Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

AWAL tahun 2014 ini Allah Ta’ala menakdirkan terjadinya berbagai macam musibah di tanah air. Mulai dari erupsi Gunung Sinabung di Sumatera Utara hingga banjir tahunan di Jakarta, sampai pada banjir bandang di Manado.
Musibah ini pasti menyisakan rasa duka bagi kita semua, khususnya bagi para korban. Tentu tidak satu pun manusia ingin kesusahan melanda kehidupannya. Tetapi, sebagai Muslim kita mesti meyakini bahwa Allah Ta’ala tidak pernah salah dalam mengambil keputusan atas apa yang terjadi pada alam ini.
Seberat apapun derita yang dialami pada dasarnya terkandung kebaikan yang sangat banyak.
Di dalam al-Qur’an Allah berfirman;
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).
Secara spesifik ayat tersebut berkaitan dengan perintah jihad (qital). Tetapi, dalam lanjutan surat tersebut juga berkaitan segala macam yang sulit, berat dan cenderung tidak disukai. Seperti musibah yang kini melanda sebagian negeri kita.
Siapa orang yang suka musibah? Tidak ada orang di dunia ini menyukai musibah.
Jihad dengan Kepedulian
Adalah kewajiban kita semua untuk mendoakan pada yang mengalami musibah agar diberi kesabaran. Sedangkan bagi kita yang tidak mengalaminya, adalah kewajiban untuk bahu-membahu meningkatkan rasa kasih sayang, kepedulian dan tentunya mempererat tali persaudaraan (ukhuwah).
Dengan demikian maka, wajib bagi Muslim lainnya untuk turut membantu meringankan beban yang dialami saudara-saudara Muslim yang terkena musibah. Kita bisa bayangkan betapa sedihnya mereka yang kini sedang diuji dengan musibah.
Di Sumatera Utara, pengungsi sudah berbulan-bulan meninggalkan rumahnya. Di Jakarta tidak sedikit yang kehilangan sesuatu yang dicintai. Sementara itu, di Manado, sebagian besar sudah tidak lagi memiliki rumah, bahkan pakaian pun tinggal di badan, itu pun sudah penuh lumpur.
Belum lagi soal makanan, di tengah-tengah minim makanan, mereka tetap harus selektif menerima bantuan. Jangan sampai makan makanan yang diharamkan.
Kondisi ini berarti merupakan satu seruan kepada seluruh umat Islam di Indonesia untuk bersegera membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah dengan segenap daya dan kemampuan. Karena sesungguhnya musibah ini adalah seruan Allah untuk setiap Muslim bersegera memenuhi panggilan jihad dalam bentuk kepedulian.
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang Muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim).
Jangan Putus Asa
Hidup dengan segenap fenomena yang ada di dunia ini merupakan bagian dari ketetapan Allah. Termasuk suka dan duka, anugerah maupun bencana.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-anbiya’ [21]: 35).
Ibn katsir berkata, “(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa.”
Artinya, seorang Muslim tidak boleh berputus asa dengan bencana yang sedang melanda. Harus tetap optimis. Karena tidak ada satu perkara pun di dunia ini yang terjadi tanpa idzin Allah.
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabuun [64]: 11).
Ibn Katsir berkata, “Seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah Ta’ala tersebut, maka Allah Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allah Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”
Dengan demikian, kepada saudara-saudara Muslim yang terkena musibah jangan sedikit pun berputus asa dari rahmat Allah. Karena sungguh Allah tidak akan membuat sengsara hamba-Nya. Sebaliknya, melalui apa pun Allah selalu akan memberikan pertolongan dan ampunan kepada hamba-hamba-Nya yang sabar, ridha, ikhlas dalam menghadapi apa yang menjadi ketetapan-Nya. Wallahu A’lam.*[Hidayatullah]

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar: