Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6


Diskusi ini bermula dari membahas soal kanonisasi alkitab ketika saya bertanya :"Apa dasar ilmiah yang dipakai untuk melakukan kanonisasi Alkitab, sehingga disaat para pendeta gereja awal dihadapkan dengan banyaknya kitab yang merujuk kepada ajaran Yesus, lalu menetapkan satu kitab dimasukkan dalam alkitab dan yang lainnya ditolak sebagai apokripa..?". Lalu karena pihak Kristen memperbandingkan dengan proses 'kanonisasi' Al-Qur'an, akhirnya topiknya dipecah, yang satu meneruskan soal pembahasan alkitab, dan dibuat topik baru terkait soal Al-Qur'an. 

Terdapat beberapa kata yang saya sempurnakan, terutama untuk postingan dari Jimmy Jeffry karena sering memakai singkatan, misalnya ; utk, ttg, bhw, saya lengkapi sesuai kaedah bahasanya. Selain itu saya hanya mengutip pembahasan yang terkait dengan judul diatas, postingan yang merupakan 'selingan', baik yang disampaikan oleh kedua pembahas maupun pihak lain, tidak saya cantumkan disini. 

Berikut ini diskusi terkait proses kodifikasi Al-Qur'an.. 

Jimmy Jeffry : Kita bisa saja memberi penilaian terhadap otentitas setiap kitab-kitab itu, sudah tentu harus mengacu pada data yang ada, bukan pada asumsi semata, apalagi telah apriori dengan kepalsuannya tanpa dasar yang jelas. Jika Quran menjadi standing point atas asumsi itu, seandainya dalam kajian detail & ilmiah berdasarkan data sejarah (catatan-catatan kuno) & arkeologi (manuscript, inkripsi kuno, dll) tuduhan kepalsuan itu tidak kuat, maka konsekuensinya standing point tuduhan itu harus dipertanyakan. 

Arda Chandra : Pertanyaan saya soal dasar kaedah ilmiah sebenarnya untuk mengetahui apakah dalam menyeleksi kitab-kitab yang ada pada waktu itu bisa juga diuji oleh orang-orang yang datang belakangan berdasarkan kaedah yang sama. Saya mencontohkan misalnya dalam menyeleksi hadits, Bukhari cs ketika mendapati adanya ratusan ribu hadits yang semuanya diakui merujuk kepada nabi Muhammad, lalu melakukan seleksi, mana yang benar-benar merupakan catatan tindakan dan omongan Rasulullah dan mana yang bukan. Mereka memakai metode isnad (rantai periwayatan) dan matan (isi hadits). Sampai sekarang setiap orang dipersilahkan untuk menguji validitas hasil pekerjaan Bukhari cs tersebut dengan memakai metode ilmiah yang sama, kalau memang memiliki ilmunya, dan banyak kejadian apa yang dishahihkan oleh Bukhari cs dipertanyakan oleh ulama hadist yang datang belakangan. 

Tidak tepat kalau anda memperbandingkan kanonisasi alkitab dengan Al-Qur'an, yang lebih tepat dan memiliki karakter yang sama adalah memperbandingkannya dengan 'kanonisasi' hadits. dan perlu anda ketahui soal sikap kami terhadap hadits, bahwa umat Islam tidak akan mengatakan menerima seluruh hadits sebagai sumber yang sah, juga sebaliknya tidak menolak seluruh hadits sebagai sumber yang tidak sah. Bahkan dalam menerima hadits ada tingkatannya : shahih, hasan, dll. Beda dengan penerimaan Kristen terhadap alkitab... 


Jimmy Jeffry : Anda menganggap kurang tepat membandingkan kanonisasi Alkitab dengan Quran dan menurut anda lebih tepat dibandingkan dengan kanonisasi hadist. Saya kira anda justru kurang tepat, karena Alkitab lebih cocok dibandingkan dengan Quran+Hadist. Jika anda mau mengkajinya secara jernih & ilmiah, maka Quran pun anda harus perlakukan sama sebagai salah satu kitab-kitab kuno. Bukankah ada sejarah kanonisasi Quran khususnya pada masa Usman? Bahkan sebagaimana Alkitab, Quran pun bisa dikaji manuscriptnya (topkapi, sana etc) dan berbagai kaitannya dengan ajaran/dokumen kuno lainnya pra Islam seperti Sabian Mandaean dll. 

