Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6


Arda Chandra : Menjawab point no.2, cara berpikir anda perlu saya luruskan dulu. Tulisan/teks/rasm mengikuti bunyi/lafadz, bukan sebaliknya lafadz mengikuti teks. Ini merupakan kaedah yang berlaku dimana-mana, bahwa lafadz selalu lebih dulu ada, selanjutnya baru manusia menciptakan teks/tulisan untuk 'mengurung' lafadz tersebut. Bunyi yang dihasilkan oleh pembaca Al-Qur'an cetakan Mesir 1924 tidak berubah mengikuti teksnya, lalu orang yang membaca Al-Qur'an tulisan tangan yang dibuat sebelumnya akan mengeluarkan bunyi yang berbeda pula mengikuti model tulisannya. Ini adalah cara berpikir yang aneh. 

Saya akan sampaikan fakta untuk membantu pemahaman anda soal ini, melalui lafadz yang dibunyikan pembaca ketika membaca transliterasi Al-Qur'an dalam huruf latin. Berikut ada beberapa macam transliterasi untuk ayat yang sama : 

1. iyyaaka na'budu wa-iyyaaka nasta'iinu 
2. Iyyaka naAAbudu waiyyaka nastaAAeenu 
3. Iyyaka na-’budu wa-"iyyaka nasta-'inu (catatan : untuk huruf yang bacaannya panjang ditandai dengan memakai garis bawah, tidak bisa dicopas disini). 

Perbedaan teks tidak akan membuat bunyi yang dikeluarkan si pembacanya menjadi berbeda, lafazdnya tetap sama. Mengapa..?? karena umat Islam belajar membaca Al-Qur'an melalui cara MENIRUKAN BUNYI, bukan dengan cara MEMBACA TEKS/RASM. Saya sudah menyampaikan video anak kecil yang membaca Al-Qur'an, namun hal penting untuk menjelaskan bagaimana Al-Qur'an ini disebar-luaskan malah anda abaikan dengan mengatakan 'Videoklip seorang balita yang bisa menghafal quran memang terkesan impresif, tetapi jika dikaji secara cermat ini bukanlah point kuat. Karena banyak juga contoh orangorang yang bisa menghafal teks-teks yang panjang tertentu'. Disini kelihatan anda telah gagal untuk menangkap apa yang saya ingin sampaikan, bahwa video tersebut membuktikan bagaimana caranya Al-Qur'an disebarkan, bukan soal kemampuan seseorang untuk menghapal. Alasan yang anda kemukakan soal 'banyak orang yang bisa menghapal teks yang panjang-panjang' justru malah memperkuat bukti kalau Al-Qur'an memang bisa dihapal seluruhnya, suatu yang anda pertanyakan pada point selanjutnya. 

Pada point ke-3 anda bertanya soal indian text, Turkish text. yang anda permasalahkan itu terkait dengan MODEL HURUF, bukan soal isi Al-Qur'an. Teks/rasm/tulisan merupakan produk budaya manusia, diciptakan manusia untuk 'mengurung' atau mendokumentasikan bunyi, setiap saat berubah dan berkembang. Ketika Al-Qur'an pertama kali ditulis, model huruf yang dipakai adalah huruf Kufi. kalau anda mengamati, model huruf Al-Qur'an yang dicetak di Mesir thn 1924 berbeda dengan huruf Al-Qur'an cetakan Madinah saat ini. dalam sebuah diskusi dengan sesama Muslim, kami pernah tertawa ketika menemukan adanya model huruf 'alif melayang' yang tidak ditemukan pada huruf Al-Qur'an sebelumnya. 

Namun perubahan model huruf tidak membuat lafadz atau bunyi yang dikeuarkan ketika membacanya akan berubah atau berbeda. Saya sudah menyampaikan bagaimana caranya orang belajar Al-Qur'an, ustadz MEMBUNYIKAN SUARA, si murid MENDENGAR DAN MENGULANG atau MENIRU BUNYI tersebut, sedangkan teks/tulisan hanyalah sebagai alat bantu untuk belajar Al-Qur'an. Tidak ada orang yang belajar Al-Qur'an dengan cara semata-mata mempelajari huruf hijaiyah dan tajwid tanpa didamping seorang ustadz yang akan MENGELUARKAN BUNYI.. 

Petanyaan no.4 soal bukti hadits orang yang menghapal seluruh Al-Qur'an. Ada satu hadits yang diperdebatkan oleh para ulama, namun merupakan bukti ada orang-orang yang hapal seluruh Al-Qur'an dijaman Rasulullah : 

Al Bukhari meriwayatkan dari Qatadah: ia berkata: aku bertanya kepada Anas bin Malik: siapa yang menghafal Al Quran pada masa Rasulullah Saw, ia menjawab: “empat orang, seluruhnya dari kalangan Anshar, yaitu: Mu`adz, Ubay bin Ka`b, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid (salah satu paman Anas)”. 

