutkan di dalam salah satu firman Allah SWT:

Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina.” (QS Al-Baqarah: 65)

Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya, “Jadilah kamu kera yang hina.” (SQ Al-A”raf: 166)

Dan benar bahwa mereka termasuk dari kalangan bangsa Yahudi, yang hidup di masa lalu, jauh sebelum masa hidupnya nabi Muhammad SAW. Namun para mufassir sepakat yang dikutuk menjadi kerabukanlah seluruh bangsa yahudi. Hanya sebagian dari mereka saja yang demikian.


Bahkan para mufassir mengatakan bahwa kejadian itu hanya menimpa penduduk suatu desa saja, yang hidup di tepi pantai, di mana mata mencaharian mereka adalah menangkap ikan di laut. Allah telah melarang mereka untuk menangkap ikan di hari Sabtu, karena hari itu adalah hari khusus untuk beribadah.

Namun mereka melanggarnya, karena sengaja Allah menguji mereka. Caranya, justru di hari Sabtu itulah ikan-ikan bermunculan dengan jumlah yang sangat banyak, tapi di selain hari Sabtu terlarang itu, ikan-ikan seolah lenyap dari laut.

Karena itulah sebagian dari penduduk desa itu melakukan kecurangan. Yaitu mereka memasang perangkap pada hari Jumat sore menjelang masuknya hari Sabtu. Pada hari Sabtu mereka tetap beribadah. Dan pada hari Minggu, perangkap-perangkap itu telah dipenuhi ikan. Cara yang mereka tempuh ini tetap dianggap sebuah pelanggaran juga. Dan oleh karenanya, mereka yang melakukannya dikutuk menjadi kera yang hina.

Keterangan ini semakin jelas kalau kita perhatikan ayat-ayat sebelumnya dari ayat tentang kutukan mereka menjadi kera.

Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. (QS Al-A”rah: 163)

Ayat ini jelas sekali menyebutkan bahwa yang dikutuk menjadi kera bukan semua bani Israel (Yahudi), melainkan sebagian di antara mereka saja. Namun umumnya bani Israel memang tahu kisah tentang ini, sehingga ayat ini meminta kepada nabi Muhammad SAW untuk menanyakan kisah kutukan jadi kera kepada bani Israel.

Bahkan di ayat berikutnya, ada keterangan lebih jelas lagi bahwa tidak semua penduduknya desa itu ikut jadi kera. Sebab ada sebagian dari merka yang tetap masih taat tidak melanggar larangan hari Sabtu. Mereka yang tidak dikutuk jadi kera ini adalah yang memberikan peringatan kepada mereka yang melanggar larangan.

Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (QS. Al-”raf: 165)

Nama Desa Tersebut?
Kalau kita buka kitab tafsir, misalnya Al-Jami” li Ahkamil Quran karya Al-Imam Al-Qurtubi rahimahullah, disebutkan bahwa ada beberapa riwayat yang berbeda dalam menetapkan desa yang dimaksud. Menurut Ibnu Abbas ra., Ikrimah dan As-Suddi, nama desa itu adalah Aylah. Dalam riwayat lain menurut Ibnu Abbas juga, nama desa itu adalah Madyan. Terletak di antara Aylah dan At-Thuur.

Sedangkan menurut Az-Zuhri namanya adalah Thabariyah. Dan Qatadah serta Zaid bin Aslam mengatakan namanya adalah Maqnat, yang terlewat di pantai negeri Syam.

Ke Mana Kera-kera Itu?
Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang riwayat selanjutnya kera-kera itu. Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa setelah berubah menjadi kera, mereka pun mati begitu saja dan punah. Sebagian lagi mengatakan bahwa Allah dengan kekuasaan-Nya, mengembalikan lagi mereka ke wujud semula.

Tetapi yang jelas, kera-kera itu tidak berketurunan hingga sekarang ini. Dan yang pasti, tidak semua orang Yahudi dikutuk jadi kera. Sehingga sampai hari ini kita masih menemukan mereka berkeliaran sebagai bangsa laknatullah yang dimurkai, akibat ulah mereka. Bahkan sehari 17 kali kita meminta kepada Allah SWT agar diberi petunjuk ke jalan lurus, tidak seperti orang yahudi yang dimurkai Allah SWT.

Untuk lebih jelasnya kita bisa menyimak uraian Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar karyanya terkait Qs Al Baqarah 65-66


وَ لَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ
"Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar perintah pada hari Sabtu. " (pangkal ayat 65).

