Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Inilah Pidato Lengkap Wapres Budiono soal Adzan dan Tanggapan berbagai Kalangan

Pidato Wakil Presiden Boediono saat membuka Muktamar Dewan Masjid Indonesia, Jumat 27 April 2012 lalu, sempat menuai kontroversi.

Sebenarnya seperti apa pidato Wakil Presiden Boediono itu?

Berikut ini pidato lengkap Wapres seperti dilansir situs resmi Sekretaris Kabinet, Minggu 29 April 2012.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

Pertama-tama marilah kita bersama memanjatkan puji dan syukur kita kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya hingga kita dapat berkumpul bersama di tempat ini pada acara Muktamar Dewan Masjid Indonesia Ke-6 Tahun 2012. 
Saya juga ingin menyampaikan rasa bahagia dapat hadir di majelis yang Insya Allah dimuliakan oleh Allah SWT, bersama para Pengurus Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah Wakil Takmir Masjid Raya Provinsi, serta Badan Otonom Dewan Masjid Indonesia.

Sebelum saya melanjutkan sambutan, pada kesempatan pertama ini saya ingin menyampaikan salam hangat dari Bapak Presiden kepada Saudara-saudara. Dikarenakan beliau ada kegiatan lain yang tidak bisa ditinggalkan, saya diminta mewakili beliau untuk menghadiri pembukaan Muktamar Dewan Masjid Indonesia kali ini.

Saudara Pimpinan Dewan Masjid Indonesia, Para Peserta Muktamar dan Hadirin yang Saya Hormati,

Muktamar Ke-6 Dewan Masjid Indonesia ini memiliki arti yang penting sebagai forum permusyawaratan tertinggi di dalam organisasi Dewan Masjid Indonesia. Kesempatan ini pula merupakan momentum yang baik untuk melakukan refleksi, evaluasi sekaligus perencanaan program/kegiatan untuk mewujudkan fungsi masjid sebagai pusat ibadah Mahdoh (ritual) dan pusat ibadah Muamalah (sosial kemasyarakat). 

Dalam kesempatan lain, pernah saya sampaikan bahwa Masjid merupakan satu institusi sentral dalam peradaban Islam dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah umat Islam. Dari masjidlah, tumbuh dan berkembang khazanah pemikiran dan keilmuan serta strategi pemberdayaan dan penguatan kapasitas umat Islam. 

Masjid sejatinya selain menjadi basis ideologi dan spiritual umat Islam, juga berperan sebagai wahana untuk memfasilitasi berbagai upaya pemberdayaan dan penguatan kapasitas umat di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya serta berbagai bidang lainnya. Untuk itu saya memandang sangat tepat Muktamar kali ini mengangkat tema: “Revitalisasi dan Reaktualisasi Peranan Masjid Sesuai Sunnah Rasul”. 

Saudara-Saudara sekalian,

Bagi seorang Muslim, masjid adalah lembaga terpenting setelah rumah dan tempat kerja. Dia merupakan pusat kegiatan komunitas Muslim, tempat bersosialisasi, dan tempat kembali mensucikan dan mendekatkan diri ke Sang Pencipta.

Menurut para ahli, masjid berasal dari akar kata yang sama dengan sujud, posisi dalam sholat dimana seorang Muslim meletakkan keningnya ke tanah sebagai tanda kepasrahan dan ketaatan total kepada kehendak Ilahi. Bangunan masjid dengan kubah dan menaranya konon menyimbolkan monotheisme Islam dalam bentuk Tauhid serta kesatuan dan persatuan umat Islam.

Pada kesempatan yang saya sebut tadi, saya juga menyampaikan bahwa disamping mengembalikan masjid sebagai tempat membangun kembali peradaban umat, masjid juga ditantang untuk menyebarkan Islam sebagai agama yang damai dan penuh rahmat Ilahi. 

Dari berbagai sumber, diperkirakan jumlah masjid dan mushola di seluruh Indonesia saat ini hampir mencapai 1 juta masjid. Tidak pelak lagi bahwa masjid mempunyai peran dalam membangun karakter bangsa. Karenanya, disamping sebagai tempat ibadah bersama, pemrakarsa masjid juga diharapkan sungguh-sungguh memperhatikan agenda dan kepengurusan masjid. 

Kita semua berkepentingan agar masjid dijaga jangan sampai jatuh ketangan mereka yang menyebarkan gagasan yang tidak Islami seperti radikalisme, fanatisme sektarian, permusuhan terhadap agama dan kepercayaan orang lain, dan anjuran-anjuran provokatif yang bisa berujung kepada tindak kekerasan dan terorisme. Islam adalah agama yang sangat toleran. Islam mengajarkan kepada kita bahwa jalan terbaik adalah jalan tengah.

Saudara-saudara,

Salah satu keunikan agama Islam sebagai agama wahyu terakhir adalah adanya kesatuan arah dalam beribadah. Dari masjid di seluruh dunia, ketika menghadap Rabbul alamin dalam sholat maupun berdoa, kita semua menghadapkan tubuh kita ke arah yang sama yakni Baitullah Ka’bah di Mekkah. Mengikuti peredaran waktu dan matahari, tidak satu detikpun di seantero planet bumi ini lepas dari suara azan karena waktu sholat yang berbeda-beda. 

Allah juga memberi ganjaran berlipat bagi Muslim yang sholat berjamaah dari pada yang sholat sendirian. Kesatuan arah dan kebersamaan ini adalah salah satu inti ajaran Islam dimana umat Islam dituntut bersatu dan bersama dalam menjalankan kebaikan. 

Sebagaimana kita bangsa Indonesia selalu berupaya menjaga kesatuan dan persatuan bangsa yang majemuk ini, pemerintah mengharapkan agar Dewan Masjid Indonesia terus menerus menjaga persatuan dan kebersamaan dalam perbedaan diantara berbagai agama yang ada di Indonesia dan sekaligus menjauhkan umat dari sikap tidak toleran, apalagi sikap sesat yang menyesatkan diantara umat Islam sendiri. Surga Tuhan sangatlah terlalu luas untuk menampung berbagai jalan yang ditempuh hambanya menuju kehidupan abadi di akhirat.

Para Hadirin yang Berbahagia,

Masjid juga merupakan usaha bersama yang harus dikelola secara profesional. Imam masjid tentu adalah orang benar-benar fasih dan memahami seluk beluk aturan agama, dan pengurus masjid adalah pengelola yang berkomitmen dan mampu menjaga dan memelihara bangunan dan seluruh aspek kegiatan masjid. 

Salah satu hal yang ingin saya sampaikan di sini terkait dengan gerakan nasional yang akan dicanangkan Bapak Presiden, yaitu masalah kebersihan. 

Kita semua pernah mendengar atau membaca hadis Rasulullah SAW yang terkenal yang mengatakan bahwa “Kebersihan adalah bagian dari iman”. Setiap mukmin harus menjaga kebersihan dirinya dan lingkungannya. 

Masjid sebagai tempat suci untuk melaksanakan ibadah yang diperintahkan Tuhan harus menjadi contoh sebagai tempat paling bersih di antara tempat-tempat lain. Kebersihan, terutama di tempat kita berwudhu, serta aroma yang sedap di lingkungan masjid akan menambah kekhusyukan kita dalam beribadah. Kebersihan yang dimulai dari masjid akan menularkan kebiasaan bersih di lingkungan lain seperti rumah, sekolah, dan tempat kita bekerja.

Perkenankan saya menyampaikan satu hal lagi yang berkaitan dengan pengelolaan masjid. Dalam rangka mensyiarkan Islam dan memberikan citra positif bagi umat Islam, kita di Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia dapat memberikan contoh-contoh yang baik bagi dunia Islam. 

Dewan Masjid Indonesia kiranya juga dapat mulai membahas, umpamanya, tentang pengaturan penggunaan pengeras suara di masjid-masjid. Kita semua sangat memahami bahwa adzan adalah panggilan suci bagi umat Islam untuk melaksanakan kewajiban sholatnya. Namun demikian, apa yang saya rasakan barangkali juga dirasakan oleh orang lain, yaitu bahwa suara adzan yang terdengar sayup-sayup dari jauh terasa lebih merasuk ke sanubari kita dibanding suara yang terlalu keras, menyentak, dan terlalu dekat ke telinga kita. 

Al-Qur’an pun mengajarkan kepada kita untuk merendahkan suara kita sambil merendahkan hati ketika berdoa memohon bimbingan dan petunjukNya. 

Saudara-saudara Sekalian,

Dalam usianya menjelang matang, yaitu mencapai 40 tahun, sejak didirikannya pada tanggal 22 Juni 1972, masih banyak ruang bagi Dewan Masjid Indonesia untuk berbuat bagi kemajuan dan peningkatan kualitas pengelola Masjid. 

Dalam kesempatan ini ada beberapa harapan yang saya ingin sampaikan kepada Majelis yang mulia ini. 

Pertama, saya berharap Dewan Masjid Indonesia senantiasa memberdayakan masjid untuk melakukan upaya edukasi kepada umat muslim melalui dakwah dalam rangka peningkatan karakter dan moral umat muslim dalam berbangsa, bernegara dan bermasyarakat utamanya kepada generasi muda. 

Kedua, Dewan Masjid Indonesia saya harapkan mampu mendorong Masjid agar dimanfaatkan tidak hanya sebagai sarana ibadah, namun juga dapat dijadikan sarana pendidikan, baik pendidikan Tahfidzul Qur’an (hapalan Qur’an) dan Tahsinul Qur’an (memperbaiki kualitas bacaan Quran) maupun pendidikan dasar formal seperti TK, SD, dan SMP.

Ketiga, kita mengharapkan Dewan Masjid Indonesia mampu memberdayakan Masjid sebagai sarana untuk menumbuhkembangkan minat, bakat, dan keterampilan generasi muda melalui pelatihan kepemimpinan, manajemen dan ketrampilan bagi Pemuda Remaja Masjid.

