Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Oleh Abu Ramzi

Saya pernah membaca pertanyaan yang ditulis oleh seorang Kristian (Bung Sam SI) di Dindingsebuah  Forum diskusi  beberapa waktu yang lalu. Pertanyaan tersebut dijawab oleh Seorang Muslim (Pak JP. Jones) dengan mengutip beberapa ayat Al Qur’an dan menjadi diskusi singkat di antara mereka berdua. Adapun pertanyaan Bung Sam SI tersebut adalah sebagai berikut:
1. Apa alasan saya hidup di dunia ini?
2. Apa tujuan saya hidup setelah saya ada di dunia ini?

Membaca diskusi pendek mereka berdua itu saya jadi teringat kepada tulisan Ustadz M. Quraish Shihab dalam sebuah buku beliau yang berjudul “Lentera Hati”. Berikut yang hal yang menarik dari tulisan beliau, saya kutip dengan sedikit penambahan;

Ada 3 sikap yang dilakukan oleh umat Islam yang dimotivasi oleh firman-firman Allah SWT di dalam Al Qur’an.

  1. Sikap Pedagang.
Yakni melakukan sesuatu demi memperoleh imbalan yang menyenangkan. Dinamai oleh seorang filosof Ibn Sina sebagai sikap “Pedagang”. Sikap ini merupakan motivasi ibadah yang berasal dari firman-firman Allah SWT di dalam Al Qur’an, misalnya:

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan PERNIAGAAN yang tidak akan merugi, (QS. Faathir.29)

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu PERNIAGAAN yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (QS. Ash-Shaff.10)

(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. Ash-Shaff.11)

Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah KEBERUNTUNGAN yang besar. (QS. Ash-Shaff.12)

Jelas bahwa Allah SWT memotivasi hamba-hamba-Nya untuk taat dan rajin beribadah dengan metode seperti sedang melakukan hubungan Perniagaan/ Perdagangan dengan Diri-Nya. Dengan motivasi ini maka umat Islam akan semakin semangat dalam berbuat kebajikan dan beramal shaleh dan rela mengorbankan hal yang disenanginya sebagai modal demi mengharapkan Allah SWT menerima pengorbanannya tersebut dan membalas dengan keuntungan yang berlipat ganda di akhirat kelak.

  1. Sikap Budak atau Buruh.
Sikap seseorang yang beribadah karena dorongan rasa takut terhadap siksa neraka pada hakikatnya memperagakan sikap budak atau buruh terhadap Tuhan. Sikap ini dimotivasi dari firman-firman Allah SWT di dalam Al Qur’an, misalnya:

Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. (QS. Ali Imran.131)

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahriim.6)

Jelas bahwa Allah SWT memotivasi hamba-hamba-Nya untuk taat dan rajin beribadah dan mau menjauhi larangan-larangan-Nya dengan metode rasa takut terhadap Azab/ Siksaan. Dengan motivasi ini maka umat Islam akan berusaha untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu senantiasa taat dalam beribadah dan selalu berhati-hati dalam bertingkah laku dalam hidup dengan mematuhi semua perintah dan larangan yang sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk menghindari dosa. Sehingga menggerakkan hati umat Islam agar selalu memohon perlindungan Allah SWT agar dapat terhindar dari perbuatan-perbuatan dosa.

Sikap ini juga membuat umat Islam tidak merasa kepedean terhadap amalan yang sudah dilakukannya, sehingga terhindar dari sifat sombong bahwa iman dan amal perbuatannya sudah paling benar di mata Tuhan sehingga merasa keselamatan sudah pasti didapat. Rasa takut dan waspada terhadap dosa membuat umat Islam selalu rendah hati kepada sesama manusia, dan rendah diri dihadapan Tuhan sekaligus membangkitkan usaha menutupi kekurangannya sebagai makhluk yang sering khilaf dan salah dengan perbuatan-perbuatan baik.

(Ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar. (QS. At Taghaabun .9)


  1. Sikap Arif
Ini merupakan sikap yang terbaik, yaitu yang menyadari betapa besar anugerah dan jasa yang telah diperolehnya dan betapa bijaksana Tuhan dalam segala ketetapan dan perbuatan-Nya. Kesadaran ini mendorong sang Arif untuk beribadah dan melakukan segala aktifitasnya sebagai “balas jasa”; bukan karena mengharap imbalan surgawi dan juga bukan karena takut neraka. Dari kesadaran akan kebijaksanaan Tuhan, ia yakin di manapun ia ditempatkan pasti penempatan tersebut baik. Apalagi sang Arif menyadari pula bahwa dialah yang memperoleh manfaat ibadah yang dilakukannya, dan Tuhan tidak sedikitpun memperolehnya.

