Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6


 Oleh : Muhammad Rizki

Tulisan Ini dibuat bukan bertujuan untuk menghina atau Menistakan agama tapi menjawab dari
Salah satu Pertanyaan Kaum Orientalis tak Henti hentinya menggencarkan Serangan Untuk Memurtadkan umat Islam ini salah Satunya  
sebagai Berikut :

Penggugat Islam ==>

Mengapa Allah Swt menajiskan wanita yang sedang menstruasi?
Akibatnya wanita batal sembahyahnya dan nggak boleh ikut puasa??
Sebenarnya siapa yang menciptakan menstruasi? Bukankah itu diciptakan baik adanya? Tapi mengapa Allah menajiskannya?



Untuk Membentengi Kristenisasi, saya Bertujuan akan Menjawabnya

Salah satu Hadis yang Dinukilkan adalah
Dari Abu Said Al-Hudri, Rasulullah saw bersabda,”….Bukanlah jika (seorang wanita) haid ia tidak shalat dan tidak puasa??” (HR. Bukhari dan Muslim).

Penghujat Islam Berkata : bahwa wanita Itu dinajiskan karena Sedang MensTruasi

Jawab
Pikiran Feminis Ini berkeyakinan bahwa  Wanita itu Najis Dan dianggap  Berdosa karena HAID  Berasal  dari Pengaruh Doktrin ajaran mereka yang sudah lama tertanam didalam benak mereka selama bertahun-tahun dan mencoba memasukan keyakinannya kedalam ajaran Islam

sesuai dijelaskan pada Kitab Mereka:

Imamat
15:21 Setiap orang yang kena kepada tempat tidur perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan IA MENJADI NAJIS sampai matahari terbenam.

15:30 Imam harus mempersembahkan yang seekor sebagai korban PENGHAPUS DOSA dan yang seekor lagi sebagai korban bakaran. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, KARENA lelehannya yang najis itu. (imamat 15:19-30) 

Sungguh Berbeda Dengan ajaran Islam 
penuduh sangat keliru dalam memahami ajaran Islam
Islam tidak Pernah Menganggap bahwa Wanita Haid itu adalah Najis sebagaimana Nabi Muhammad Bersabda

Umat Islam tidak Najis

Sesungguhnya mukmin itu tidak najis.” (HR. Al-Bukhari no. 283 dan Muslim no. 371) 

 yang Najis itu adalah Darah yang Keluar selama Haid sebagaimana Firman Allah

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”.... (Al-Baqarah: 222)


Mengapa Allah Melarang Wanita Haid Untuk shalat dan Berpuasa 

Perlu Diketahui
Setiap yang Allah perintahkan atau larang pasti terdapat hikmah atasnya. Jika Allah mengharamkan sesuatu pasti terdapat keburukan di dalamnya, jika Allah menghalalkan sesuatu pasti ada kebaikan di dalamnya untuk kelangsungan hidup manusia di bumi ini.

“Dan (Allah) menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (Al-A’raaf: 157) 


Sejumlah studi medis moderen membuktikan bahwa gerak badan dan olah raga seperti shalat sangat berbahaya bagi wanita haid. Sebab wanita yang sedang shalat, ketika sujud dan ruku akan meningkatkan peredaran darah ke rahim. Sel-sel rahim dan indung telur seperti sel-sel limpa yang menyedot banyak darah.

wanita yang haid, jika menunaikan shalat akan kehilangan darah secara terus menurus dalam kurun waktu 3-7 hari. Lamanya tergantung siklus Haid masing-masing, dan banyaknya darah yang keluar berkisar antara 34 mili litern menyebabkan banyak darah mengalir ke rahimnya dan Kehilangan darah yang terus menerus juga mengakibatkan perempuan lebih gampang lelah, memiliki kadar emosi yang naik turun, serta rentan terkena anemia karena melalui darah yang keluar tersebut ia kehilangan mineral zat besi  yang sangat penting bagi tubuh.. Kadar yang sama pada cairan lainnya. Jika wanita haid menunaikan shalat, zat imunitasnya di tubuhnya akan hancur. Sebab sel darah putih berperan sebagai imun akan hilang melalui darah haid.