Kajian Isnad (chain of transmission) dan matan (content) bukanlah hal yang asing dalam studi Alkitab. Malah studi Alkitab lebih kaya lagi dengan kajian chain of transmission atau silsilah dari manusript-manuscript Injil yang jumlahnya ribuan. Ada ribuan kutipan-kutipan bapa gereja yang bisa mengkoroborasi otentitas sebuah kitab dsb. Dalam kajian content (matan) telah dikenal dengan istilah hermeneutika/eksegese dsb. Melalui kajian inipun hasil kanonisasi PB oleh bapa-bapa gereja justru mendapat pembenaran ilmiah bahwa injil kanon itu benar-benar otentik, demikian pula sebaliknya injil Petrus dsb sebagai apokriph memang bukan berasal dari para rasul melainkan tulisan heretics abad 2 dst. 

Arda Chandra : Yang dilakukan umat islam untuk meneliti hadits dari aspek matan adalah dengan selalu berpedoman kepada Al-Qur'an. Jadi pemahaman terhadap hadits tidak datang dari ruang hampa, melainkan dibawah koridor Al-Qur'an. Anda juga telah salah menyatakan bahwa Al-Qur'an dikanonisasi dijaman Usman, karena kannonisasi Al-Qur'an sudah terjadi dijaman Rasulullah, beliau yang memerintahkan susunan ayat dan surat. Yang belum ada itu adalah Al-Qur'an sudah ditulis dalam bentuk mushaf yang terkumpul (sudah dilakukan dijaman Abu bakar sebelum Usman). Jadi yang terjadi dijaman Abu Bakar atau Usman adalah kodifikasi, bukan kanonisasi. 

Al-Qur'an bisa saja dikaji berdasarkan manuskrip seperti halnya alkitab, namun penyebaran Al-Qur'an intinya melalui transmisi lisan, ustadz membunyikan ayat, si murid mendengar dan meniru bunyi, begitu yang terjadi turun-temurun sampai jaman sekarang. Jadi saya belajar Al-Qur'an bukan murni melalui tulisan Arab yang keriting-keriting diatas kertas, tapi ada ustadz didepan saya yang membunyikan suara, lalu suara tersebut saya tiru. Tulisan/huruf hanyalah berfungsi sebagai alat bantu transmisi bunyi tersebut. Makanya saya mengatakan tidak sama proses yang terjadi dalam alkitab dengan Al-Qur'an. 

Jimmy Jeffry : Dengan penjelasan anda ini, jelaslah bahwa Quranpun punya proses kanonisasi sebagaimana terjadi dengan Alkitab. Term kanonisasi & kodifikasi bersifat interchangeable, kodifikasi itu sendiri adalah proses penyusunan buku atau Codex/mushaf. Karena kita lagi bahas kanonisasi Alkitab maka saya kira bukan hal yang keliru secara substansi menyebut proses kanonisasi Quran khususnya pada masa Usman. Kata "khususnya" hanya penekannnya saya saja, karena memang proses kanonisasi/kodifikasi quran telah terjadi pada masa-masa sebelumnya. 

Quran memang dianggap lebih superior karena dianggap hanya satu versi saja yang ada. Tentu mengacu pada standarisasi edisi Mesir 1924, apakah edisi Mesir satu-satunya versi Quran saat ini? Apakah anda menjamin bahwa isi manucript Quran: Topkapi, Samarkand, Taskhent, Sana'a identik sama persis satu sama lain? Lalu mengapa Usman harus membakar versi-versi lainnya jika semua versi mushaf quran itu sama? dan bagaimana dengan versi Abubakr yang dipegang Hafsa puteri Umar, apakah persis sama dengan versi Usman? 

Arda Chandra : Anda ngotot mengatakan proses kanonisasi Al-Qur'an sampai ke jaman Usman, padahal sudah saya sampaikan fakta bahwa di jaman Abu Bakar sudah dilakukan usaha untuk mengkodifikasi Al-Qur'an dan memunculkan apa yang disebut dengan mushaf Hafsah. Saya sudah menjelaskan bahwa kanonisasi Al-Qur'an terjadi dijaman Rasulullah dan SUDAH SELESAI ketika beliau wafat. Yang dinamakan kanonisasi Al-Qur'an itu adalah penyusunan ayat dan surat sehubungan proses turunnya wahyu terjadi berangsur-angsur selama 23 tahun. Setiap turunnya wahyu, Rasululllah yang memerintahkan wahyu tersebut diletakkan pada surat apa, setelah ayat apa. Ketika beliau wafat, Al-Qur'an sudah tersusun sebagaimana yang ada sekarang, mulai dari surat Al-Fatehah sampai an-Naas, terdiri dari 114 surat, dll. Cuma secara manuskrip, waktu itu memang Al-Qur'an tidak ditulis dalam satu mushaf dengan tulisan yang seragam, tapi berupa cuplikan/fragmen yang tersebar. Terdapat beberapa sahabat yang menulis dalam satu mushaf namun menjadi mushaf pribadi, misalnya yang dimiliki Ibnu Mas'ud dan Ubbay bin Ka'ab. 