Dalam riwayat yang lain, dari Anas ia berkata: Saat Rasulullah SAW wafat, hanya ada empat orang yang hafal Al Quran: Abu Darda, Mu`adz bin Jabal, Zaid bin Tsatbit dan Abu Zaid. Riwayat ini bertentangan dengan riwayat lainnya dari dua segi: pertama: menggunakan redaksional hashr (pembatasan) pada empat orang. Dan kedua: menyebut Abu Dard sebagai ganti Ubay bin Ka`b!. Beberapa imam menolak pembatasan sahabat yang hafal hanya empat orang. Dan mereka menakwilkan: bahwa perkataan itu seperti itu adalah dalam batas sepengetahuannya. Karena para penghafal lebih banyak dari itu bilangannya, seperti telah diketahui dengan yakin. 

Al Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Amru ia berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Pelajarilah Al Quran dari empat orang: dari Abdullah bin Mas`ud, Salim (maula Abi Huzaifah), Mu`adz, dan Ubay bin Ka`b.” Dua yang pertama adalah dari kalangan muhajirin. 

Hadits yang mengakui keutamaan empat orang dari kalangan Anshar itu tidak menafikan keberadaan yang lainnya yang hafal Al Quran pada saat itu. Banyak sahabat yang menghafal Al Quran seperti hafalan empat orang itu, atau lebih bagus. Dalam riwayat yang sahih: dalam perang Bi`ru Ma`unah yang terbunuh dalam kejadian itu dari kalangan sahabat adalah mereka yang dikenal dengan Al Qurra (para penghafal Al Quran) dan bilangan mereka adalah: tujuh puluh orang. 

Al Qurthubi memberikan komentar atas perkataan Anas tadi: pada saat perang Yamamah (Perang melawan gerakan murtad) ada tujuh puluh qurra yang syahid, dan pada masa Nabi Saw di Bi`ru Ma`unah sejumlah yang sama juga mendapatkan mati syahid. Anas menyebutkan hanya empat orang itu adalah karena ia amat dekat dengan keempatnya, atau pada saat itu yang ia ingat adalah empat orang itu. (Sumber : http://van-explore.blogspot.com/2011/03/para-penghafal-alquran-dari-kalangan.html) 

Istilah 'penghapal Al-Qur'an' dalam hadist ini merujuk kepada 'penghapal seluruh ayat Al-Qur'an', karena kalau maksudnya hanya sebagian ayat saja, maka tidak mungkin jawabannya Anas bin Malik hanya menyebutkan 4 orang saja, seluruh umat islam boleh dikatakan hapal ayat Al-Qur'an sekalipun kalau hanya sebagian-sebagian saja, minimal hapal surat al-Fatihah karena harus dibaca dalam shalat. 

Dalam bukunya ' The History of the Quranic Text', Prof Azzami malah menyebut banyak nama penghapal Al-Qur'an : 

Hasil Kegiatan Pendidikan: Huffaz 

Samudra kesempatan mempelajari Kitab Suci yang berjalan bersama gelombang manusia yang terlibat dalam penyebarannya, ternyata membuahkan banyak para sahabat yang secara cermat menghafal Al-Qur'an. Banyak diantara mereka yang kemudian dibunuh di Yamama dan Bir Ma'una, dan nama mereka dalam banyak hal, telah lenyap dari buku sejarah. Dari bukti yang ada menunjukkan hanya nama-nama mereka yang masih hidup, yang kemudian meneruskan pengajaran di Madinah dan wilayah yang tertaklukan oleh kekuasaan Islam. Hal ini meliputi antara lain: Ibn Mas'ud, Abu Ayyub, Abu Bakr as-Siddiq, Abu ad-Darda, Abu Zaid, Abu Musa al-'Ash' ari, Abu Huraira, Ubayy bin Ka'b, Um-Salama, Tamim al-Dari, Sa'd bin Mundhir, Hafsa, Zaid bin Thabit, Salim dari suku Hudhaifa , Sa'd bin 'Ubada, Sa'd bin ‘Ubaid al-Qari, Sa'd bin Mundhir, Shihab al-Qurashi, Talha, ‘A'isha, ‘Ubada bin Samit, ‘Abdullah bin Sa'ib, Ibn ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin 'Amr, ‘Uthman bin 'Affan, 'Atta bin Markayud (orang Parsi tinggal di Yaman), ‘Uqba bin 'Amir, 'All bin Abi Talib, ‘Umar bin al-Khattab, 'Arm- bin al-'As. Fudala bin ‘Ubaid, Qays bin Abi Sa'sa'a, Mujamma’ bin Jariya, Maslama bin Makhlad, Mu'adh bin Jabal, Mu'adh Abu Halima, Um-Warqah bin ‘Abdullah bin al-Harith, dan 'Abdul Wahid. 