Jika seorang wanita shalat saat haid, maka ia akan kehilangan darah dalam jumlah banyak. Ini berarti akan kehilangan sel darah putih. Jika ini terjadi maka seluruh organ tubuhnya seperti limpa dan otak akan terserang penyakit.

Mungkin inilah hikmah besar di balik larangan syariat agar wanita haid untuk shalat hingga ia suci. Al-Quran dengan sangat cermat menyebut

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.” (Al-Baqarah: 222)

Lalu Mengapa Wanita juga Dilarang Berpuasa

Wanita tidak dianjurkan untuk Berpuasa dikarenakan Untuk Menjaga Asupan Gizi makanan yang ada didalam tubuhnya dan Kesehatan fisiknya  disebabkan karena Kehilangan Banyak Darah yang keluar membuatnya Gampang Lelah, memiliki kadar emosi yang naik turun, serta rentan terkena anemia

Para medis menganjurkan agar ketika dalam keadaan haid, wanita banyak beristirahat dan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Agar darah dan logam (magnesium, zat besi) dalam tubuh yang berharga tidak terbuang percuma.

Selama masa Haid ini, seorang perempuan seharusnya lebih memperhatikan asupan gizi dan kondisi kesehatan fisiknya. Seperti makan makanan kaya zat besi (contohnya bayam, daging-dagingan, dan ati ampela), makanan tinggi protein (contohnya telur dan ikan), makanan tinggi serat (sayur berdaun dan buah-buahan), dan sumber vitamin C yang membantu penyerapan zat besi dalam tubuh. Dalam kondisi tertentu, perempuan juga dianjurkan mengonsumsi tablet tambah darah yang kaya akan zat besi untuk membantu proses pembentukan darah  dan mencegah anemia.

Nah, bisa dibayangkan kalau saja perempuan yang sedang Haid masih diwajibkan berpuasa, bakal banyak perempuan yang K.O dan menderita anemia kronis karena sepanjang hdupnya ia harus berpuasa disaat seharusnya ia membutuhkan asupan nutrisi dan zat besi yang cukup untuk kesehatan tubuhnya.

 Inilah hikmah besar, kenapa ketika haid wanita dilarang melakukan puasa. 

Sungguh sempurna syariat Islam, ini salah satu dari kebesaran Allah, kenapa wanita haid dilarang melaksanakan shalat Dan Puasa

Wanita Haid jangan Bersedih. Allah akan Mengganjarnya dengan Pahala

Nabi Muhammad SAW Bersabda

Apabila seorang hamba mengalami sakit atau safar (sehingga meninggalkan amalan sunah) maka dia tetap dicatat mendapatkan pahala sebagaimana amalan yang dia lakukan ketika mukim (tidak safar) atau ketika sehat.” (HR. Bukhari 2996).

Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan,

Sabda Nabi Muhammad SAW Bersabda

“Dia tetap dicatat mendapatkan pahala sebagaimana amalan yang dia lakukan ketika mukim dan sehat”

Jadi Para wanita, Allah melarang mu Shalat dan Berpuasa bukan mendriskiminasi atau Merendahkan kaum Wanita. tapi ada maksud yang Baik untuk Dirimu. maka syukurilah setiap nikmat Allah apapun bentuknya. Tidak bisa menjalankan puasa karena lagi dapet pun merupakan salah satu bentuk nikmat dan kasih sayang Tuhan lho.

Biar Adilpun Kita Bahas BIBLE

BIBLE MEMANDANG BAHWA WANITA HAID ITU ADALAH NAJIS, YANG DISENTUHNYA JUGA NAJIS SERTA PERLU DIASINGKAN BAHKAN DIANGGAP BERDOSA KARENA MENGELUARKAN HAID. DAN SETELAH SELESAI HAID WANITA HARUS MEMPERSEMBAHKAN KORBAN
imamat:
15:19. Apabila seorang perempuan mengeluarkan lelehan, dan lelehannya itu adalah darah dari auratnya, ia harus tujuh hari lamanya dalam cemar kainnya, dan setiap orang yang kena kepadanya, MENJADI NAJIS sampai matahari terbenam.