Namun ketiadaan mushaf/mansukrip tersebut tidak menjadi masalah karena Al-Qur'an itu disimpan dalam kepala banyak orang berbentuk hapalan. Al-Qur'an juga bukan wahyu yang tertutup yang hanya diketahui oleh beberapa orang saja, tapi merupakan informasi yang terbuka, dibacakan setiap shalat 5 waktu, diulang-ulang membacanya dalam halaqah secara beramai-ramai, saling koreksi antara satu sama lain kalau ada bacaan yang salah. Jadi manuskrip bukan soal yang penting dalam penyebaran Al-Qur'an. 

Anda mengabaikan penjelasan saya tentang penyebaran Al-Qur'an melalui transmisi bunyi, dan masih mengulang soal bukti manuskrip. Sebagai ilustrasi bahwa manuskrip bukanlah hal yang penting dan menentukan dalam penyebaran Al-Qur'an silahkan lihat video ini : 

http://www.youtube.com/watch?v=O6ZL4vs8LGg 

Anak balita ini belum memahami huruf Arab hijaiyah, bahkan mungkin huruf latin bahasa Indonesia dia juga belum mengerti. Dia membaca Al-Qur'an dari ingatannya yang didapat dengan meniru suara yang diperdengarkan oleh ayahnya. Ibarat anak-anak kecil menghapal lagu, mau lagu Inggeris, Korea, Cina, dll, banyak anak-anak yang bisa menyanyikannya dengan fasih, namun tidak mengerti artinya. 

Soal alasan Usman membakar Al-Qur'an bisa dicari, apakah tindakan tersebut bisa mempengaruhi keberadaan Al-Qur'an setelah itu, kita bisa analisa kemungkinan logisnya. Anda boleh saja memusnahkan seluruh naskah teks lagu Indonesia Raya yang ada dimuka bumi ini, namun karena syairnya sudah dihapal oleh banyak orang, maka hari ini anda bakar, besok lusa orang bisa saja menuliskannya kembali tanpa ada kesalahan. Demikian juga dengan tindakan Usman membakar lembaran-lembaran Al-Qur'an yang sudah disalin dalam mushaf Usmani : 

1. Tidak semua mushaf dibakar Usman, mushaf Hafsah yang disusun dijaman Abu Bakar tidak ikut dimusnahkan tapi dikembalikan kepada Hafsah sesuai janji Usman kepada beliau. Mushaf tersebut baru dimusnahkan dijaman Khalifah Muawiyah setelah Hafsah meninggal dunia tahun 45 H. Orang masih punya rujukan tertulis kalau mau membuat mushaf tandingan (kalau memang ada) 

2. Al-Qur'an yang ada dalam kepala para sahabat berupa hapalan tidak ikut terbakar musnah, masih ada dalam kepala setiap orang. Sesuai analogi lagi Indonesia Raya, kalau memang hapalan tersebut berbeda dengan isi mushaf Usmani, maka tentu saja orang-orang akan menulisnya sesuai apa yang ada dalam kepalanya, atau juga mengajarkan sesuai hapalannya dan bukan sesuai mushaf Usmani, karena mushaf Usmani disalin hanya dengan jumlah 6 copy (dalam beberapa riwayat disebutkan 9 copy), tidak semua orang yang membaca Al-Qur'an akan memegang mushaf tersebut. 

Jadi tindakan Usman membakar Al-Qur'an, apapun alasannya, secara logika tidak akan memunculkan pengaruh yang berarti terhadap Al-Qur'an. 