Keempat, Dewan Masjid Indonesia diharapkan mampu mendorong Masjid dalam penciptaan kemakmuran umat muslim melalui optimalisasi zakat, infaq, shadaqah bekerjasama dengan BAZNAS serta melalui pengembangan usaha yang berbasis syariah (seperti Baitul Maal Wat Tamwil/BMT) di kalangan Majelis Taklim sehingga dapat lebih optimal membantu maupun memberdayakan kaum dhuafa utamanya anak-anak terlantar. 

Saudara-saudara para peserta Muktamar yang berbahagia,

Demikianlah, sambutan saya. Semoga dapat menjadi masukan bagi Saudara-saudara dalam bermusyawarah selama 3 (tiga) hari ini. 

Akhirul kalam, dengan memohon ridho dan petunjuk Allah SWT dan mengucap Bismillahirrahmanirrahim Muktamar Ke-6 Dewan Masjid Indonesia, secara resmi dibuka. Selamat melaksanakan Muktamar. 

Terima kasih

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Wakil Presiden Republik Indonesia

Boediono

Tanggapan Pengurus DMI (Dewan Masjid Indonesia )

Penggunaan pengeras suara untuk mengumandangkan azan di masjid-masjid tak perlu dibahas lagi. "Karena tujuannya sudah jelas, agar suara azan menjangkau wilayah yang lebih luas," ucap Sekretaris Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Tengah, Multazam Ahmad, Sabtu (28/4).

Dia menerangkan, pada zaman Rasulullah SAW, azan sengaja dikumandangkan dari tempat tinggi seperti menara. Hal ini bertujuan agar suara azan bisa didengar oleh umat yang berada jauh dari masjid. Namun seiring perkembangan teknologi, azan disampaikan lewat pengeras suara.

Multazam berpendapat, tidak benar kalau suara azan yang dilantunkan melalui pengeras suara disebut mengganggu. Karena, kata dia, azan hanya dikumandangkan pada waktu-waktu tertentu saja. Selain itu, azan dengan pengeras suara selama ini sudah dipahami masyarakat di Indonesia sebagai hal yang lumrah.

Hal senada juga diutarakan Ketua Pimpinan Daerah DMI Kabupaten Pekalongan, Zukron. Menurut dia, azan memang sudah seharusnya disampaikan secara lantang. Karenanya, penggunaan pengeras suara untuk azan di masjid-masjid tidak perlu dipersoalkan lagi.

Kecuali, tambah dia, jika pengeras suara di masjid digunakan tidak pada waktunya. Seperti acara wirid yang berlangsung hingga tengah malam, misalnya, yang disebut Multazam kadang mengusik jam istirahat warga sekitar karena suara yang keluar dari speaker terlalu keras.

"Wirid itu maksudnya baik, tapi tetap harus memerhatikan prinsip-prinsip toleransi." ucapnya.



Tanggapan Majelis Ulama Indonesia ( MUI)


Majelis Ulama Indonesia (MUI) merespons keluhan Wakil Presiden Boediono yang meminta adanya pengaturan soal ketentuan pengeras suara saat azan. Ketua MUI, Amidhan, menyatakan azan  dikeraskan bertujuan untuk memanggil orang sholat berjamaah ke masjid dan menjadi tanda telah masuknya waktu sholat.

''Itulah cirinya Islam di Indonesia. Bahkan saya rasa tidak hanya di sini saja tetapi di semua mayoritas negara muslim, termasuk juga di Malaysia,'' kata Amidhan ketika dihubungi Republika di Jakarta, Ahad (29/4).

Amidhan tak mau terlalu jauh untuk berspekulasi perihal motif wapres meminta agar suara azan tidak terlalu keras. Ia menduga, keluhan wapres ini mungkin ada kaitannya karena memperoleh keluhan dari pihak lain. Selain. ''Mungkin saja korps diplomatik,'' ujarnya.

Amidhan memahami tempat kediaman Wapres itu berada di dekat masjid Sunda Kelapa. Namun, sebagai fungsi tanda waktu sholat dan panggilan agar sholat berjamaah, ia menegaskan, tentunya tidak bermasalah jika harus dikeraskan.

''Kalau (azan) itu dilamatkan, tidak keras, ya nanti fungsi (dari azan) itu menjadi hilang. Meski harus diakuinya kalau hukum azan itu sendiri sebenarnya tidak wajib,'' katanya.

Soal keluhan semacam itu, menurut Amidhan, sebenarnya merupakan persoalan besar yang ada di kota besar seperti Jakarta. Penggunaan pengeras suara seperti memutar suara pengajian pada waktu dinihari terkadang memang cukup kurang baik. Ia mencontohkan misalnya saja pada pukul 03.00 WIB. Sementara azan subuh baru berkumandang sekitar pukul 04.00 WIB.

''Kalau masalahnya seperti ini, ya itu memang kurang baik juga,'' ujarnya.

Namun demikian Amidhan tetap mempertanyakan alasan agar suara azan dikecilkan.

Ia mencontohkan, ketika di Roma, lonceng tanda waktu kebaktian juga cukup mengganggu telinga. Begitu juga di negara-negara Eropa yang bukan menjadi tempat mayoritas muslim. Di sana suara azan memang tidak bisa dikeluarkan.

''Kalau sebagai (negara) mayoritas muslim, sebenarnya tidak perlu keberatan. Apalagi subuh. Harusnya merasa terbantu karena dibangunkan,'' katanya.



Tanggapan Mantan Ketua PBNU

Mantan Ketum PBNU Hasyim Muzadi menilai tidak ada yang salah dengan anjuran Wapres Boediono mengenai volume pengeras suara masjid. Antara ibadah dan kepentingan orang banyak memang harus sejalan.

"Di hadits, (suara mengaji) memang tidak boleh keras-keras. Tidak boleh mengganggu orang tidur," kata Hasyim usai haul di Ponpes Al Hikam, Kukusan, Depok, Jabar, Minggu (29/4/2012) malam.

Hasyim menyatakan, pengeras suara harus digunakan secara bijaksana. Untuk azan, memang harus keras agar terdengar baik sampai jarak yang relatif jauh. Tapi di luar kepentingan itu, maka volume pengeras suara harus dijaga agar tidak malah mengganggu warga.

"Yang kadang jadi masalah kan, pas nggak azan, suaranya mengganggu," katanya.

Pengasuh Ponpes Al Hikam ini menambahkan, ada baiknya, pengelola masjid mengontrol volume pengeras suara pada saat ibadah seperti zikir, mengaji, atau yang lain. Tujuannya, agar suara-suara yang ditimbulkan tidak menggangu masyarakat sekitar.

"Ya kita harus sama-sama mengerti, kepentingan ibadah dan masyarakat sekitar. Kan masyarakat beda-beda kepentingannya," ujarnya.


Tanggapan Ketua PWNU JATIM

, Mutawakkil Alallah.





Menurut Mutawakkil, pernyataan Wapres untuk mengatur suara Azan justru dapat memancing konflik horizontal di masyarakat.

Ia menilai Wapres tersebut seolah tidak mengetahui ketetapan dan aturan mendirikan tempat ibadah di Indonesia. Menurut dia, dalam izin pendirian tempat ibadah baik masjid maupun tempat ibadah yang lain, pasti harus disetujui oleh masyarakat setempat.

Jika tidak, lanjut Mutawakkil,  tempat ibadah tidak akan diizinkan berdiri. Setelah berdiri, maka masyarakat sekitar harus mau bertoleransi untuk kegiatan yang dilakukan di tempat ibadah tersebut. Lagipula, kata dia, Azan dikumandangkan dari tempat umum bukan dari rumah ke rumah.

"Ungkapan wapres memancing timbulnya konflik horizontal berbau SARA," kata Mutawakkil pada Republika, Jumat (27/4).

Menurut Mutawakkil, pernyataan Wapres menunjukkan bahwa orang nomor dua di Indonesia itu bukanlah sosok Pancasilais. Pasalnya, sila pertama dalam Pancasila adalah 'Ketuhanan Yang Maha Esa'. Pasal itu tentang ibadah dan beragama. Selain itu,  kata dia, seharusnya Wapres lebih fokus untuk menyelesikan masalah krusial di negeri ini dibandingkan merespons masalah pengaturan suara Azan seperti kemiskinan dan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Mutawakkil yakin, bahwa hanya segelintir orang yang protes karena terganggu dengan suara Azan. Terlebih suara Azan dikumandangkan bukan di waktu-waktu istirahat seperti waktu tidur di malam hari. Azan dikumandangkan saat orang harus beraktivitas. Artinya, seharusnya tidak ada yang terganggu istirahatnya karena mendengar suara Azan.

"Paling pagi saat Subuh, itupun dikumandangkan saat masyarakat akan memulai aktifitas pagi," tambahnya.

Berdirinya masjid, tambahnya, pasti karena di wilayah itu mayoritas masyarakatnya Muslim. Dengaan itu Azan dikumandangkan dengan keras untuk memberitahu bahwa waktu Sholat telah tiba hingga menjangkau tempat paling jauh.

Fungsi yang kedua, Azan dimaksudkan untuk mengajak umat muslim menunaikan Sholat berjama'ah di Masjid. Dan yang ketiga, kata Mutawakkil, adalah sebagai pendidikan moral bagaimana bertoleransi antar pemeluk agama dalam masyarakat. Hal itu bukan hanya berlaku untuk suara Azan di masjid, juga kegiatan di tempat ibadah lain.

Tanggapan Anggota DPR Komisi VIII


Menurut Jazuli kumandang Azan memang harus bisa terdengar oleh para jamaah sekita masjid atau musola. Sebab, jika tidak terdengar maka panggilan salat tersebut akan percuma.

"Panggilan azan untuk solat, kalau nanti ngga kedengaran percuma, waktu solat harus dikumandangkan sesuai waktunya, tujuan memanggil orang solat. Jadi tidak bisa dibatasi soal azan," jelas politisi PKS ini.