15:20 Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya MENJADI NAJIS juga.

15:21 Setiap orang yang kena kepada tempat tidur perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan IA MENJADI NAJIS sampai matahari terbenam.

15:22 Setiap orang yang kena kepada sesuatu barang yang diduduki perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh diri dengan air dan IA MENJADI NAJIS  sampai matahari terbenam.

15:23 Juga pada waktu ia kena kepada sesuatu yang ada di tempat tidur atau di atas barang yang diduduki perempuan itu, IA MENJADI NAJIS  sampai matahari terbenam.

15:24 Jikalau seorang laki-laki tidur dengan perempuan itu, dan ia kena cemar kain perempuan itu, maka ia menjadi najis selama tujuh hari, dan setiap tempat tidur yang ditidurinya MENJADI NAJIS  juga.

15:25 Apabila seorang perempuan berhari-hari lamanya mengeluarkan lelehan, yakni lelehan darah yang bukan pada waktu cemar kainnya, atau apabila ia mengeluarkan lelehan lebih lama dari waktu cemar kainnya, maka selama lelehannya yang najis itu perempuan itu adalah seperti pada hari-hari cemar kainnya, yakni IA NAJIS.

15:26 Setiap tempat tidur yang ditidurinya, selama ia mengeluarkan lelehan, haruslah baginya seperti tempat tidur pada waktu cemar kainnya dan setiap barang yang didudukinya menjadi najis sama seperti kenajisan cemar kainnya.

15:27 Setiap orang yang kena kepada barang-barang itu menjadi najis, dan ia harus mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air, dan IA MENJADI NAJIS  sampai matahari terbenam.

15:28 Tetapi jikalau perempuan itu sudah tahir dari lelehannya, ia harus menghitung tujuh hari lagi, sesudah itu barulah ia menjadi tahir.

15:29 Pada hari yang kedelapan ia harus mengambil dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati dan membawanya kepada imam ke pintu Kemah Pertemuan.

15:30 Imam harus mempersembahkan yang seekor sebagai korban penghapus dosa dan yang seekor lagi sebagai korban bakaran. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, karena lelehannya yang najis itu. (imamat 15:19-30)

Semoga Bermanfaat bagi semuanya dan menjadi salah satu pintu Hidayah bagi para Penghujat Islam Mau menerima Kebenaran Islam. Insya Allah

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

11 komentar:

masaru mengatakan...

Kata "NAJIS" (Ibrani טמא - "TAME") dalam Alkitab merujuk kepada sesuatu yang kotor. Kebersihan jasmani dalam kehidupan umat Israel sangat dihargai dan juga diterapkan di negeri-negeri yang disebut dalam Alkitab. Herodotus menyatakan bahwa imam-imam di Mesir mandi dua kali tiap hari, dan dua kali tiap malam. Di Israel sendiri kebersihan jasmani membuat orang siap menghadap hadirat Allah.
Jadi keadaan "NAJIS" atau "TIDAK TAHIR" tidak selalu merujuk kepada suatu perbuatan dosa, tetapi "NAJIS" yang dibahas dalam Imamat pasal 15 adalah mengenai kebersihan badan dalam kaitannya dengan "kesucian" seksual.

masaru mengatakan...

Bukan dosa dalam artian "berbuat dosa", tetapi kurban diberikan sebagai upacara PENTAHIRAN SETELAH MASA CEMAR. Penjelasannya sbb :
2. PEREMPUAN YANG MENGELUARKAN LELEHAN DARI ORGAN SEKSUALNYA :



a. Lelehan keluar karena faktor alamiah :


MITSVOT ke-572 : WANITA YANG MENSTRUASI, NAJIS DAN MENAJISKAN YANG LAINNYA (Imamat 15:19-24), reff 613-mitsvot-vt218.html#p429