Anda mengatakan 'quran memang dianggap lebih superior karena dianggap hanya satu versi saja yang ada. Tentu mengacu pada standarisasi edisi Mesir 1924'. Yang anda katakan 'standarisasi Mesir 1924' itu adalah ketika Al-Qur'an pertama kali diperbanyak dengan mesin cetak, tentu saja akan menghasilkan jumlah Al-Qur'an yang sama. Namun BACAAN orang sebelum dan sesudah tahun 1924 tidak ada perubahan apa-apa, ayatnya itu-itu juga, jumlah suratnya tetap sama. Bahkan keberadaan Al-Qur'an di Maroko dengan mengikuti qiraah Warsh yang berbeda dengan qiraah di Madinah menunjukkan bahwa 'standarisasi Mesir 1924' tidak menyeragamkan qiraah yang memang diakomodasikan dalam mushaf Usmani. 

Kalau mau merujuk kepada manuskrip, tulisan Arab dijaman khalifah Usman dengan apa yang ada sekarang sudah berbeda. Jaman dulu tidak ada tanda baca 'fattah, dhommah, kashrah' yang menandakan huruf vokal sehingga kalau manusia jaman sekarang mau membaca Al-Qur'an dari manuskrip kuno (apalagi yang bukan Arab) bisa saja membaca, misalnya kata bismillah dengan : basmillah, busmalih, bismaluh, dll. Namun karena Al-Qur'an disebarkan melalui transmisi bunyi, maka tidak akan ada kesalahan membacanya, bahkan sekalipun orang Indonesia sama sekali tidak melihat huruf-hurufnya karena dia membaca dengan meniru bunyi yang didengar. 

Jimmy Jeffry : Maaf pak ini bukan masalah "ngotot" atau tidak, namun cara pandang yang berbeda melihat data sejarah yang ada. Term "kanonisasi" umumnya digunakan dalam studi Alkitab berkaitan dengan proses pengakuan daftar kanon kitab yang diterima gereja mula-mula. Dalam studi Quran umumnya digunakan term "kodifikasi". Jika anda maksudkan kanonisasi (quran) merujuk pada telah lengkapnya surah-surah dalam Quran, it's ok. Namun saya memahaminya term "kanonisasi" dlm pengertian "kodifikasi" yang berarti proses ini masih berlangsung sampai pada masa Usman. Saya kira masalah terminologi ini bukan hal yang substansi.. 

Anda mengklaim bahwa saat wafatnya Muhammad, Quran telah tersusun secara lengkap surah-surahnya yang berjumlah 114, walaupun anda menambahkan Quran tsb belum tertulis dalam satu mushaf dan masih tersebar dalam bentuk fragmen-fragmen. Klaim ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana anda bisa memastikan saat itu telah berjumlah 114 surah, apakah saat wafatnya Muhammad para pengikutnya telah mengetahui jumlah tsb? 

Bukankah pasca kematian Muhammad, Abu Bakr menyuruh Zaid bin Thabit untuk mengumpulkan fragmen-fragmen karena keprihatinan Abu Bakr dengan kematian banyak perawi akibat perang Yamama. Saya kira klaim anda berlebihan melampaui data yang ada... 

Bukhari :: Book 6 :: Volume 61 :: Hadith 509 Narrated Zaid bin Thabit: Abu Bakr As-Siddiq sent for me when the people! of Yamama had been killed (i.e., a number of the Prophet's Companions who fought against Musailama). (I went to him) and found 'Umar bin Al-Khattab sitting with him. Abu Bakr then said (to me), "Umar has come to me and said: "Casualties were heavy among the Qurra' of the! Qur'an (i.e. those who knew the Quran by heart) on the day of the Battle of Yalmama, and I am afraid that more heavy casualties may take place among the Qurra' on other battlefields, whereby a large part of the Qur'an may be lost. Therefore I suggest, you (Abu Bakr) order that the Qur'an be collected." 

Selain itu, apakah saat wafatnya Muhammad semua surah yang akan masuk dalam mushaf telah memiliki nama? Memang dalam hadits beberapa nama surah telah disebutkan, namun ada juga Muhammad tidak menyebutkan nama surahnya. Dapatkah anda menunjuk data dari hadist, sirah atau sejarahwan Islam klasik yang menyatakan bahwa saat wafatnya Muhammad jumlah surah total 114 dan telah ada daftar nama dari surah tsb? Atau justru lebih masuk akal bahwa proses kodifikasi Abubkr s/d Usman yang melengkapi nama-nama surah itu bahkan yang menentukan hasil akhir jumlah surah sesuai pengumpulan/seleksi yang dilakukan Zaid bin Thabit? 

