Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5[ImagesOnly]

Style6

Oleh : Dr Adian Husaini

Jokowi akan dikorbankan?
Aloysius menulis:  “Jesus menjadi tokoh ideal yang berpraksis bela rasa dan solider kepada korban, bukan kepada penguasa dan pemilik modal. Itulah buah teologi blusukan dan praksis dari pastoral blusukan Jesus. Akibatnya, Jesus dijatuhi hukuman mati, bahkan dianggap pemberontak. Tanda-tanda mukjizat dan buah-buah pastoral blusukan-Nya tidak dianggap. Dia justru dituduh menggunakan ilmu sihir dan menyesatkan rakyat. Begitulah, para pemuka agama dan politikus busuk yang memusuhi-Nya kemudian bersekongkol dengan prokurator Romawi bernama Pontius Pilatus. Jesus dijatuhi hukuman mati.”
Bagi kaum Kristen, babak terpenting dari episode kehidupan Jesus adalah penyaliban  dan kebangkitan Jesus. Itulah inti agama Kristen (Christianity). Tidak ada agama Kristen tanpa adanya konsep penyaliban dan kebangkitan (crucifixion and resurrection) Jesus.  Maka, kita patut bertanya, jika Jokowi disamakan dengan Jesus dalam perspektif  Kristen, apakah pada akhirnya Jokowi juga akan “disalib” dan “dikorbankan” demi “menebus dosa kaum tertentu”?
Kaum Katolik Indonesia mengaku memiliki “syahadat” versi Katolik yang bunyinya: “Kami percaya pada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dan pada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, Putra Tunggal yang dikandung dari Allah, yang berasal dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah Benar, dilahirkan tetapi tidak diciptakan, sehakikat dengan Bapa, melalui dia segala sesuatu menjadi ada…” (Lihat buku, Konsili-konsili Gereja karya Norman P. Tanner, hal. 36-37). 
Jokowi adalah muslim. Bahkan, sudah menunaikan ibada haji. Sebagai Muslim, ia sudah bersaksi, bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.” Jokowi pasti yakin, Allah tidak punya anak dan tidak diperanakkan. Ia juga yakin akan kebenaran al-Quran, yang  menjelaskan bahwa Jesus (Isa a.s.) adalah manusia, seorang Nabi. Jesus bukan Tuhan atau anak Tuhan. Bahkan al-Quran dengan tegas menyatakan: “Sungguh telah kafirlah orang-orang yang mengatakan, bahwa Allah itu sama dengan Isa Ibnu Maryam. Padahal, al-Masih Isa Ibnu Maryam berkata, wahai Bani Israil sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Sesungguhnya siapa yang menserikatkan Allah maka Allah akan mengharamkan sorga baginya, dan tempatnya di neraka. Dan orang-orang zalim itu tidak akan mendapatkan pertolongan.” (QS 5:72).
Juga, disebutkan dalam al-Quran, sungguh kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa Isa adalah salah satu dari yang tiga (QS 5:73). Allah juga murka karena dituduh punya anak. Orang yang menuduh Allah punya anak, sungguh telah melakukan kejahatan besar di mata Allah (QS 19:88-91). Al-Quran pun membantah bahwa Nabi Isa a.s. telah mati di tiang salib. Tidak ada bukti yang meyakinkan tentang itu. (QS 4:157, QS 18:4-5). Menuduh Allah punya anak atau punya sekutu adalah tindakan syirik, dosa terbesar dalam pandangan Islam. Karena itu syirik disebut sebagai “kezaliman besar”. (QS 31:13).  Nabi Muhammad saw ditugaskan oleh Allah untuk mengajak kaum Kristen agar mereka kembali kepada “satu kata” yang sama, yaitu hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan apa pun juga (misi Tauhid) (QS 3:64).
Dalam perspektif Islam, menyamakan antara Jesus dengan Jokowi bisa dikatakan “sangat keliru” dan “sangat berlebihan”.  Kaum Muslim Indonesia tentu berharap, Haji Jokowi tidak mau “disalib” dan “dikorbankan” untuk dinobatkan sebagai juru selamat kaum tertentu di Indonesia. Tapi, itu terpulang kepada Pak Haji Jokowi, karena beliau sendiri yang akan bertanggung jawab kepada Allah: apakah ikut berjuang memperkuat misi seluruh Nabi dalam menegakkan Tauhid dan Rahmatan lil-alamin atau mendukung dan memperkuat kesesatan dan kemusyrikan di negeri tercinta ini. Sebagai rakyat, kita hanya menyampaikan taushiyah, hanya sekedar mengingatkan. Wallahu a’lam bish-shawab.*/Depok, 17 Mei 2014
Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

Tentang admin

Admin adalah orang-orang yang peduli terhadap kemaslahatan umat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman berupa hujatan, fitnah, dan upaya-upaya lain yang mendeskriditkan dunia Islam. "Biodata Penulis".
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

6 komentar:

Aloysius Baskoro mengatakan...

gini loh masbro...
meskipun saya bukan agamawan, teolog, atau sebagainya, namun saya bicara soal logika, budaya dan metafora(bukan metafora saja sih).
1. Yesus disamakan dengan Jokowi dalam konteks"blusukan" dan merakyat, jikalau ada penyamaan 2 tokoh tertentu, maka ada konteks penyamaannya, bukan disamakan dalam semua hal(seperti disalib).