Anda lalu mengajukan argumentasi soal Zaid yang menyusun mushaf dengan mengumpulkan fragmentasi tulisan. Perlu anda ketahui bahwa kodifikasi Al-Qur'an sebenarnya tidak dimulai dijaman Usman tapi dilakukan pada pemerintahan Abu Bakar. Saya sampaikan kronologis dan metodenya : 

1. Zaid mengumpulkan sumber dari tulisan-tulisan Al-Qur'an (fragmentasi) dengan disertai kesaksian minimal 2 orang : 

Hukum kesaksian memainkan peranan penting dalam kompilasi AI­Qur'an (juga dalam metode ilmu hadith), dan merupakan bagian penting dari instruksi Abu Bakr pada Zaid bin Thabit. Ibn Hajar melanjutkan, Abu Bakr mengatakan pada 'Umardan Zaid, "Duduklah di depan pintu gerbang Masjid Nabawi. Jika ada orang membawa (memberi tahu) anda tentang sepotong ayat dari Kitab Allah dengan dua orang saksi, maka tulislah." ( Ibn Abi Dawud, al-Mashafi, hlm. 6. Lihat juga Ibn Hajar, Farhul Bari, ix: 14.). 

Ibnu Hajar mengatakan tujuan adanya kesaksian tersebut : 

Sepertinya apa yang dimaksud dengan dua saksi berkaitan erat dengan hafalan yang diperkuat dengan bukti tertulis. Atau, dua orang memberi kesaksian bahwa ayat Qur'an telah ditulis di hadapan Nabi Muhammad. Atau, berarti agar mereka memberi kesaksian bahwa ini merupakan salah satu bentuk yang mana Qur'an diwahyukan. Tujuannya adalah agar menerima sesuatu yang telah ditulis di hadapan Nabi Muhammad bukan semata-mata berlandaskan pada hafalan seseorang saja. (Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 14-15.) 

2. Selanjutnya Zaid MENGKONFIRMASIKAN fragmentasi tersebut dengan HAPALAN : 

Dalam keadaan apa pun Zaid bin Thabit selalu merujuk pada hafalan orang lain: "Al-Qur'an saya kumpulkan dari berbagai bentuk kertas kulit, potongan tulang, dan dari dada para penghafal." Dalam hal ini az-Zarakhasi memberi ulasan, Keterangan ini telah menyebabkan kalangan tertentu menganggap bahwa tak ada seorang pun yang hafal seluruh Al-Qur'an pada zaman kehidupan Nabi Muhammad. Melihat anggapan Zaid bin Thabit dan Ubayy bin Ka'b yang seperti itu, maka anggapan di atas tidak dapat dipertahankan dan, hal ini merupakan sebuah kekeliruan. Apa yang dimaksud Zaid pada dasarnya ia hanya mencari ayat-ayat tertulis dari berbagai sumber yang masih tercecer untuk dicocokkan dengan apa yang telah dihafal - para huffaz. Dengan cara demikian, tiap orang berpartisipasi dalam proses pengumpulan. Tak ada orang siapa pun yang memiliki sebagian ayat kemudian tak diikutsertakan. Demikian juga tak seorang pun memiliki alasan untuk menyatakan sikap prihatin tentang ayat-ayat yang dikumpulkan dan tak seorang pun melakukan komplain bahwa naskah yang dikumpulkan hanya dari beberapa pilihan orang tertentu. (Az_Zarkahshi, Burhan, i:238-239.) 

Sebagai salah satu contoh kasus hubungan sumber fragmentasi dengan hapalan para sahabat ini terkait dengan kasus surat Bara'ah (Al-Ahzab) : 

Kharijah bin Zaid bin Thabit meriwayatkan dari bapaknya Zaid bin Thabit, " ketika kami menulis Mushaf, saya tidak menemukan satu ayat (no. 23 dari surah al-Ahzab) yang selalu saya dengar dari bacaan Rusulullah saw. Kami mencarinya sehingga kami dapatkan dari Khuzaimah bin Thabit al-.Ansari, lalu kami masukkan ke dalam surah yang tepat dalam Mushaf." (al-Bukhari. Sahih, Hadith no. 4988). 

Ini merupakan penjelasan bahwa metode yang dipakai Zaid dalam mengumpulkan mushaf dijaman Abu Bakar adalah dengan 2 persyaratan, yaitu : (1) adanya setoran fragmentasi ayat dengan disertai 2 orang saksi, lalu (2) dikonfirmasi oleh hapalan para sahabat. Dalam kasus surat Bara'ah 23 ini, terlihat jelas bahwa sebelum Zaid menulis dari fragmentasinya, ayat tersebut sudah ada dalam hapalan Zaid karena dia tahu kalau Rasulullah pernah membacanya, padahal tulisan/teksnya belum diterima dari Khuzaimah. 

Kegiatan Zaid tersebut menghasilkan mushaf yang kemudian sering disebut orang dengan 'mushaf Hafsah', karena ketika Abu Bakar meninggal dunia, mushaf tersebut dipegang oleh Hafsaf, anaknya yang juga merupakan istri Rasulullah. 