Klaim keakuratan Quran berdasarkan pada oral tradition sepertinya hanya klaim semata tanpa bisa diverifikasi kebenarannya. Apakah ada bukti rekaman audio pada masa Muhammad, Abubakr sampai dengan Usman yang bisa jadi benchmark ketepatan pelafalan quran saat ini? Justru yang hanya bisa diverifikasi adalah data manuscript. Ibarat permainan telepon-telepon (maksudnya pesan berantai - pen) proses oral transmission yang berlangsung ratusan tahun bisa memungkinkan terjadi bias. Saat ini manuscript kuno Quran yang utama adalah Samarkand MSS yang tersimpan di Taskhen dan Topkapi MSS di Istambul? Apakah content manuscript ini sama dengan edisi standard Mesir 1924 yang diklaim berbasis oral tradition? 

Apologi dengan point "memorisation" sepertinya jadi point yg muncul belakangan, terutama pasca telah ada standarisasi Quran edisi Mesir thn 1924. Hafalan-hafalan ini tentu bisa sama karena mengacu pada satu sumber tulisan yang sama/seragam. Nah.. bagaimana jika setback pra thn 1924 saat masih ada beberapa versi quran yang beredar seperti Indian Text, Turkish Text etc?. Videoklip seorang balita yang bisa menghafal quran memang terkesan impresif, tetapi jika dikaji secara cermat ini bukanlah point kuat. Karena banyak juga contoh orang-orang yang bisa menghafal teks-teks yang panjang tertentu. 

Apakah anda bisa menunjukan data dalam hadist mengenai seorang hafis yang menghafalkan seluruh Quran? Kalau memang ada, maka Zaib bin Thabit tentu tidak perlu repot-repot melacak fragmen-fragmen tsb. Atau bisa saja Muhammad membukukan Quran itu berdasarkan ingatannya, namun pada kenyataannya Muhammad sendiri tidak hafal beberapa surah.. 

Bukhari :: Book 6 :: Volume 61 :: Hadith 558 Narrated Aisha: Allah's Apostle heard a man reciting the Qur'an at night, and said, "May Allah bestow His Mercy on him, as he has reminded me of such-and-such Verses of such-and-such Suras, which I was caused to forget." 

Jangan dulu merujuk konteks zaman sekarang, apakah anda bisa menyajikan data tentang seorang hafis yang menghafal seluruh Quran pada masa Usman atau beberapa tahun sesudahnya? Mungkin jika starting pointnya mulai tahun 1924 dan seterusnya, chain of oral transmission bisa terpelihara, namun bagaimana pada era-era sebelumnya? Jelas peluang lost of transmission begitu besar. 

Alasan pembakaran mushaf lainnya oleh Usman tidak bisa sesederhana itu melihatnya. Apalagi point anda tentang "hafalan" kurang kuat seperti yang telah saya uraikan. Pertanyaan kunci yang patut diperhitungkan, mengapa Usman harus membakarnya? anda tidak memberi jawaban yang jelas atas pertanyaan ini. 

Bukhari :: Book 6 :: Volume 61 :: Hadith 510 Narrated Anas bin Malik: Hudhaifa bin Al-Yaman came to Uthman at the time when the people of Sham and the people of Iraq were Waging war to conquer Arminya and Adharbijan. Hudhaifa was afraid of their (the people of Sham and Iraq) differences in the recitation of the Qur'an, so he said to 'Uthman, "O chief of the Believers! Save this nation before they differ about the Book (Quran) as Jews and the Christians did before." So 'Uthman sent a message to Hafsa saying, "Send us the manuscripts of the Qur'an so that we may compile the Qur'anic materials in perfect copies and return the manuscripts to you." Hafsa sent it to 'Uthman. 'Uthman then ordered Zaid bin Thabit, 'Abdullah bin AzZubair, Said bin Al-As and 'AbdurRahman bin Harith bin Hisham to rewrite the manuscripts in perfect copies. 'Uthman said to the three Quraishi men, "In case you disagree with Zaid bin Thabit on any point in the Qur'an, then write it in the dialect of Quraish, the Qur'an was revealed in their tongue." They did so, and when they had written many copies, 'Uthman returned the original manuscripts to Hafsa. 'Uthman sent to every Muslim province one copy of what they had copied, and ordered that all the other Qur'anic materials, whether written in fragmentary manuscripts or whole copies, be burnt. Said bin Thabit added, "A Verse from Surat Ahzab was missed by me when we copied the Qur'an and I used to hear Allah's Apostle reciting it. So we searched for it and found it with Khuzaima bin Thabit Al-Ansari. (That Verse was): 'Among the Believers are men who have been true in their covenant with Allah.' (33.23) 