2. soal syahadat"aku percaya" yang berbuny: "Kami percaya pada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa". Apa bedanya dengan Allah SWT yang juga satu dan Muhammad utusan Allah? Maksudnya begini, dari kata kata awal, orang kristen sudah mengerti bahwa Tuhan itu SATU, namun repersentatifnya jadi 3(maksudnya diumpamakan menjadi 3) jadi bisa dibilang: "tuga tapi satu", bukan "tiga dalam satu(3in1)".Allah Bapa adalah representatif dari Tuhan semesta alam, Allah Putra adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia, dan Allah Roh Kudus adalah Allah yang hadir dalam tiap hati manusia, tapi semuanya itu satu..... Jadi Nabi

3. Maksud Allah memiliki anak tuh jangan ditafsirkan mentah mentah bro... Allah hadir dalam bentuk manusia untuk bisa lebih dekat dengan manusia.... tapi kan manusia ada karena suatu kelahiran.. Jika Tuhan ingin lebih dekat dengan manusia, maka Ia harus menjelma dengan manusia, dan manusia ada itu karena kelahiran, bukan karena tiba tiba muncul dari tanah(ngerti gak?). Logikanya gitu, Dalam agama Hindu pun ada yang namanya dewa dewi menjelma menjadi manusia, hewan , dsb.. Kalau Muslim (dalam Quran) mengganggap itu musrik dan kafir, silahkan saja, namun dalam konteks zaman modern ini, perlu dipahami bahwa budaya adalah hal yang membentuk suatu tradisi dan kepercayaan, maka dari itu hargailah tiap agama, meskipun ada tertulis seperti itu, namun tafsirlah sesuai dengan perkembangan zaman,,,

Saya adalah orang Katholik, dan orang Katholik berbeda dengan orang kristen, saya berkomentar atas nama kekeluargaan dan demokrasi, bukan untuk perseteruan, terimakasih

laskar pembela mengatakan...

To:a.baskoro
Coy soal syahadat jelas beda..kalau islam itu jelas tidak ada tuhan selain ALLAH..kalau kristen atau katolik itu ada bapa,anak dan roh kudus...coy sangat tidak logik kalau 3 di bilang 1

Soal ALLAH memiliki anak hanya untuk mendekati manusia itu menunjukan tuhan ente tidak maha kuasa bro.....sangat tidak logik kalau tuhan harus menjelma jadi ciptaan nya(manusia) hanya untuk mendekati manusia....,

karya marta mengatakan...

Kalo Alah mau jadi Anak, mau jadi Roh kudus... siapa bilang tak bisa...?

Murni Waletputi mengatakan...

Memang Tuhan itu Maha Kuasa Segalanya ,tetapi adalah hal yang sangat mustahil jika Tuhan merendahkan kemahakuasaan-Nya dengan melakukan perbuatan konyol pakei acara harus menjelma jadi manusia, kemudian bunuh diri menyerahkan nyawanya mati di tangan mahluk ciptaan-Nya sendiri.

Bagaimana mungkin bisa di terima akal sehat manusia, Tuhan Yang Maha Besar Maha Suci Maha Hidup Kekal Abadi Selamanya kok bisa mati.
Itu jelas bertentangan dengan sifat Tuhan itu sendiri,kebodohan dalam iman adalah sesat, iman tanpa dilandasi akal jelas adalah iman buta.

Kebodohan dalam iman itulah yang mesti diperangi,bukan malah dikembang biakan.
Hanya doktrin untuk melanggengkan pembodohan saja yang menyebarkan paham bahwa Tuhan harus mati demi menyelamatkan/menebus dosa umat manusia.

Apalagi menyamakan Jokowi dengan Yeyus, BODOH.
Itu tidak lebih dari pemikiran Pandeta saja, yant tak lain jelas membodohi umat/jema'at .

adi nugroho mengatakan...

Itulah umat yang telah disebutkan dalam AL QUR'AN yang sukanya ngeyel dikasih tau yg bener masih ngotot cari2x alasan yg gak masuk akal, jelas2x Nabi Isa A.S sudah memberitahukan kepada umatnya bahwa dia bukanlah Tuhan melainkan Allah SWT dan akan ada seorang rasul setelahku yaitu Nabi Muhammad SAW maka ikutilah dia. Sudah jelas..ya ko masih ngeyel..

Ahmad Husaifah mengatakan...

hanya menikmati bacaan