Meski begitu, Jazuli setuju jika selain suara azan, seperti suara kegiatan yang dilakukan di masjid atau musola tidak terlalu keras. Apalagi kegiatan tersebut dilakukan saat jam orang sedang istirahat seperti pada malam hari.

"Contohnya jam 11 malam masih ada kegiatan, tidak perlu pengeras suara. pada waktu malam hari saat orang istirahat tidak terlalu keras," tuturnya.

Sebentar lagi Gereja Katedral di Marseille berubah menjadi Masjid

Selama 150 tahun, Gereja Notre-Dame S de la Garde menghias pemandangan Marseille, Prancis. Gereja ini terletak di titik tertinggi kota yang menghadap sebuah pelabuhan tua. Tapi, tak lama lagi pemandangan akan berubah. Bangunan dan simbol yang berbeda akan mewujud. Di sana akan berdiri sebuah masjid agung.

Maka itu, sejumlah kalangan menyebutnya sebagai `Cathedral Mosque'. Sejumlah arsitek yang merancang bangunan masjid mengatakan, mereka meminjam inspirasi Taj Mahal. Kelak, masjid agung ini akan dilengkapi dengan kubah emas besar. Menaranya akan menjulang mencapai 24 meter.

Ruangan shalat dirancang cukup luas. Diperkirakan ruangan tersebut mampu menampung sekitar 7.000 jamaah dan akan menjadi masjid terbesar di Prancis. "Ini merupakan proyek yang lama tertunda," kata Yves Moraine, pemimpin partai berkuasa UMP seperti dikutip BBC belum lama ini.


Menurut pandangannya, lebih baik mendorong Islam yang terbuka. Membangun tempat ibadah yang terlihat banyak orang. Daripada memaksa Muslim menjadi komunitas bawah tanah. Di mana mereka menjalankan shalatnya di gudang-gudang bawah tanah. Berdirinya masjid di kota besar akan membantu mencegah ekstremisme.

Moraine menyatakan, masjid yang mudah diakses juga akan mencegah munculnya imam-imam masjid yang tak terlatih. Kemudian, mereka menyampaikan pandanganpandangan ekstrem kepada para pemuda. Tak heran dengan pertimbangan semacam itu, ia menyampaikan pendapat positif atas pembangunan masjid itu.

Ada sejumlah kalangan yang menyebut bahwa lokasi rencana pembangunan masjid itu tak strategis karena terlalu padat. Namun, Makhete Cisse dari Association of Mosques, organisasi yang menjalankan proyek itu, menyanggahnya. "Ini posisi sempurna dan kami dikelilingi oleh komunitas Muslim yang jumlahnya besar," katanya.

Cisse menjelaskan, nantinya bangunan masjid ini mempunyai luas lebih dari 8.361 meter persegi. Ini merupakan sebuah kompleks yang dilengkapi dengan sebuah perpustakaan dan restoran. "Kami memang membutuhkan tempat yang besar. Apalagi, masjid berada tak jauh dari pusat bisnis."

Dibutuhkan pula, dana besar untuk mendirikan bangunan masjid itu. Soal ini memicu sejumlah kontroversi sebab sebagian besar dari 25 juta dolar AS yang dibutuhkan, diperkirakan diperoleh dari luar negeri. Di antaranya, berasal dari Aljazair, Arab Saudi dan negaranegara Timur Tengah, dan Afrika Utara lainnya.

Sejumlah politisi lokal dari National Front menentang rencana pembangunan masjid tersebut. Mereka menyampaikan gugatan menghadang proyek tersebut. Bagi mereka, ini sama saja dengan persoalan cadar. Mereka mempertahankan nilai-nilai sekuler. "Kami tak mengundang Islam di sini," kata Stephane Ravier dari National Front.

Abdel Hakim Rahal, seorang warga Muslim, mengatakan, rencana pembangunan masjid di Marseille menjadi bukti upaya asimilasi Muslim ke dalam masyarakat di Marseille. "Kami membutuhkan tempat untuk bertemu dan menjalankan shalat. Kami telah lama menantikannya."

Oleh karena itu, Rahal sangat mensyukuri akan adanya sebuah masjid besar di Marsielle. Ia kemudian mengutip sebuah ungkapan dalam bahasa Prancis untuk menggambarkan penantian panjangnya itu, Mieux vaut tard que jamais, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.[Republika/BBC]

Tuduhan Duladi soal Permusuhan, Terorisme dan Premanisme


Oleh : Surya Yaya
Duladi Samarinda menulis:

3) Secara terang-terangan membangkitkan permusuhan terhadap umat Yahudi dan Nasrani

QS 5:51
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
QS 98:1
Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,
QS 98:6
”Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu seburuk-buruk makhluk.”
QS 8:55
Sesungguhnya binatang yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.
--> Tanggapan Surya Yaya :

Tuduhan anda yang hanya bisa muter-muterin ayat diatas, juga sudah dijawab dan mencakup pada jawaban nomor 1 dan 2.

Islam sebagai agama rahmat bagi semesta alam, agama damai dan sempurna tidak pernah sedikitpun menumbuhkan rasa permusuhan atau mencari-cari musuh. Bacalah literatul Islam secara utuh, maka yang terbesik di benak anda adalah Islam adalah agama yang lembut.


Tidak ada penjajahan atas nama Islam,apalagi menebar permusuhan.

Nabi SAW bersabda: "Hai manusia, janganlah kalian berharap bertemu musuh, dan mintalah keselamatan kepada Allah. Akan tetapi apabila kalian bertemu mereka maka bersabarlah dan ketahuilah bahwa surga di bawah bayangan pedang. Ya Allah, yang menurunkan kitab, yang menjalankan awan dan yang menghacuncurkan pasukan musuh, hancurkanlah mereka dan tolonglah kami dalam mengahdapi mereka." (Muttafaq alaih)

Apa anda gak pernah merasa sedang menebar permusuhan dan kedengkian akibat ajaran busuk dari Kristen?

Lukas 12:49"Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!

‎4. Duladi Samarinda menulis: 4) Terorisme

QS 8:12. (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman." Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.

--> Tanggapan:

Ayat diatas turun seputar perang badar. Dan tidak sesuatu yang janggal didalamnya, melainkan sebuah bukti kebenaran dari janji Allah bahwa ia akan memberikan kemenangan kepada pasukan muslim yang walaupun jumlah mereka kala itu sedikit ( 300 pasukan) mampu mengalahkan pasukan kafir yang jauh lebih besar yakni 1000 pasukan. Bukti Tuhannya Muhammad terbukti ada dan maha kuasa bukan?

Dan perintah perang dalam Islam hanya berlaku ketika Islam diperangi. Bahkan perkara perang tsb, juga menjadi perkara yang TIDAK DISUKAI oleh kaum muslim:

QS. 2. 216. Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

SEPERTI ini seharusnya ajaran terorisme sejati yang KRISTEN TIDAK BISA membantahnya:

  1. 1 Samuel 15:3 Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai."
  2. Bilangan 31:9 Kemudian Israel menawan perempuan-perempuan Midian dan anak-anak mereka; juga segala hewan, segala ternak dan segenap kekayaan mereka dijarah, 31:10 dan segala kota kediaman serta segala tempat perkemahan mereka dibakar.
  3. Yehezkiel 9:5Dan kepada yang lain-lain aku mendengar Dia berfirman: "Ikutilah dia dari belakang melalui kota itu dan pukullah sampai mati! Janganlah merasa sayang dan jangan kenal belas kasihan. 9:6 Orang-orang tua, teruna-teruna dan dara-dara, anak-anak kecil dan perempuan-perempuan, bunuh dan musnahkan! Tetapi semua orang yang ditandai dengan huruf T itu, jangan singgung! Dan mulailah dari tempat kudus-Ku!" Lalu mereka mulai dengan tua-tua yang berada di hadapan Bait Suci. 9:7 Kemudian firman-Nya kepada mereka: "Najiskanlah Bait Suci itu dan penuhilah pelataran-pelatarannya dengan orang-orang yang terbunuh. Pergilah!" Mereka pergi ke luar dan memukuli orang-orang sampai mati di dalam kota.
  4. Matius 10:34"Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. 10:35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, 10:36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. 10:37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.
  5. Lukas 12:49"Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!
  6. 12:50Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! 12:51Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.
  7. Yeremia 48:10Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan TUHAN dengan lalai, dan terkutuklah orang yang menghambat pedang-Nya dari penumpahan darah!


Sadis!

5.  Duladi Samarinda menulis: 5) Penyerangan terhadap mereka yang tak mau bersyahadat untuk Muhammad

QS 2:193. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

QS 8:39. Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

QS 9:29. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

QS 9:123. Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.

-->Tanggapan:

Tidak ada paksaan dalam memeluk Islam apalagi memaksa seseorang untuk bersyahadat. Kalimat yang anda tulis adalah upaya untuk mencocok-cocokan saja dengan ayat yang ingin anda jadikan fitnah yang sama sekali memang tidak dasarnya.

Agar tidak terlalu kepanjangan saya menulisnya disini, cakupan ayat2 diatas sudah saya bahas disini: http://sy42.wordpress.com/2011/08/23/tafsir-hadits-shahih-bukhari-muslim-aku-diperintahkan-memerangi-manusia-hingga-mereka-bersaksi-dst/

Terbukti, Kristen seperti anda hanya menunjukkan anda itu cuma pendebat idiot yang tidak tahu apa-apa tentang Islam.

6. ‎Duladi Samarinda menulis:  6) Premanisme (pemalakan)

QS 9:29. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

-->Tanggapan:

Soal Jizyah juga, cakupan jawabannya sudah saya bahas disini: http://sy42.wordpress.com/2011/08/23/tafsir-hadits-shahih-bukhari-muslim-aku-diperintahkan-memerangi-manusia-hingga-mereka-bersaksi-dst/

7. Duladi Samarinda menulis:  7) Main hakim sendiri, menjadi "tuhan" bagi sesama, pelanggengan kekerasan dan balas dendam

QS 9:14. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.

QS 9:123. Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.