Di jaman Usman, kodifikasi kembali dilakukan. pelaksananya adalah panitia yang terdiri dari 12 orang, Zaid bin Tsabit termasuk didalamnya. Tujuan kodifikasi dijaman Usman ini berbeda dengan jaman Abu Bakar, karena dasarnya juga berbeda. Dijaman Usman alasannya adalah terjadinya perbedaan qiraah/bacaan terutama di wilayah bukan Arab sehingga bisa menimbulkan perbedaan arti. Mushaf yang akan dibuat adalah dengan menyalin ayat-ayat yang ada kedalam tulisan yang melambangkan bacaan dengan qiraah yang diijinkan oleh nabi Muhammad (qiraah 7, dan dalam beberapa riwayat lain qiraah 10). 

Kronologisnya adalah : 

1. Ada 2 riwayat yang ditemukan terkait hubungan kodifikasi Usman ini dengan mushaf Hafsah : 

Terdapat dua riwayat tentang bagaimana 'uthman melakukan tugas ini. Di antaranya (yang lebih masyhur) beliau membuat naskah mushaf semata-mata berdasarkan kepada Suhuf yang disimpan di bawah penjagaan Hafsa, bekas istri Nabi Muhammad saw. riwayat kedua yang tidak begitu terkenal menyatakan, 'uthman terlebih dahulu memberi wewenang pengumpulan Mushaf dengan menggunakan sumber mana, sebelum membandingkannya dengan Suhuf yang sudah ada. Kedua-dua versi riwayat sepaham bahwa Suhuf yang ada pada Hafsa memainkan peranan penting dalam pembuatan Mushaf 'Uthmani. (Lihat The History of the Quranic Text, Prof Azzami. bab 7, hal 97). 

2. Berdasarkan pada riwayat pertama `Uthman memutuskan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk melacak Suhuf dari Hafsa, mempercepat menyusun penulisan, dan memperbanyak naskah. 

AI-Bara' meriwayatkan, Kemudian 'Usmanan mengirim surat kepada Hafsah yang menyatakan. "Kirimkanlah Suhuf kepada kami agar kami dapat membuat naskah yang sempurna dan kemudian Suhuf akan kami kembalikan kepada anda." Hafsa lalu mengirimkannya kepada 'Uthman, yang memerintahkan Zaid bin Thabit, `Abdullah bin az-Zubair, Sa'id bin al-'As, dan 'Abdur­Rahman bin al-Harith bin Hisham agar memperbanyak salinan (duplicate) naskah. Beliau memberitahukan kepada tiga orang Quraishi, "Kalau kalian tidak setuju dengan Zaid bin Thabit perihal apa saja mengenai Al-Qur'an, tulislah dalam dialek Quraish sebagaimana AI­Qur'an telah diturunkan dalam logat mereka." Kemudian mereka berbuat demikian, dan ketika mereka selesai membuat beberapa salinan naskah `Uthman mengembalikan Suhuf itu kepada Hafsah (Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: ii, hadith no. 4987; Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 19-20; Abu 'Ubaid, Fada'il, hlm. 282) 

3. Panitia menyalin kembali ayat-ayat tersebut dengan memperhatikan pemakaian kata yang melambangkan qiraah yang benar : 

Oleh karena itu, naskah Mushaf independen itu muncul secara bertahap, dengan ke dua belas orang itu mengesampingkan semua ayat yang tidak pasti dalam ejaan konvensional, agar supaya 'Uthman dapat melihatnya secara pribadi. (Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 19, 25.) 

Hani al-Barbari, meriwayatkan : "Saya bersama 'Uthman tatkala panitia sedang sibuk membanding­bandingkan Mushaf. Dia mengutus saya agar menemui Ubayy bin Ka'b dengan tulang balm kambing yang bertulisan tiga kata yang berbeda dari tiga stirah yang berbeda-beda (masing-masing dari 2:259, 30:30, dan 86:17), memintanya agar mengecek kembali ejaan-ejaannya. Lalu Ubayy menuliskannya (dengan ejaan yang sudah diubah)". (Sumber : The History of The Quranic Text, Prof Azzami) 

Jadi penyalinan ayat-ayat Al-Qur'an kedalam mushaf Usmani adalah dalam usaha untuk menyeragamkan ejaan bentuk huruf yang berbeda. Mungkin sebagai analoginya, suatu buku tua dalam bahasa Indonesia yang dulunya ditulis dengan ejaan Van Ophuijsen, yang model 'oentoek soepaja', lalu ada ejaan lama 'untuk supaja', dituliskan kembali dengan ejaan baru 'untuk supaya'. 