Sikap ini muncul jika seseorang telah benar-benar memahami makna penciptaan dirinya sebagai manusia seperti yang telah difirmankan Allah SWT dalam Al Qur’an:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzaariya.56)

Jadi berbakti atau beribadah kepada Allah SWT merupakan tujuan manusia tersebut diciptakan, sehingga sudah sepantasnya manusia menyadari dan lebih mengutamakan amal ibadahnya tersebut dipersembahkan sebagai wujud kodratnya sebagai manusia daripada mengharapkan balasan surgawi atau untuk terhindar dari siksa neraka. Yang diharapkan cukup Allah selalu meridhoi semua tindakannya di dunia ini.
Amal ibadah tersebut dilakukannya sebagai wujud syukur atas kenikmatan yang telah diberikan Allah terhadap dirinya:

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An Nahl.78).

Dengan demikian Allah SWT mengajarkan juga bahwa manusia memang sudah sepantasnya bersyukur dan mengabdi kepada-Nya atas segala kenikmatan yang telah diberikan kepada manusia tersebut. Allah menciptakan manusia untuk beribadah, dan ibadah juga merupakan ungkapan rasa syukur karena telah dijadikan sebagai manusia. Seperti Oxygen, Allah menjadikan manusia harus menghirup Oxygen untuk dapat bertahan hidup, dan manusiapun merasa bersyukur akan penciptaan Oxygen tersebut. Sehingga ibadah menjadi suatu kebutuhan sama seperti manusia membutuhkan Oxygen.

Ibadah memang sudah semestinya dilakukan manusia dengan ikhlas dan bukan harus menunggu mendapat janji-janji kepastian keselamatan surgawi dari Tuhan barulah manusia mau bersyukur dan mengabdi kepada-Nya. Dengan motivasi ini menjadikan umat Islam merasa dekat dengan Tuhan, dan mengabdi dengan penuh kerendahan dan segenap hati. Amal Ibadahnya dipersembahkan dengan benar-benar ikhlas tanpa mengharap imbalan keselamatan dan dilakukan dengan sebatas kemampuannya sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya tanpa berlebih-lebihan demi mendapatkan pahala yang banyak.

Dan jika seseorang telah berfikir Arif, maka mengenai urusan keselamatan sang Arif berserah diri sepenuhnya terhadap kehendak dan ketetapan Allah. Dalam Islam inilah yang disebut dengan Tawakal. Meyakini sepenuhnya bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Adil dan Maha Bijaksana akan semua ketetapan-Nya. Jadi, cukuplah Allah yang menentukan kelak siapa yang akan diselamatkan oleh-Nya. Tidak perlu ada janji-janji tertulis dalam Kitab Suci akan jaminan keselamatan barulah benar-benar percaya kepada-Nya. Tanpa itu pun, seorang yang Arif tetap yakin Allah mengetahui mana Hamba-Hamba-Nya yang kelak pantas mendapatkan anugerah keselamatan tersebut. Sehingga dengan tidak berprasangka buruk akan Keadilan Tuhan menjadikan imannya semakin sempurna. Seperti firman Allah SWT dalam Al Qur’an:

Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu, dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu. (QS. Az Zumar.7).

Ucapan “insya Allah” yang diucapkan oleh seorang Muslim ketika ditanya apakah dia termasuk golongan orang yang mendapat keselamatan atau tidak, sering disalahartikan oleh umat non Muslim terutama umat Kristen sebagai Keraguan atau Ketidakpastian Keselamatan dalam Islam. Ini suatu kekeliruan yang besar. Ucapan “insya Allah” merupakan wujud sikap Tawakal seorang Muslim yang mewakilkan urusan keselamatan dirinya tersebut sepenuhnya hanya kepada Ketetapan Allah. Justru itu merupakan Keyakinan Terbesarnya akan kebenaran Kekuasaan dan Keadilan Tuhan. Firman Allah SWT dalam Al Qur’an:

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (QS. At Taubah.51).

Demikianlah cara Allah SWT dalam memotivasi hamba-hamba-Nya untuk mengabdi kepada-Nya. Adalah Hak Allah untuk menentukan bagaimana caranya membuat Hamba-Hamba-Nya mendekat kepada-Nya.
Seperti seorang Pemimpin sebuah perusahaan yang memotivasi karyawannya dengan hadiah bonus dan kenaikan gaji bagi yang disiplin dan tekun bekerja, atau dengan memberikan ancaman pemutusan hubungan kerja bagi mereka yang sering mangkir dan tidak beres dalam pekerjaannya. Salahkah seorang pemimpin perusahaan memberikan motivasi tersebut? Bukankah memang sudah menjadi Hak seorang Pemimpin menentukan cara bagaimana memotivasi karyawannya? Namun terlepas dari motivasi-motivasi tersebut, bukankah setiap karyawan seharusnya menyadari bahwa dirinya dipekerjakan memang untuk disiplin dan tekun bekerja? Bukankah sudah seharusnya sikap disiplin dan tekun bekerja harus diterapkan tanpa harus menunggu janji bonus dan ancaman? Demikian persamaannya jika dimisalkan dengan motivasi dalam dunia kerja.