QS 2:191. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.

--> Tanggapan:

Merebut kembali sesuatu yang menjadi hak kita adalah sebuah keharusan. Ketika Nabi SAW usir dari negeri tempat beliau dilahirkan, ditindas, disakiti bahkan tidak cukup dengan diusir, beliau juga disusul ke tempat beliau mengasingkan diri (hijrah ke madinah) bahkan nyaris dibunuh, tetapi Allah selalu menyelamatkannya, maka begitu tiba saat yang dijanjikan, turun perintah untuk berperang, meskipun pada saat itu, beberapa kaum muslimin tidak menghendakinya, adalah jika memerangi kaum kafir itu sampai ke akar-akarnya agar tidak ada lagi fitnah yang timbul.

Maka tidak ada sesuatu yang 'aneh' pada ayat2 diatas jika kita mengkombain dengan literatur Islam yang ada dan mengurut ayatnya secara berurut2 alias tidak sepotong-potong.

Dan lagi, jauh sebelum Muhammad SAW kembali menguasai Mekkah dan memerangi orang-orang yang pernah berlaku zalim atas beliau, Allah sudah lebih dahulu mengisyaratkannya di QS 48:27 (Ini sekaligus menjadi bukti kebenaran alquran adalah kalam ilahi) :

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman…"

Lebih lengkap soal ayat2 perang, silakan baca lebih detail disini:

Menjawab Hujatan Ayat ayat perang di Al Qur’an

Menjawab Tuduhan Duladi soal mengajari Kepura-puraan / Kemunafikan


Oleh :Surya Yaya

Duladi menulis :


2) Mengajari kepura-puraan (sikap tidak tulus dan kelicikan) (Muka senyum-senyum tapi hatinya jahat)

QS 3:28
Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).

--> Tanggapan Surya Yaya:

Tidak ada dalam Islam adalah sebuah kepura-puraan alias bersikap munafik. Sebab sikap berpura-pura (munafik) adalah bagian dari sikap yang harus dijauhi oleh umat Islam.


“Tanda-tanda munafik ada tiga, ketika dia berbicara dia berbohong, ketika dia berjanji mengingkarinya dan ketika dia dipercaya dia khianat.” (HR. BUKHARI))

QS. 4.145: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.”

Maksud dari QS 3:28 , juga sudah sangat jelas dan hampir sama dengan penjelasan pada surat 3:118. Hanya saja perlu beberapa kemungkinan tingkat hubungan yang bisa terjadi antara dua individu atau dua kelompok: Yang PERTAMA: hubungan langsung dari hati ke hati. Hubungan pada tingkat ini hanya diperbolehkan antar sesama mukmin.

Yang KEDUA yaitu hubungan yang bersifat simpati dan maksud baik, Hubungan ini bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh orang kafir, KECUALI ketika berperang dengan orang-orang mukmin. Hal ini dijelaskan dalam:

QS. 60:8. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Yang KETIGA: adalah hubungan yang berkaitan dengan membangun citra perilaku moral yang baik terhadap orang lain. Hubungan dengan orang-orang non-muslim pada tingkat ini juga diperbolehkan. Misalnya, ketika anda menerima tamu seorang non-muslim haruslah anda tetap menghormatinya sebagai tamu. Orang-orang mukmin juga boleh bersikap baik demi untuk menyelamatkan diri mereka sendiri terhadap bahayanya orang-orang kafir. Inilah yang dimaksudkan Allah Surat ‘Ali Imran 28 di atas, yakni:

... kecuali karena siasat untuk menjaga diri dari bahaya yang ia khawatirkan dari orang-orang kafir itu. ...

Tingkat hubungan yang KEEMPAT adalah yang ada hubungannya dengan perdagangan, industri, dan hubungan kerja. Hubungan ini diizinkan untuk dilakukan dengan semua orang yang tidak beriman sepanjang tidak merugikan kepentingan orang-orang mukmin. Karena itu, di izinkan juga orang-orang mukmin mencari peluang kerja ke tempat orang non-muslim atau menjadi pekerja di pabrik milik non-muslim.

Sama halnya, diperbolehkan juga mengadakan hubungan dagang dengan non-muslim meskipun ada larangan menjual persenjataan dan amunisi kepada mereka yang sedang memerangi orang-orang mukmin.

Perilaku yang sedemikian itu pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Misalnya, ketika penduduk Mekkah dalam keadaan krisis pangan, beliau menolong mereka meskipun pada kenyataannya mereka telah mengusir beliau dari tempat tinggal beliau sendiri.

Hal serupa terjadi juga setelah penaklukan Makkah, penduduk Makkah memperkirakan bahwa Rasulullah SAW pasti membunuh mereka, atau menjadikan mereka budak, atau paling sedikit merampas harta-benda mereka. Pada saat itu mereka benar-benar sangat cemas dan menduga-duga apakah kiranya pernyataan yang akan beliau sampaikankan dalam khutbah bersejarah itu. Rasul SAW memulai khutbahnya kepada orang-orang kafir itu dengan kalimat berikut:

“ Pada hari ini, tidak akan ada tuntutan apapun atas kalian dan tak seorangpun akan mencelakai kalian dengan cara apapun”.

Tidaklah dapat kita temukan contoh serupa itu sepanjang sejarah kehidupan manusia untuk menunjukkan sikap yang sangat istimewa dalam hal menghadapi lawan. Buah dari sikap yang mulia ini, ribuan penduduk Mekkah pun berbondong-bondong memeluk Islam.

Sikap mulia serupa itu pernah juga ditunjukkan Nabi Muhammad SAW pada waktu beliau mengizinkan rombongan utusan suku Bani Thaqif untuk tinggal di Masjid Nabawi, walaupun waktu itu mereka masih belum memeluk Islam.

Hal ini beliau lakukan untuk menunjukkan rasa hormat dan keramah-tamahan. Khalifah Umar RA biasa memberikan beasiswa kepada orang-orang kafir yang benar-benar butuh bantuan, diambil dari dana pemerintah (baitul Maal).

Menyimak semua penjelasan di atas, kini kita dapat merujuk beberapa ayat lain didalam Al-Qur’an yang menerangkan hubungan antara orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir (QS. 60.1)Di awal Ayat, Allah menyeru:

Wahai Orang-orang yang beriman! Janganlah engkau jadikan musuh-musuh-Ku dan musuh-musuhmu sebagai teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih-sayang dan perhatian terhadap mereka.

Dan di akhir Ayat tersebut, Allah memperjelas:Kamu berkawan secara sembunyi-sembunyi (memberitakan perihal Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir). Aku (Allah) Maha mengetahui apa-apa yang kamu sembunyikan dan yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa diantara kamu (muslim) melakukan yang demikian, maka sungguh ia telah jauh tersesat dari jalan yang lurus.

Didalam Surat Al-Maidah (5): 51:
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai auliya’ (penolong/pemimpin-mu), mereka itu saling menolong satu sama lain. Maka, barangsiapa diantara kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, sesungguhnya ia termasuk dalam golongan mereka. Sesunguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang aniaya (dzalim).

Selanjutnya, dalam Surat Al-Mujadilah (58) Ayat 22:

(Wahai Muhammad) kamu tidak akan mendapati orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir itu saling berkasih sayang dengan mereka yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun mereka itu adalah bapak-bapak mereka, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, ataupun keluarga mereka.

Dengan demikian kriteria yang dipakai untuk ukuran berbagai tingkat perkawanan atau perseteruan adalah karena kepatuhan kepada Allah Rasul-Nya.

Alasan-alasan lain seperti, kepentingan pribadi, rasial, teritorial, tidak boleh dijadikan motif oleh seorang beriman untuk bersahabat ataupun membenci orang lain.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa bersahabat karena Allah semata, dan membenci karena Allah semata, ia telah menyempurnakan Imannya”. (Bukhari dan Muslim)

Jelaslah bahwa orang-orang mukmin dilarang berkawan akrab secara pribadi dengan orang-orang non-muslim, bahkan dengan kaum Nasrani dan Yahudi, agar mereka tidak berbagi rahasia negeri (khilafah) Islam dengan orang luar.

Hal ini demi keselamatan dan ketenteraman rakyat dan negerinya.Sebab Allah mengetahui segala hal yang mereka kerjakan (QS. 3:120).Meskipun demikian, orang-orang Muslim diharuskan memenuhi hak-hak orang-orang kafir yang tinggal di negeri Islam.

Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Aku akan mewakili orang-orang kafir di Hari Pembalasan, untuk menuntut siapa saja yang mengganggu mereka yang tinggal di negeri Islam. Ketika aku menjadi penuntut, pastilah aku memenangkan tuntutanku.”

Hal serupa diriwayatkan oleh Jundub bin Abdillah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT telah melarang bahwasanya aku mengakibatkan kebengisan terhadap seorang kafir yang hidup di negeri Islam.

”Rasulullah SAW juga telah bersabda: “Aku kelak di Hari Pembalasan harus memohon dipihak seorang kafir yang pernah teraniaya atau dikurangi hak-hak dasarnya, atau jika ia pernah menderita tekanan-tekanan diluar kesanggupannya, atau pernah diambil harta miliknya tanpa seizinnya, oleh seorang mukmin.”

Conclusion: Hubungan antara orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir adalah bersifat adil, saling hormat-menghormati, dan masuk akal.

Sungguh indah ajaran Islam bukan?

Menjawab Tuduhan Duladi soal selalu bersikap buruk sangka


Bagi Pembaca yang belum mengenal tentang Duladi,dipersilahkan Baca terlebih dahulu artikel ini :

Membongkar Kebobrokan Duladi salah satu Aktifis FFI


dan berikut ini akan kami sampaikan Tanggapan Tanggapan dari salah satu Muslim yang memiliki Akun di FB Surya Yaya,karena ada bebebrapa Topik Pembahasan,maka akan kami sampaikan secara bertahap sesuai topik pembahasan.