4. Mushaf hafsah yang dijadikan sebagai rujukan DIKEMBALIKAN KEPADA HAFSAH DAN MASIH EKSIS SAMPAI WAFANYA BELIAU PADA TAHUN 45 H ketika jaman khalifah Muawiyah. jadi tidak benar kalau dikatakan mushaf Hafsah ikut dibakar. Dijalan Usman dan Ali, orang-orang bisa mengecheck kedua mushaf tersebut kalau memang mau mengandalkan manuskrip sebagai dasarnya. Namun tidak ada riwayat adanya sahabat melakukannya, termasuk Hafsah, karena mereka bisa mengandalkan hapalan dan lafadz yang selalu mereka dengar dalam setiap shalat dan tadarusan Al-Qur'an. 

5. Setelah semua ayat selesai disalin, mushaf Usmani lalu dibacakan dihadapan semua sahabat (Ibn Kathir, Fada'il, vii: 450.). Disini saja sudah terbukti kalau seandainya apa yang ada dalam mushaf tersebut berbeda dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang dimiliki oleh para sahabat, tentu akan menimbulkan masalah. 

6. Mushaf tersebut disebarkan ke beberapa wilayah :  

Menurut beberapa laporan, ada empat: Kufah, Basra, dan Suriah, yang satu lagi disimpan di Madinah; Riwayat lain menambahkan Mekah, Yaman dan Bahrain. Ad-Dani lebih cenderung menerima laporan (riwayat) pertama. Profesor Shauqi Daif percaya bahwa delapan naskah telah dibuat, karena 'Uthman mengambil satu untuk din sendiri. Untuk menguatkan pendapat ini, kita tahu bahwa Khalid bin Ilyas telah membuat perbandingan antara Mushaf yang disimpan 'Uthman dan yang disediakan untuk Madinah, oleh karena itu, delapan tempat untuk naskah mushaf kelihatannya lebih masuk akal. AI­Ya'qubi, seorang sejarawan Syi'ah, berkata bahwa 'Uthman mengirim Mushaf ke Kufah, Basra, Madinah, Mekah, Mesir, Suriah, Bahrain, Yaman, dan al­Jazirah, kesemuanya itu adalah sembilan. (Sumber : The History of the Quranic Text, Prof Azzami) 

Berapapun perbedaannya, yang pasti jumlahnya lebih dari 1 copy. 

7. Selanjutnya barulah Usman membakar fragmentasi-fragmentasi yang isinya sudah disalin kedalam mushaf Usmani tersebut. 

Dengan selesainya tugas ini, tinta di atas naskah terakhir telah kering, dan duplikat naskah pun telah dikirimkan, maka tidak dirasa perlu lagi adanya fragmentasi tulisan Al-Qur'an bergulir di tangan orang-orang. Oleh karena itu, semua pecahan tulisan (fragmentasl) Al-Qur'an telah dibakar. Mus'ab bin Sa'd menyatakan bahwa masyarakat dapat menerima keputusan 'Uthman; setidak­nya tak terdengar kata-kata keberatan. Riwayat lain mengukuhkan kesepakatan ini, termasuk Ali bin Abi Talib berkata : "Demi Allah, dia tidak melakukan apa-apa dengan pecahan-pecahan (Mushaf) kecuali dengan persetujuan kami semua (tidak ada seorang pun di antara kami yang membantah)". (Sumber : The History of the Quranic Text, Prof Azzami) 

8. INI YANG PALING PENTING, dalam menyebarkan tiap-tiap mushaf tersebut Usman MENGUTUS 1 ORANG QARI/PEMBACA. Ini membuktikan bahwa sekalipun ada mushaf, namun penyebaran Al-Qur'an tetap melalui transmisi bunyi : 

Tiada naskah yang dikirim tanpa seorang qari' (Pembaca). Ini termasuk Zaid bin Thabit ke Madinah, 'Abdullah bin as-Sa'ib ke Makkah, al­ Mughirah bin Shihab ke Suriah, 'Amir bin 'Abd Qais ke Basra dan Abu 'Abdur-Rahman as-Sulami ke Kufah. (Prof Azzami hal 105) 

Dari kronologis lengkap yang saya sampaikan, disimpulkan : 

1. Pengumpulan fragmentasi ayat yang dilakukan Zaid karena syarat pengumpulannya memang demikian, namun itu bukan satu-satunya syarat, karena harus dikonfirmasi oleh hapalan. 
2. Mushaf Usmani tidak terlepas dari Mushaf Hafsah, dan tokoh utama dibalik kodifikasi keduanya orangnya sama, yaitu Zaid bin Tsabit. 
3. Mushaf Hafsah tidak ikut dibakar tapi dikembalikan kepada Hafsah, jadi pada jaman Usman dan Ali bin Abi Thalib, kedua mushaf tersebut masih eksis. 
4. Sekalipun dilakukan kodifikasi, namun penyebaran Al-Qur'an sama sekali tidak berubah sesuai apa yang dipraktekkan dari jaman Rasulullah, yaitu MELALUI TRANSMISI BUNYI/LAFADZ. 