KESALAHPAHAMAN TERHADAP MOTIVASI IBADAH DALAM ISLAM

Dari ketiga motivasi ibadah yang diberikan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya Muhammad saw tersebut, banyak dari umat Non Muslim terutama umat Kristen salah paham terhadap ajaran Motivasi 1 dan 2 dalam Islam sebagai syarat utama dalam memperoleh Keselamatan dalam Islam. Sehingga kebanyakan dari mereka menganggap bahwa umat Islam harus terpaksa mengumpulkan amal ibadah sebanyak-banyaknya untuk dapat selamat masuk ke surga dan terbebas dari siksa neraka. Itu disebabkan mereka hanya membaca ayat-ayat Al Qur’an hanya sepotong-sepotong, terutama hanya yang berkaitan dengan motivasi 1 dan 2, lalu mereka menyimpulkan sendiri bahwa hanya itulah jalan keselamatan yang ditawarkan Allah SWT dalam Islam.

Padahal jika mereka mau mempelajari Al Qur’an dan Hadits, maka insya Allah mereka akan mengerti apa maksud dan tujuan motivasi-motivasi tersebut Allah berikan dan bagaimana Konsep Keselamatan yang sebenarnya dalam ajaran Islam. Yaitu Konsep Keselamatan yang pasti namun tidak mematikan motivasi penganutnya untuk tetap berusaha berbuat kebajikan dan beramal shaleh sesuai tuntunan syariat Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebuah konsep yang tidak membingungkan dan tidak juga berisi janji-janji manis namun terbentur dengan praktek kehidupan manusia.

RIDHA TUHAN DAN ANUGERAH KESELAMATAN

Setiap Muslim yang ditanya apakah yang dicarinya di dunia ini? Maka jawabannya adalah untuk mencari keridhaan Allah.

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS. Albaqarah.207).

Dengan mendapat ridha Allah maka akan mendatangkan Cinta dan Kasih Allah. Dan tanpa perlu diminta dan diharap sekalipun sudah barang tentu Allah akan memberikan Rahmat-Nya berupa Anugerah Keselamatan kepada orang yang dicintai-Nya. Jadi mendapatkan ridha Allah adalah tujuan hidup yang paling utama.

Memang benar bahwa dalam Islam diajarkan bahwa dengan melakukan amalan-amalan tertentu seperti shalat, puasa, shadaqah dan amalan baik lainnya dapat menghapus dosa. Inilah merupakan motivasi Allah agar manusia selalu rajin berbuat amal ibadah dan berbuat kebajikan di dunia. Karena setiap orang meskipun telah beriman namun belum tentu dirinya lepas dari kesalahan dan kekhilafan. Namun demikian Allah SWT tidak mengatakan bahwa Hanya dengan amalan-amalan tersebut barulah dosa-dosa akan diampuni. Dan Allah SWT juga tidak pernah mengatakan untuk menghapus dosa-dosa besar dan banyak maka harus melakukan amalan yang besar dan banyak pula.

Banyak cara menuju keridhaan Allah. Dan hanya Dialah yang menentukan amalan yang bagaimana yang diridhai oleh-Nya dan dapat menjadikan seorang pendosa yang bertaubat dirahmati dengan diampuni dosa-dosanya.

Allah mengazab siapa yang dikehendaki-Nya, dan memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan. (QS. Al 'Ankabuut .21).

Bisa jadi seorang yang dosa-dosa besarnya sangat banyak bagai pasir di pantai, namun jika kemudian dia bertaubat dan sungguh-sungguh, lalu melakukan amal ibadah berdasarkan motivasi-motivasi Al Qur’an sehingga Allah meridhai usahanya tersebut dan mengampuni semua dosa dan kesalahannya dan menggantikan dengan pahala yang berlipat ganda. Namun bisa jadi pula seorang yang banyak melakukan dosa-dosa besar, lalu kemudian bertaubat dan hanya karena melakukan sebuah kebaikan kecil sudah mendatangkan ridha Allah dan membuat dirinya mendapat ampunan terhadap semua dosanya. Seperti sebuah riwayat hadits berikut ini:

Hadis riwayat Abu Hurairah رضي الله عنه: ia berkata:Dari Nabi صلی الله عليه وسلم bahwa pada suatu hari yang sangat panas seorang wanita pelacur melihat seekor anjing sedang mengelilingi sebuah sumur sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Ia kemudian melepas sepatu kulitnya (untuk mengambil air sumur yang akan diminumkan kepada anjing), lalu wanita itu diampuni dosanya (Sahih Muslim)

Dari kisah ini maka dapat dilihat betapa luasnya Rahmat Allah tersebut. Merupakan kesalahpahaman jika menyangka untuk mendapatkan Rahmat Allah maka satu-satunya cara adalah dengan melakukan amalan yang banyak pula.
Oleh karena setiap Muslim tidak mengetahui apakah amal perbuatannya sudah diridhai oleh Allah atau tidak, dan karena Rahmat Keselamatan adalah Anugerah yang masih merupakan hadiah kejutan bagi mereka yang mengharapkannya, justru menjadikan setiap Muslim semakin termotivasi untuk berusaha mendapatkannya dengan mengikuti segala petunjuk yang diberikan Allah dan Rasul-Nya.
Wallahu a’lam

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

1 komentar:

Agit Naeta mengatakan...

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An Nahl.78).


ini membuat saya meneteskan air mata