Tuduhan Pertama Duladi Samarinda Kepada Islam dan Umat Islam

 Bersikap paranoid (selalu berprasangka buruk) terhadap orang lain


QS 3:118
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.

--> Tanggapan Surya Yaya:

Tafsir » 118. (Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu ambil sebagai orang-orang kepercayaan) maksudnya sebagai teman-teman akrab tempat kamu membukakan rahasia kamu (orang-orang yang di luar kalanganmu) maksudnya orang lain, misalnya orang Yahudi, Nasrani dan munafik (tidak henti-hentinya mereka menimbulkan kesusahan bagimu).


(Telah nyata) tampak (kebencian) permusuhan terhadapmu (dari mulut-mulut mereka) dengan menjelekkan kamu dan membukakan rahasia kamu kepada orang-orang musyrik (dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka) berupa permusuhan (lebih besar lagi. Sungguh telah Kami jelaskan kepada kamu tanda-tanda) permusuhan mereka itu (jika kamu memikirkan)nya. Maka janganlah kamu ambil mereka itu sebagai orang-orang kepercayaan.

Islam tidak bersikap paranoid kepada siapapun. Rasa takut Islam yang paling utama ia menyandarkan hukum selain dari hukum yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Islam pun mengajarkan untuk selalu berprasangka baik kepada siapa saja:

1. “Jauhilah kalian dari kebanyakan persangkaan, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa” (QS.49.12)
2. "Hati-hatilah kalian terhadap prasangka. "Karena sesungguhnya prasangka adalah berita yang paling dusta" (HR.Bukhari-Muslim)
3. “Janganlah sekali-kali engkau menyangka dengan prasangka yang buruk terhadap sebuah kalimat yang keluar dari (mulut) saudaramu, padahal kalimat tersebut masih bisa engkau bawakan pada (makna) yang baik.” (HR. Imam Ahmad)
4. "Kalau kamu akan menyangka, maka jangan kamu nyatakan." (HR. Thabarani)

QS 3:118, ayat ini maksud atau isinya sudah jelas sekaligus membuktikan kebenaran Alqur'an adalah wahyu Ilahi yang sekaligus menjadi warning bagi kaum muslimin,bahwa Kristen-Yahudi itu pandai bersikap manis di depan, tetapi busuk di belakang, sebusuk ajaran agamanya.

Dari semua riwayat sejarah tentang eksistensi Islam, dua kaum ini (Kristen-Yahudi) tidak henti-hentinya mengadakan permusuhan atau menyusahkan dikarenakan kedengkian yang ada dihati mereka.

*Imam Baghawi dalam tafsirnya menjelaskan, "Janganlah engkau menjadikan orang-orang non muslim sebagai wali, orang kepercayaan atau orang-orang pilihan, karena mereka tidak segan-segan melakukan apa-apa yang membahayakanmu."

*Syaikh Ibnu Taimiyah mengatakan, "Para peneliti telah mengetahui bahwa orang-orang ahli dzimmah dari Yahudi dan Nashrani mengirim berita kepada saudara-saudara seagamanya tentang rahasia-rahasia orang Islam. Di antara bait-bait yang terkenal adalah: "Setiap permusuhan dapat diharapkan kasih sayangnya, kecuali permusuhan orang yang memusuhi karena agama."

Silakan baca seluruh literatur Islam yang anda punya, maka hikmah yang dipetik dari membaca siratul nabi adalah Kristen-Yahudi adalah memang umat yang busuk hati dan pendengki!

Maka sudah sewajarnya QS. 3.118 harus dipedomani muslim dalam menjalankan suatu aktivitas. Logikanya, jika dalam satu institusi, maka dalam memilih pemimpin sudah pasti dari kalangan institusi itu sendiri. Tidak mungkin mengangkat pemimpin orang-orang luar.

Dan kelanjutan dari Surah Ali Imram :18 adalah menjadi jawabannya:

QS. 3. (119). Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata:" Kami beriman "; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka):" Matilah kamu karena kemarahanmu itu ". Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.

Tafsir » 119. (Begitulah) sebagai peringatan (kamu) hai (orang-orang) yang beriman (kalian mencintai mereka) karena akrabnya persaudaraannya dengan kamu (tetapi mereka tidak mencintai kamu) karena perbedaan agamamu dengan agama mereka (dan kamu beriman kepada kitab-kitab kesemuanya) artinya kepada semua kitab, tetapi mereka tidak beriman kepada Kitabmu.

(Jika mereka menjumpai kamu, mereka berkata, "Kami beriman," dan apabila mereka telah berada dalam kalangan mereka sendiri, mereka menggigit ujung-ujung jari mereka disebabkan teramat marah kepadamu) melihat kerukunan kamu. Kemarahan diibaratkan dengan menggigit ujung-ujung jari, walaupun tidak sebenarnya terjadi.

(Katakanlah, "Matilah kamu dengan kemarahanmu itu!") artinya tetaplah dalam keadaan demikian sampai kamu mati, karena tidak akan pernah kamu melihat hal-hal yang akan menyenangkan hatimu! (Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang terdapat di dalam dada) maksudnya segala isi hati termasuk apa yang mereka sembunyikan.

QS. 3 (120). Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.

Tafsir » 120. (Jika kamu disentuh) ditimpa (oleh kebaikan) atau nikmat, seperti kemenangan atau harta rampasan (mereka merasa kecewa) atau berdukacita (sebaliknya jika kamu ditimpa bencana) seperti kekalahan dan kekeringan (mereka gembira karenanya) jumlah syarat yang kedua berhubungan dengan syarat yang sebelumnya, sedangkan di antara keduanya interupsi atau kalimat sela.

Makna ayat, bahwa mereka mati-matian dalam memusuhi kamu, maka kenapa kamu mempercayai mereka, jauhilah mereka itu! (Jika kamu bersabar) terhadap gangguan mereka (dan bertakwa) kepada Allah hingga tidak mempercayai mereka dan sebagainya (maka tidaklah akan mendatangkan kemudaratan) bacaannya 'laa yadhirkum' atau 'laa yadhurrukum' (tipu daya mereka sedikit pun.

Sesungguhnya Allah terhadap apa yang mereka lakukan) dengan 'ya' dan 'ta' (meliputi) mengetahui dan akan memberikan balasan.


Soal prasangka buruk hingga fitnah yang tidak ada dasarnya, hanya bisa kita temui dalam kitab "made in setan" berlabel Bibel:

1. Fitnah terhadap nabi Ibrahim memiliki gundik—kekasih gelap/Istri piaraan. (Kej 25.5-6)

2. Fitnah terhadap nabi Nuh doyan mabuk dan bugil . (Kej 9.20-21)

3. Fitnah terhadap nabi Sulaiman juga punya gundik dan menyembah berhala (1 Raj 11:3. 1 Raj 11:9, Kej 11:10)

4. Fitnah terhadap Nabi Harun membuat berhala dan menyuruh orang-orang Israel menyembahnya. (Kel 32:3-4) "

5. Fitnah terhadap Nabi Luth berzina dengan kedua putrinya.  (Kej 19:30-38)6.

6. Fitnah terhadap Nabi Yakub (Israel) mengawini dua perempuan adik-kakak sekaligus. (Kej 29:26-28)

7. Fitnah terhadap Nabi Yakub penipu, ia bergumul dengan Allah dan menang (hebat ya???). (Kej 27:35-36, Kej 32:24-29)

8. Nabi Daud (kakek Yesus pun ikut kebagian fitnah) berzina dengan istri orang lain. (2 Sam 11:2-5)

9. Tuduhan mengada-ngada bahwa Tuhan akan membalas dendam kepada Nabi Daud dengan menyuruh orang lain meniduri istri-istrinya secara terang-terangan di depan seluruh orang Israel. ( 2 Sam 12:11-12)

10. Fitnah Terhadap: Nabi Daud bertelanjang bulat di depan budak-budak perempuan para hambanya. ( 2 Sam 6:20)

11. Fitnah terhadap Anak Nabi Daud, Amnon, memperkosa adiknya sendiri. (2 Sam 13:11-14)

12. Fitnah terhadap Anak Nabi Daud, Absalom, berzina dengan istri istri ayahnya. ( 2 Sam 16:21-22)

13. Fitnah terhadap Yehuda (Yahudi), anak Nabi Yakub, berzina dengan Tamar, menantunya sendiri. (Kej 38:15-18)

14. Fitnah terhadap Ruben, anak tertua Nabi Yakub, berzina dengan gundik ayahnya. (Kej 35:22)

15: Fitnah terhadap Nabi Yesaya berjalan telanjang bulat tidak berkasut tiga tahun lamanya; juga para tawanan raja Asyur. ( Yes 20:2-4)

16: Fitnah terhadap Nabi dan Imam, keduanya fasik. ( Yer 23:11-12)

17. Fitnah terhadap Segala nabi Samaria penyesat umat. ( Yer 23:13)

18. Fitnah terhadap Segala nabi Yerusalem berbuat zinah. ( Yer 23:14-15)

19. Fitnah terhadap Nabi-nabi berbuat dusta. (Yer 23:30 -32)

20. Fitnah terhadap Segala nabi Israel bebal. ( Yeh 13:3-4)

Jika kita meminta semua penjelasan terhadap tuduhan tak mendasar (Alkitab) di atas kepada mereka (Kristen/Yahudi), jawaban tak lain adalah bahwa apa yang ditulis Alkitab adalah benar atau memang sudah seperti itu keadaannya. Sungguh, Alqur'an lah satu-satunya kitab yang memuliakan seluruh para nabi.

bersambung

Menjawab Tuduhan Duladi , Muhammad SAW Adalah Seorang Perampok


Oleh : Surya Yaya 

Cara Duladi "Mengkreasikan" Sirah Nabawiyah dan Fitnah-Fitnah (Khas Antek Faithfreedom)nya yang Terpatahkan!


Maksud Hati Hendak Menampilkan Kesalahan, Tapi yang Terlihat Adalah Fakta Kebenaran.