Lihat Imamat 15:19-24. Suatu lelehan yang keluar dari organ seksual perempuan dan terjadi karena factor alamiah (menstruasi), selama masa cemar (NAJIS) berlaku peraturan yang sama seperti dalam Imamat 15:2-10. Dalam hal ini tidak perlu ada persembahan kurban.



b. Lelehan keluar dengan tidak semestinya:


MITSVOT ke-573 : WANITA MENSTRUASI YANG MASIH MENGELUARKAN LELEHAN, NAJIS
(Imamat 15:1-15), reff 613-mitsvot-vt218.html#p429


Imamat 15:25-30 menyebutkan keluarnya lelehan dari organ seksual perempuan yang melebihi "masa cemar" yang lazim (misalnya sakit pendarahan/ kelainan hormonal tubuh yang menyebabkan lelehan keluar dengan tidak semestnya) dianggap sama dengan penyakit yang dibahas dalam Imamat 15 ayat 2-15. Dalam hal ini, selepas dari kecemarannya, perempuan ini harus mempersembahkan kurban penghapus dosa dan kurban bakaran.


---


Lelehan yang keluar dengan tidak semestinya yang dikategorikan "sebuah penyakit", baik pada laki-laki atau perempuan, pada kedua peristiwa ini dikatakan bahwa para imam harus mengadakan pendamaian dengan perantaraan korban-korban itu. Apapun sifat kenajisan itu, tiap orang yang menyentuh "orang yang cemar" atau menyentuh "barang najis bekas dipakai/ disentuh orang yang cemar", harus mandi dan mencuci pakaiannya dan iapun menjadi najis sampai petang hari.

Dalam Perjanjian Baru kita mengenal kisah seorang perempuan yang 12 tahun sakit pendarahan (Matius 9:20-22), yang tentu saja menurut Hukum Taurat si perempuan ini "NAJIS" dan apapun yang dia sentuh juga "NAJIS", tetapi karena iman dan keinginan untuk sembuh, ia yang "najis" memberanikan dirinya menyentuh jubah Tuhan Yesus. Hasilnya justru si perempuan inilah yang menjadi TAHIR karena menyentuh Yesus Kristus yang empunya TAHIR. Haleluyah.

masaru mengatakan...

Semoga jelas, di Alkitab ada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Perjanjian Baru dimulai dengan adanya Yesus Kristus yang justru untuk menggenapi Hukum taurat dan Perjanjian Lama.

Jika kita lihat di Islam, ayat mengenai haids bertentangan. Di ayat yg satu dibilang yang Najis adalah darah yg keluar selama Haid. Dan di ayat yg lain adalah haid adalah suatu kotoran. Jadi apakah ini jelas, atau anda akan menggunakan penjelasan seperti yg tertera di Alkitab?

Stain Remover mengatakan...

@masaru
Kata "NAJIS" (Ibrani טמא - "TAME") dalam Alkitab merujuk kepada sesuatu yang kotor...
Jadi keadaan "NAJIS" atau "TIDAK TAHIR" tidak selalu merujuk kepada suatu perbuatan dosa, tetapi "NAJIS" yang dibahas dalam Imamat pasal 15 adalah mengenai kebersihan badan dalam kaitannya dengan "kesucian" seksual.

---

Jawab : kalau tidak dosa ya tidak dosa bukan "tidak selalu", karena dengan jelas pada ayatnya menyatakan bahwa si penderita kenajisan harus menghapus dosanya:

Imamat 15:14-15

14. Pada hari yang kedelapan ia harus mengambil dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, dan datang ke hadapan TUHAN, ke pintu Kemah Pertemuan, dan menyerahkan burung-burung itu kepada imam.

15. Lalu imam harus mempersembahkannya, yang seekor sebagai korban penghapus dosa dan yang seekor lagi sebagai korban bakaran. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN karena lelehannya.

---

@masaru
...Lihat Imamat 15:19-24. Suatu lelehan yang keluar dari organ seksual perempuan dan terjadi karena factor alamiah (menstruasi), selama masa cemar (NAJIS) berlaku peraturan yang sama seperti dalam Imamat 15:2-10. Dalam hal ini tidak perlu ada persembahan kurban..