Diperingatkan lagi bagaimana sekumpulan Bani Israil melanggar perintah memuliakan hari Sabtu. Memuliakan hari Sabtu, istirahat bekerja pada hari itu dan sediakan diri buat beribadat. Memuliakan hari Sabtu adalah salah satu janji mereka dengan Tuhan. Tetapi mereka mencari helah, memutar hukum dengan cerdik sekali. Kata setengah ahli tafsir, kejadian ini ialah di danau Thabriah, kata setengah di Ailah dan kata setengah di Madiyan.
Di manapun tempat kejadian tidaklah penting, sebab perangai begini bisa saja terjadi di mana-mana karena hendak menghelah-helah (memutar-mutar) hukum.Menurut ahli tafsir mereka tinggal di tepi pantai. Mereka dilarang mengail atau memukat di hari Sabtu. Segala pekerjaan mesti dihentikan di hari itu. Mereka dapat akal buruk; mereka pasang lukah hari Jum'at petang hari, lalu mereka bangkitkan pada hari Ahad pagi. Sabtu itu sangat banyak ikan keluar. Rupanya ikan sudah mempunyai naluri bahwa mereka tidak akan dipancing dan dipukat pada hari Sabtu.

Mereka merasa bangga sebab telah dapat mempermainkan Allah. Tetapi mereka tidak tahu bahwa mereka telah celaka besar lantaran itu.


فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خَاسِئِيْنَ
"Maka Kami firmankan : ,jadilah kamu kera-kera yang dibenci " (ujung ayat 65).

Berkata pula ahli tafsir, mereka dikutuk Tuhan sehingga menjadi kera atau jadi beruk semua. Kata setengah penafsir pula, ada yang jadi babi. Kata setengah penafsir pula, ada yang jadi keledai. Tetapi kalau kita lanjutkan merenungkan ayat itu, jika mereka dikutuk Tuhan menjadi kera, monyet, beruk atau babi dan keledai, bukan berarti bahwa mesti mereka bertukar bulu, berubah rupa. Tetapi perangai merekalah yang telah berubah menjadi perangai binatang. Rupa, masih rupa manusia, tetapi perangai, perangai beruk, adalah lebih hina daripada disumpah menjadi beruk Iangsung. Sebab kalau beruk berperangai beruk, tidaklah heran dan bukanlah azab. Yang azab ialah jika manusia berperangai beruk. Orang tidak benci kepada beruk berperangai beruk, yang orang benci ialah manusia beruk.


Adakah anda pernah melihat "orang jadi beruk". Seorang Mubaligh Islam di Minangkabau, saudara Duski Samad pernah membuat misal : "Beruk tua terpaut". Kebiasaan di Minangkabau orang menurunkan buah kelapa dengan mempergunakan beruk. Setelah beruk itu tua, dipautkan dia oleh empunya di sudut rumah. Apa kerjanya ? Akan disuruh memanjat kembali, dia tidak kuat lagi. Dan dia belum juga mati. Maka kerjanya setiap hari hanya mencabuti bulunya sendiri, sehingga tinggal kulit licin seperti baju kaos. Tiap orang yang lalu-lintas, walau orang itu Engku Imam atau Engku Lebai sekalipun, selalu dicibirkannya. Kalau diberi makanan, cepat sekali disambutnya. Kalau tidak diberi dia menjijir. Berapapun diberikan, disambutnya, meskipun perutnya telah kenyang. Namun makanan itu disimpannya terus dalam lehernya sampai gembung, dan dia masih saja meminta.


فَجَعَلْنَاهَا نَكَالاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَ مَا خَلْفَهَا
"Maka Kami jadikanlah dianya sebagai suatu teladan bagi mereka yang semasa dengannya dan bagi yang di belakangnya. " (pangkal ayat 66).

Itulah orang-orang yang merasa bangga karena telah banyak mendapat keuntungan, tetapi tidak insaf bahwa mereka telah tersisih dari masyarakat manusia yang berbudi. Yang mereka ingat hanya keunturgan sebentar itu saja. Budi mereka menjadi kasar. Semua orang yang berakal budi dan memegang agama dengan baik, tidak mau lagi mendekati mereka. Sebab perangai orang yang demikian tidak ubahnya dengan kera dan beruk. Kawan sendiripun kalau dapat dimakannya akan dimakannya juga. Diisinya lehernya banyak-banyak dan penuh­penuh dengan persediaan makanan walaupun bentuk hidupnya sudah menjemukan dan mernbencikan orang. Ini menjadi pengajaran bagi umat yang hidup di jaman mereka, dan menjadi pengajaran juga bagi umat yang datang di belakang, sebab dimana-mana jika ada orang yang demikian, tidak ubahnya mereka dengan beruk dan kera, menjemukan dan menimbulkan muak.