Soal point ke-5, tuduhan bisa saja nabi Muhammad lupa ayat-ayat Al-Qur'an. Saya bisa saja menjawab ini hal yang tidak mungkin karena dalam hadist tercatat Rasulullah selalu mengulang dan mengkhatamkan bacaannya, sampai mendekati akhir masa hidupnya, pada Ramadhan terakhir beliau mengkhatamkan bacaan Al-Qur'an yang sudah lengkap diturunkan sebanyak 2 kali. Namun saya berikan saja argumentasi logis untuk menjawab dugaan anda ini. 

Nabi Muhammad hanyalah satu individu dari ribuan umat Islam yang ada pada waktu itu, sedangkan Al-Qur'an selalu beliau sebarkan untuk ditulis dan dihapal begitu menerima wahyu. Katakanlah dugaan anda benar, bahwa nabi Muhammad bisa saja lupa dengan ayat yang telah beliau sampaikan, maka ada puluhan orang lain yang telah meghapalkannya. Maka lupanya nabi Muhammad tersebut tidak berpengaruh terhadap keberadaan ayat-ayat Al-Qur'an. 

Ringkasan dari comment anda berikutnya : 

=="Alasan Usman membakar fragmentasi sumber karena untuk menghindari perbedaan qiraah akitab perbedaan tulisan."== 

Sumber hadits yang anda sampaikan sudah benar, cuma saya punya cara yang berbeda memahaminya. 

1. Tidak ada dalam hadits tersebut yang menyebutkan apa alasan Usman membakar fragmentasi sumber, yang dilakukan orang adalah : alasan untuk membuat mushaf dengan tulisan/teks/rasm yang sama, yaitu kekhawatiran adanya perbedaan qiraah, dicantelkan menjadi alasan Usman membakar Al-Qur'an. 

2. Kekhawatiran adanya perbedaan qiraah, merupakan kekawatiran dari Hudhaifah, dan hal tersebut bukan menyangkut perbedaan qiraah, tapi karena munculnya qiraah diluar 7 macam (atau 10 macam) yang telah diajarkan Rasulullah, mengingat Islam sudah menyebar kepada wilayah yang bukan Arab. 

3. Reaksi Usman untuk membuat mushaf dengan salinan huruf yang seragam, TIDAK MENGHILANGKAN macam-macam qiraah yang berbeda, asal sesuai yang diajarkan Rasulullah. 

4. Tindakan Usman untuk mengirim 1 qari (pembaca) untuk medampingi setiap mushaf yang disebarkan ke berbagai wilayah membuktikan bahwa mengadaan mushaf tersebut TIDAK AKAN DAPAT MENGATASI masalah munculnya 'qiraah liar' diluar yang ditetapkan. Kalau Usman menganggap usahanya membuat mushaf tersebut meruoakan jawaban terhadap kekhawatiran Hudhayfah, lalu buat apa beliau harus mengirim qari untuk setiap mushaf..?. 

Kita bisa menyimpulkan bahwa keberadaan mushaf memang hanya sebagai ALAT PELENGKAP dan ALAT BANTU dalam penyebaran Al-Qur'an sesuai qiraahnya yang benar menurut tuntunan Rasulullah. 

Tolong dijelaskan maksud 'perbedaan mushaf quran itu sendiri' tapi bukan 'sekedar perbedaan qiraah'. Apa contohnya mushaf yang berbeda..? Padahal berdasarkan hadist yang anda kutip diatas, asal-mula dilakukannya kodifikasi mushaf Usmani adalah karena munculnya qiraah yang bukan berdasarkan qiraah 7 atau 10 sesuai tuntunan Rasulullah, akibat menyebarnya Islam di wilayah yang bukan Arab, anda lalu melontarkan kecurigaan yang berbeda adalah isi mushafnya. Tidak ada dalam hadist yang anda sampaikan menyangkut perbedaan isi mushaf.. 

 Jimmy Jeffry1. Matinya penghafal Quran 

Tema ini cukup penting sebagai dasar dalam pembahasan selanjutnya. Pak Arda mencoba mengabaikan fakta penting ini, dengan menganggap hanya masalah pendapat (sudut pandang) pribadi Umar saat berdialog dengan Abu Bakr dalam Bukhari 6:61:509. 

Narrated Zaid bin Thabit: Abu Bakr As-Siddiq sent for me when the people! of Yamama had been killed (i.e., a number of the Prophet's Companions who fought against Musailama). (I went to him) and found 'Umar bin Al-Khattab sitting with him. Abu Bakr then said (to me), "Umar has come to me and said: "Casualties were heavy among the Qurra' of the! Qur'an (i.e. those who knew the Quran by heart) on the day of the Battle of Yalmama, and I am afraid that more heavy casualties may take place among the Qurra' on other battlefields, whereby a large part of the Qur'an may be lost. Therefore I suggest, you (Abu Bakr) order that the Qur'an be collected." 