Memang disebutkan bahwa terjadi perbedaan dalam pelafalan (recitation/qira'ah), namun pelafalan ini mengacu pada tulisan/mushaf yang ada. Kalau hanya sekedar pelafalan maka tidak perlu ada pembakaran, apakah ingatan/hafalan seseorang bisa dibakar? Jelas yang dibakar adalah mushaf yang berbeda-beda tsb yang bukan saja dalam bentuk satu mushaf lengkap termasuk juga dengan fragmen-fragmen yg ada. 

"...Uthman sent to every Muslim province one copy of what they had copied, and ordered that all the other Qur'anic materials, whether written in fragmentary manuscripts or whole copies, be burnt". 

Sekarang kita lihat catatan sejarah Al-Nadim historian Arab kuno dalam bukunya Fihrist. 

"Books Composed About Discrepancies of the [Qur’anic] Manuscripts The Discrepancies between the Manuscripts of the people of al-Madina, al-Kufa, and al-Basrah, according to al-Kisai; book of Kalaf, Discrepancies of the manuscripts; Discrepancies of the People of al-Kufa, al-Basrah and Syria concerning the Manuscripts, by al-Farra’. Discrepancies between the Manuscripts, Abu Da’ud al-Sijistani; book of al-Mada’ini about the discrepancies between the manuscripts and the compiling of the Qur’an; Discrepancies between the Manuscripts of Syria, al-Hijaz, and al-Iraq, by Ibn Amir al-Yahsubi; book of Muhammad ibn ‘Abd Al-Rahman al-Isbahani about discrepancies of the manuscripts." 

So.. ini bukan hanya sekedar perbedaan qira'ah namun justru perbedaan mushaf quran itu sendiri. 

Arda Chandra : Inti dari comment ini adalah pertanyaan : 

1. Apakah bisa dipastikan ketika Rasulullah wafat, susunan surat dan jumlah ayat Al-Qur'an sama seperti sekarang.. 
2. Adanya fakta bahwa Umar bin Khattab khawatir banyak para penghapal (bukan perawi) Al-Qur'an yang wafat bisa menimbulkan kemungkinan ayat-ayat Al-Qur'an bisa hilang. 
3. fakta bahwa saat nabi Muhammad meninggal, belum semua surat memiliki nama/judul. 

Apa yang dihapalkan oleh banyak orang tentu saja bukan hanya soal cuplikan-cuplikan ayatnya saja, karena Rasulullah yang memerintahkan untuk menyusun ayat-ayat tersebut. Tulisan dan hapalan para sahabat tentu saja berdasarkan susunan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah. Catatan hadits dan shirat ini menunjukkan buktinya : 

Kitab Al-Qur'an mencakup surah-surah panjang dan yang terpendek terdiri atas 3 ayat, sedangkan paling panjang 286 ayat. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi Muhammad memberi instruksi kepada para penulis tentang letak ayat pada setiap surah. `Uthman menjelaskan baik wahyu itu mencakup ayat panjang maupun satu ayat terpisah, Nabi Muhammad selalu memanggil penulisnya dan berkata, "Letakkan ayat-ayat tersebut ke dalam surah seperti yang beliau sebut." Zaid bin Thabit menegaskan, "Kami akan kumpulkan Al-Qur'an di depan Nabi Muhammad." Menurut `Uthman bin Abi al-'As, Malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad memberi perintah akan penempatan ayat tertentu. 

’Uthman bin AM al-‘As melaporkan bahwa saat sedang duduk bersama Nabi Muhammad ketika beliau memalingkan padangan pada satu titik dan kemudian berkata, "Malaikat Jibril menemuiku dan meminta agar menempatkan ayat ini (maksudnya QS 16:90) pada bagian surah tertentu. 


AI-Kalbi melaporkan dari Abu Sufyan tentang Ibn ‘Abbas tentang ayat, "Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah." (QS 2:241) Ia menjelaskan, "Ini adalah ayat terakhir yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Malaikat Jibril turun dan minta meletakannya setelah ayat ke dua ratus delapan puluh dalam Surah al-Baqarah." 