Dasar tuduhan dari para pembenci sekaligus penghujat Islam seperti Duladi Samarinda yang sukses mengubah wajah Antek Faithfreedom semakin kelihatan busuknya ini adalah Nabi SAW dan para sahabatnya pernah membegal (merampok) rombongan kafilah Abu Sufyan dengan mengacu pada sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 575-578 dan 582.

Padahal apa yang ia tulis dengan susah payah memeras otak mencari kelemahan dalam literatur tersebut, oleh kepicikannya, hanya bisa ia tampilkan dengan sepotong-potong kemudian mengadakan asumsi di dalamnya agar tuduhan yang dilontarkannya terasa pas atau cocok dengan apa yang ingin ia sampaikan.


1. Duladi menuduh, bahwa kaum muslimin-lah yang pertama-tama membunuh kaum musryikin dalam rombongan kafilah Abu Sufyan.  Berikut screenshot Sirah Nabawiyahnya:

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam 1: 575

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam 1: 576-577

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam 1: 577-578

Dan jawaban atas tuduhan "asal ngoceh" tersebut, juga sudah ada/dijelaskan dalam pernyataan di atas (lingkaran merah) Hal 576-577.

Lebih detailnya (Klik) disini:  Hal. 576-577 
*Kalau loading-nya lama, arahkan mouse-nya ke jendela link, lalu enter.


2. Duladi juga menuduh, bahwa Muhammad SAW dan pengikutnya adalah seorang pembegal terhadap rombongan kafilah Abu Sufyan dengan mengacu pada sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 582.

Berikut screenshot Sirah Nabawiyahnya:

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam 1: 582-583.

Berikut jawabannya:
Bisa dimaklumi tuduhan atas dasar asumsi tersebut, sebab Duladi hanya mencernanya mentah-mentah tanpa mengadakan crosscheck ke belakang, jauh sebelum peristiwa di atas terjadi.

Apa yang dilakukan Nabi dan para sahabatnya bukanlah sebuah perampokan atau pembegalan--meski kelihatannya mungkin seperti itu. Sejenak kita sorot balik sedikit ke belakang, yaitu ketika Nabi dan para sahabat terpaksa meninggalkan rumah dan harta mereka, agar mereka tidak lagi menjadi sasaran penyiksaan oleh kaum musyrikin. (sirah Ibnu Hisyam Jilid 1 hal 425-432, 452: Abu Sufyan bin Harb Merampas Rumah Bani Jahsy dan Menjualnya)

Namun hijrah itu dianggap tidak cukup bagi kaum kafir Quraisy, mereka juga mengambil alih semua harta benda dan rumah-rumah mereka, lalu menjualnya. Sampai-sampai kediaman Nabi pun tidak lepas dari sasaran kebuasan mereka.

Untuk lebih jelasnya, tentu kisah Shuhaib Ar-Rumi dapat menjelaskannya. Ketika itu ia dilarang berhijrah, kecuali jika ia menyerahkan seluruh hartanya kepada orang-orang kafir itu(Shuhaib  adalah salah satu sahabat Nabi yang memiliki banyak harta).

Lalu Shuhaib memutuskan untuk tetap berhijrah, meskipun ia harus melepaskan seluruh harta bendanya. Maka tatkala Nabi melihat Shuhaib sampai di kota Madinah, beliau berkata:

"Jual beli yang menguntungkan wahai Abu Yahya, jual beli yang menguntungkan,"

(yakni: jual beli adalah akad surat terima, maka dengan berhijrah berarti Shuhaib telah menyerahkan hartanya kepada kaum musryikin dan menerima keridhaan dari Allah, dan akad itu lebih menguntungkan baginya karena keridhaan Allah pasti lebih besar nilainya daripada harta yang ditinggalkan).

Berikut screenshot Sirah Nabawiyahnya:

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam 1: 431

Lalu, jika anda diserang oleh orang lain dan seluruh harta benda yang anda miliki juga diambilnya, apakah ketika ada kesempatan bagi anda untuk mengambilnya kembali apa yang telah direbutnya dapat disebut dengan membegal (merampok)? Apakah Otak Kristen itu masih berfungsi dengan baik?


Adapun definisi kata "rampok" yang sebenarnya itu adalah:

Nahum. 2:9  Jarahlah perak, jarahlah emas! Sebab tidak berkesudahan persediaan harta benda, kelimpahan segala barang yang indah-indah!

2 Samuel. 12:28 Oleh sebab itu, kumpulkanlah sisa tentara, kepunglah kota itu dan rebutlah, supaya jangan aku yang merebut kota itu dan jangan namaku menjadi juga nama kota itu."

1 Timotius. 6:12 Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.

Ulangan. 2:35 hanya hewan kita rampas bagi kita sendiri, seperti juga jarahan dari kota-kota yang telah kita rebut.

Ulangan. 3:4 Pada waktu itu kita merebut segala kotanya; tidak ada kota yang tidak kita rampas dari pada mereka: enam puluh kota, seluruh wilayah Argob, kerajaan Og di Basan.

Ulangan. 3:7 Tetapi segala hewan dan jarahan dari kota-kota itu kita rampas bagi kita sendiri.

2Tawarikh. 20:25 Lalu Yosafat dan orang-orangnya turun untuk menjarah barang-barang mereka. Mereka menemukan banyak ternak, harta milik, pakaian dan barang-barang berharga. Yang mereka rampas itu lebih banyak dari pada yang dapat dibawa. Tiga hari lamanya mereka menjarah barang-barang itu, karena begitu banyaknya.

Bahkan ayat yang ini pun juga seharusnya membukakan mata anda untuk dipahami tentang pembunuhan terhadap anak-anak kecil dan orang-orang tua, pembakaran kota-kota, penculikan dan pemerkosaan terhadap kaum wanita.  Konyolnya bibel sinting yang anda banggakan itu menuding Nabi Daud sebagai perampas istri orang lain.

Yesaya 13: (15) Setiap orang yang didapati akan ditikam, dan setiap orang yang tertangkap akan rebah mati oleh pedang. (16) Bayi-bayi mereka akan diremukkan di depan mata mereka, rumah-rumah mereka akan dirampoki, dan isteri-isteri mereka akan ditiduri.

Hakim-Hakim 21: (20) Maka mereka berpesan kepada bani Benyamin, demikian: "Pergilah menghadang di kebun-kebun anggur. (21) Perhatikanlah baik-baik; maka apabila anak-anak perempuan Silo keluar untuk menari-nari, baiklah kamu keluar dari kebun-kebun anggur itu, dan masing-masing melarikan seorang dari anak-anak perempuan Silo itu menjadi isterinya dan pergi ke tanah Benyamin.

Yosua 10: (40) Demikianlah Yosua mengalahkan seluruh negeri itu, Pegunungan, Tanah Negeb, Daerah Bukit dan Lereng Gunung, beserta semua raja mereka. Tidak seorangpun yang dibiarkannya lolos, tetapi ditumpasnya semua yang bernafas, seperti yang diperintahkan TUHAN, Allah Israel.

Yosua 8: (8) Segera setelah kamu merebut kota itu, haruslah kamu membakarnya; sesuai dengan firman TUHAN kamu harus melakukan semuanya itu; ingatlah, itulah perintahku kepadamu."

2 Samuel 3:  (12) Lalu Abner mengirim utusan kepada Daud dengan pesan: "Milik siapakah negeri ini? Adakanlah perjanjian dengan aku, maka sesungguhnya aku akan membantu engkau untuk membawa seluruh orang Israel memihak kepadamu." (13) Jawab Daud: "Baik, aku akan mengadakan perjanjian dengan engkau, hanya satu hal kuminta dari padamu, yakni engkau tidak akan menghadap aku, kecuali jika engkau membawa lebih dahulu Mikhal, anak perempuan Saul, apabila engkau datang menghadap aku." (14) Daud mengirim utusan juga kepada Isyboset, anak Saul, dengan pesan: "Berikanlah isteriku Mikhal, yang telah kuperoleh dengan seratus kulit khatan orang Filistin." (15) Lalu Isyboset menyuruh mengambil perempuan itu dari pada suaminya, yakni Paltiel bin Lais. (16) Dan suaminya berjalan bersama-sama dengan dia, sambil mengikuti dia dengan menangis sampai ke Bahurim. Lalu berkatalah Abner kepadanya: "Ayo, pulanglah." Maka pulanglah ia. (Surya Yaya /Referensi: Ibnu Hisyam Jilid 1 - Orientalis Menuduh Ulama Menjawab)

Menjawab Tuduhan Nabi Pernah terkena Sihir


Salah satu Penghujat dan Penggugat Islam  mengajukan beberapa hadist yang menceritakan Nabi Muhammad SAW pernah terkena Sihir, dan Hadist tersebut dijadikan sebagai Alat pembenaran untuk menyerang Kenabian Muhammad Saw.