Abubakr jelas tidak menolak fakta yang dikemukakan Umar bahwa banyak penghafal quran yang mati saat perang Yamama. Abubakr hanya menolak usulan Umar untuk mengumpulkan Quran, walaupun akhirnya menyetujui juga. Mengapa pak Arda hanya menganggap itu sekedar pendapat pribadi (sudut pandang) dari Umar padahal Umar adalah satu pemimpin umat yang banyak mengetahui informasi saat itu? Bukankah Umar bin khattab adalah pelanjut Abubakr sebagai kalifah? 

Padahal di bagian lain pak Arda mengutip Al Qurthubi yang menyatakan bahwa ada 70 qurra yang mati sahid. [[[[Al Qurthubi memberikan komentar atas perkataan Anas tadi: pada saat perang Yamamah (Perang melawan gerakan murtad) ada tujuh puluh qurra yang syahid, dan pada masa Nabi Saw di Bi`ru Ma`unah sejumlah yang sama juga mendapatkan mati syahid. Anas menyebutkan hanya empat orang itu adalah karena ia amat dekat dengan keempatnya, atau pada saat itu yang ia ingat adalah empat orang itu]]]] 

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Ibn Kathir dalam Ibn Kathir’s Al-Bidaya wa al-Nihaya pada bab tentang Battle of Yamama "...During the battle of Yamama, 450 reciters of the Qur'an were killed.” . 

Dengan matinya cukup banyak penghafal quran maka banyak pula bagian quran yang tidak sempat dikumpulkan oleh Zaid bin thabit. Ini sekaligus membantah klaim bahwa quran 114 surah telah lengkap. Pak Arda jelas membantahnya sebagaimana yang telah dia utarakan dalam posting-posting lainnya dengan menyatakan bahwa saat itu telah ada beberapa penghafal quran yang telah menghafal seluruh quran. 

Bantahan ini jelas kurang kuat, bukankah saat itu ayatayat quran masih tersebar dalam fragmen-fragmen dan ingatan beberapa penghafal quran, apakah pada masa Muhammad telah ada pengumpulan ayat-ayat itu kemudian dihafal secara lengkap oleh beberapa penghafal quran? 

2. Apakah Quran telah lengkap 114 surah saat wafatnya Muhammad? 

Pak Arda memberi catatan yang panjang perihal penyusunan surah & ayat-ayat quran pada masa Muhammad. 

Data yang diajukan ini memang memperlihatkan peran Muhammad dalam proses penyusunan Quran, namun tidak berarti semua surah dituntun oleh Muhammad dalam proses pencatatan atau penghafalannya. Apakah ada dalam hadist yang menyebutkan bahwa pada masa Muhammad telah diketahui jumlah surah sebanyak 114 surah? Bukankah tidak ada catatan tentang proses pendataan jumlah surah-surat yang tersebar di berbagai fragmen dan penghafal quran pada masa Muhammad? 

Bagaimana bisa mendapatkan angka 114 surah jika belum semua telah ada nama surahnya? atau ada yang menggunakan nama Surah A, Surah B dst, jika seperti itu mana refensi yg menyebutkan telah ada 114 surah pada masa wafatnya Muhammad, sebagaimana pernyaataan anda sebelumnya "...Setiap turunnya wahyu, Rasululllah yang memerintahkan wahyu tersebut diletakkan pada surat apa, setelah ayat apa. Ketika beliau wafat, Al-Qur'an sudah tersusun sebagaimana yang ada sekarang, milai dari surat Al-Faatehah sampai an-Naas, terdiri dari 114 surat, dll". 

Bukankah setelah wafatnya Muhammad, Abubakr baru memerintahkan Zaid untuk melakukan pengumpulan quran tsb. Dan begitu jelas Abubakr menyatakan bahwa pengumpulan Quran tidak hanya menjadi satu manucript juga dalam bentuk daftar surah-surah belum dilakukan pada masa Muhammad. 

"...Therefore I suggest, you (Abu Bakr) order that the Qur'an be collected." I said to 'Umar, "How can you do something which Allah's Apostle DID NOT DO?" 'Umar said, "By Allah, that is a good project. " Bukhari 6:61:509 

Hal serupa ditulis oleh Ibn Hajar dalam tafsir Hadistnya. "...[Zaid b. Thabit said:] “The Prophet died and the Qur’an had not been assembled into a single place.” Ahmad b. Ali b. Muhammad al ’Asqalani, ibn Hajar, Fath al Bari. 

3. Hafalan Quran yang mana pada masa Muhammad? 

Saya tidak membantah data anda bahwa ada beberapa surah yang dibacakan secara terbuka, namun masalahnya apakah semua surah/ayat dalam Quran itu dibaca atau hanya ayat-ayat tertentu yang diulang-ulang. Demikian pula dengan beberapa ayat dihafal banyak orang bukan berarti semua ayat. Karena pada masa Muhammad belum ada kompilasi surah/ayat dari Quran. 