وَ مَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِيْن
"Dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa. "(ujung ayat 66).
Karena bagi orang yang bertakwa biarlah sedikit mendapat, asal halal. Asal jangan menghelah-helah agama dengan cerdik beruk.

Sebab itu maka penafsir ini tidaklah berpegang pada setengah ahli tafsir yang menafsirkan bahwa mereka disumpah Tuhan, sehingga langsung bertukar jadi beruk, jalan dengan kaki empat, gigi berganti dengan saing. Tetapi lebih hebatlah azab itu; tubuh tetap tubuh manusia tetapi perangai sudah menjadi perangai beruk dan kera. Dia datang berkelompok-kelompok ke ladang orang. Bukan saja hasil ladang itu dimakannya sekenyang perut sampai berlebih dalam lehernya, tetapi batang-batang pisang, ketela, jagung yang bertemu mereka rusakkan dan patahkan. Sesudah hasil mereka ambil, dasar yang tinggal mereka rusakkan pula, sehingga tidak bisa tumbuh lagi. Kalau dikejar merekapun lari, dan dari tempat jauh mereka menjijir dan mencibir kepada orang-orang yang mengejarnya.


Mereka lari dan hilang bersembunyi ke hutan dengan perut kenyang dengan harta dicuri, lehernya gembung menyimpan makanan yang dirampok, dan orang yang empunya kebun tinggallah mengutuk dan menyumpah, karena mereka ditinggalkan dengan dua kerugian; kerugian hasil ladangnya yang dirampas dan kerugian bekas yang telah hancur rusak, padahal sudah berbulan-bulan dipelihara karena mengharapkan hasilnya. Bukankah perangai beruk itu menimbulkan benci ?


Ada beberapa riwayat penafsiran tentang Bani Israil yang dikutuk Tuhan menjadi kera atau monyat itu. Menurut riwayat dari Ibnu Ishak, Ibnu Jarir dan Ibnu Abbas, semua mereka itu dikutuk sehingga berubah rupa menjadi monyet. Tetapi setelah mereka menjadi monyet itu, mereka tidak bisa makan dan tidak bisa minum, sehingga tidak sampai tiga hari sesudah perubahan rupa itu, merekapun mati semua. Satu riwayat pula dari Ibnul Mundzir, katanya dari Ibnu Abbas juga, bahwa segala monyet dan segala babi yang ada sekarang ini adalah keturunan mereka. Tetapi pada riwayat Ibnu Mundzir yang diterimanya dari al-Hasan ini, keturunan mereka terputus. Sebab itu menurut pendapat al-Hasan ini, kera dan babi yang ada sekarang tidaklah dari keturunan mereka.


Di dalam riwayat yang lain dari Ibnu Mundzir juga disertai riwayat dari Ibnul Abi Hatim, yang mereka terima dari Mujahid : "Yang disumpah Tuhan sehingga menjadi kera dan monyet itu ialah hati mereka, bukan badan mereka."Kejadian ini adalah sebagai suatu perumpamaan sebagaimana tersebut dalam ayat :


كَمَثَلِ الْحِمارِ يَحْمِلُ
"Laksana keledai memikul kitab-kitab." ( al-Jum'ah : 5)
Maka penafsiran mujahid yang diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir ini­lah yang lebih dekat kepada faham saya sebagai penafsiran sekarang ini.
 

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

4 komentar:

Y N K mengatakan...

Mantap..

Inabuy dot com mengatakan...

artikelnya manfaat sekali

Blognya wong kebumen mengatakan...

lalu apa hubungannya dg bani jawa..?yg orang orang tua melarang anggota keluarganya untuk berobat,bepergian dan melakukan segala hal pada hari sabtu..?

Bram Sebastiar mengatakan...

@ Blognya wong kebumen : semua hari dalam Islam adalah baik. Adapun wong jawi (sebagian) masih percaya bahwa hari sabtu adalah hari larangan. Dalam Islam tidak ada dalil seperti itu dan itu kemungkinan adalah kepercayaan saja yang bukan dari Al Qur'an.