Jawab : Tapi kenajisan yang menular tetapkan....hehehe

20. Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis juga.

21. Setiap orang yang kena kepada tempat tidur perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

Stain Remover mengatakan...

@masaru
...Imamat 15:25-30 menyebutkan keluarnya lelehan dari organ seksual perempuan yang melebihi "masa cemar" yang lazim (misalnya sakit pendarahan/ kelainan hormonal tubuh yang menyebabkan lelehan keluar dengan tidak semestnya) dianggap sama dengan penyakit yang dibahas dalam Imamat 15 ayat 2-15. Dalam hal ini, selepas dari kecemarannya, perempuan ini harus mempersembahkan kurban penghapus dosa dan kurban bakaran...

Jawab : weleh-weleh udah dianggap 'sakit' masih berdosa pula hingga harus mempersembahkah kurban. (sudah jatuh ketiban tangga pula)

---

@masaru
Dalam Perjanjian Baru kita mengenal kisah seorang perempuan yang 12 tahun sakit pendarahan (Matius 9:20-22), yang tentu saja menurut Hukum Taurat si perempuan ini "NAJIS" dan apapun yang dia sentuh juga "NAJIS", tetapi karena iman dan keinginan untuk sembuh, ia yang "najis" memberanikan dirinya menyentuh jubah Tuhan Yesus. Hasilnya justru si perempuan inilah yang menjadi TAHIR karena menyentuh Yesus Kristus yang empunya TAHIR...

Jawab : Yesus bilang gini :

Aku (Yesus) tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yohanes 5:30)

Skenarionya kayaknya cacat deh :

Matius 9:20-22 (pake Yesus berpaling)

20. Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya.

21. Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."

22. Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

----

Markus 5:27-29 (nggak pake berpaling, langsung sembuh)

27. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.

28. Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."

29. Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.

---

Lukas 8:44-47 (lebih dramatis)

44. Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya.

45. Lalu kata Yesus: "Siapa yang menjamah Aku?" Dan karena tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus: "Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau."

46. Tetapi Yesus berkata: "Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku."

47. Ketika perempuan itu melihat, bahwa perbuatannya itu ketahuan, ia datang dengan gemetar, tersungkur di depan-Nya dan menceriterakan kepada orang banyak apa sebabnya ia menjamah Dia dan bahwa ia seketika itu juga menjadi sembuh.

---

dalam satu peristiwa ada 3 adegan yang berbeda...hehehe

Stain Remover mengatakan...

@masaru
...Jika kita lihat di Islam, ayat mengenai haids bertentangan. Di ayat yg satu dibilang yang Najis adalah darah yg keluar selama Haid. Dan di ayat yg lain adalah haid adalah suatu kotoran. Jadi apakah ini jelas, atau anda akan menggunakan penjelasan seperti yg tertera di Alkitab?...

Jawab : Itu bahkan sudah kau jawab dalam postingan kamu sendiri.

Kata "NAJIS" (Ibrani טמא - "TAME") dalam Alkitab merujuk kepada sesuatu yang kotor dan karena ayat itu bercerita tentang haid sudah pasti yang dimaksud adalah darah itu...masa nggak jelas...hehehe

Reka Amelia mengatakan...

terimakasih untuk infonya. sangat bermanfaat :)

denmas_yono mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
denmas_yono mengatakan...

mantap neh jawabannya....islam yang jelas paling lengkap, dibanding kristen....dalam kristen klo pun ada yang serupa hadis...pasti sedikit karena masa kenabian as yang tertulis dalam alkitab cuma paling lama 6 tahun ga sampai selama kenabian Muhammad saw.

Mayasari Mansur mengatakan...

@Stain Remover : very nice point on your "answer" to masaru comment.

@masaru : tidak ada pertentangan di dalam Al Quran maupun Hadits shahih atau antara keduanya bro...Kenapa kamu tak berkaca pada kitabmu sendiri???

riyono rio mengatakan...

Kitab (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (Qs AL BAQARAH:2)

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
(QS. Al-Qamar: 49)

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" Qs FUSHSHILAT:53)

Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya. (QS. 12:105)