Ubbay bin Ka'b menjelaskan, "Kadang-kadang permulaan surah itu diwahyukan pada Nabi Muhammad, kemudian saya menuliskannya, dan wahyu yang lain turun pada beliau lalu berkata, "Ubbay! Tulislah ini dalam surah yang menyebut ini dan itu.' Dalam kesempatan lain wahyu diturunkan pada beliau dan saya menunggu perintah yang hendak diberi­kan sehingga beliau memberi tahu tempat yang sesuai dari suatu ayat. 


Zaid bin Thabit memberi penjelasan, "Sewaktu kami bersama Nabi Muhammad mengumpulkan Al-Qur'an kertas kulit beliau berkata, "Mudah-mudahan Sham mendapat berkah" Kemudian beliau ditanya, 'Mengapa demikian wahai Nabi Allah?' Beliau menjawab, 'Karena para Malaikat yang Maha Rahman telah melebarkan sayap mereka kepada­nya." Dalam hadith ini kita catat Nabi Muhammad selalu melakukan pengawasan dalam pengumpulan dan susunan ayat-ayat Qur'an (Sumkber : The History of the Quranic Text, Prof Azzami) 


Kita dapat melihat bukti yang sangat jelas bahwa bacaan surah dalam shalat lima waktu. Tidak boleh bacaan umum menyalahi urutan ayat-ayat yang telah disepakati dan tidak pernah terjadi peristiwa shalat berjamaah akan adanya perbedaan pendapat dengan imam tentang urutan ayat-ayat baik di masa Nabi Muhammad maupun sekarang. Nabi Muhammad kadang-kadang membaca satu surah sampai habis pada shalat jum'ah. 

Bukti lain dapat dilacak dari beberapa hadith yang mengatakan kepada sahabat telah mengenal permulaan dan akhiran surah-surah yang ada. 

Nabi Muhammad memberi komentar kepada ‘Umar, "Akhir ayat-ayat dari Surah an-Nisa' akan dianggap cukup buatmu (dalam menyelesaikan masa]ah warisan). " 

Abu Mas'ud al-Badri memberi laporan bahwa Nabi Muhammad bersabda, 'Ayat terakhir dari Surah al-Baqarah dapat mencukupi bagi siapa saja yang membaca di waktu malam." 


Ibn `Abbas mengingatkan, "Sewaktu saya bermalam di rumah, Maimuna (istri Nabi Muhammad), saya mendengar beliau terbangun dari tidur lalu membaca sepuluh ayat terakhir dari Surah `Ali ‘Imran." (Sumber : The History of the Quranic Text, Prof Azzami) 


Pernyataan-pernyataan para sahabat tersebut membuktikan bahwa susunan ayat-ayat dan jumlah ayat, susunan surat memang sudah dikenal dan dihapal oleh para sahabat sepeninggal Rasulullah.. 

Soal riwayat yang menceritakan Umar bin Khattab khawatir Al-Qur'an akan lenyap karena banyaknya para penghapal yang wafat di Yamamah lalu dia mendesak Abu Bakar untuk mengkodifikasi Al-Qur'an, itu merupakan pendapat yang muncul dari sudut pandang Umar. Pada mulanya Abu Bakar menolak usulan ini dengan alasan hal tersebut tidak pernah dilakukan dijaman Rasulullah dan tidak juga pernah diperintahkan menunjukkan bukti bahwa tidak semua sahabat Rasulullah yang menganggap kodifikasi Al-Qur'an merupakan sesuatu yang penting dan menentukan eksistensi Al-Qur'an dimasa berikutnya. 

Terlepas dari sikap yang berbeda tentang kodifikasi Al-Qur'an tersebut. KIta bisa saja melakukan analisa tentang hal ini, sejauh-mana kodifikasi Al-Qur'an mampu mempengaruhi susunan dan jumlah ayat/surat Al-Qur'an dalam kondisi banyak orang yang menghapalkannya. 

Soal nama-nama surat bukanlah hal yang penting dan saya agak heran kalau ini menjadi dasar argumentasi anda untuk menunjukkan susunan surat/ayat Al-Qur'an belum lengkap. Ada atau tidaknya nama/judul tidak akan membuat susunan yang sudah ditetapkan menjadi berantakan. Rasulullah jelas memerintahkan :"Ayat ini diletakkan sesudah ayat itu, surat ini ditempatkan sebelum suart itu", lalu bagaimana bisa berubah susunannya sekalipun nama/judulnya belum ada...? 