Ilustrasi anda tentang 100 orang yang disuruh menghafal sebuah buku, jelas tidak relevan dalam kasus ini. Karena ilustrasi ini berbasis pada asumsi telah ada buku yang lengkap pada saat proses penghafalan tsb. Berbeda dengan Quran, karena pada masa Muhammad belum ada buku/codex yang lengkap. Untuk itulah proses kodifikasi dilakukan Abubakr yang kemudian dilanjutkan Usman. 

4. Perbedaan Lafal vs Teks Quran. 

Saat ini kita mengkaji masalah Quran bukan dalam konteks masa kini tetapi pada konteks awal terbentuknya Quran. Saya kira point saya masih relevan menanggapi videoklip tsb, walaupun anda menolak, point kemampuan menghafal ini biasa digunakan untuk mendukung otentitas Quran. 

Mari kita kembali dalam konteks masa Muhammad, Abubakr & Usman. Bukankah proses pengumpulan Quran yang dilakukan Zaid juga mengacu pada teks tertulis dalam bentuk fragmen-fragmen "...So I started looking for the Qur'an and collecting it from (what was written on) palmed stalks, thin white stones and also from the men who knew it by heart". Jika anda berasumsi pada masa Muhammad Quran telah lengkap lafalnya, maka Zaid tentu tidak perlu lagi mencari teks-teks tertulis tsb. 

Jika anda memberi contoh perbedaan transliterasi untuk ayat yang sama, saya memberikan perbedaan teks/makna untuk ayat yang sama. 

The companions of 'Abdullah (bin Mas'ud) came to Abu Darda', (and before they arrived at his home), he looked for them and found them. Then he asked them,: 'Who among you can recite (Qur'an) as 'Abdullah recites it?" They replied, "All of us." He asked, "Who among you knows it by heart?" They pointed at 'Alqama. Then he asked Alqama. "How did you hear 'Abdullah bin Mas'ud reciting Surat Al-Lail (The Night)?" Alqama recited: 'By the male and the female.' Abu Ad-Darda said, "I testify that I heard me Prophet reciting it likewise, but these people want me to recite it:-- 'And by Him Who created male and female.' but by Allah, I will not follow them." Bukhari 6:60:468 

Jelas pada masa kodifikasi Quran telah ada perbedaan teks/makna tidak hanya sekedar lafalnya untuk ayat yang sama sebagaimana tercatat dalam hadist Bukhari.


Tentang Arda Chandra

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

2 komentar:

Maulida Nurul Chotimah mengatakan...

Inti dari perdebatan ini, saya lihat Jimmy Jeffry menuding bahwasanya Al Qur'an yang ada sekarang itu tidak asli lagi sesuai dengan zaman Rasullullah SAW. Karena dia menganggap pada saat Usman bin Affan memushafkan Al Qur'an ada beberapa surat yang tidap di masukkan, karena banyaknya para penghafal yang meninggal pada saat peperangan, itu merupakan kebodohan dia saja dalam memahami sejarah. Lalu bagaimana dengan Al Kitab, apakah semuanya bisa di katakan asli sedangkan Al kitab di dunia ini tidak ada satu pun yang orang yang menghafalnya.

Harry Syaefulloh mengatakan...

Perlakuan umat islam terhadap kitab sucinya sangat berbeda dengan perlakuan umat nasrani terhadap kitab sucinya. Kewajiban seorang muslim terhadap Al-Qur’an adalah membacanya, kemudian menghafalkannya, memahami makna dan kandungannya (hikmah al-Qur’an) serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Umat islam terbiasa menghafal Al-Qur’an sedangkan umat nasrani kelihatannya hampir semuanya tidak menghafal alkitab, sehingga dari sini terlihat bahwa mas jimmy tidak bisa menerima pengajaran Al-Qur’an dengan tranmisi bunyi atau hafalan.
Mas jimmy jefry sepertinya melupakan keadaan ketika masa Al-Qur’an diturunkan, bahwa pada masa itu belum ada kertas sebagaimana masa sekarang, sehingga ayat Al-Qur’an ditulis diatas benda seadanya, seperti kayu, batu, daun, tulang belulang dan sebagainya. Coba anda bayangkan jika benda2 tersebut harus selalu dibawa untuk dibaca, padahal pada masa itu banyak perang berkecambuk antara pihak muslim dan kafir. Jelas bahwa pengajaran lewat hafalan sangat bisa diterima oleh akal kita jika kita menilik keadaan pada masa itu. Apalagi budaya masyarakat arab yang lebih mengutamakan hafalan, karena pada masa itu yang dianggap paling hebat dan istimewa adalah syair2, mereka terbiasa menghafal syair2. Coba bayangkan kalo syair2 tersebut ditulis dan menjadi tumpukan fragmen2 yang harus dibawa karena tidak hafal kalimat2 syairnya…apakah tidak merepotkan????? Wallahualam