Berikut ini Hadist hadist yang dijadikan alat oleh para Penghujat dan Penggugat Islam:


Diriwayatkan Aisha:Pernah sang nabi tersihir hingga dia mulai merasa telah melakukan hal2 yang sebenarnya tidak dia lakukan. (Sahih Al-Bukhari, Volume 4, Book 53, Number 400)
Diriwayatkan Aisha:Sihir bekerja pada diri sang nabi hingga dia berkhayal telah melakukan hal yang sebenarnya tidak dia lakukan. Satu hari dia menyebut (Allah) utk waktu lama lalu berkata, “Kurasa Allah telah mengilhamiku bagaimana caranya menyembuhkan diriku sendiri. Dua orang datang padaku (dalam mimpi) dan duduk, satu dikepalaku dan satu lagi dikakiku. Satu dari mereka bertanya pada yang lain, “Apa penyakit orang ini?” yang lain menjawab, “Dia telah tersihir” Yang pertama bertanya, “Siapa yang menyihir?” Yang lain menjawab, “Lubaid bin Al-A’sam.” Yang pertama bertanya, “Bahan2 apa yang dia pakai?” Yang lain menjawab, “Sebuah sisir, rambut pada sisir itu, dan kulit luar dari tepung sari pohon kurma jantan.” Yang pertama bertanya, “dimana?” Yang lain menjawab, “Di sumur Dharwan.”” Jadi, nabi keluar kearah sumur dan kembali lalu berkata pada aku sekembalinya, “Kurmanya (dari pohon kurma dekat sumur) mirip kepala iblis.” Aku bertanya, “Apa kau cabut benda2 yang dipakai sihir itu?” Katanya, “Tidak, karena aku telah disembuhkan Allah dan aku takut tindakan ini akan menyebabkan tersebarnya kejahatan diantara orang2.” Belakangan sumur itu ditimbun tanah. (Sahih Al-Bukhari, Volume 4, Book 54, Number 490)
Diriwayatkan Aisha:Seseorang menyebut Labid bin al-A’sam dari suku Bani Zaraiq melakukan sihir pada Rasul sampai Rasul Allah mulai berkhayal melakukan hal2 yang sebenarnya tidak dia lakukan. Satu hari atau satu malam dia bersama kita, dia sebut2 Allah dan menyebut2 lamanya waktu, dan lalu berkata, “O Aisha! Tahukah kau bahwa Allah memerintahkanku tentang masalah yang kutanya padaNya? Dua orang menemuiku dan duduk, satu dikepalaku dan satu lagi dikakiku. Satu dari mereka bertanya pada yang lain, “Apa penyakit orang ini?” yang lain menjawab, “Dia telah tersihir” Yang pertama bertanya, “Siapa yang menyihir?” Yang lain menjawab, “Lubaid bin Al-A’sam.” Yang pertama bertanya, “Bahan2 apa yang dia pakai?” Yang lain menjawab, “Sebuah sisir, rambut pada sisir itu, dan kulit luar dari tepung sari pohon kurma jantan.” Yang pertama bertanya, “dimana?” Yang lain menjawab, “Di sumur Dharwan.”” Jadi, nabi keluar kearah sumur dan kembali lalu berkata pada aku sekembalinya, “O Aisha, warna airnya seperti disepuh daun Henna (merah). Bagian atas dari pohon kurma dekatnya mirip kepala setan.” Aku tanya, “O Rasul? Kenapa tidak kau perlihatkan (pada orang2)?” Dia bilang, “Karena Allah menyembuhkanku, aku tidak suka membiarkan kejahatan disebarkan diantara orang2.” Lalu dia perintahkan sumur itu ditimbun tanah. (Sahih Al-Bukhari, Volume 7, Book 71, Number 658)
Jawaban :

Mengenai hal ini Buya Hamka memberikan penjelasan mengenai masalah tersebut dalam tafsir Azhar Qs Al Falaq



Benarkah Nabi Muhammad S.a.w.Pernah Kena Sihir?

Menurut yang dinukil oleh asy-Syihab dari kitab "at-Ta'wilat" karangan Abu Bakar al-Asham darihal peristiwa Nabi s.a.w. kena sihir. Menurut beliau ini, Hadis berkenaan dengan Nabi s.a.w. kena sihir itu adalah matruk, artinya ialah Hadis yang mesti ditinggalkan dan tidak boleh dipakai. Karena kalau Hadis demikian diterima, berarti kita mengakui apa yang didakwakan oleh orang kafir, bahwa Nabi s.a.w. telah (mempan[1]) kena sihir. Padahal yang demikian itu sangat bertentangan dengan Nash yang ada dalam al-Quran sendiri. Dengan tegas Tuhan berfirman:


َاللّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ - المائدة 67
"Allah memelihara engkau dari manusia" – al-Maidah: 67

وَلوَلوَلاَ يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى  طه 69


"Dan tidaklah akan berjaya tukang sihir itu, bagaimanapun datangnya." (Thaha: 69)

Dan lagi kalau riwayat Hadis itu diterima, berarti kita menjatuhkan martabat nubuwwah. Dan lagi, kalau Hadis itu dibenarkan, berarti bahwa sihir bisa saja membekas kepada Nabi-nabi dan orang-orang yang shalih, yang berarti mengakui demikian besar kekuasaan tukang-tukang sihir yang jahat itu sehingga dapat mengalahkan Nabi; dan semuanya itu adalah tidak benar! Dan orang-orang kafir pun dapat saja merendahkan martabat Nabi-nabi dan orang-orang yang shalih itu dengan mencap "Mereka itu kena sihir." Dan kalau benar-benar hal ini terjadi, niscaya benarlah dakwa orang-orang yang kafir, dan dengan demikian jelaslah Nabi Shallallahu `alaihi wa sallama ada aibnya, dan ini adalah tidak mungkin." – Sekian disalinkan dari at-Ta'wilat buah tangan Abu Bakar al-Asham tersebut.
Hadis Nabi kena sihir ini termasuk dalam catatan Hadis Shahih yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim, yang berasal dari Hadis Aisyah, bahwa beliau s.a.w. pernah disihir oleh seorang Yahudi dari Bani Zuraiq; namanya Labid bin al-A`sham. لَبيد بن الأعصم Dikatakan dalam Hadis itu bahwa Nabi merasa seakan-akan beliau berbuat sesuatu padahal tidaklah pernah diperbuatnya.
Demikianlah beliau rasakan beberapa lamanya. Sampai pada suatu waktu Nabi berkata kepada Aisyah: "Hai Aisyah! Aku diberi perasaan bahwa Allah memberi fatwa kepadaku pada perkara yang aku meminta fatwa padaNya; maka datanglah kepadaku dua malaikat, yang seorang duduk ke sisi kepalaku dan yang seorang lagi di sisi kakiku. Lalu berkata yang duduk dekat kepalaku itu kepada yang duduk di ujung kakiku: "Orang ini diobatkan orang!" (Disihir? Kawannya bertanya: "Siapa yang mengobatkannya? (Menyihirnya?).
Yang di kepala menjawab: "Labid bin al-A'sham."Kawannya bertanya: "Dengan apa?"
Yang di kepala menjawab: "Pada kudungan[1] rambut dan patahan sisir dan penutup kepala laki-laki, dihimpit dengan batu dalam sumur Dzi Auran." – Tersebut dihadis itu bahwa Nabi pergi ke sumur itu
membongkar ramuan yang dihimpit dengan batu itu dan bertemu.
Dalam riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah s.a.w. menyuruh Ali bin Abu Thalib dan Zubair bin Awwam dan `Ammar bin Yasir memeriksa sumur itu dan mencari ramuan tersebut. Lalu ditimba air sumur itu dan diselami ke bawah sampai bertemu bungkusan ramuan tersebut yang dihimpit dengan batu. Yang bertemu di dalam kain kasah bungkusan itu ialah guntingan rambut Nabi s.a.w., patahan sisir beliau dan sebuah potongan kayu yang diikat dengan 11 buah ikatan dan di tiap ikatan itu ditusukkan jarum. Lalu diturunkan Allah kedua Surat ini, jumlah ayat keduanya, "al-Falaq dan an-Nas" ialah 11 ayat pula. Tiap-tiap satu ayat dibaca, dicabut jarum dan dibuka buhulnya, dan tiap satu jarum dicabut dan satu buhul diungkai, terasa satu keringanan oleh Nabi s.a.w., sehingga sampai diuraikan buhul dan dicabut jarum yang 11 itu; dan terasa oleh Nabi s.a.w. bahwa beliau sembuh sama sekali.
Lalu bertanyalah mereka kepada beliau: "Apakah orang jahat itu tidak patut dibunuh saja?"
Beliau menjawab: "Allah telah menyembuhkan daku, dan aku tidak suka berbuat jahat kepada orang."
Dalam riwayat yang dibawakan oleh al-Qusyairi pun tersebut bahwa seorang pemuda Yahudi bekerja sebagai khadam Nabi s.a.w. Pada suatu hari anak itu dibisiki oleh orang-orang Yahudi supaya mengambil rambut-rambut Nabi yang gugur ketika disisir bersama patahan sisir beliau, lalu diserahkannya kepada yang menyuruhnya itu. Maka mereka sihirlah beliau, dan yang mengepalai mensihir itu ialah Labid bin al-A'sham. Lalu al-Qusyairi menyalinkan lagi riwayat Ibnu Abbas tadi.
Supaya kita semuanya maklum, meskipun beberapa tafsir yang besar dan ternama menyalin berita ini dengan tidak menyatakan pendapat, sebagai Tafsir al- Qurthubi, Tafsir al-Khazin bagi Ibrahim al-Baghdadi; malahan beliau ini mempertahankan kebenaran riwayat itu berdasar kepada shahih riwayatnya, Bukhari dan Muslim. Namun yang membantahnya ada juga. Di antaranya Ibnu Katsir.
Ibnu Katsir setelah menyalinkan riwayat ini seluruhnya, membuat penutup demikian bunyinya; "Demikianlah mereka riwayatkan dengan tidak lengkap sanadnya, dan di dalamnya ada kata-kata yang gharib, dan pada setengahnya lagi ada kata-kata yang mengandung nakarah syadidah (sangat payah untuk diterima). tetapi bagi setengahnya ada juga syawahid (kesaksian-kesaksian) dari segala yang telah tersebut itu."
Almarhum orang tua saya dan guru saya yang tercinta, Hadratusy-Syaikh Dr. Abdulkarim Amrullah di dalam Tafsir beliau yang bernama "al-Burhan" menguatkan riwayat ini juga. Artinya, bahwa beliau membenarkan bahwa Nabi s.a.w. kena sihir. Dengan alasan Hadis ini adalah shahih, Bukhari dan Muslim merawikan. Dengan menulis begitu beliau membantah apa yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Abduh di dalam Tafsir Juzu' 'Ammanya. Karena Syaikh MuhAnmad Abduh menguatkan juga, sebagai yang tersebut di dalam kitab at-Ta'wilat, buah tangan Abu Bakar al-Asham yang telah kita salinkan di atas tadi, bahwa tidaklah mungkin seorang Nabi atau Rasul, ataupun orang yang shalih dapat terkena oleh sihir, berdasar kepada firman Tuhan sendiri di atas tadi pun telah kita salinkan, (al-Maidah ayat 67, dan Thaha, ayat 69). Bahwa tidak mungkin sihir dapat mengena kepada seseorang kalau Allah tidak izinkan. Dan terhadap kepada Rasul-rasul dan Nabi-nabi sudah dipastikan oleh Tuhan bahwa sihir itu akan gagal, walau dengan cara bagaimana pun datangnya.
Maka Penafsir yang sezaman dengan kita ini yang menolak Hadis itu, walaupun shahih, Bukhari dan Muslim yang merawikan, ialah Syaikh Muhammad Abduh dalam Tafsir Juzu"Ammanya, al-Qasimi dengan tafsir "Mahasinut-Ta'wil"nya yang terkenal, dan yang terakhir kita dapati ialah Sayid Quthub di dalam tafsirnya "Fi Zhilalil Quran" menegaskan bahwa Hadis ini adalah Hadis al-Ahad, bukan
mutawatir. Maka oleh karena jelas berlawan dengan ayat yang sharih dari al-Quran tidaklah mengapa kalau kita tidak percaya bahwa Nabi Muhammad bisa terkena oleh sihir walaupun perawinya Bukhari dan Muslim. Beberapa Ulama yang besar-besar, di antara Imam Malik bin Anas sendiri banyak menyatakan pendirian yang tegas menolak suatu Hadis al-Ahad kalau berlawanan dengan ayat yang sharih. Misalnya beliau tidak menerima Hadis bejana dijilat anjing mesti dibasuh 7 kali, satu kali di antaranya dengan tanah. Karena di dalam al-Quran ada ayat yang terang jelas, bahwa binatang buruan yang digunggung anjing dengan mulutnya, halal dimakan sesudah dibasuh seperti biasa dengan tidak perlu 7 kali, satunya dengan air.
Ulama yang banyak mencampurkan "Filsafat" dalam tafsimya atau memandang segala soal dari segi Filsafat dan Ilmu Alam, yaitu Syaikh Thanthawi Jauhari menulis tentang Hadis Nabi kena sihir itu demikian; "Segolongan besar ahli menolak Hadis-hadis ini dan menetapkannya sebagai merendahkan martabat Nubuwwat. Dan sihir yang menyebabkan Nabi merasa seakan-akan dia berbuat sesuatu padahal dia bukan berbuat, adalah amat bertentangan dengan Kebenaran, dipandang dari dua sudut:

Pertama; Bagaimana Nabi s.a.w. dapat kena sihir; ini adalah menimbulkan keraguan dalam syariat.Kedua; Sihir itu pada hakikatnya tidaklah ada.
Alasan ini ditolak oleh yang mempertahankan. Mereka berkata: "Sihir itu tidaklah ada hubungannya melainkan dengan hal-hal yang biasa terjadi saja. Dia hanyalah semacam penyakit. Sedang Nabi-nabi itu dalam beberapa hal sama saja dengan kita orang biasa ini; makan minum, tidur bangun, sakit dan senang. Kalau kita mengakui kemungkinannya tidur, mesti kita akui kemungkinan beliau yang lain. Dan yang terjadi pada Nabi kita ini hanyalah semacam penyakit yang boleh saja terjadi pada beliau sebagai manusia, dengan tidak ada pengaruhnya sama sekali kepada akal beliau dan wahyu yang beliau terima.
Dan kata orang itu pula: "Pengaruh jiwa dengan jalan mantra (hembus atau tuju) kadang-kadang ada juga, meskipun itu hanya sedikit sekali. Maka semua ayat-ayat dan Hadis-hadis ini dapatlah memberi dua kesan; (1) Jiwa bisa berpengaruh dengan jalan membawa mudharrat, dan jiwa pun bisa berpengaruh membawa yang baik. Maka si Labid bin al-A'sham orang Yahudi itu telah menyihir Nabi dan membekaskan mudharrat. Namun dengan melindungkan diri kepada Allah dengan kedua Surat "al-Falaq" dan "an-Nas", mudharrat itu hilang dan beliau pun sembuh." – Sekian Syaikh Thanthawi Jauhari.
Tetapi ada satu lagi yang perlu diingat! Kedua Surat ini tidak turun di Madinah, tetapi turun di Makkah, dan di Makkah belum ada perbenturan dengan Yahudi.
Sekarang mari kita lihat pula betapa pendapat Jarullah az-Zamakhsyari di dalam tafsimya "al-Kasysyaf". Tafsir beliau terkenal sebagai penyokong Aliran Mu`tazilah, sebagai ar-Razi penyokong Mazhab asy-Syafi`i. Penganut faham Mu`tazilah tidaklah begitu percaya terhadap pengaruh sihir, atau mantra atau tuju sebagai yang kita katakan di atas tadi.
Sebab itu maka seketika menafsirkan ayat 4; "Dan daripada kejahatan perempuan-perempuan yang meniup pada buhul-buhul," beliau menafsirkan demikian:
"Perempuan-perempuan yang meniup, atau sekumpulan perempuan tukang sihir yang membuhulkan pada jahitan, lalu disemburnya dengan menghembus. Menyembur ialah menghembus sambil menyemburkan ludah. Semuanya itu sebenamya tidaklah ada pengaruh dan bekasnya, kecuali kalau di situ ada semacam ramuan yang termakan yang memberi mudharrat, atau terminum atau tercium, atau
yang kena sihir itu menghadapkan perhatian kepadanya dari berbagai wajah. Tetapi Allah Azza wa Jalla kadang-kadang berbuat juga suatu hal pada seseorang untuk menguji keteguhan hatinya, apakah dia orang yang belum mantap fahamnya atau orang awam yang masih bodoh. Maka orang-orang yang dungu dan yang berfikir tidak teratur mengatakan kesakitan yang ditimpakan Allah kepadanya adalah karena perbuatan orang! Adapun orang yang telah mendapat ketetapan pendirian karena teguh imannya tidaklah dapat dipengaruhi oleh itu. Kalau engkau bertanya kepadaku: "Kalau demikian apakah yang dimaksud dengan bunyi ayat melindungkan diri kepada Allah dari kejahatan perempuan yang meniup pada buhul-buhul itu?
Saya akan jawab dengan tiga macam keterangan:
(1) Artinya ialah berlindung kepada Allah dari kejahatan mereka itu, yaitu membuat ramuan sihir, dan berlindung kepada Allah dari dosanya.
(2) Berlindung kepada Allah daripada kepandaian wanita-wanita itu memfitnah manusia dengan sihirnya dan penipuannya dengan kebatilan.
(3) Berlindung kepada Allah jangan sampai Allah menimpakan suatu mushibah tersebab semburannya itu." — Sekian kita salin.
Dan di dalam Tafsirnya "al-Kasysyaf" itu tidak ada dia menyinggung-nyinggung Hadis-hadis yang mengatakan Nabi pemah kena sihir orang Yahudi itu. Karena menurut isi keterangan di atas, meskipun memang ada perempuan mengadakan mantra, menyembur, meniup, namun bekasnya tidak akan ada, kecuali kalau ada yang termakan, terminum, tercium atau tersentuh barang ramuan yang membahayakan. Artinya serupa juga dengan racun.
Maka menurut pendapatnya itu, sedangkan kepada manusia yang biasa tidak ada bekas hembus dan sembur itu, apatah lagi kepada Nabi s.a.w.
Pendapat yang dipilih oleh penafsir Abu Muslim lain lagi. Beliau menafsirkan ayat berlindung daripada kejahatan perempuan-perempuan yang meniup pada buhul-buhul itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan sihir. Menurut beliau buhul-buhul yang dimaksud di ujung ayat 4 ini ialah suatu maksud atau rencana yang telah disusun oleh seorang laki-laki. Perempuan meniup-niup itu menurut beliau ialah bujuk dan rayuan perempuan, yang dengan lemah-lembut, lenggang-lenggok gemalai terhadap laki-laki, merayu dan membujuk, sehingga maksud laki-laki yang tadinya telah bulat menjadi patah, sehingga rencananya berobah dan maksudnya bertukar. Berdasar kepada ayat 28 dari Surat 12, Surat

Yusuf;
إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ  يوسف 28


"Sesungguhnya tipudaya kalian sangatlah besarnya, hai perempuan."
Berapa banyaknya benteng-benteng pertahanan laki-laki menjadi runtuh berantakan karena ditembak oleh peluru senyuman dan bujuk rayuan perempuan.
Matra dapatlah kita ambil kesimpulan bahwasanya masalah tentang Hadis yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim tentang Nabi s.a.w. kena sihir oleh orang Yahudi itu, sampai sihir itu membekas kepada
beliau, bukanlah baru zaman sekarang dibicarakan orang. lbnu Qatibah telah memperbincangkannya di dalam `Ta'wil, Mukhtalafil-Hadits", dan ar-Razi pun demikian pula. Keduanya sama-sama patut dipertimbangkan. Adapun pendapat az-Zamakhsyari yang mengadakan sama sekali pengaruh sihir, dapatlah kita tinjau kembali setelah maju penyelidikan orang tentang kekuatan Roh (Jiwa) manusia, tentang pengaruh jiwa atas jiwa dari tempat yang jauh, sebagai telepathi[1] dan sebagainya.
Dan kita cenderunglah kepada pendapat bahwasanya Jiwa seorang Rasul Allah tidaklah akan dapat dikenai oleh sihimya seorang Yahudi. Jiwa manusia yang telah dipilih Allah (Mushthafa) bukanlah sembarang jiwa yang dapat ditaklukkan demikian saja. Sebab itu maka pendapat Syaikh Thanthawi Jauhari yang menyamakan Roh seorang Rasul dengan Roh manusia biasa, karena sama-sama makan sama tidur, sama bangun dan sebagainya adalah satu pendapat yang meminta tinjauan lebih mendalam!