Ringkasan dari comment anda berikutnya adalah : 

1. Adanya pertanyaan : apakah tradisi hapalan bisa membuat keberadaan Al-Qur'an dimasa selanjutnya tetap akurat sebagaimana aslinya..? 
2. Adanya tuduhan bahwa hapalan yang sama yang terjadi saat ini karena sumbernya juga sudah sama, yaitu Al-Qur'an edisi cetakan Mesir 1924. 
3. Soal 'versi' indian text, turkish text dengan Al-Qur'an cetatakan Mesir 1924 
4. Permintaan bukti hadits siapa saja yang hapal seluruh Al-Qur'an dengan argumentasi ketika melakjukan kodifikasi, Zaid bin Tsabit harus repot melacak fragment. 
5. Tuduhan kemungkinan nabi Muhammad tidak hapal beberapa surat. 

Perlu saya jelaskan kembali, bahwa hapalan Al-Qur'an yang dilakukan dijaman Rasululah memiliki 2 hal, yaitu : (1) dihapal oleh BANYAK ORANG, (2) Selalu dibacakan SECARA TERBUKA, didengar oleh banyak orang, dibaca 5 kali sehari dalam shalat, dikaji dan ditadaruskan setiap waktu. 

Sebenarnya anda bisa menguji soal konsep ini, katakanlah anda mengumpulkan 100 orang lalu menyuruh mereka menghapal sebuah buku. Pada kenyataannya dari 100 orang tersebut ada yang hapal seluruh isi buku, ada yang hapal 75%nya, 50%nya atau cuma 10%. Lalu buku tersebut dimusnahkan dan secara berkala hapalan tersebut dibacakan secara terbuka, ada yang salah baca, yang lain mengkoreksi, begitu dilakukan secara terus-menerus. Apakah mungkin ada kalimat-kalimat yang terdapat dalam buku tersebut akan hilang..?? 

Lalu orang-orang tersebut disebar, katakanlah dari 100 orang ada 10 orang yang hapal seluruh isi buku, lalu disebar ke 10 tempat beserta 90 orang yang tidak hapal seluruh isi buku dibagi-bagi secara merata kedalam 10 tempat tersebut. Pada tempatnya masing-masing orang-orang ini melakukan hal yang sama, merekrut 100 orang, lalu menghapal buku tersebut. Kenyataannya dari 100 orang pada masing-masing tempat, ada yang hapal seluruhnya, ada yang cuma 75%, 50% atau 10%, namun dilakukan cara yang sama, hapalan tersebut dibacakan secara terbuka setiap hari. Katakanlah ada kejadian 'semuanya sepakat untuk lupa', lalu isi buku tersebut menjadi tidak sempurna, masih ada 9 tempat yang lain untuk melakukan cross-check. Lalu pada tingkaran selanjutnya penyebaran isi buku ini makin tersebut berdasarkan aturan deret ukur, 1 menghasilkan 10, 10 menghasilkan 100, dst, dst. 

Adanya hapalan dari seseorang yang tidak menghapal seluruhnya tidak jadi masalah, si A dan si B sama-sama hanya bisa menghapal 10%-nya saja, si A hapal Bab 1, si B hapal Bab 7, maka ketika ada pihak lain yang membacakan kedua bab tersebut, si A dan si B bisa berfungsi sebagai korektor kalau ada hapalan yang salah, jadi hapalan yang hanya 10%-pun masih berperan dalam konteks menghapal buku tersebut secara kolektif. 

Itulah kisah nyata bagaimana cara penyebaran Al-Qur'an, lalu bagaimana anda masih meragukan kalau Al-Qur'an yang ada sekarang masih asli dan sesuai dengan apa yang diajarkan nabi Muhammad SAW..?

Tentang Arda Chandra

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

3 komentar:

Maulida Nurul Chotimah mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Maulida Nurul Chotimah mengatakan...

Yang jelas Al Qur'an lebih unggul, karena dari sejak diturunkan sampai sekarang sudah banyak di hafal oleh jutaan manusia. Sehingga apabila ada sedikit saja perubahan dalam Al Qur'an akan mudah diketahui.

Mr Simpel mengatakan...

minta link lanjutannya min